Deepdrown' daily Plurks

Friday, July 25, 2003

Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 2 dari 2 tulisan


Barangkali aja gue ini terlalu males dan sok tahu juga, tapi tersrah ente lah... yang jelas ketika gue baca cuman dua buku aja para orientalis ilmiah tentang sejarah alam semesta, asal usul manusia dan nasibnya.. Makin berasa bahwa terlampau bahaya rupanya sekadar bergantung ( baca: beriman ) pada kemampuan nalar... Ada suatu nuansa bahwa Nalar manusia yg wujudnya berbentuk gumpalan otak memang jasad ragawi yang mencuatkan energi hawa-nafsu dan syahwat manusia. Akibatnya memang antara produk nalar satu dengan nalar yang lain menjadi amburadul dan penuh reka-reka yang membabi buta... Kemudian jelas memunculkan ambisi pembenaran nalar dari individu satu dengan yang lain, sehingga kemungkinan besar biasnya makin jauh dari kepastian mana yang paling benar... Makna kebenaran jadi bertumpu pada nalar, dan nalar cenderung bekerja berdasarkan siapa mengamati siapa atau apa ( materialistik )... sehingga nilainya jadi relatif.

Dari Kemampuan Nalar manusia yang sebetulanya cukup naif itu, berusaha dibentuk dan dihitung wujud keilmuan dan logiak teknis TUHAN melalui hukum-hukum yang berlaku pada manusia. Tentu saja salah kaprah... Lawrence Krauss dan Barbour sendiri menemui fenomena fisika kuantum terlalu ambigu untuk dipahami melalui perhitungan matematika fisika klasik. Keduanya mengakui perlu peta matematika gaya baru dan perubahan total paradigma fisika yang ada sekarang agar mampu menguak hakiki fisika kuantum. Gue cenderung melihat bahwa mereka terbentur pada wujud Ilmu Tuhan yang paling kecil saja. Oleh karena itu perlu pemahaman dari nalar jenis lain yang lebih tinggi/murni dari pada sekedar otak manusia, yaitu KALBU yang mengerti jalan pikiran TUHANnya.

Barulah gue sadar lagi bahwa kebebasan daya nalar manusia tetap memerlukan KENDALI kesahihan dan keabsolutan nilai MORAL secara universal, yang memang keliatannya makin kagak populer didalam komunitas manusia terkini yg lebih terobsesi kedigdayaan materi (kekuasaan, harta, cinta fisik). MORAL inilah yang menunjukkan fenomena naluriah bahwa sang ibu patut melindungi anak-anaknya yang baru lahir tanpa harus diajarkan makhluk lain. Atau mengapa ada pemahaman semua manusia bahwa mencuri dan membunuh itu pasti tidak diperbolehkan, karena MORAL menilai tindakan itu melanggar nilai kemanusiaan yang murni. Pemahaman perilaku secara naluri tentang hubungan sex normal antara laki-laki dan perempuan misalnya... dan lain lain.

Nilai-nilai Moral ini muncul dari kejernihan KALBU (akal hati) sebagai inti dari Jiwa manusia. Semua obyek yang gue sebutin terakhir merupakan organ non materi manusia yg dibawa sejak lahir, tidak berwujud jasad kasat mata, tetapi mewujudkan nilai SPIRITUAL manusia. Dalam kalbu inilah terjalin dengan database berbagai nilai-nilai keTuhanan yg dibawa sejak lahir. Disinilah letak akses Tuhan memberikan hidayah dan petunjukNya terhadap berbagai pelik kehidupan manusia, dan "menjawab" semua doa-doa. Oleh karena itu pada situasi yang normal, Kalbu manusia yang sehat mampu berkoordinasi dengan wajar dengan Hawa nafsu serta syahwatnya, sehingga menimbulkan enerji dan dampak kehidupan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya...

Makna Ujian Hidup

Penjelasan yang paling gampang, jika bisa kite bilang kalo dunia ini adalah memang bukan sorga hakiki, tetapi memang bener-bener berupa sorga halusinasi, hyper komputer virtual reality, yang memang semau-mau si Empunya komputer untuk menguji interaksi obyek-obyek "cerdas" yang diuji dalam berbagai algoritma, untuk kemudian dicatat kinerjanya... kalo Kata DIA pengujian obyek tersebut memang OK yaaaa... mungkin bakal di konversi jadi obyek absolut pada sorga yg absolut.. tapi kalo memang belon okay ya "dibetulin" di bengkelNya, kalo udah rusak yaa terpaksa di BUANG... Ha ha ha memang begitu rapuh cara berpikir manusia ( apalag kaya gue gini ).. tapi mudah2 an analoginya kelak bisa mencakup 65% kebenaran saja dari sebenernya Wallahu'A'alam :)

Tapi kalo kite mo jujur... sebenernya pandangan fisik kite memang cenderung tertutup oleh hawa nafsu... dari mata kite ini melihat orang banyak duit (misalnya), tentu seringkali terbayang oleh otak nafsu kita, betapa mudah kite belanja dan berfoya-foya, pokoknye menyenangkan dan mensukseskan ciri sendiri... ahhh indahnya. Begitu pula jika mata ini tertumpu pada sosok yang kumuh, lansung aja kebayang begitu menderitanya orang yg harus menjadi "lusuh" dan sepertinya nggak ada kata bahagia didalamnya... SEKALI LAGI begitu rapuhnya indera manusia prend :)

Masyarakat sering lupa bahwa kenikmatan duniawi adalah tanggung jawab batin/moral/siksaan obsesi teramat berat pada akhirnya, sedangkan kesengsaraan memikul kehinaan pandangan pada awalnya, namun sebenarnya menghimpun ketenangan dalam berjuang. Apakah perkataan gue ini bisa diuji secara nalar semata ??? yaaa tentu nggak bisa... pernyataan itu merupakan kesatuan proses pemahaman pergulatan hidup, dimana didalamnya bergulat antara nalar vs mata hati, dan keimanan vs hawa nafsu dalam proporsi yg balanced... Dan ditengahnya muncul rasa SYUKUR dan SABAR... Walau untuk topik seperti ini budaya science modern cenderung mengingkari... Tapi apakah benar dapat diingkari ? Lihatlah masyarakat Eropa, amerika, jepang dimana masyarakatnya telah "mapan" rejeki nalar, ternyata angka statisitik menunjukkan pertumbuhan depresi dan bunuh diri ... Artinya apa ??? silahkan simpulkan sendiri... TAPI buat gue yg simpel-simpel aja, bahwa Kenikmatan atau Kesengsaraan Duniawi keduanya merupakan UJIAN HIDUP yang sama berat, berkorelasi, sama mulianya buat yg berhasil, dan sama hinanya buat yang gagal...

Pernahkah anda merasa tersiksa kebosanan dan hampa ??? Percayalah jika manusia yang "cerdas" ini tidak diberikan "ujian hidup" maka pasti otaknya lumer, dan depressi akan mengundang tindakan radikal dan bunuh diri... Pernahkan anda jatuh dari sepeda tapi merasa bersemangat campur takut untuk mengulangi lagi ??? Arrggh ya itu dia .. manusia butuh emosi yang menantang tantangan hidup yang lebih besar lagi.. itulah kodrat hidup... Sayangnya memang manusia tidak bisa minta tantangan dan ujian hidup ini sekedar pada yg mereka suka... Karena memang hanya Pencipta manusia yang paling tahu "kebutuhan" ciptaanNya...
Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 1 dari 2 tulisan


Kalo mo jujur .. coba deh simak suara hati kita sendiri... Bagaimanapun kondisinya, sedang kaya atau miskin, lagi sehat atau sakit, jadi pejabat atau kroco, apa aja deh pokoknya, pasti selalu ada berbagai alasan untuk senang atau susah... ya kan? Jamaknya kalo sedang senang gumbira maka melepas semua emosi hingga lupa pada yg sedang susah. sebaliknya juga begitu, tiba-tiba mendapat musibah sengsara, maka seakan-akan terasa seluruh hidup ini begitu sial... terlupakan nikmat kesenangan yg masih tersisa. Begitulah kesan dan bayangan gue pas baca email curhatnya dibawah ini :

-----Original Message-----
From: SPr
Sent: Thursday, July 24, 2003 6:00 PM
Subject: mengapa manusia mesti di uji ya...?

