Deepdrown' daily Plurks

Thursday, May 29, 2003

8 LANGKAH HOLISTIK MERINTIS REFORMASI BANGSA...


Dibawah ini tercantum isi email seorang rekan di sebuah milis, yang menanggapi artikel gue per 27/5/2003 yang berjudul "LUPA PELAJARAN SEJARAH ??? AWASSS TAU-TAU UDAH JADI KELEDAI...". Agar lebih jelas, gwe coba attach disini dengan memotong beberapa konten yg irrelevan



From: Joni Kribo
Sent: Wednesday, May 28, 2003 7:48 AM

Ikut nimbrung... Menarik analisis sodara-sodara semua... tapi apa upaya nyang udah ente-ente lakukan buat memperbaiki keadaan nyang ada? Gw terus terang lebih suka menatap dan merancang masa kedepan dari pada sibuk menyesali keadaan dan masa lalu..
Bagaimana dengan anda? akan hanya sibuk berkeluh kesah, menganalisa dan akhirnya menyesali masa lalu.. ?! resikonya.. krisis panjang negeri tercinta ini semakin sulit diakhiri..

Ok kite tidak akan lupakan masa lalu, tapi setelah itu akan lebih baik lagi kalau kita coba merajut dan merancang upaya-upaya perbaikan.. berani gak?! ada ide? Dan juga jangan lupa, banyak sudah ide perbaikan yang digulirkan.. tapi selalu hanya sampai konsep, karena oposan-oposan sibuk mengganjalnya..

Aceh..? tidak jauh beda.. 10 tahun yang lalu Gw pernah berada di aceh.. dan menyaksikan betapa menyedihkannya kondisi sosial budaya disana.. padahal mereka pada masalalu jauh lebih maju dari daerah-daerah lain dinusantara.. mesti ada perubahan yang masih berada dalam koridor NKRI. Upaya otonomi khusus sudah sangat baik, dan mestinya kita dukung.. tapi GAM juga mesti disingkirkan,karena kenyataanya mereka adalah preman-preman yang tidak lebih dari bandit ganja.. Bagi rakyat aceh sendiri juga mesti menyadari bahwa mereka juga mesti bangkit, tidak cukup hanya bangga dengan masa lalu,.. tidak cukup dengan berbangga dengan kayanya sumber daya alam yang dimiliki.. ada ide?! Ada ide.. ada kemauan.. ada kemampuan.. ada keberanian.. ambil resiko.. semoga keberuntungan juga menyertai kite-kite..


Respon mr Jon ini menarik, dan patut jadi pelajaranlah... Soal macem mana aje upaya yang perlu kite-kite buat tentu bisa macem-macem cara dan motivasi kok... Sisi pandangnya yg dibahas juga perlu dibagi pren, ada sisi kolektif maupun individualistik. Smuanya punya peran penting, dan gak bisa salah satu menghilangkan yang lainnya, istilahnye reciprocal begitu, saling mengisi, komplementary...


Yang paling gampang tetapi justru sulit yaitu kesadaran dari sisi individu. Ketika seseorang memiliki wacana untuk mereformasi dirinya sendiri dalam tatanan sosial yg dianggap baku, maka jika gagal dia akan dianggap aneh, gila dan mengada-ada, tapi bila sukses dituntut lebih komitmen dan pantang pamer, masyarakat awam pun kurang awareness nya atau justru mendewakan sekedar hasil hebat yg serupa tapi males menjalani prosesnya :( Sehingga kalo kaga kuat2 iman/mental stamina orang macem ini bisa rontok sendiri. Obat penawarnya ya menanamkan motivasi lillahi ta'ala ajah (demi Tuhan doang). Gue yakin kalo penyakit bangsa ini intinya ada pada mental dan kesalahan letak pemberdayaan sosial budaya leluhur yang seolah-olah jadi dikeramatkan. Akibatnya gaya pemikiran orang kebanyakan pada umumnya jadi terkungkung, dan menggantungkan resikonya sekadar pada sosok yg dianggap punya kekuatan "lebih" (ulama,dukun,orang sakti,penguasa,pengusaha). Dampaknya ya begitulah kurang mandiri, taklid buta, dan dalam organisasi formal proporsi jilat-menjilat demi kenaikan peringkat hidup lebih cepat juga terlalu banyak...


Yang juga Gampang tetapi ternyata jauh lebih sulit adalah reformasi tatanan Sosial secara kolektif. Bdsk corak latar belakang politik dan corak sosial budaya kite ntu memang mutlak membutuhkan sosok semacem mitos "ratu adil", dimana tokoh ini menjadi impian pimpinan dan pengayom bangsa. Apa boleh buat, jika para politikus itu memang berupaya memenangkan hati orang banyak agar mempercayai dia sebage pemimpin, maka yg diworo-woro jelas niatan ingin membimbing keterpurukan bangsa menuju keadilan.. Sayangnya selama beberapa dekade kemerdekaan kite kepemimpiman yang ada cuman euphoria. Begitu kekuasaan formal terpegang, entah seolah-olah menjadi tunduk dan lembek pada arus politik gelap nan misterius, dan berkali2 masyarakat harus kecewa pada mimpi-mimpinya. Soal arus gelap ini ada beberapa buku yg secara implicit mengindikasikan sesuatu :


  1. Buku GERPOLEKnya Tan Malaka selain strategi perang, ada wacana pertentangan politik Sahrir vs TM, menggambarkan kelemahan diplomasi RI vs Belanda dalam penyerahan kedaulatan kemerdekaan secara penuh. Akibatnya NKRI diobok2 belanda dalam beberapa perang kemerdekaan. Kenapa Sahrir begitu begitu berambisi dan pemerintah saat itu begitu pasrah diatur sekutu ??? Dan secara misterius TM yang sadar perlu diplomasi kerasa dan tegas thd sekutu dibunuh dalam tindak konspirasi PK-II 1947.

  2. Politik Pokrol Bambu, sejarah segmentasi oleh Belanda thd kaum ulama dalam pangkat-pangkat administrasi kegiatan mesjid, dan penyebaran dogma-dogma politik dalam ajaran agama yg menyebabkan kehidupan beragama grass root (kaum abangan) menjadi stagnan dan tak berkembang. Beginilah jadinya grass root kita... mudah terombang ambing dalam euphoria penguasa (dulu Belanda sekarang Rejim dalam negeri).

  3. Buku Merah Konspirasi CIA dalam Pemerintahan ORLA sampe ORBA ditulis oleh wartawan politk Belanda. Menjelaskan dengan gamblang Motivasi dan sposnsor utama pemberontakan PERMESTA yaitu amerika, lalu peran 7 Jenderal Lubang Buaya yg sesungguhnya dalam konpirasi politik perpecahan militer garis Nasution vs Achmad Yani. Disitulah Soeharto muncul sebage pemenang bersamaan Suksesnya Operasi konspirasi CIA mengorbitkan pemberontakan sekaligus penumpasan G-30S-PKI. Demikian pula restu presiden ford buat Rejim Soeharto Invasi ke tim-Tim dengan janji pembelaan di PBB dan imbalan Hasil alam, tapi malah dicaci maki di berbagai sidang PBB.

