Deepdrown' daily Plurks

Thursday, August 28, 2003

Menggugah hati sendiri jika menjadi Jompo nanti...

Saat ini gue cuman punya email, buat bersetia berbagi cerita dengan kawan-kawan lama... Hanya saja interaksi seperti ini walau cenderung cepat sampai karena didukung teknologi komunikasi internet, ternyata enggak selalu bisa mengharapkan respon dari mereka dengan sama cepatnya... Ha ha ha ujung-ujungnya memang teteb mood dan minat manusianya sendiri...

Gue punya kawan temen sekampus dan seangkatan yg termasuk rajin mengirimkan email-email yg berisi artikel yg menarik dan maunya sih menyentuh hati... Tapi sejujurnya kaga banyak yg mampu memprovokasi gue untuk merespon dengan bersungguh-sungguh.. Hmm kecuali artikel semacam dibawah ini...

Cerpen Chairil Gibran Ramadhan,
tinggal di Jl H Haiman No 43, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan memperoleh ‘uang lain-lain’ dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak terhalang sebutir kerikil pun. Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.

Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan.

Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.

Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya. “Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali.”
Akhirnya aku menyetujui saja.

Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali.

Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah kutemui.

Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.
Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia memberitahukan keinginannya. “Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih.”

Dua bulan lagi umurku 68 tahun. Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan menjengukku.
Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.

Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.

Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi.

Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal. Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri, mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke kamar.

Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan kue-kue kecil.
Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.

Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor satu.

Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah banyak yang tiada.

Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-buku kegemaranku. Kebetulan aku paling menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah fakultas hingga menyelesaikannya.

Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, “Uang panti tidak cukup,Nyonya.”
“Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?”
“Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca.”
“Begitu? Bagaimana dia tahu?”
“Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini.”
“Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya?”
“Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati.”

Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu.
“Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama berikan untukku.”
Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima.

Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.
Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk.
Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-sama. Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka. Ya!



Iyaaa... Tiba-tiba artikel ini rasanya mau menyindir "kecemasan" gue sendiri soal kewajban memelihara orang tua, khususnya Nyokap gwe yg sebenernya punya karakteristik agak rumit. Sebenernya fenomena seperti cerpen diatas, udah jadi pemikiran atau beban gue sendiri sejak lamaaaa, sebage anak pertama dari 3 bersodare laki2 semua, nyokap gwe udah hampir 60an... Alhamdulillah memang masih sehat dan enerjik. Walaopun begitu kaga bisa disembunyiin kalo beliaw merindukan kedekatan dengan anak-anaknya seperti dulu...

Adek gue yang ke-dua udah berkeluarga dan dinas di padang, adek gue yg terakhir karirnya lagi nanjak dan sering pergi keluar kota... Gue sendiri udah bawaan orok kali, tiap pulang kerja dari dulu kaga kurang dari jam 10 malem. Dulu sebelon gue nikah, setiap bulan selalu aja ada event piknik keluarga yg juga ngajak bbrp anak tetangga. Gue pikir ini sebage "cicilan" moral gue untuk sedikit membuktikan bahwa, biarpun anak lelaki gue punya perhatian yg memadai... Sebenernya buat kebanyakan orang Indonesia, usia gue termasuk perjaka telat menikah. Pilih-pilih ??? Mungkin iya juga, salah satunya gue dulu berniat mencari Wanita pendamping yg bakal "TEGAR" merawat orang-tua gue bersama-sama. Sinisme Nyokap gue soal komitmen anak lelaki buat "BERBAKTI dengan ORANG TUA" berdasarkan ukurannya sendiri, sejujurnya menghantui sekaligus menantang kapasitas moral gwe sendiri.

Dan sekarang, gue makin sibuk urusan kerja dan urusan keluarga... Lalu gue mule mikir, begini refotnya kaga punya adek cewek, karena jika adik cewek, walaupun sudah berkeluarga, biasanya bisa lebih fokus mengayomi ibundanya. Sekarang gwe sebage suami gue harus belajar "adil" kasi perhatian buat 3 cewek, nyokap gue yg udah mule tua, bini gue, dan anak pertama gue yg lagi lincah dan lucu2nye... Saat ini memang masa transisi diantara masa kebebasan gue dulu dengan masa peduli tanggung jawab lillahi ta'ala.

Anak gue ini memang jadi hiburan sekaligus intermediasi pemersatu di tengah-tengah hiruk pikuknya drama suasana rumah tangga yg didalemnya ada bini dan nyokap gue dalam kontak lansung... Dan ini memang harus gue anggep perkara biasa dimane cuman perlu persistensi kesabaran en diskusi aja. Sebenernya gue punya rumah sendiri yg rencananya memang buat keluarga sendiri... Tapi seperti yang diceritaken artikel ini dibawah... gue kaga tega meninggalkan nyokap gue yg udah mule tua sendokiran tanpa sanak-keluarga yang masih bisa nemenin. Keputusan yg ribet sebenernya.. tapi memang bolak balik gue harus bersikeras, insya Allah gue kaga perlu kirim nyokap gue itu ke panti jompo bgmnpun keadaannya kelak...