Kadang kalau menelaah perjalanan hidup ini, kita tidak lepas dari segala ujian-ujian yang tiada hentinya.
Dari kesenangan hidup sampai musibah-musibah yang datang dengan tiba-tiba.
Rahasia apa dibalik semua ini ?
Pada saat senang kita bersyukur dengan hati yang penuh bunga, tetapi kesenangan itu menjadi tidak lagi berarti ketika musibah datang kepada kita yang datang tiba-tiba ! iya ya..mengapa manusia mesti di uji ya...?
Padahal Alloh sudah tahu tentang kita, seberapa mampu kita..so buat apa di uji kalau Alloh sudah tahu tentang kita ?
eh..tapi sudahkah kita tahu tentang kemampuan kita sendiri ? batas daya tahan kita ? kebesaran jiwa kita ?
keikhlasan kita? kesabaran kita? ketenangan kita? tawakal kita ?

Topik seperti ini kalo gue mo gampangnya yaaa jao lebih mudah untuk berkutet pada sisi moral dan doktrin-doktrin lateral keagamaan.. Dan gue harus rela menduga para pembacanya bakal bergumam,"ahhhh klise...". Apakah ini berarti gue juga ketularan pesimis dengan ajaran agama??? Enggak begitu, masalahnya memang masyarakat sekarang warnanya makin sekuler dan sering merasa hampa ditengah riuhnya khotbah agama. Yang jelas keselarasan moral, mental dan intelektual adalah isu krusial untuk memahami hidup lebih bermakna positif. Oleh karena itu mungkin perlu empati dan simpati "khusus" buat mendalami keluhan seperti ini, hingga patut kita semua pahami bahwa kita kaga sendiri..

Isu-isu pelik dan penuh dilematis dari email temen gue itu mencakup beberapa pertanyaan yang menimbulkan polemik : Mengapa Perasaan dan Nasib Manusia cenderung berubah tanpa irama; Bagaimana jalan fikiran Tuhan sehingga drama kehidupan ini cenderung tragis dan berbeda antar manusia; Tuhan maha Adil dan mengetahui lalu kenapa harus ada gejala diskriminasi dan istilah ujian hidup?... Disini gue beranikan diri membahas bdsk pengalaman dan pencerahan yang gue terima dari kondisi sehari-hari, barangkali ada gunanya buat gue sendiri atao pembaca yg berkenan.. semoga...

Dua bulan bulan ini gue sedang menghabiskan beberapa buku, antara lain: Fisika Startrek (Lawrence Krauss), dan Juru Bicara Tuhan : antara Sains dan Agama (Ian G.Barbour). Kaga disangka... buku-buku yang keliatannya gak begitu tebal itu ternyata menyimpan berbagai rangkuman dan polemik filosofi dan pendapat ilmiah para fisikawan tingkat duna tentang wujud/asal usul alam semesta, dan akhirnya terkait tentang perlu/tidaknya adanya Tuhan disana. Topik yang sangat ekstrim sekaligus eksotik, dan memang berat banget menghabiskan halaman demi halaman... barangkali karena prosesor imajinasi dan pemahaman otak gue baru pentium MMX yaa?

Pencerahan dari Ian G.Barbour

Yang menarik dari bukunya doi, yaitu begitu kayanya pencatatan polemik dari berbagai filosofi dan pendapat ilmiah (terkait teori evolusi, kosmologi, fisika kuantum, genetika, dan neuroscience) serta sejarah isu keilmiahan science tsb vs doktrin teologi hingga abad ini. Hingga melukiskan bentuk interaksi antara kaum nalar ilmiah dan teologi tentang kejadian alam semesta dan asal usul manusia, menjadi pemetaan 4 pola hubungan toeri dan interaksi, yaitu: Konflik, Indepedensi, Dialog, dan Integrasi.

Gue sendiri ngeliat, bahwa 4 pola itu terbentuk, karena memang begitu kompleksnya latar belakang manusia beserta keahlian dan keyakinannnya bdsk nalar dalam memahami kejadian alam, asal usul manusia, serta peran Tuhan. Fakta sejarah yg terkenal adalah adanya kesalahan sikap totaliter kaum Gereja thd teori kritis Galileo kemudian serta copernicus tentang kesimpulan ilmiah bahwa matahari sebagai pusat kosmis, dan bukan bumi seperti kata gereja. Yang berakibat kedua tokoh tersebut dikucilkan, dan yg satunya lagi dihukum bakar sampai mati. Namun bdsk kemajuan jaman , akhirnya Gereja mengakui kebenaran pemahaman science. Pada abad 20 konflik memanas lagi dengan muncul teori Darwin yg teramat yakin bahwa kemiripan spesies menunjukkan evolusi biologi dari jaman ke jaman menyesuaikan kondisi Bumi. Dan kembali melanggar doktrin agama, bahwa nenek moyang manusia ya memang manusia bukan lagi spesies yang lain.

Pada masalah kejadian semesta alam, Tokoh fisikawan legendaris seperti Albert Einstein ( penemu teori relatifitas ), Niels Bohr ( penemu teori atom kuantum ), Newton (penemu teori mekanika klasik) contohnya berdiri pada pada sisi peneliti ilmiah yg melihat keterbatasan manusia memahami gejala alam yg begitu kaya. sehingga akhirnya mereka perlu mengakui bahwa gagalnya formula nalar mereka thd gejala alam yg lebih rumit, karena ada variabel tersembunyi yg tetap digenggam oleh kekuatan yg lebih maha Jenius, yaitu TUHAN.
Tentu keyakinan mereka bukannya tidak mendapat lawan, karena para ahli fisika lain ug berpatokan pada falsafah: alam ini tampak ada dan wujud karena kemajuan pemahaman nalar mereka... Menganggap Alam semesta hadir karena kebetulan. Fisikawan kontemporer abad ini Stephen Hawking berdiri pada teori ini, dan ketidak tahuan manusia hanya bersikap sementara, karena alam memiliki kadar chaos dan kebetulan yang acak.

Ian sendiri yg latar belakangnya seorang Guru besar fisika sekaligus teologi, cenderiung berpihak pada upaya dialog menuju integrasi terkait hubungan science vs agama. Dai meyakini bahwa polemik yg terjadi kini, merupakan upaya/ konsekwensi dialog panjang dan diyakininya menuju titik temu (integrasi) pemahaman bahwa Agama dan Science perlu saling mengisi dan menguatkan (anti sekuler), agar hidup manusia lebih bermakna dan tidak hampa di tengah alam semesta yg begitu luas.Oleh karena itu PEMAHAMAN masalah NASIB masa depan MANUSIA yaaa terkait dengan bagaimana generasi sekarang memposisikan pola hubungan fakta/teori ilmiah dengan doktrin/keimanan agama.

Pencerahan dari Lawrence Krauss

Buku ini sanagt serius mengupas kepopuleran film fiksi ilmiah STARTREK yg menjual berbagai teroi fisika kontemporer selama 30 tahun. Pada setengah buku, gue menikmati sekali koreksi-koreksi ilmiah Lawrence terhadap berbagai kesalahan pemahaman teori fisika penulis cerita STarTrek, walaupun nggak sedikit juga yang hampir betul... Tapi menjelang halaman selebihnya, mulaelah kerumitan muncul dengan berbagai perang teori fisika populer a la Einstein vs stephen Hawking.

Yang jelas menurut Stephen Hawking ( Krauss pun keliatannya mendukung ) mengesahkan perasaan adanya Tuhan akan mengakibatkan imajinasi dan semangat eksplorasi manusia menjelajah keluasan alam semesta dan berbagai kemungkinannya akan makin tertutup.
Walaupun ironisnya keterkinian nalar manusia membayangkan imajinasi total dari berbagai drama fiksi ilmiah STARTREK itu, dibahas sendiri panjang lebar oleh Krauss tentang kemustahilannya. Dan akhirnya perlu bergantung pada teori-teori yang belum sempurna seperti berbagai anomali & ambiguitas Fisika Kuantum.

Pertanyaan Krauss sendiripun terbentur pada berbagai teori ketidak pastian, yang mengakibatkan bagaimana pula interaksi manusia menghadapi ketidak pastian hukum fisika yang ada ( buatan manusia ) terhadap fenomena alam semesta. Sehingga manusia patut sekadar puas memahami alam yang luas itu dengan keterbatasan hukum nalar fisika nya, dan ditambah hiburan imajinasi tentang obsesi status manusia yang akan "serba mampu" di masa depan...

bersambung...

Tuesday, July 22, 2003

Sikap Balas Jasa VS Prinsip Keikhlasan dalam Proses Kepedulian Sosial

Kesibukan orang-orang pada utopia masalah politik, science dan ekonomi yg diransang karena gencarnya pemberitaan media, kadang-kadang melupakan akar masalah yang mendasari interaksi manusia dan dampaknya, baek sekarang atao dimasa depan... Mangkanya gue pun sedikit kaget, ketika ada seorang kawan memulai dikusi dengan pertanyaan yg sederhana tapi menyodok keterbiusan gue sendiri, seperti bisa disimak pada email dibawah ini :

-----Original Message-----

From: EndiFa
Sent: 22 Juli 2003 11:11
Subject: Ikhlas nggak sih?