  4. Analisa dan tulisan Joseph Stiglitz (pemenang nobel ekonomi) tentang Cacatnya Peran IMF di Asia Tenggara dan amerika latin, yg ternyata lebih bikin sakit daripada sehat. Dan diantara kebijakan berbgaai LOI IMF cenderung bermuka dua, semacem memberi dana pinjaman besar, tapi memeras kekuatan/kedaulatan ekonomi bangsa yang jadi pasiennya, semacem privatisasi tanpa pandang bulu... Bulu monyetpun kalo bsia jadi duit bakal diprivatisasi...

Sorry kalo gue harus kutak katik soal sejarah, justru karena sejarah adalah ilmu ilmiah yg bukan dimaxudkan untuk obyek berbangga-bangga atau bersedih-sedih, melainkan mencoba mengenal dan mempelajari siklus kelebihan/kekurangan masa lalu menjadi suatu peta forecasting perjalanan masa depan yg mereduksi resiko gagal, dan meningkatkan probabilitas sukses. Jadi bener itu kita harus BERPATOKAN PADA MASA DEPAN, tapi kan kite harus punya pedomannya bukan? Biar Pemimpin rakyat terkini itu tahu apa aja peringkat TANTANGAN dan MUSUH BANGSA dari peringkat 1 sampe 10... Sehingga senjata politiknya pas membumi dan kaga asal njeplak jadi bumerang sendiri :(


Sekarang soal langkah-langkah realisasi pasca analisa sejarah... Seperti yang Jayaprana bilang dalam salah satu seminar selasa(27/5) kemarin, bahwa keterpurukan kite itu makin dalam, karena jika dianalogikan dalam SEKS, kite ini dalam menjalankan proses improvement sering pengennya ORGASME sendiri-sendiri. Ini menjelaskan kecenderungan kite yg ingin maju sendiri menang sendiri mau gampang aja yg laen2 nggelosor ya salah sendiri, individualistik yg sarat riyaa' dan hukum rimba. Mana itu fenomena gotong royong ? yang ada cuman mencari keuntungan berkelompok dan masa bodo dengan yang orang kebanyakan... Intinya kesehatan Moral/mental/Spiritual/Intelektual dalam pengendalian diri sendiri dulu ( duh kaya Zaenuddin MZ ), kemudian disosialisasikan dalam komitmen teladan pada lingkungan2 yg terdekat. Apapun bidang dan scope langkah perbaekan masa depan kite, Pola siklus IBADAH (bersama Tuhan) --> IKHTIAR (Upaya,Kerja,amal) --> IKHLAS (Karena Tuhan) harus dengan segala upaya terpenuhi.


Tegasnya mao terkait pengembangan Bisnis, Ilmu, Riset, Teknologi, atau Ibadah yang canggih kalo kalbu tiap individu terutama tatanan kepedulian sosial masyarakatnya RUSYAK yang muncul yaa Cuma improvement dari sisi Materialistik doang. Akhirnya daya upaya yang ada malah eksploitasi sumberdaya berlebihan (kerusakan alam/hutan, kerusakan rumahtangga, ketimpangan bisnis yg adil, kecacatan hukum dll.) Salah satu penyakit kronis, di Indonesia itu nuansa liberalisasi hukumnya jauh lebih hebat daripada UU anti monopoli Amerika misalnya, atau UU kesejahteraan warga tak mampu/pengangguran di australia, atau UU Perlindungan dan denda atas gangguan Masyarakat di Singapura. Kenapa??? Simpel aja ... intinya pribadi pemerintah/aparat pelindung masyarakat kite umumnya cenderung memandang bahwa amanat rakyat adalah kekuasaan yg menguntungkan... Padahal kalo dia kelak tahu tanggung jawabnya pasti nangis darah...Oleh karena itu langkah gue pribadi cenderung bersifat 8 Sifat-sifat holistik :


  1. Introspeksi, Koreksi, Berani Interupsi
  2. Kecerdasan ESQ dalam upaya perolehan solusi masalah yang WIN-WIN
  3. Hidup adalah Ujian/belajar sampai mati, jadi jangan kebelet menang apalagi putus-asa
  4. Kualitas hidup bukan materi tapi keseimbangan 3I = Ibadah+Ikhtiar+Ikhlas
  5. Pemimpin bangsa adalah Pemimpin tauladan buat dirinya sendiri
  6. Menjadi tauladan buat diri sendiri, kemudian keluarga
  7. Kekerasan dan Ketegasan HARUS bukan karena benci tetapi pertahanan diri
  8. Setiap orang pasti bisa mati dan Kematian adalah Tanggung Jawab

Demikian prendz, semoga jadi wacana yg berguna, andaikan tidak semoga anda mendapatkan langkah-langkah yg jauh lebih baik lagi dari ini. Dan ingat hidup manusia di bumi ini terlalu singkat bagi umur alam raya.. Mari Berjuang Kerasss yang seikhlas mungkin yah :)
PRIBADI PEMENANG SEJATI JUSTRU BUKAN SOAL HASIL YANG KALAH ATAU MENANG...

Proses Perenungan diri emang BEDA JAOH dampaknya dengan Kekhidmatan Ngelamun Jorok prendz... Walao dari luar bisa keliatan sama tuh, tampak diam serius atau menerawang, tapi yang pertama memang cenderung lebih mengorek(evaluasi) kaidah kemenangan dan kekalahan setiap pribadi setelah ditempa berbagai hambatan/tantangan disekitarnya, sedang khidmat yang satunya lagi memang pelampiasan insting hawa nafsu dalam khayalannya sendiri-sendiri hahaha :) Dua-duanya juga keliatan sebage hal yang wajar aja, kecuali tentunya soal nilai manfaat, dan jenis motivasi yang dihasilkan...


Kekerasan persaingan dan makin rumitnya manusia menjalani hidup yang fana ini.. ehm sering memunculkan falsafah-falsafah baru dari seseorang atau sekelompok orang yang dinobatkan sebage PEMENANG vs pihak lain yg harus dianggap KALAH... Gegap gempita BIUS kemenangan dan kejayaan biasanya terpolarisasi sedemikian rupa, sehingga seringkali melengahkan pemahaman/pandangan banyak orang tentang MAKNA TANGGUNG JAWAB atau PROSES sebagai PRASYARAT yang jauh lebih PENTING. Akhirnya ya gitu deh yg dipersepsikan kebanyakan orang adalah falsafah hidup yang REDUKSIONIS (dipermudah bobot tanggung jawabnya), tujuannya biar setiap orang mudah OPTIMIS kepada segala sesuatu yang berorientasi pada HASIL semata-mata.