Kebetulan banget salah satu yg tenant di rumah kontrakan nyokap gue itu, ada juga seorang nenek, gue sendiri sering manggil beliaw oma, umurnya sekitar 60 lebih lah... sanak keluarga dan anak-anaknya jauh semua, dan gue sendiri jarang melihat ada tamu keluarga yg bertandang. Tapi OMA ini gue perhatiin demikian sibuknya, sekaligus kesehatan dan semangat hidupnya keliatan tinggi. Apa sebabnya ??? Gue tanya-tanya ke nyokap gue, bahwa OMA ini ternyata masih bekerja menjadi penjahit profesional, dan kerja keras dari senin sampe sabtu. Sehingga gue duga beliaw masih merasa bahwa diusia tua seperti itu masih cukup banyak tanggung jawab dan tantangan hidup yg dapat dilakoni sebage pengisi suasana masa tuanya. Sehingga kehangatan mental, intelektual menjaga kadar spiritualnya untuk selalu siap hidup tua sendirian.

Ada lagi nenek dari bini gue itu umurnya sebentar lagi 80 tahun, tapi dibalik rentanya selalu sigap nyuci baju, kepasar, masak yg enak2, pokoknya kerja keras buat cucu, buyut dan tetangganya di Semarang. Anak-anak beliaw yg sudah mapan sewajarnya jika minta beliaw untuk sekadar istirahat aja di rumah salah satu anaknya, tapi setiap kali dicoba.. Si Mbah ini lansung sakit dan sedikit depressi. Akhirnya minta pulang lagi ke rumahnya disalah satu gang di Semarang karena rindu dengan kesibukan rutinnya. Sekali lagi gue salut sekaligus penasaran kenapa bisa begitu ? Tapi sangat kuat alasannya hampir serupa dengan contoh diatas...

Beberapa tahun lalu, gue pernah tugas beberapa minggu ke Singapur. Pada suatu kesempatan gue coba makan-makan beberapa menu di MAL sekitar Orchad Road. Ketika asyinya gue makan sambil cuci mata, tiba-tiba gue kaget, karena disamping gue seorang Kakek berseragam memohon ke gue untuk membersihkan sisa makanan yang ada dimeja. Dibalik kemelongoan gue, masih terlepas senyum terima kasih gue dan sempet mikir ini kakek pemulung atao anggota salah satu panti jompo mana ? Kok tega banget disuruh "ngobyek" di mal-mal kaya gini. Apalagi sbg orang jawa, rasanya gue ganjil bener, melihat kakek atao nenek sibuk bersihin meja, dimana ada ABG dengan cueknya terus becande sambil makan kaga ambil peduli. Ketika beberapa kali gue makan di beberapa mal singapur selalu muncul fenomena seperti itu, bari gue sadar.. kalo Kaum Jompo ini memang dipekerjakan di food court MAL-MAL sebage pembersih meja, dan situasi itu memang udah jadi salah satu program ketenaga-kerjaan pemerintah Singapura.

Berbagai Pengalaman, pengamatan, dan kenyataan ini barangkali memang rejeki buat gue, sehingga gue berani menarik kesimpulan. BAHWA mengelola dan mengasihi kaum JOMPO memang bukan dengan "memenjarakan" mereka sebage orang LEMAH. Akan tetapi harus ada upaya untuk memberikan kesibukan dan tanggung jawab yang positif yang sesuai dengan potensi dan kondisi fisik masing-masing. Dengan begitu, rasanya kite bakal lebih nyata dan aktif mengayomi hidup orang-orang tua kite itu dengan pemberian Harga diri dan produktifitas yang lebih tinggi, sehingga harapannya masa tua mereka dapat dijalani lebih IKHLAS dan BERNILAI ( selain pendalaman spiritual keagamaan tentunya )

Pemerintah memang memegang peranan penting tentang pemberdayaan upaya pengayoman para KAUM JOMPO selain ANAK-ANAK YATIM-PIATU dengan langkah-langkah yg lebih progresif dan kreatif. Tapi untuk berharap seperti itu kayanya gue perlu ngaca situasi terkini... soal pemberdayaan KESEHATAN MASYARAKAT ajah masih memprihatinkan... Rasanya buat pren-pren yang tersentuh dengan hal seperti ini harus berjuang membuktikan sendiri jalan yg terbaik untuk masalah-masalah ini (hiks). Semua memang selayaknya mencari jalan ketauladanan sendiri, soale ketelaudanan kepemimpinan di negeri ini udah langka. Semua harus mulai koreksi dari diri sendiri dan mulai dari keluarga sendiri tanpa kenal putus asa. Semoga orang-orang kuat seperti ini, kelak mampu mengarahkan negeri ini jadi KAMPOENG KASIH SAYANG dalam arti sesungguhnya.. AMIN...