Saat membantu orang dengan bersedekah dan mengharapkan pahala, sebenarnya nggak bisa dibilang ikhlas 100% karena masih mengharapkan 'reward' berupa pahala. Ikhlas adalah saat memberi bantuan pada orang lain tanpa mengharapkan reward apapun dan tujuannya benar2 membantu orang yang kita beri / mengatasi kesulitannya --> dari sudut pandang kemanusiaan. Benar ngga sih?


Beberapa respon terhadap pertanyaan itu sendiri enggak kurang bikin kaget kesadaran gue sendiri... Karena suatu prinsip ideal yg secara sepihak gue anggep semua orang bisa terima, eh eh eh ternyata justru merepresentasikan terbalik rasa optimis gue. Misalnya ( secara naif ) gue beranggap bahwa anggapan umum bahwa peduli sosial seputar sedekah, bantuan sosial, bantuan pribadi kepada komunitas yg layak dibantu tentu perlu dilaksanakan dengan IKHLAS dan tanpa pandang bulu...

Nyatanya ada saja yg bilang, bahwa bertindak praktis dalam membantu "orang susah" perlu ada azas manfaat timbal baliknya, paling tidak keliatannya mencuat kebutuhan syahwat khusus yg cenderung subyektif dengan berbagai prasangka dan pemahaman apakah suatu bantuan sosial itu perlu bagi masyarakat tertentu ... Apakah orang yg dibantu yakin jadi baik ? atau kan terjamin tidak mengecewakan ke diri si penolong ? atau menzalimi si penolong ? Apakah tujuan dana bantuan itu cerdas atau mubazir ? Dari pendapat sok tahu gue, harusnya ada perbedaan antara niat menolong/peduli, dengan penanganan tindakan kriminal... karena itulah sudah seharusnya Agama & Hukum formal mampu bersentuhan dengan piawai ( hi-touch )

Dalam kegundahan yang naif pulak, gue akhirnya harus percaya bahwa terlalu pelik masalah kepedulian sosial dan sosialisasinya dalam kehidupan bernegara disini, apalagi kalo terkait dengan pengakuan sebagai negara hukum yang beragama... Bagaimanapun gue yakin harus ada jalan.. karena intinya adalah munculnya persepsi yang subyektif, dimana hukum negara yg katanya beragama ini pun tidak mampu menghasilkan fatwa yang cerdas demi membantu masyarakat yg terpuruk...

Ujung-ujungnya cuap-cuap inipun idealismenya memang ke masalah yang gede banget, dan sampe sekarang irionisnya cuman jadi jargon-jargon buat pemerintah buat narik dana-dana bantuan dari luar negeri doang… apaan tuh ? KEPEDULIAN SOSIAL dan KEMANUSIAAN… Jadi pengertian gampangnya selama itu manusia, dan manusia itu adalah pelaku komunitas sosial sekaligus obyek penderita.. maka upaya-upaya kearah sono ( sedekah, dana kemanusiaan, raskin, santunan yatim piatu dll ) memang harusnya TABU buat dipilih-pilih berdasarkan perkiraan (apalagi pengharapan) atas imbal jasa pren… Selaen tentunya kondisi-kondisi yang memang haknya perlu dibantu… Kepedulian Kemanusiaan sendiri adalah tingkatan kesadaran kepedulian sosial yg lebih tinggi dan universal, rasa-rasanya terlalu mengawang, jika kesadaran peduli bantuan sosial anatar ummat, antara warga senegara pun belon jelas titik temu pencapaiannya :(

Ironisnya di negara-negara tetangga yang maju dekade kini ( contoh paling deket malaysia dah), Perkiraan Pengeluaran Anggaran Belanja Negaranya telah mencakup dana-dana santunan buat masyarakatnya yang tuna wisma, tuna karya, cacat, yatim piatu, kesehatan/ sekolah negeri… Dan itulah sebabnya penarikan pajak di negara-negara tsb gede banget, dan… hasilnya memang “jelas”. Mungkin karena peran negara yg begitu besar dalam pengayoman warga negara “tak berdaya”nya, maka kalo kite orang timur kalo denger selentingan , atau baca-baca sekedarnya tentang budaya negara mereka .. seolah-olah masyarakat mereka begitu individualis, acuh gak acuh satu dg yg lain… Mungkin bentuk kepedulian dari komitmen bayar pajak, wallahu’alam.

Belakangan gue pikir, justru negara kite yang gotong royong, murah senyum dan basa basi, gemah ripah loh jinawi ini … orang kotanya ( mungkin sekali mule menjalar kekampung ) begitu kemaruk dan lebih individualis, karena besarnya budaya penyelewengan pamong praja, masyarakat yg biasa tertindas/dibohongi maka empatinya hilang/skeptis, dan balasannya begitu kayanya mental masyarakat dengan paranoia & rasa tidak percaya siapapun… Maka bole jadi deh… jangankan pengumpulan dana sumbangan sosial atau dana kemanusiaan yg krusial… Renald Khasali aja begitu sebelnya, ketika tahu bahwa begitu banyak perusahaan besar yg biasa pasang budget iklan milyaran rupiah, sampe hati kaga peduli alias medit buat komit sumbangan dana riset dan pendidikan yg besarnya Cuma 25-30 juta perbulan aja…

Keliatannya Gembar gembor Agama secara umum gagal memperkokoh mental dan intelektual ummatnya buat saling peduli, apalagi tujuan yg lebih populer: Berjuang melawan KKN??? Lalu apakah Agamanya yang salah ? Wuah ini lebih salah kaprah lagi, dan yang pasti salah adalah mental/moral manusianya... Indonesia ini udah lama jadi negara Super Liberal, hukum dan agama udah biasa dipolitisir bolak-balik jadi sekadar mercusuar yg menyilaukan, tapi landasannya masih rawa yang kaya penyakit.

Lalu apa sih yg sebenernya membuat kite tersilap sama inti ajaran Agama ? Itulah dia IKHLAS… Itupun ternyata sosialisasinya gak sebanyak ucapan kata-katanya sendiri… Ada aja orang yang skeptis bin sinis, kalo dibilang bahwa Amal ibadah di pekerjaan, pendidikan, pergaulan, peribadatan, usaha, dan kepedulian alam/manusia itu perlu IKHLAS supaya bisa jadi tiang Agama. Serangan balik yang umumnya terucap adalah… “Emang gampang cari duit? Sumbang sana sini seenaknye!” ; “Emang siape die? Gak kenal!” ; “emangnye kite nabi?” ; “Argghhh yang lain juga begitu kok” ; “Huuuu Sok Idealis looo” ; “Ahhh teoriiii… “ ; “Ini jaman edan bung, mampus bisnis kalo gak ikut edan!” .. dan banyak sekali ungkapan-ungkapan yang menghalangi manusia mendalami dan mewujudkan rasa kemanusiaannya sendiri ( biar kaga omdo gitu ).

IKHLAS itu emang menuntut PROSES yang berat.. dan pasti jauh lebih mengecewakan/menakutkan kalo kite menuntut atao ngebayangin wujud hasil proses KEIKHLASAN itu berdasarkan versi yang diinginkan manusia secara subyektif ( Udah nonton Bruce AlMighty ? ), dan akhirnya emang malah bikin ambruk proses IKHLAS itu sendiri… Jadi jelas kan kalo IKHLAS itu adalah warna dari suatu proses menjalani hidup. Pertanyaannya IKHLAS itu harusnya kaya gimana sih warnanya ? Hahahha sebetulnya gue yakin banyak yg udah tau, cuman perkara mewujudkannya dari diri sendiri jelas banget tantangannya dengan bermacem-macem “keberatan” hehehhe…

IKHLAS itu sebetulnya kan perasaan atau mental tanpa pamrih, tanpa tuntutan balas jasa, tanpa tuntutan penghargaan, tanpa tuntutan perhatian dari siapapun, … setelah melakukan sesuatu hal yang diyakini berdampak positif buat orang/organisasi lain. Seirama dengan kata-kata bijak,”Lupakanlah budi baik mu buat orang lain, tapi ukirlah sedalam-dalamnya kebaikan orang lain dalam dirimu sendiri…” Positifnya jika prinsip tersebut dijalankan, kite akan terlampau sulit digoda “keadaan” apapun untuk menjadi sosok yang arogan, takabur, dan berketergantungan pada interaksi duniawi doang.