HASIL seperti apa yang diinginkan orang ? Apapun itu yang jelas akan bernuansa : KUASA/ HARTA/ CINTA yang fenomenal dan kekal, yang tidak memperoleh itu semua hanyalah kaum yang KALAH, tidak beruntung dan BUNTUNG, begitulah definisi dari sisi falsafah mereka. Agak complicated memang, sedangkan alam semesta yg jasadnya ditakdirkan secara ilmiah juga spiritual fana, ada awal dan akhir, ada siang dan ada malam, berganti musim, karena tiap planet berputar pada sumbu juga pada orbitnya ... tapi dalam alam virtual manusia malah dipenuhi falsafah kekekalan HASIL :))


Alam disekitar kite ini mengilhami bahwa semua berputar bak siklus roda yang berganti-ganti posisi pada waktunya demi keseimbangan gerak roda itu sendiri, dan keseimbangan siklus itupun bisa musnah pada takdirnya, wallahu'a lam. Begitupun kehidupan manusia ... ketika HASILNYA MENANG yg jelas terlihat adalah fenomena kejayaan, tapi dipenuhi ancaman berat yg tersembunyi, sebaliknya pada saat KALAH yg terasa jelas memang kekecewaan/kekurangan, tapi justru terbuka banyak sekali peluang positif alternatif... Oleh karena itu ada kata bijak yang patut direnungi,"Bersabarlah dengan kegembiraan pada saat MENANG, karena justru begitu banyak ancaman yang menjatuhkan... dan Tegarlah dalam kekecewaan ketika harus KALAH, karena justru dibalik kepahitannya tersembunyi banyak KEMUDAHAN"


Kata-kata Bijak dan Tutur kata memang selalunya lebih enak didengar/dibaca prendz, kenyataannya KEBERHASILAN proses implementasi dan penghayatan nyatanya pada pertarungan kehidupan sehari-hari bakal butuh Sosok "PEMENANG" dalam arti sesungguhnya... APA ITU ??? Ternyata seorang PEMENANG bukanlah ditujukan pada tokoh-tokoh yang sekadar sukses memperoleh HASIL KEMENANGAN. Tetapi lebih pada MENTAL/MORAL yang kuat/sabar/berani menghadapi PROSES HIDUP ketika MENANG ataupun harus KALAH.

Rumit ??? Dibawah ini ada 17 Makna dan pertanda bagi Kepribadian yang bermental PEMENANG prendz:


  1. Selalu sigap memanfaatkan kesempatan.
  2. Seperti orang lain, mereka takut jatuh, tapi mereka menolak untuk membiarkan rasa takut mengontrol mereka.
  3. Tidak pernah menyerah.
  4. Jika kesulitan harus melanda, mereka lebih sabar bertindak sambil menunggu sampai keadaan menjadi lebih baik.
  5. Mereka adalah orang² yang fleksibel.
  6. Mereka sadar ada lebih dari satu cara dan berani untuk mencoba cara lain.
  7. Sadar bahwa mereka manusia tidaklah ada yang sempurna.
  8. Menghargai kelemahan sekaligus memanfaatkan kekuatan² mereka.
  9. Ketika jatuh, mereka mau bangkit kembali.
  10. Kegigihan melawan proses kejatuhan yang menahan mereka dari mendaki.
  11. Tidak menyalahkan nasib untuk kegagalan dan tidak mengatakan "nasib baik" untuk kesuksesan mereka.
  12. Menerima tanggung-jawab dengan tegar untuk hidup mereka.
  13. Selalu berupaya berfikir positif yang melihat kebaikan dalam segala sesuatu.
  14. Dari hal² yang "biasa", mereka membangun "yang luar-biasa"
  15. Keyakinan kuat pada jalan yang mereka pilih walaupun jalan itu sulit, walaupun orang lain tak melihat arah yang mereka tuju.
  16. Mereka adalah orang² yang sabar, kesadaran bahwa keberhasilan sama berharganya dengan usaha yang dibutuhkan untuk mencapainya.
  17. Berupaya menjadikan dunia ini menjadi sebuah tempat yang lebih baik untuk KEMANUSIAN.
Jadi tanpa pandang bulu seluruh manusia berpotensi menjadi Pribadi PEMENANG, Tuhan Maha Adil dan Maha Penyanyang prendz... :)

Wednesday, May 28, 2003

KEREPOTAN MENYUSUN KESUKSESAN BISNIS DALAM PASAR BEBAS ? BEDALAH DENGAN REPOTNYA URUSAN SEKEDAR SEKS...

Menarik sekali apa yang diutarakan mr Jaya Suprana dalam seminar "sektor Industri Indonesia dalam menghadapi Persaingan AFTA 2003" Selasa(27/5) kemarin. Juragan Jamu Jago tsb secara gamblang berpendapat sekaligus menghimbau, agar Pemerintah sebaiknya kaga usyah ikut campur dalam kegiatan bisnis di Indonesia. Alasannya juga simple, bahwa Bisnis itu sama dengan seseorang yang melakukan hubungan seks, sehingga yang melakukan harus si pelaku seks itu sendiri... Huahahhaha begitulah tawa mengocok perut para peserta seminar, sedangkan gue sendiri ikut ketawa kecut. Karena sungguh kagak nyangka ada pelaku bisnis kawakan terkenal mengutarakan wacana yg begitu konyol dan sempit pada topik seminar yg seharusnya perlu shortcut solusi yang serius dan berhati-hati. Apalagi yang hadir adalah mahasiswa dan dosen yang secara garis besar bisa dibilang BELUM cukup piawai dalam lapangan bisnis secara nyata... Sehingga banyak sekali pertanyaan yg harusnya DILEMPAR ke bapak Jaya Suprana seputar fenomena dan falsafah bisnis itu sendiri terkait dengan analoginya yang "LOETJOE" itu...


Berdasarkan data-data dan berbagai pemberitaan, bisa disimpulkan kalo kaga semua industri dan kaga smua wilayah Nusantara siap menghadapi AFTA (ASEAN Free Trade Area). Padahal beberapa negara asia tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura sudah komit memulai implementasinya pada taon ini... Dulu AFTA ini memang dibentuk dan dipersiapkan sejak 5 taon lalu oleh komite ASEAN justru bertujuan sebagai langkah pre-emptive defensive terhadap kecenderungan/tren ekonomi pasar global yang lebih luas. Kenyataannya pemerintah kite emang terlalu "kisruh" dalam pembenahan krisis EKOSOSPOL, akibatnya yaaa pada ketidak-siapan sebahagian besar para pengusaha nasional seperti saat ini, karena infrastruktur perekonomian yg kondusif dan lebih matang harusnya tersedia tapi lebih layak dibilang terbengkalai...


Tudinganpun kembali ke pihak pengusaha, soale udah tau AFTA bakal makin deket, tapi kagada kinerja yg cukup dari mereka untuk mengevaluasi dan setting prioritas pemberdayaan sektor usaha yang dianggap berpeluang baik dan mampu bersaing. Jawaban dari beberapa pengusaha malah menggambarkan ngelesan yang cukup gampang dimengerti emang, yaitu: Kondisi Bangsa lagi Sakit... nah nah nah muter-muter ke seputar itu-itu juga. Kalo pendapat gue sebagai golongan masyarakat awam ini malah jadinya curiga doang prendz, jangan-jangan memang sukar ditemui pengusaha nasional yg mampu bermental pejuang. Jangan-jangan semua opini dan upaya yang digenjot para Pengusaha ini cuman cenderung demi penuhnya pundi-pundi kantung sendiri ??? Lah bukannye fenomena yang kaya gitu yang bikin EKOSOSPOL kite krisis dan ambruk total sejak 1998 ??? Dulupun rasanya Pemerintah sudah terlalu memberikan kebebasan kepada konglomerat untuk berekspansi sehat atao gak sehat... tapi ekonomi kite roboh juga... Jadi Apakah Pelaku bisnis kite ini udah siap mental dan moral untuk tidak dicampuri Pemerintah ?