Dalam Agama sudah jelas bahwa ke-IKHLAS-an adalah jika setelah berikhtiar/ beribadah/ beramal sebaik mungkin, tempat paling tepat menggantungkan harapan yaaa cuman Sang Pencipta Yang Maha Kuasa belaka. Oleh karena itulah kite biasa dperkenalkan adab berdoa dan beribadat kepada Nya agar diberikan Pahala Individual/Sosial dan dunia/akhirat serta berbagai HidayahNya ( bisa keliatan baek atau sebaliknya ) … Ini patut dimengerti bahwa setelah segala perjuangan/ ibadah di dunia ini, maka doa yang terkabul atau “seakan-akan” diluar pengharapan si-manusia adalah PASTI wujud terbaik buat semua…

Dan kite pun jadi dididik untuk lebih Toleran dan cerdas sebage masyarakat SOSIAL ( dan bukan sekadar melampiaskan ketidakpuasan membabi-buta ). Dengan semangat itu Hukum Formal dan Ilmu Manajemen jadi alat bantu yang baik agar semua ITIKAD BAIK lebih terjaga/terjamin "kelurusannya" dari hulu hingga hilir. Maka lambat atau cepat akan mampu meningkatkan kepercayaan lebih banyak lagi masyarakat untuk ikut serta dalam belajar lebih PEDULI dan AKTIF menghimpun berbagai bantuan sosial secara swadaya. Jadi ayo kite jangan menyerah buat belajar ikhlas setiap saat, jangan mo kalah sama bau badan ;p

Wednesday, July 16, 2003

Pelajaran dari perilaku Bruce Banner dan Bruce Paine

Industri Film Hollywood yang sarat kapitalisme itu, kadangkala kagada salahnya sekali-kali disimak sebagian produksinya. Sayangnya beberapa kolega terdekat gue akan bilang kalo saran itu hanya muncul dari subyektifitas selera gue yg agak unik soal film... Padahal kalo dipikir-pikir selera gue wajar-wajar ajah... sekali waktu action laga, bisa juga kolosal sejarah, komedi konyol, sampe drama percintaan cengeng atau politk penuh intrik pernah gue jabanin, sci-fi themes juga kartun-kartun pun oke ajah... Jadi apa ya yg dibilang aneh dari gue soal film. Hmmm mungkin ini, film apapun rasanya gue terlalu serius berlarut-larut untuk menyimaknya... Oke lah kalo ini gue terima aja dibilang aneh, karena saat temen-temen gue menganggap semua itu hiburan yg gak ada sangkut pautnya sama dunia nyata... sementara Gue selalu yakin ada pesan-kesan khusus dari film itu yang bisa jadi hikmah buat ngebantu memahami dunia kehidupan yang nyata... Selain itu betapa bohong atau naifnya alasan si pembuat film, maka pasti selalu ada yg tersisa dari warna kalbu mereka yg sejujurnya... dan kalao mata hati gue berhasil menangkap remah-remah itu, maka makna asli film itu rasanya jauh lebih menarik dari tampaknya...

Bruce Banner itu adalah nama tokoh utama dalam film "HULK".
Dia itu seorang ilmuwan bionuklir yang terobsesi pada target rekayasa genetika yg mampu menghasilkan generasi manusia yg lebih tahan sakit sekaligus berintelektual tinggi. Sampai pada kecelakaan laboratorium yg tidak disengaja, si Bruce ini terkena radiasi nuklir sinar Gamma dengan intensitas tinggi, dimana pada kasus normal harusnya dia sudah tewas... Tapi nyatanya setelah koma beberapa hari, ternyata dia merasa makin sehat dan sempurna staminanya. Hanya saja ketika terjadi kasus dimana emosionalnya tidak terkendali, maka terjadi transformasi genetika tingkat tinggi, dimana endapan radiasi gamma mengembangkan beribu-ribu sel baru dan hormon aneh dalam ledakan-ledakan sel yg takterduga. Dan jadilah Bruce seorang Raksasa Hijau berkekuatan super yang kebingungan, sedangkan pda saati itu jati diri Bruce yg sebenernya merasa seperti mimpi berjalan... Nuansa komikal dari film ini justru lebih bermakna, ketika pada awal dan tengah cerita terdapat sambungan riwayat tentang asal-usul keluarga Bruce kecil, dimana ayahnya yaitu David Banner ternyata seorang ilmuwan genetika ambisius dalam proyek pengembangan senjata militer amerika di Padang Pasir Alamogordo. Karena marah dan penasaran karean formula nya tidak diijinkan dilakukan pengetestan terhadap manusia, maka David nekad menyuntikkan formula genetika temuannya ke anaknya sendiri Bruce Banner sejak bayi. David begitu yakin kalo formulasinya akan mengembangkan anaknya menjadi generasi super dikemudian hari. Tapi sebelum jadi kenyataan, kegilaannya keburu ketahuan provoost, kegusaran akan karirnya yg hancur menyebabkan terbunuhnya Ibu Bruce Banner dan kemudian memenjarakan Ayah nya ke rumah sakit gila bertahun-tahun. Ketika Bruce Banner menjelang dewasa dan mengalami kecelakaan radiasi tersebut, David Banner yang ambisius ini berusaha kembali dan menemui Bruce, dan malah senang karena investasi formula genetika yg disuntikkan sejak Bruce bayi ternyata berhasil... Konflik terjadi karena sebenarnya Bruce sangat tersiksa lahir batin ketika harus berubah menjadi Makhluk Raksasa Perkasa HULK. Terlebih pas tahu bahwa kejadian ini karena kegilaan Ayahnya yg emang makin gila kekuasaan & pemujaan kejeniusannya. Ketika Bruce menyadari KEKUATANNYA cuma menciptakan kehampaan dan agresifitas merusak, muncul pencerahan bahwa Bruce cuma butuh kasih sayang yang hilang... Akhirnya demi keamanan semua orang terdekatnya si Bruce pergi kepedalaman hutan Amerika Selatan dan berprofesi sbg dokter sukarelawan... Too Ironic but Humble :)

Bruce Paine itu adalah nama tokoh utama dalam film "Bruce AlMighty".
Dalam film ini Bruce emang digambarkan sebage nuansa profesional yang selalu gelisah dan kaga pernah puas dengan pencapaian karirnya. Sebetulanya si Bruce ini sudah cukup punya segmen yg spesific sebage reporter acara-acara yg berkaitan dengan restoran/ makanan/ minuman disebuah acara perusahaan televisi mapan. Tapi nyatanya dia selalu tersiksa dengan fenomena kolega reporter laen yan gmenurut anggapannya jao lebih terkenal, mapan, dan disayang perusahaan karena acara yg dipandu temannya itu dipercaya sebage mesin penarik duit sponsor dan iklan. Gampangnya fenomena Syirik Menyirik menarik dan kocak banget. Pendek kata kekisruhan ini mneyebabkan semangat kerjanya turun, uring-uringan, berbagai hambatan dan kendala hidup disekitarnya selalu dianggap sebage ketidak adilan Tuhan atas hidupnya. Pasangan hidupnya yang kebetulan cukup relijius selalu menekankan kesabaran dan rasa bersyukur, tetapi ditanggapi sebagai nasihat basi dan konservatif yang gak ada pengaruhnya apa-apa. "Kesialan" yang kemudian bertubi-tubi menimpa bukan dihadapi dengan sabar dan introspeksi, tapi sebaliknya berteriak-teriak memaki bahwa Tuhan tidak ada... Nah disinilah dram satire dan komedi ironis mulae muncul dengan mengundang banyak tawa dan perenungan... "Sang Wujud Tuhan" yang digambarkan peduli atas komplain si Bruce ini, kemudian bertemu dan menawarkan Kekuasaan sebage Tuhan kepada Bruce sekedar membuktikan seberapa baik pemahaman Bruce berkuasa sebage Tuhan ... Jadilah Bruce bergelar Bruce yang Maha Kuasa (The Bruce AlMighty)... Semua hukum Alam dijamin tunduk pada kemauannya si Bruce. Yang ironisnya justru Bruce tak begitu sadar sebenarnya konsekwensi dari ambisi dan ke-aku-annya berdampak fatal ketika harus menjabat pula sebage Tuhan. Kelucuan dan Ketidak masuk akalan film ini muncul didasari kekuatan Bruce sebage Tuhan yang "dendam" terhadap segala sesuatu yg pernah merendahkannya pada masa jadi manusia biasa. Romantisme terhadap pasangannya ditunjukkan lewat kekuatan menarik Bulan jauh lebih dekat dalam orbit bumi... dan tidak disadarinya di belahan Bumi lain harus mengalami bencana banjir , karena dampak peningkatan gravitasi bulan terhadap permukaan air... Setelah si Bruce puas melampiaskan kekuasaanya, barulah berbagai kewajiban datang.. terutama melayani dan mengelola permintaan doa selurh manusia sejagad... Ambisi manusia yg dibungkus dengan Kekuatan Tuhan ternyata masih membuat kewalahan si Bruce, dan dasarnya manusia yg cenderung mau enak sendiri, akhirnya dengan gampang mengabulkan semua doa tanpa pilih kasus dan waktu.. Yang terjadi memang bukan semua senang, melainkan semua kacau.. Keributan sosial yg dicontohkan dengan pembagian Lotere berhadian jutaan dollar untuk semua peserta, malah jadi rusuh gara2 setiap peserta kahirnya cuman dapet 17 dollar saja... Akhirnya Bruce mulai berasa makan hati jadi Tuhan, dan meminta sang "Wujud Tuhan" menarik kembali kekuasaannya dan kembali menjadi manusia biasa... Kata-kata yang sangat filosofis sang "wujud Tuhan" adalah... bahwa Manusia itu memang seringkali tidak mengerti esensi keinginannya dan tidak pernah tahu selengkap mungkin konsekwensi dampak dari berbagai keinginannya itu jika terpenuhi.. Oleh karena itulah Tuhan perlu mengatur sebijak mungkin berbagai keinginan manusia itu agar mata rantai alam semesta tetap berjalan seimbang...