BATAM yang dianggap paling siap mental dan familiar menghadapi pasar bebas pun masih kepentok kendala domestik yang serupa dengan daerah-daerah lain : Permodalan berat karena suku bunga kredit perbankan masih 18-20% per taon, sedangkan di negeri ASEAN lain hanya sekitar 5-8% aja setaon. Belon lagi retribusi sana-sini gara-gara shock-culture proses otonomi daerah. Sebahagian besar UKM pun cenderung baru kuat di dalam pasar lokal, karena memang belum mampu melakukan proses perbaikan mutu sesuai standar internasional, lagipula kalo dipaksain malah jadi mahal. Ironisnya begitu diserbu barang dari luar yg serupa, misalnya aja produk-produk cina yang sekarang ini membanjir, otomatis beberapa sektor UKM yg tersaingi jadi kebat kebit dan makin berkurang rejekinya... Rasanya kaya perlu peres dengkul dan otak campur darah lagi barangkali, biar usaha dalam negeri kite bisa menghasilkan produk dengan harga dan mutu yang mampu bersaing... Kalo udah begini apakah bener Pemerintah kaga perlu ikut campur ???


Walaupun begitu masih ada kabar baeknya pren... Meski belum mayoritas, sebetulnya sudah ada UKM dan Industri Nasional yang mampu berkiprah ke pasar nasional. Biasanya mereka berasal dari sektor Pertanian dan Industri Handy-Craft dari Jawa Tengah, yang sekarang lagi giat ekspor ke Eropa, ASEAN, Emirat Arab & Amrik juga. Yang seperti ini patut diteliti dan dicermati agar dapat segera jadi panutan yg dapat diterapkan buat sektor-sektor UKM yang masih lemah kan? Wilayah Jateng malah udah intensif investasi Jepang dalam industri otomotif. Sedangkan di Jatim, UKM Industri manufaktur, dan pupuk kayanya udah siap dg kiat dan strategi mateng menghadapi persaingan... Bahkan ada info menarik dari keunikan UKM di sektor makanan dan minuman (makanan/ minuman instan, bumbu instan, restoran), mereka yakin kagada masalah dengan produk asing yg seperti apapun juga, karena bisnis yang kaitannya dengan SELERA LIDAH memang udah dari sononya sangat subyektif.. Misalnya bumbu kari buatan malaysia belum tentu laku dengan bumbu kari khas indonesia, karena kari a la Malaysia memang menyolok citra Indianya.. sedangkan kari Indonesia jelas pas buat selera kita-kita. Jadinya produk-produk tersebut jadi bersifat komplementari ajah dan sekadar menambah variasi ... EMANG BISNIS MAKANAN KAGADA MATINYA heheheh :)


Kesimpulannya bisa secara garis besar gwe tulis sebagai berikut prend (moga-moga bisa mencakup secara umum):


  1. Pemerintah masih perlu banyak ikut campur dalam penyusunan regulasi dan pengembangan infrastruktur ekonomi yang kondusif

    Pada dasarnya pasar bebas murni cenderung membunuh yang lemah dan mendewakan yang kuat. Oleh karena itu pada kasus monopoli industri s/w microsoft di negara amerika yg terkenal kapitalis dan bebas, departemen kehakiman amerika bahkan perlu ikut campur menertibkan dan memenangkan perusahaan pesaing microsoft yg dirugikan akibat strategi bisnis microsoft yg dianggap bersifat "PEMBUNUH"
  2. Pemerintah perlu berdiskusi dengan Industri Nasional untuk menumbuhkan budaya riset nasional

    Jelas bahwa UKM dan Pengusaha Nasional perlu terobosan solusi tepat guna agar mampu menghasilkan produk yang relatif murah tapi bermutu baik, dan untuk itu diperlukan budaya penelitian dan riset tekonlogi dan industri yg intensif dan tersosialisasikan dengan baik, bahkan merata...
  3. Perlunya proporsional yang tepat peran pemerintah dalam mendukung bisnis dalam negeri

    Peran dan intensitas pemerintah dalam bisnis dan industri nasional memang diproporsikan sesuai kondisi dan kematangan pelaku bisnisdalam negeri sendiri, terutama faktor kesiapan instrumen HUKUM&KEADILAN yg jelas.
  4. Wacana Jaya Suprana menganalogikan proses Bisnis seperti melakukan seks demi Orgasme/kepuasan semata termasuk salah kaprah

    Analogi yang tidak aplle-to-apple, Bisnis mau tidak mau terkait pada harkat hidup orang banyak, oleh karena itu pelru bimbingan dan regulasi yang jelas agar tidak seperti hukum rimba. Sedangkan SEKS secara harfiah memang tidak bedanya antara makhluk MANUSIA dengan HEWAN. Hanya saja Manusia muncul dan lahir karena dan dengan interaksi faktor-faktor yg bersifat MATERIALISTIK & HOLISTIK(spiritual/intelektual), sedangkan HEWAN... bayangkan sendiri :)
LUPA PELAJARAN SEJARAH ??? AWASSS... TAU-TAU UDAH JADI KELEDAI...


Seringkali gwe denger tentang pentingnya SEJARAH BANGSA sebage "Cerminan Msa Lalu sekaligus Latar belakang yang mampu menjelaskan Tindakan dan kondisi bangsa saat ini". Nah baru-baru ajah internet kolega gue mengirmkan informasi lowongan kerja.. Paling enggak judulnya jelas banget pada subject emailnya : "Lowongan". Begitu gue buka, wuah isinya menarik sekali kalo gak bisa dibilang mengagetkan. Ternyata sebuah lowongan kerja jadi budak atau centeng di perkebunan onderneming era kekuasaan Gubernur Jenderal Belanda H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij pada tahun 1889 (klik aja), kalimatnya bener-bener menghinakan. Tapi dengan begitu gue jadi teringat kaitannya pada intisari penting beberapa buku yang pernah gue baca: Trilogi buru Pramudya Ananta Toer, Buku terjemahan penulis Belanda tentang analisa Perang Belanda di Aceh selama 40 tahun, dan terakhir biografi Tan Malaka (bag.1)



PENGOEMOEMAN!!!
DAG INLANDER,... HAJOO OERANG MELAJOE,... KOWE MAHOE KERDJA???

GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLOE KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN² ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENJA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

  1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
  2. Kowe poenja njali gede
  3. Kowe poenja moeka kasar
  4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
  5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak² ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
  6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe Baron Eropah.
  7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI² JANG BERTOEGAS:

  1. Keliling rawa Senajan 3 kali
  2. Angkat badan liwat 30 kali
  3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja.

Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Boeleleng, Borneo, Tanamera Batam, Soerabaja, Djakarta en Riaoe eiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah:

  1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil.
  2. Istirahat siang 1 uur.
  3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek Wang Djago.

Haastig kalaoe kowe mahoe...Pertanggal 31 Maart 1889, Niet Laat te Zijn Hoor...

Batavia 1889
Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal
H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij



Begitu basinya dijajah hampir 450 tahun oleh Belanda memang jadi warna budaya sendiri buat iklim ekosospol kite bahkan sampe saat ini. Akibatnya gaya governance pemerintah kite thd rakyatnya sendiripun wacananya kaga jao beda, contohnya sebahagian besar pedoman Hukum Negara tertulis aja masih banyak yg parameternya mengacu pada era penjajahan belanda... Apa lagi begitu lepas soekarno, kite cuman masuk ke dalam mafia neo imperialisme baru yg lebih canggih, penjajahan EKOSOSPOL melalui penyusupan kebijakan-kebijakan badan-badan "penolong" internasional ( misal: mafia berkeley era orba, WorldBank, IMF, CGI.. bdsk pemberitaan detik dan eramuslim).


Kalo sempet baca gambaran sejarah pada novel trilogi buru bumi dan manusia nya Pramudya, lalu baca buku sejarah politk perang aceh, juga sekilas ulasan pada biografi Tan Malaka... Rekrutmen cikal bakal KNIL atau kaki-tangan Belanda emang gak jauh seperti isi attachment diatas tadi, bahkan khusus pada kasus perang aceh, Belanda mendatangkan bantuan pasukan bayaran berseragam tentara belanda dari eropa macem perancis, jerman, spanyol dll.


Setelah Perang aceh dimenangkan dalam masa 40 taon, dilanjutkan sukses perang Belanda di Bali (peristiwa puputan). Maka Panglima perang Belanda terakhir di Aceh yaitu Van Heutz, diangkat jadi Gubernur jenderal Hindia Belanda yg pertama kali menjalankan politik Ethic, yaitu memberikan kesempatan belajar dan fasilitas kehidupan yg lebih baik bagi Hindia Belanda(indonesia jajahan). Sebetulnya politik ini pun disosialisasikan demi menuruti tuntutan kaum sosialis-liberal di belanda yang sedang menguat, dimana kelak kekuatan politik mereka makin matang begitu masuk abad 21 (cikal bakal SDV & PKI di Semarang sekitar tahun 1923-1935), danmasa itu muncul an dilaksanakan pertama kali usulan wakil hindia belanda dalam parlemen kecil belanda ( Tan Malaka terpilih tapi digagalkan gara2 umur ).


Van Heutz memang seolah2 mengikuti tuntutan kaum sosialis-liberal belanda, dengan mengijinan berdirinya budi utomo, dan berbagai sarikat-sarikat, mengijinkan sekolah dokter STOVIA dan pengiriman sekolah HUkum di Belanda dimasuki pribumi... masalahnya disinilah timbul klas masyarakat baru yaitu kaum priyayi, yaitu kaum yg seolah2 sengaja diskeolahkan hingga HIS atau MULO, kemudian diangkat sebagai pembantu administrasi hindia belanda oleh pemerintah belanda saat itu, dan secara gak sadar mereka dituntut balas jasa dengan menjembatani politik belanda kepada masyarakat grass root kebanyakan dengan iming-iming kekuasaan dan kekayaan tentunya... Untungnya juga buat belanda yang berhasil memecah belah pandangan politik pribumi thd Belanda. Nah metode ini pula yg digunakan kaum neoimperialis mengangkat para "priyayi" modern semacam fenomena kiprah Mafia ekonomi berkeley dan penguasa orde baru di Indonesia...


Masalah Transmigrasi pun sebetulnya kelanjutan dari strategi Van Heutz untuk mengisi kantung-kantung wilayah nusantara yang kaya tapi budaya dan politiknya gak mampu dikuasai sepenuhnya oleh bujuk rayu pemerintah Belanda... dengan woro-woro semacam email diatas itu... Pemerintah Belanda memprovokasi dan mengiming2i rakyat grass root yg sebahagian besar tergolong bromocorah untuk berimigrasi dan mengabdi belanda ke daerah2 yg termasuk kantung-kantung kekuasaan tsb. Jadilah penyebaran penduduk Jawa kebeberapa pelosok daerah Nusantara. Soeharto memang mengambil pelajaran penting dari cara van heutz ini, Cuma bungkusnya dirubah aja demi pemerataan kemakmuran... walau kenyataannya terlalu banyak transmigan era soeharto yg gagal dan terabaikan karena kurangnya dana... Bedanya jaman Belanda memang lebih berani komit membayar dan merealisasikan ambisinya menguasai daerah-daerah kaya diluar pulau Jawa... Pada era ORBA, Ketika penduduk diiming2i propaganda transmigrasi berpindah ke luar jawa, akhirnya dusun asal para transmigran dijadikan waduk dan berbagai instalasi strategis negara tanpa uang ganti rugi kepemilikan yang sesuai... "hebat" kan?


Mengenai kenapa Van Heutz memilih dan bergantung pada orang-orang Jawa ? Ada analisa menarik dari biografi Tan Malaka, bahwa para perintis belanda melihat penduduk diluar Jawa adalah bangsa2 yg susah ditundukkan, dan gemar berperang, lagipula cukup sulit beradaptasi. Tapi dari sisi lain, sebenarnya umumnya suku2 di luar jawa itu sudah biasa bertransaksi dengan pendatang dari luar nusantara (arab, india, melayu jauh, cina), nah mereka tahu bahwa berbisnis dengan bangsa kulit putih sangat dipenuhi tipu daya dan kerakusan, oleh karena itu begitu belanda kasak kusuk diwilayah mereka, sukar sekali untuk bekerja sama dan dikelabui, padahal ambisi belanda begitu tingginya untuk menguasai daerah-daerah kaya tsb. Sedangkan penduduk Jawa yg lebih lama berhasil disegmentasi dalam kelas-kelas priyayi, budaya asal kemandirian sbg petani dan pedagang telah berubah sedikit demi sedikit menjadi buruh kerja di ladang-ladang pemerintah belanda, karena sebahagian besar ladang di pulau Jawa telah dikuasai belanda dan kaum ningrat/priyayi Jawa... Kondisi ini cenderung mengkungkung mereka menjadi taklid (terbiasa patuh terpkasa) demi hidup pada sekedar fasilitas yg diberikan penguasa saat itu (belanda, ningrat & priyayi).


Soal Aceh ? dari jaman dulu kala memang memiliki polemik tersendiri, karena aceh memang suku yg berpendirian dan berwawasan dagang internasional sejak lama... Sebelum Aceh dijajah belanda... Penguasa mereka sudah sering bekerja sama dengan Pedagang arab dan kaum militer Inggris dibawah kekuasaan Raffles. Perang Aceh pun sebenernya kericuhan dagang segitiga... Karena diam-diam Inggris menjual hak dagangnya di aceh kepada belanda ( ditanda tangani dalam pakta khusus), karena akan berkonsentrasi pada semenanjung malaya, singapura dan borneo ujung (brunei). Nah pebisnis di Aceh ternyata sudah tau sejak lama kebusukan bisnis orang Belanda, sehingga teteb tidak mau Belanda berurusan bisnis rempah-rempah dg mereka. Belanda yg sudah kebakaran jenggot karena kerakusannya terpaksa membuka Perang aceh 40 tahun itu dengan biaya berjuta-juta gulden. Mangkanya begitu menang perang, dibalik politik etik yg munafik itu, Belanda teteb menggenjot perbudakan di berbagai wilayah perkebunan (karet, gula, rempah2, minyak tanah, batu bara) mereka buat mengganti biaya perang yg udah bikin Pemerintah Belanda hampir BANGKRUT itu...