Rasanya ada kaitannya juga dengan pelajaran moral sehari-hari, bahwa manusia sejatinya selalu extra hati-hati dengan ambisi dan kekuasaan yang telah ada digenggamannya... Karena kenikmatan kasat mata yang ditawarkan, tidaklah terlalu menggiurkan jika saja manusia sadar betapa berat tanggung jawab yg dipikulkan Tuhan padanya...

Begitulah, gue memang sama sekali enggak bermaxud jadi agen reklame dari film-film hollywood sono... hanya saja jika ada suatu hidayah yang gue rasa bermanfaat untuk disharing tetapi cuman tertahan dalam kebesaran hati sendiri, rasa berdosa nya bakal jaoo lebih gede kan? Oleh karena itu jika ada yang gak percaya atau ingin membuktikan sendiri tentang makna yg sebenernya, gak ada ruginya juga mengeluarkan uang tabungan untuk menonton film itu segera... jika uang kurang bole juga patungan dan segera sewa vcd film-film itu di tempat yg tepat... Selamat merenung :)

Tuesday, July 15, 2003

Tauk dari mana kalo Jakarta itu bener-bener kejam ???

"... Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, jauh lebih kejam Ibu Kota"
Begitulah kira-kira ungkapan satir yang gue denger berulang-ulang sejak kecil hingga bangkotan kaya gini. Dan kebetulan sebage anak "kolong" ... bokap gue ketempuan dapet ngepos disuatu pangkalan dan sekolah militer di ujung selatan Jakarta selama 30 taon. Gue aga begitu tau apakah itu pertanda karir militer bokap yang emang bakat mandeg, atau mungkin memang sebenernya disayang keadaan yang kaga jelas... Dan emang celotehan kali ini kaga bermaxud membicarakan soal begituan...

Topik soal kejamnya Ibu kota ini jujur kaga muncul kagetan dari diri gue yg udah cukup berminat baca artikel-artikel analis atau budayawan soal pola budaya hidup ibu kota ini. Lagipula sebage seseorang yg dapet kesempatan melihat jakarta tumbuh dari taon 1969 sampe abad reformasi kaya gini... anggapan kisruh atau recok tentang Jakarta emang kaga berasa, sepertinya sadar atau kagak udah jadi hal yang lumrah aja. Barangkali disinilah perlunya sekali-kali merantau atau melakukan perjalanan beberapa lama ke negeri atau kota lain yg mungkin berbeda nuansanya... dengan begitu kepekaan dan sikap kritis kaga telmi kaya gini... hehehe btw umur dan kesehatan yang cukup seperti saat ini patut disyukuri sebage kesempatan memperbaiki diri.. ya gak?

Sepanjang riwayat remaja hingga awal-awal masa kerja, gue emang kaga berkesempatan merasakan kendaraan sendiri atau punya orang tua. Dan ketika mulae merasakan naik motor dan mobil butut sendiri... rasanya mule muncul suatu keanehan dan protes dari dalam sebage dampak akumulatif menghadapi suasana interaktif diberbagai jalan raya Ibu Kota... Supaya nggak berlarut-larut mungkin ada baeknya gue ceritain pengalaman gue sendiri deh...

  1. Suatu ketika disuatu jalan protokol yg konon banyak polisinya... Gue yg lagi konsentarasi naek motor harus kaget setengah mati, karena bus angkutan umum didepan gue yang memang jalan ditengah dengan gagahnya.. tiba-tiba dengan santainya berenti ditengah jalan untuk menurunkan penumpang. Alamaaak resikonya tentu ada pada gue sendiri dan penumpang yg diturunkan disembarang tempat... Menekan kecemasan yg luar biasa gue ngerem dan mengelak sedaya upaya, naluri mantra suci a la kebon binatang akhirnya keluar dari helm gue yg bauk. Jelas gak ada yg ngeh.. kecuali helm dan idung gue sendiri. Masyarakat sekitarnya mungkin baru ngeh.. kalo misalnya gue harus terpaksa nubruk bus atao nyamber si penumpang itu sendiri... duh :(

  2. Di perjalanan ke rumah mertua di bilangan jakarta timur sana atau sekitar rumah di selatan sini, cukup banyak jalan kelas dua yg menghubungkan daerah-daerah perumahan. Pada saat mobil gue berpapasan dengan mobil lain, terpaksa gue harus menepi sedikit.. dan sadarlah disamping kiri gue itu ada sekelompok orang pejalan kaki yg harus terpojok-pojok menghindari srempetan kaca spion gue... Baru dah ngeh gue, kalo sepanjang jalanan itu bukan diperuntukkan buat manusia, tetapi seolah-olah aspal tanpa trotoar khusus dilewati roda-roda karet ajah... Kalo mo dipaksain mikir positip, bayangan gue nanti pejalan kaki mo dibikinin trotoar layang model bangku berjalan sperti pengangkut pemaen ski di gunung2 es di swiss kali...

  3. Di suatu lokasi pasar rakyat yang terkenal baek di bilang jakarta selatan atau timur, gue hampir muak kebosenan.. pasalnya mo gue berangkat kerja telat atau nggak, selalu aja macet, dan yang bikin gondok ternyata memang bukan karena keadaan memaksa... Tetapi ternyata begitu banyak orang mencari nafkah terpaksa dengan kejam.. Pedagang kaki lima (PKL) yg tadinya menjarah trotoar yg tersedia, akhirnya mendominasi kapasitas jalan raya yg tadinya cukup 3 mobil jadi 1 mobil aja untuk jualan... Ditambah para angkot yg asik berjejer di jalanan umum seolah2 mendompleng dampak PKL jadi sah2 aja menunggu penunmpang di tengah jalan raya... Polisi pun kalo ada sekedar semprat semprit menerbitkan harapan semu... dan kemacetan panjang harus merelakan kata-kata tuah "waktu adalah uang" jadi "waktu biasa terbuang" :(

  4. Lokasi tempat kerja gue ini kata orang termasuk segi tiga emas... Perusahaan gede di gedung2 megah bercampur dengan PKL makanan yg bertebaran di pinggir jalan protokol... Walao begitu ternyata sebahagian pegawainya sudah biasa hdup dalam gaya penuh maut. Ketika jalan protokol yg begitu ramai itu dibuat jembatan penyeberangan, justru mobil gue harus hati-hati karena ada aja penyeberang jalan dari berdasi s.d berseragam, cantik atau gak menarik lebih suka nyeberang maut lansung di jalan... Ketika beberapa koran melampirkan berita kecelakaan menewaskan para penyeberang ini , barulah penghalang jalan buat penyeberang liar bener2 ketat!

  5. Pada bagian lain ada sisi jalan besar strategis yg menghubungkan ke bilangan karet-kuningan... Dimana begitu banyak pertokoan/mal besar berseberangan dengan kantor2 megah .. malah kaga ada satupun jembatan penyeberangan... Dan terpaksa para penyeberang seolah-olah mengemis nyawa pada cepatnya berpuluh2 kendaraan yang lewat tanpa belas kasihan itu... Gue sendiri sering terpaksa melewati penyeberangan jalan maut seperti ini sekadar melepas kebosanan menu makan di gedung sendiri... dan berdoa semoga nggak perlu ada korban samber nyawa hingga mungkin kelak ada terowongan khusus pejalan kaki macem di singapur itu...