Demikianlah latar belakang perang aceh dan budaya sebahagian besar pemikiran bangsa ini. Racun Budaya dan Moralitas selalu saja ditimbulkan karena kecurangan dan kerakusan bisnis imperialis... sayang sekali dampaknya masih aja sampai kini. Semoga ada penjelasan lain, mengapa bangsa ini seolah-olah RAJIN sekali mengikuti JEJAK KELEDAI, dibandingkan bangsa serumpun lain seperti Malaysia, ThaiLand, atau negara tetangga macam Korea Selatan dan China ?... Yang dirasakan sampai kinipun kinerja politk apalagi ekonomi masih aja "seolah-olah" rela terjajah oleh iming2 hawa nafsu neo-imperialisme, bahkan kaga segen-segen menginjak bangsa sendiri... Kalo menyimak kericuhan rakyat Aceh terkini dari sisi PSIKOLOGI harusnya cukup wajar, Jika rakyat Aceh yang sejarahnya begitu tegar menjadi berwatak makiiin keras dan pencuriga, karena dalam 3 dekade rentang abad 20 hingga 21, harus mengalami kepahitan berulang-ualng karena pengkhianatan, setelah dikhianati inggris dan Belanda, masa kemerdekaan pun tertipu dan terabaikan oleh rejim Orla, abis gitu diinjak pula oleh rejim Orba... Siapa yang salah??? Yah cuman Sejarah yang bicara :)

Monday, May 26, 2003

U HATE MONDAY ? U COULD BE HATE YERSELF... PLEASE NOT !


Kecenderungan Hawa sumpek bekerja dan produktif di hari Senen a la sindroma "I hate Monday" ada bagusnya dilawan sedikit demi sedikitlah... Coz Semangat dan Keberhasilan yg bisa tercipta pada awal hari kerja tiap minggu ini, berpotensi bawa mud yg terkendali menuju lebih sukses untuk hari-hari berikutnya lho... Karena apapun alasan pribadi yg menyebabkan keseganan ( dari kadar low sampe hi) mengawali kerja, berpotensi menjadi terlalu permisif menerima begitu ajah tanda-tanda keputus-asaan ditimpa hambatan bin tantangan pren... Well weleh bukan maksud hamba sok tahu, tapi sebenernya sharing pengalaman aja sih, kalo gak percaya yaaa okay ajah :)


Begini lho... dari beberapa kolega gue yg pernah curhat diberbagai lokasi, entah dari masa perusahaan lama sampe sekarang, rasanya terlalu banyak yang mengutarakan secara eksplisit kaga suka Hari Senin... entah ini fenomena ikut-ikutan atao dasarnya lagi mud produktifnya menurun, apa emang males... yang jelas kalo dari pengamatan "awam" gue teramati adanya garis besar pola sebab-akibat yang terkait masalah yang BUNTU dan MENGANCAM eksistensi karir individu di tempat kerja... Yang jelas kadar intensitasnya memang macem-macem, ada yg fluktuatif (naek-turun), ada juga yg secara linier sedikit tapi pasti makin menumpuk tanpa kompensasi. Akhirnya seperti yg dihadapi manajemen pada umumnya, menurunnya produktifitas kerja secara signifikan...


Kejadian yang tidakmenguntungkan kaya begini memang bisa diliat mekanismenya secara kolektif atao etos/moral individual. Pada mekanisme kolektif, turunnya produktifitas SDM biasanya terkait dengan masalah kualitas kebijakan Perusahaan dan berbagai alternatif pengambilan keputusan manajemen thd tantangan bisnis makro yg secara kasar berdampak kurang menguntungkan bagi sebahagian besar kelompok pekerja/pegawai, Akibatnya pada kondisi pekerja/pegawai yang merasa tak terwakili aspirasinya akan menjadi down-spirit, dan secara lansung atau tidak lansung bakal berpotensi menurunkan kinerja organisasi, secara kualitas pun menurun karena andaikan pekerja/pegawai tetap bekerja seperti biasa, tapi hati mereka terasa "mati" dan "hampa".


Penjelasan dari sisi moral/etos professional per-individu, cukup wajar jika ada seseorang profesional yang tidak mampu meningkatkan kinerja/kemampuannya, karena ybs berkeyakinan ,"buat apa meningkatkan kemampuan dan kualitas kejra kepada organisasi, jika kagada peningkatan pendapatan ???". Biasanya pegawai profesional yg seperti ini memang sangat berorientasi pada HASIL, sehingga ybs tidak akan menyumbang lebih dan bertahan pada status stagnan maen kuat-kuatan aja dengan policy yang ada, dan selama tidak melanggar ketertiban organisasi yang beginian memang hak tiap individu yang terlalu privacy untuk dihujat manajemen. Ketika Tujuan Perolehan Financial yang lebih baik BUNTU, maka biasanya Pekerjaan akan dirasa sekedar BEBAN, nggak ada lagi harapan yang menyenangkan. Badan rasanya cepet Capek, Berangkat segen, di kantor pun kaga betah, pulang pengennya selalu Teng-Go... Pokoke mereka merasa dirugikan dan cuman perusahaan yg untung kalo ybs harus kerja terlalu rajin...


Yang jelas ada pendekatan lain yang tujuannya adalah kesehatan Jiwa, yaitu Berorientasi pada kualitas Proses dan Pembelajaran. Ketika Hambatan-hambatan mulai muncul menutup harapan-harapan indahnya karir, orang ini tetap berusaha menjaga kualitas pelayanan dan kinerja organisasi tetab baik dan terkendali... Kenapa? Ni Orang mungkin Bego?... Oh iya kalo persepsinya sekadar prinsip dagang ada uang ada barang doang pren... Tapi ketika individu tsb beralih pada semangat individual-improvement, maka yang muncul adalah aura positif yang terpancar dengan kesigapan bekerja maupun berkreatifitas, semangat positif pantang putus asa , mampu mencintai pekerjaannya dari berbagai sisi tanpa pamrih. Secara lansung atau tidak lansung dampaknya akan tercermin pada lingkungan sekitarnya, yang mungkin sekali sedikit demi sedikit termotivasi kearah positif, selain itu timbulah kreatifitas dan kemampuan melihat masalah/hambatan secara jernih sehingga terbukalah peluang-peluang positif yg sebelumnya tak terbayangkan... SEHINGGA ANDAIKAN DUNIA BERGUNCANG, TETAP MUNCUL INSPIRASI POSITIF OLEH GOYANGANNYA. Oleh karena itu Coba deh 2 Tips sederhana dibawah ini, andai semangat kerja berasa mulae menurun:


  1. Cari Kesenangan Baru dalam Pekerjaan. Misalnya kalo lagi males ketik proposal, coba bikin target sendiri bikin proposal lebih cepat lagi, atau lebih keren...
  2. Tekad menjadikan Habatan menjadi Tantangan yg menarik. Hambatan itu hampir sama dengan Tantangan pren. Bedanya hambatan sering berarti MASALAH yang jadi BEBAN sehingga bikin males langkah untuk mengatasinya, nah kalo Tantangan itu seperti menghadapi Permainan yg menantang untuk dilawan dan dilalui, sehingga langkah makin cepat, kuat dan panjang buat menghadapinya...


Nah Gambaran Masalah karir dari sisi kolektif maupun etos individu emang kaga selalu Saling bersesuaian prendz... yang jelas Waktu adalah Harta yang tak ternilai untuk selalu meningkatkan diri baik amal ibadah juga amal ilmu. Jadi ketika upaya perbaikan kolektif mengalami benturan "KERAS" dan serasa "BUBAR", upayakan KEKUATAN KEPRIBADIAN ini janganlah melemah apalagi menyerah, sangat disayangkan jika UJIAN HIDUP di dunia yg fana ini sempat membuat kalbu jadi sakit lalu memberi peluang pada KEPUTUS-ASAAN yang tiada berguna. Semua memang Pilihan yang harus dihayati dan diupayakan dengan benar, semoga Tuhan selalu membimbing kita kedalam Pilihan Hidup yg terbaik bagi masing-masing, AMIN !!!

Friday, May 23, 2003

( SABAR vs PANIK ) mengantisipasi dampak perang ( ABRI VS GAM )


Pada waktu-waktu nyante di Ibukota ini, mungkin banget gue lagi plonga plongo di mal, belanja-belenji di supermarket, atau ketawa-ketiwi di cafe entah bareng keluarga/kolega, bakal besar banget potensinya LUPA INGETAN bin CUEK aza kalo kondisi di tempat lain di negeri ini begitu gaswatnya, dan bisa menular :( ... kadangkala kalo lagi "sok suci" gue suka kaga enak hati yg gak jelas ya... mungkin sama kalbu sendiri ajah... Gaswat gimana ? Oh iyaaa gazwat sekali, dan ini bukan menakut-nakuti, cuman potensi logis yang perlu diketahui aja...


Setelah beberapa waktu lalu ada beberapa bom meleduk di mal atrium, gedung BEJ, kantor polisi, trus Perang SARA di Ambon, Poso, dan bbrp kota di Kalimantan, kembali bom BALI yg fenomenal lanjut dg BOM Bandara Cengkareng, AKHIRNYA kembali menegang PERANG SAUDARA di ACEH : ABRI VS GAM... Penyakit kambuhan warisan DOM Orde baru ini jadi lebih gahar setelah dibahas tuntas dan ekslusif menjadi fokus utama di berbagai media massa. Sekali lagi perhatian utama Negara kepada proses perbaikan ekonomi bangsa jadi makin keleleran. Gue sendiri suka kaga pengen percaya, di ujung abad 21 kaya gini, kite masih ribuuuuttt sendiri dengan berbagai hal yg berbau eksklusif... Padahal dampak perang ekonomi dunia yg lebih parah bakal menanti tuh, iyaaa WTO udah mule gembar gembor PASAR GLOBAL dan GLOBALISASI EKONOMI prendz :( ... ini kalo proses sosialisasi dan antisipasi penguatan ekonomi kerakyatan kaga sempet dijalanin, udah deh dijamin kite jadi BUDAK PASAR doang... makin banyak industri dalem negeri bakal mati suri sbelon mampus beneran, gara2 kaga laku ngelawan barang murah, meriah bermutu dari produk luar... belon lagi soal kualitas tenaga kerja dan melonjaknye pengangguran. Kasus meraja-lelanya produk selundupan akhir-akhir ini aja udah bikin loyo ekspor, malah bbrp investor barang elektronik asing ( mis. sony) aja udah ngacir, gara2 pemerintah kaga bisa ngurusin penertiban selundupan... *klise*


Jadi gue pribadi menilai, "ketenangan" dan "keamanan" yg dirasakan sebahagian masyarakat peroleh saat ini sangat sangat SEMU, dan berpotensi memendam bara dalam sekam yang siap meledak. Pemerintah, Aparat dan Badan Inteleijen Negara harusnya menyadari yg beginian, dan masyarakat bisa menunggu dg target yg pasti dari langkah-langkah positif apa yang dilaksanakan pemerintah... Sayang sekali setelah ditimpa berbagai bencana naiknya semua biaya infrastruktur sosial (bensin, tranportasi, telepon, listrik, air, sekolah), masyarakat sekarang harus menyaksikan pertunjukan PRA PEMILU 2004, dimana drama hilangnya kesabaran percaturan politik RI vs GAM digantikan dengan Perang fisik yg sedikit banyak pasti menambah beban anggaran pembangunan nasional. Yang jelas TONTONAN mahal ini bakal menyedot perhatian, dan dan rakyat terpaksa harus lebih SABAR lagi jadi MISKIN di bumi pertiwi *hiks*.


Ngomong soal SABAR memang gak maen-maen prendz. Beberapa komunitas pedagang mandiri dan UKM adalah contoh menarik bagaimana mereka bertahan dan jumpalitan cari akal biar bisnisnya jalan, dan dapur para pegawenya bisa NGEBOEL ANGET, sukur-sukur 100% HALAL. Ha ha ha ngomong soal halal atao harampun jadi polemik sendiri, soale praktisi hukum kite juga udah biase punya seni khas memutar-balik opini yg ukurannye cenderung cuma UANG dan KUASA. Masalahnya krisis dan perang ini bisa ajah akhirnya merontokkan daya tahan para pahlawan pasar tradisional dalam negeri jika yg namanya faktor KEAMANAN SOSIAL & POLITIK nggak pernah stabil. DAYA beli masyarakat menurun, investor binun, industri setun dah.


Setelah industri tekstil terganggu gara-gara konspirasi kebakaran pasar Tanang Abang, baru-baru ini Para Pedagang Pakaian Jadi di Cipulir tereak miris, gara-gara pemesanan pakaian jadi dari para pedagang daerah ACEH bernilai puluhan juta terpaksa cancel, karena memanasnya situasi dan kritisnya keamanan disana. Selaen itu banyak pula Jasa pengiriman barang (truk,container,dll) yg "males" untuk melakuan pengiriman barang ke kota MEDAN, padahal Medan pun sebenernya cukup jauh dari perbatasan ACEH. Gue sendiri juga belon denger dan baca komitmen apapun dari departemen perdagangan atau Transportasi mengantisipasi kondisi begini :(


Barangkali diam-diam pemerintah sendiri mengalami kepanikan tersembunyi mengetahui dampak-damapk berantai dari kenekatan Operasi Militer terpadu ke Nanggroe Aceh Darussalam ntu, Jadi yaaa nggak heran jikalaupun ada langkah-langkah tertentu pasti mutunya seputar tambal-sulam doang... gue heran pada ngapain yaaa badan intelijen negara ni? Contohnya : baru-baru ini Dalam rangka meningkatkan kesadaran terpadu dari masyarakat atas keamanan DKI mengantisipasi dampak perang aceh,... Gubernur DKI Sutiyoso (keceplosan) menghimbau masyarakat melalui media massa, ...agar tidak segan-segan menangkap dan melaporkan orang-orang yang dicurigai mengancam keamanan disekitar DKI... Lalu apa yang salah dengan statemen itu ?