  6. dan seterusnya dan .... wah duh terusss....

Kadangkala rasanya telat bener gue sadar soal beginian, dan kesannya jadi basiii bener... tapi barangkali itu lebih baik daripada kaga peduli sama sekali... yang jelas sekarang gue makin ngarti latar belakang para penulis yg peduli kehidupan kota itu terpaksa mengumpat-umpat panjang lebar soal kisruhnya pendidikan dan kedisiplinan masyarakat Ibu kota... Mereka cuman mengingatkan bahwa kekejaman yg telah diterima secara evolusi seringkali berakar dari ketidak pedulian dan subyektifitas kaum Prajanya sendiri...

Buat gue sendiri rasanya memang harus makin terbiasa terkaget-kaget dengan gaya liberal jalan raya ibu kota yang aneh ini. Kehidupan di Jalan raya ini jadi tumpuan berjuta-juta warga Jakarta yg mencari nafkah halal/tidak, tertib/ngaco.. semuanya tanpa ada jaminan tata-tertib apalagi hukum ... he he he Dan gak terlalu salah jika kelak kite bisa menilai Suksesnya EkoSosPol era reformasi yg populer itu, dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan Gaya hidup di Jalan Raya Ibu kota tercinta ini...
Jaman Nuklir kaya gini masih ada Ghaib ???

Biasanya kalo kita ngomong soal Ghaib, maka orang-orang bakal merosot kearah cerita yang serem-serem... tapi temen gue dibawah ini ngemail tentang istilah ghaib adalah "biasa" juga dalam masalah-masalah lain...


From: Iful B.
Sent: Tuesday, July 15, 2003 1:20 PM
Subject: Ghaib

Banyak yg salah kaprah dengan definisi Ghaib. Seperti dalam surat A-Baqarah bahwa ciri orang beriman itu adalah orang yg percaya dengan yg Ghaib.Dalam catatan kaki terjemahan Qur’an disebutkan bahwa Ghaib itu sesuatu yg tidak dapat ditangkap panca indra.
Ada dua yg akan didiskusikan disini:

  1. Ghaib di Qur’an itu banyak disebut tentang datangnya hari Kiamat (diantaranya dalam Surat Al Baqarah).
  2. Rasulullah pernah didatangi oleh seorang lelaki bersih yg duduk berhadap2an di depan Rasulullah dan disaksikan para sahabat. Tatkala lelaki tsb pergi kemudian Rasulullah menanyakan pada sahabat: “Tahukah kalian yg baru saja datang itu siapa…?” Para sahabat menjawab: Hanya Allah dan Rasul-nya yg mengetahui perkara Ghaib. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa lelaki yg baru datang itu Jibril.

Dari perkataan rasulullah bisa disimpulkan bahwa ghaib itu bisa ditangkap dengan panca indra, Lha buktinya Jibril bisa dilihat para sahabat.

Saya lebih setuju bahwa Ghaib itu sesuatu yg tidak kita ketahui sebelumnya. Kayak hari kiamat itu ghaib, tapi bisa kita lihat kalau terjadi sekarang misalnya, tapi kita nggak tahu akan terjadi kapan secara pasti. Kalau sesuatu yg nggak bisa ditangkap dengan panca indera kita disebut ghaib, lalu bagaimana dengan gelombang elektromagnetik/arus listrik yg ada disekitar kita. Gelombang elektromagnetik/arus listrik tidak kelihatan, tapi dengan alat kita bisa menggunakan contohnya kita bisa pake HP.

Jin itu tidak ghaib, bagi yg percaya dan yg mengira mahluk halus itu ghaib itu juga salah kaprah. Jalan2 di kuburan ah entar malem, kebetulan jarak 100 meter dari rumah saya ada kuburan, gua nggak takut ama yg beginian. Karana bukan ghaib…


Iya iya ada betulnya juga si Iful…. Buat lingkungan budaya yang kaya mistik bin klenik seperti bangsa kite ini, memang kecenderungan kuat istilah ghaib hanya terkait dengan hal-hal yg nyambungnya ke mistik dan klenik doang… Kenapa begitu? Karena berdasakan berbagai cerita sejarawan belanda atau analisanya ong khok ham, atau kisah epos sejarahnya pram, itu tergambar sekali … begitu banyak hikayat bual dan syair keagungan dibuat para elit kerajaan demi meningkatkan kewibawaan ( atau kengerian?) raja dihadapan masyarakatnya…

Mungkin sekali kebiasaan kebohongan publik yang dilakukan elit politik raja itu sama tuanya dengan budaya pungli sebagai warisan akar sejarah kehidupan politik bangsa ini… Dari pengetahuan cara2 itu si Belanda yang mau menguasai seluruh Jawa , tinggal ngomporin ajah lansung kena dua-duanya… si elit mo kerja sama krn pusing dijilat abis, dan masyarakat tinggal manut sing kuoso abis gitu dibodohin dengan berbagai isu-isu bohong buat nakut-nakutin kehendak mereka buat kritis…

Mangkanya dari kecil , Alm Nenek gue yg lumayan kuat jawanya sering nasehatin beberapa tabu yang gue sendiri ga pernah dijelasin nalarnya, kecuali disuruh manut aja, bahwa tindakan itu nggak elok… Atau juga ada budaya Jawa yg sering membunuh sikap kritis si anak kepada orang tuanya… dan Inilah yg lansung gak lansung menumbuhkan kebiasaan hidup otoriter di negeri ini… Si anak harus manut sama yg lebih tua dan kualat kalo melawan… Kebingungan karena nggak dapet pngertian nalar yg memadai sesuai kadar pengetahuan yang ada, sering diasumsikan sbg misteri.. misteri ini kadang konteksnya dianggap beda sama ghaib, padahal suatu yang misteri berarti ghaib juga…

Seringnya manusia itu berpikir, kalo otaknya itu baru bekerja setelah dapet stimulus dari 5 panca indera ( lihat, cium, rasalidah, sentuh, dengar).. padahal yang namanya feeling, motivasi, spirit adalah juga suatu stimulus yang lebih sulit dijabarkan kecuali si manusia ybs yg ngerasain… Nah ini yang dibilang indera ke-6, ke7 dst… Dalam masyarakat yang sekadar beriman dengan nalarnya, memang sangat bergantung pada pengamatan panca inderanya.. dan dari sanalah berbagai hukum yang mengatur interaksi sosial manusia dibuat… Bagi mereka sebab-akibat harus muncul dari 5 panca indera itu saja… Oleh karena itu banyak sekali kasus atau fenomena nyata yg diselidiki ternyata nggak match sama hukum nalarnya terpaksa harus masuk arsip Xfiles.

Lalu gimana dong istilah klenik & mistik yg lebih lekat dalam definisi ghaib itu sendiri? Bagaimana dengan kejadian seorang pengidap kanker tiba-tiba sembuh dari penyakitnya oleh seorang paranormal, padahal sudah divonis mati ? Atau kasus kriminal dimana terjadi sesorang yg tewas karena sebab-sebab misterius (setelah di otopsi) katanya akibat santet ? Ditambah lagi soal tempat/ barang/ orang keramat yg dipercayai memiliki kekuatan supranatural ? Tentu sebahagian besar buat masyarakat adalah jadi ke-ghaib-an yang populer… dan jadi lumrah aja.

Coba aja kembali ke taon 30 an dimana otomobil mule populer di hindia belanda, masyarakat yang terlongo2 ajaib akhirnya menerima sebagai hal yg masuk akal, ketika mereka mule memahami kaidah hukum teknologinya… gitu juga pesawat terbang, atau kapal selam… andai itu muncul pada jaman sultan mataram tentu jadi geger disangka Nyi Roro Kidul lagi unjuk kekuatan… dan pasti keghaiban (misterius) yang luar biasa buat manusia jaman itu.

Buat manusia abad science … segala hal yang dapat dikur bdsk cakupan ilmu nalar yang telah mapan yang ada saat itu, dan telah diakui standarisasi pengukurannya tsb dalam badan-badan yang telah diakui, maka hal tersebut tidak lagi menjadi ghaib… Karena listrik misalnya, atau sinyal elegtromagnetik yang tadinya ghaib dan tak kasat 5 panca indera, telah berhasil di scan dan diukur melalui indikator yang baku, sehingga sekarang manusia tahu mana benda yg berlistrik mana yang enggak.. begitu pula sinyal HP atau komunikasi lainnya… Cuman liat HP aja kite tau bahwa HP kite bakal bisa dipake komunikasi atau gak ? jadi udah kaga ghaib lagi…

Nah sebagai contoh, kalangan ilmuwan rusia dulu diam-diam lagi riset masalah ghaib yang lain, apa itu ? telepati… Nah untuk urusan telekomunikasi telepati ini masih ghaib.. dan lagi giat di riset biar ketemu metode nalarnya, kabar terakhirnya justru gue kaga tau… Yg gue tau pada jaman perang dingin, rusia riset telepati dan tele kinesisnya sebagai alat pembunuh jarak jauh, yaaah mirip santet gitulah ( discovery channel)…

Emang bener kadang-kadang soal klenik atau mistik jadi mengarah hal yang ghaib, karena masyarakat sering dicekoki secara intensif oleh mitos-mitos warisan budaya jamdul. Tantangan para ulama, budayawan dan scientist sendiri adalah jangan kalah intensif untuk mengimbangi dengan wacana yg lebih ilmiah dan edukatif… Tapi emang sih kadang-kadang dalam masyarakat yg “sakit” bisnis yg neko-neko jauh lebih menguntungkan. Seperti acara-acara tv yg sekadar mengumbar nuansa kleniknya aja, tanpa berusaha menampilkan wacana-wacana baru yg mampu berbicara lebih nalar…

Jadi kenapa pada jaman Nuklir seperti saat ini masih begitu banyak fenomena yang dianggap ghaib? Kaga laen kaga bukan karena memang dunia ini masih terlalu banyak rahasia alam yg belum mampu dipahami manusia dengan sempurna melalui kesombongan akalnya. Begitu keghaiban Bulan terkuak sedikit, ternyata keghaiban celah palung atlantis masih menunggu diraba… belum lagi berbagai penyakit baru yg baru akan muncul atau baru muncul… Dijamin dalam setiap upaya pencarian dan pencapaian daya nalar manusia akan terancam dengan tak berhingga keghaiban baru, dan kemungkinan besar akan dicari nalar baru yang mendobrak hukum nalar yg sudah ada… demikian seterusnya. Disinilah kita kenal ungkapan, bahwa hidup manusia itu serba relatif…

Suka atau kagak … keuletan / ketekunan manusia yang menggeluti kedalaman berfikir mulai dari panca indera 5 nya, lalu ke otak, perasaan, ilham, dan ketika masalah kian rumit… sadar atau tidak dia akan membentur kedewasaan Qolbunya (mata batin/hati) sendiri. Kemudian dia harus berhadapan dengan dua pilihan penting: Keimanan atas adanya kekuatan yang jauh lebih mapan, atau… terus mengelakkan diri demi tujuan superioritas nalar. Dan itulah Nikmat sekaligus Konsekwensi yang diberikan Tuhan buat kita sebagai manusia…

Tuesday, July 01, 2003

Warna DemoCrazy Anak Negeri (lanjutan 2)...

Seorang kawan lain menimpali wacana "democrazy" anak negeri sebelumnya sbb:

From: eminz.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 5:33 PM
Subject: Kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi

Aku setuju dengan iful b. dalam konteks pendewasaan bangsa, Ditengah terpaan kita tetap survive, kita tahan uji..apa jadinya kalo ujian ini menerpa amerika sudah bubar kali kayak soviet, kenapa ? karena menyatukan pikiran para jendral memang tidak mudah. Bahkan ada pepatah mafia yang menyatakan terkadang 1 orang prajurit yang bodoh jauh lebih berguna dari pada 2 jendral yang tak bisa bersatu. Inilah kehidupan jama’ah di Indonesia
Tapi kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi

Hidup INDONESIA, MERDEKA, hidup NKRI INDONESIA...
Terkahir ada syair dari penyair arab , supaya tidak frustasi menghadapi takdir Tuhan thd bangsa kita:
Biarlah hari-hari bertingkah semaunya
Relakan diri ini ketia ketentuan-Nya bicara
Janganlah engkau risau dengan kisah malam
Karena tak ada kisah didunia ini yang abadi



Ironis sebenernya, bahwa dalam sejarah politik kite, kaum Nasionalis terpaksa harus berbenturan dengan pendukung politik kanan aliran syariah islam... Politikus Nasionalis sebenernya kaga kurang yang Islamnya kuat, hanya pandangan mereka melihat nilai esensi keyakinan spiritual mereka harus diwijudkan dalam metode interaksi yang inklusif... DEMI menghormati keberadaan anak bangsa yang berkeyakinan selain Islam. Para politkus pro Syariah mengklaim bahwa 85% komunitas penduduk indonesia beragama Islam, sehingga secara de facto wajar saja suatu tatanan politik negara diterapkan bdsk Islam.. dalam hal ini metode interaksi mereka sangat eksklusif bdsk dukungan mayoritas agam yg dianut penduduk Indonesia. Hanya saja terkait sejarah antropolgi manusia, memang jalan pemikiran moderat cenderung tidak populis sebagai daya tarik politik praktis... sehingga bentrok wacana cita-cita persatuan bangsa terpelihara sekamnya sampe saat ini...

Biasanya kaum Nasionalis slam dicap sebage kaum Islam Moderat dan modern, sedangkan yang sebaliknya lebih bersifat Islam tradisional fundamentalis (literalisme quranis). Untuk saat ini, bisa cap-cap seperti itu jadi bias, karena berbagai perkembangan manuver dan edukasi politk yg terjadi pesat pasca reformasi. Yang jelas istilah Literalisme quranis, sebenernya gue ambil dari padanan istilah Literalisme Biblikal yg ada dari buku Ian.G Barbour "Juru Bicara Tuhan" sebagai alias dari fundamentalisme yg mebenarkan secara "as is" expresi ayat-ayat dari kitab suci injil.

Dalam struktur masyarakat indonesia yang budaya tumbuh dari akar spiritual/mistik yang kental, kerap istilah-istilah atau ayat-ayat yg dipersepsikan kaum sufi dan ulama yg didudukkan sebagai orang mulia wakil Tuhan yang tak terbantahkan. Dan suka gak suka kondisi seperti ini menjadi alat politik praktis yg mempengaruhi massa, tidak terkecuali penjajah Belanda menipu dengan baik+sukses sekali dengan metode ini. Mitos-mitos dan persepsi turun temurun ayat-ayat dan kata-kata bijak para sufi/ulama cenderung membuntukan sikap kritis bangsa untuk berani menelaah lebih jauh implementasinya dalam kaidah keterkinian... Kesadaran baru dari ulama modern yg kritis terhdap pelurusan persepsi budaya, malah meruncingkan benturan aliran seagama dengan tuduhan bid'ah dan penyelewengan misi keagamaan... Jelas pembelajaran demokrasi buat bangsa ini perlu ujian yang bertubi-tubi beratnya...

Keterpurukan ekosospol dan budaya anak negeri saat ini memang membutakan, sehingga misi keagamaan yg murninya sangat berat dan sarat tuntutan moral/etika yang tinggi, makin bergeser menjadi atribut pemanis dihadapan komunitas sosial... Jadi penyelewengan kinerja aparatur negara, budaya masyarakat yg jadi makin pesakitan karena putus asa, lebih mudah untuk diterima dengan lapang dada dan menjadi lebih terbuka terhadap penyelewengan kekuasaan berujung korupsi demi kemakmuran individual... Masayarakt kehilangan suri tauladan kepemimpinan, akibatnya perlu pembenaran spiritual yang dibuat-buat dan sebisa mungkin dicocok-cocokkan agar terhindar dari tuntutan dosa dari kalbu sendiri... Sekularisme dan Kemunafikkan makin subur...

Oleh karnea itu menyimak satu kata-kata bijak dari eamil kawan diatas sebagai senjata untuk pembenaran opininya ... jadi mengingatkan gue atas latar belakang penyakit mental akut dari masyarakat kite... mencoba menerima apa ada nya dan pasrah pasif membiarkan ikut sakit mental demi pencapaian target duniawinya sendiri... Barangkali dengan itu wajar-wajar ajah gue menghimbau untuk hati-hati menggunakan pemahaman harfiah faham "kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi" Istilah itu perlu dipahami jauh lebih mendalam karena merupakan rangkaian kata-kata bijak nan indah namun mewakili seribu makna pren :)

Jamaah yang keruh karena memang dampak pembelajaran masyarakat menuju perubahan, suatu hal yang kaga bisa dihindari dari fenomena dinamisasi sosial menuju penyesuaian jaman dan benturan berbagai ideologi dan kepentingan.. Ya pendewasaan bangsa itu tadi. Mangkenye udah jelas bangsa ini belon dewasa kaya gini, mbok yao mawas diri dan ngaca lebih efektif.. Karena orang kalo lagi belajar kaga sepatutnya terburu2 merasa tinggi dari yg laen apalagi merasa putus asa karena gonjang ganjing terus :)

Dan berjuang menjadi pribadi yang jernih adalah hak asasi setiap manusia yang ingin merubah diri dari lingkungan yang buruk menjadi lebih baik dengan keyakinannya masing2. Cobak simak sejarah dari jaman Nabi2, sampai revolusi sosial perancis atau revolusi industri di inggris… Masyarakat menjadi dinamis dan perubahan paradigma ekosospol karena ada keberanian, kepandaian sekaligus kepemimpinan para pribadi yang lebih baik dari lingkungannya. Istilah elo diatas itu lebih ditujukan kepada lingkungan jamaah yang menjadi taklid buta dan membeo, karena sosok pribadi yang membiarkan dirinya seolah2 paling mulia dan tak terbantahkan…

Contoh yang kawan gue tuliskan soal prajurit dan jenderal rasanya kurang tepat..., karena manajemen militer kaga pernah sama dengan manjemen masyarakat sosial.. Dalam militer kagada demokrasi dan hukum Cuma bdsk struktur berjenjang kepangkatan yang mutlak dipatuhi. Demikian pun arti "kepasrahan" yang diexpressikan kaum sufi dan agamawan proyeksinya harus jadi motivasi perjuangan tanpa lelah demi kemaslahatan manusia dimuka bumi, nah background reasoningnya yang demi TUHAN, bukan demi kedudukan atau perolehan materi yg jadi peringkat nomor wahid… itulah yg dimaxud kepasrahan illahi sesungguhnya, bukan ngebiarin masyarakat yg kisruh keruh dan kite cuman ikut-ikut aliran aer keruh pulak… Kalo pemahaman kaya begini yaaa gak salah bangsa kite cuman jadi MAHASISWA ABADI… belajaaar terusss, tapi kaga pinter2, mlorotin orang dan jadi pengemis kemakmuran orang laen…

Hati-hati dan sering koreksi diri tentang pemahaman berbagai ideologi dan filosofi yang kite yakini… Karena kaga ada yg mutlak dan abadi di dunia ini, selaen Tuhan itu sendiri... Nabi nabi utusan Tuhan semuanya sudah di langit.. Dan kite harus berjuang dengan pinter-pinter memadukan pemberdayaan emotional, spiritual dan intelektual yang ada baek individual atau kmunitas sosial .. Sekedar membebek dan membeo filosofi lama tanpa mau tauk memahami keterkinian sama aja kaya orang linglung yg kaga pernah tau sape lawan sape kawan dan sape yang udah sawan...
Warna DemoCrazy Anak Negeri...

Seorang kawan mengungkapkan perasaan nasionalisme yang menarik (lihat capture email dibawah), dalam penilaian gue sikap patriot kebangsaannya teramat kental... Secara psikologis memang seringkali perlu juga melonjakkan semangat kompetitif dan positif thinking, biar kaga "keder" mengantisipasi inferiority syndromme ( rendah diri) karena keterpurukan kondisi lingkungan sosial yg berlama-lama...


From: iful b.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 4:36 PM
Subject: Aku Bangga menjadi Orang Indonesia

Indonesia akan menjadi negara paling demokratis didunia, ada akademisi yg mendukung gerakan separatis seperti GAM, ada menteri yg bilang NO WAY ke presidennya, Ada yg mempermasalahkan pembelian pesawat buatan Rusia, ada orang2 yg nggak setuju dengan rapat2 tertutup seperti Rizal Ramli dan Setiawan Jody, ada juga voting.
Ada demo mendukung RUU-Sisdiknas, ada juga demo yg menolak RUU-Sisdiknas. Ada presiden yg diturunkan gara2 Bulog-Gate, Ada juga presiden yg diturunkan gara2 dekat dengan Suharto. bahkan disini ada Golput.

Dari sinilah saya bangga menjadi orang Indonesia.
Bandingkan dengan Amerika yg kongres dan Presiden-nya suka maen kekerasan, bandingkan dengan Irak yg pemilunya 100% mendukung Saddam,
bandingkan dengan Inggris yg ngawur dalam mengambil keputusan politik.
Bandingkan dengan Australi yg sok tahu, Bandingkan dengan Singapura yg tangan besi. Kalau mau belajar demokrasi, sekarang ini belajarlah ke Indonesia.

cheers,iful



Yah memang Soekarnoisme, yang mana pada jaman Perang Kemerdekaan hingga awal era Orde Lama memang dielu2kan sebagai tokoh Patriot/Nasionalis pemersatu bangsa... juga bahkan penggalang persatuan Bangsa Dunia ketiga... Pada masa kekuasaannya sendiri Soekarno dan JF Kennedy (presiden Amerika saat itu) sering dianggap padanan yg setara antara dunia sosialis vs kapitalis. Jargon-jargon Patriotik/ Nasionalisme yang paling legendaris adalah: "Write or Wrong is My Country"... dan satu lagi... "Do Not ask what the country do for You but what can you do for this country..."

Hingga saat ini jargon mantera diatas kerap menjadi hiasan penyedap banyak pembicara dikala orang harus berdebat membela harga diri suatu bangsa ditengah situasi yang terpuruk dibandingkan dengan keberadaan atau kebenaran bangsa lain... Pada masa perang kemerdekaan dimana nyawa dan harta menjadi obyek aniaya imperialis, rasanya jargon-jargon ini menempati situasi dan kondisi yang tepat. Tetapi bila menyimak tulisan kawan diatas itu mencontoh situasi kisruhnya kebijakan dan melempemnya pemberdayaan negara sebagai fenomena implementasi demokrasi yang TERBAIK dari negara-negara lain yg lebih makmur ? Tentu harus jadi kritik tersendiri... Karena kesannya jadi penyelewengan sikap patriot atao nasionalis itu sendiri, karena fenomena demokrasi buta hukum (DEMOCRAZY) dipersepsikan sebagai demokrasi TERBAIK...

Jikalo tujuannya sekedar kata penghibur dan pembenaran thd kekisruhan demokrasi kite ini, jelas ada fakta2 sejarah dari negare-negare makmur dan maju saat ini spt perancis, jepang, amerika, dll dimana pada 200 taon lalu merasakan "kegilaan" demokrasi (democrazy) seperti ape' yg bangsa ini alami baru-baru ini ... Berdasarkan pengalaman sejarah kemerdekaan RI, bangsa Indonesia ini belajar demokrasi modern selepas runtuhnya Kursi Kesultanan Soeharto yang Agung. Setelah itu fenomena yang ada memang kegilaan kegiatan belajar demokrasi.. Bagaimanapun juga demokrasi memang bukanlah DEMOCRAZY… Jadi macam mana sesatnya, jika ada sekelompok orang yang terpeleset kata dan pikiran bahwa keduanya sama, bahkan dianggap lebih baik !!!

Kulit ari demokrasi yang mengembar gemborkan kebebasan berpendapat dan bersuara, memang cuman menjanjikan jago-jagoan adu sapa yang peling bener dan kuat-kuatan tunjuk menunjuk sesiapa yang paling salah … Oleh karena itu demokrasi emang kacau kalau mata rantai kewenangan legislatif, yudikatif, eksekutif sebagai pengatur kehidupan demokrasi itu sendiri teteb terinfeksi dan bobrok coi…. Heheheh buah simalakama yg lama2 pahitnye jadi biase...

Hak kebebasan dan kebersamaan dalam berpendapat dan bersuara dalam warga negara memang jadi kontrol yang teramat baik dalam lingkup good governance & hi civiliance… Tetapi tetep aja harus ada mekanisme law making, law protection, dan law enforcement yg konsisten, bersih dan berwibawa.. Biar larinya demokrasi itu kaga ngawurrr ngetan ngidul kaga keruan kaya orang gila disorientasi pren… Dan akhirnya dalam lingkup perwujudan kemakmuran dan keadilan bermasyarakat, maka interaksi demokrasi - hukum menciptakan rasa aman dan stabilitas antara masyarakat dan pemenintahnya, dan kondisi ini yang kondusif menciptakan kemakmuran sosial yg relatif lebih baek…

Moga2 para penguasa dan masyarakat bangsa ini segera berhasil jadi pengamat dan pelajar yang baik, so kaga perlu waktu sampe 200 taon buat piawai merubah democrazy saat ini jadi demokrasi yg sehat walafiaat..
Dan sekedar himbauan/ kritik membangun aja, rasanya sih kagak haram bersikap jadi patriot nasionalis, asalkan mampu jadi patriot juga dalam menghardik kelaliman pada kawan/diri sendiri dan menghormati dengen kebesaran hati kebenaran pada lawan… *pis*