Kite perlu menyadari latar belakang dan pengalaman selama ini tentang perilaku masyarakat yang suka maen hakim sendiri terhadap pelaku kriminal jalanan, dan seringkali keterlaluan, sehingga berakibat pembunuhan keji. Seringkali pula yg terbunuh adalah akibat salah sangka/ salah tuduh... Maka himbauan Sutiyoso seperti itu berpotensi dinilai "memprovokasi" hawa nafsu masyarakat kota untuk maen hakim sendiri. Selain dari itu struktur masyarakat kota yg sewajarnya majemuk akan menjadi pemicu tindakan SARA & Rasialis, soale bisa aja banyak orang sok tahu maen tuduh dan maen tangkap seseorang sebage agen GAM, hanya karena orang tersebut keturunan ACEH... Padahal GAM itu hanya sebagian kecil dari anspirasi masyarakat ACEH. Melemparkan kewajiban pengawasan keamanan kepada masyarakat awam malah cenderung semacam KEPANIKAN pengambilan keputusan dari aparat PEMDA DKI, yang erghh... barangkali kaga siap dengan aparat dan infrastruktur keamanan yg udah ada? Lagipula sudah seharusnya hal peka seperti ini menjadi tanggungan POLDA bukan?


Ada baiknya memang para LSM dan lembaga-lembaga keagamaan mendeploy dan mensosialisasi kan himbauan Gubernur DKI ini lebih WASPADA dan SMART kepada masyarakat, selaen sgera mengajukan kritik tegas kepada PEMDA dan POLDA DKI. Sudah saatnya setiap pribadi warga kota belajar memahami bagaimana menerapkan asas praduga tak bersalah kepada setiap orang disekitarnya... Lagipula KRISIS apapun memang bukan seharusnya diselesaikan dengan lebih LIAR, Keberanian sekaligus kesabaran diyakinkan mampu melihat kedalaman KRISIS ini menjadi CLEAR, AMIN!

Thursday, May 22, 2003

"IMAGE PRODUK" = KEPERCAYAAN PELANGGAN ???...


Pengalaman pribadi baru nih prendz... Ternyata sangat perlu ngitung-ngitung resiko lebih teliti, dan evaluasi kapasitas maupun performa kinerja mitra dagang kite secara berkesinambungan. Soale ketika tim gue jadi ujung tombak, atau dengan kata lain gue melakukan proses marketing Jajanan yang kebetulan bukan buatan sendiri.. tetapi hasil produk orang lain, maka dengan sendirinya gue yang akan menerima keluhan, dampratan, dan citra buruk, jika ternyata quality control produk atau kinerja dari partner yang tim gue wakili tidak mencerminkan komitmen yang baik :(


Beberapa minggu ini, Karena variasi item jajanan makin bertambah saja, maka tim gue sepakat mencoba untuk memperingan kesibukan operasi masak-memasak dirumah, dengan mencari bantuan dari tetangga-tetangga terdekat yang mampu memasak jenis makanan yang gue cari, dan sudah tentu rasanya mantabbbb dan nggak malu-maluin buat dijual ke prendz sekalian. Ternyata gak disangka, daerah gue ini banyak sekali yang pinter masak dan buat macem-macem makanan eksotik.


Tentu dengan kenyataan ini tim gue bergembira, karena proyeksi jualan kedepan bakal berpotensi lebih mudah bikin diversifikasi produk jajanan, tanpa harus makin capek lagi... Selaen itu secara lansung tim gue jadi bagi2 rejeki juga ke tetangga yg punya kualitas baik dalam jualan makanan. Dengan demikian sumberdaya tim gue sendiri bakal difokuskan untuk survey dan bikin evaluasi citarasa & cita pandang antara produk makanan tetangga yg satu dengan tetangga yg laen, pokoke sebagian kerjaan bini gue jadi analis jajanan, dan ke-dua pembokat gue bakal jadi "mata-mata" sekaligus PIC antar-jemput jajanan dari/ke tetangga yg dimaxud... Nah gue sendiri spt biase, sibuk koar-koar, sekaligus mikirin cara jualan yg jitu biar prendz sbg konsumen pada kaga bosen beli menu jajanan gue gitu...


Nah ... sbg pilot projek, gue tentuin deh beberapa menu dibuat oleh tetangga yg tim gue nilai paling "jago". alhamdulillah dalam bbrp hari respon pasarnya oke punya. Dan wajarlah jika pertumbuhan pesanan makin tinggi untuk pesenan berikutnya... Nah kondisi ini memberikan alert buat tim gue, agar kualitas jajajan dan ketepatan waktu penyediaan makin terjaga dooong, karena gue gak mau konsumen makin merasa cita rasa menurun begitu kuantitas pesanan nambah banyak. Buat gue mending jualan dikit, tapi orang puas abisss.. karena yg kaya gini penting buat menjaga loyalitas konsumen, prioritasnya lebih tinggi daripada sekedar ngejar omzet. Karena prinsip dan semangat yg tim gue yakinin adalah menjaga kepercayaan orang lebih baek drpd dokat semata.


Nah... ini dia baru muncul kejutan-kejutannya. Kalo gue bilang seh ini bener-bener bad surprise yang bikin BeTe (bad temper) prendz. Contohnya begini... Ketika malam harinya Bini gwe order ke tetangga tsb sejumlah besar pesenan menu buat besok, mereka juga yakin konfirmasi ok... Nah resehnya tiba-tiba besoknya mereka mule telat nganterin stok yg gue minta. Kebayang dong akibatnya komitmen delivery gue ke konsumen jadi telat smua... abislah gue dengan rela hati menerima keluhan dan omelan.


Hal ini ber-ulang2 terjadi, dan gue coba sabar, karena memang rasa makanan mereka unik dan disukai... Tapi akhirnya lebih parah lagi, sekali waktu pesanan bgeitu banyak, paginya dg enteng mereka cancel dengan alasan yg dibuat2... dan ini berulang lebih dari 3 kali dengan beragam alesan seperti pulang kampunglah, capeklah, terlambatlah, padahal kewajiban tim gue gak ada yg terabaikan kpd mereka... Tentu aja gue jadi cape "berbohong" ke konsumen, ketika beberapa kali pesenan tiba-tiba cancel seperti itu, dan walau tanpa komplen keras, kondisi kaya gitu udah mencoreng muka dg kekesalan mendalam :( ... Kenapa begitu? Dalam dagang yg dipertaruhkan adalah "IMAGE PRODUK" = KEPERCAYAAN = Kualitas Pelayanan x (Kualitas produk + Variasi produk + Inovasi). Jadi bayangin aja dah gedenya pengaruh kualitas pelayanan... Gak heran jika produk microsoft yang dibilang banyak bug dan kaga sempurna itu teteb jadi favorit, karena konsumen sangat percaya atas komitment support microsoft thd pelanggannya yg bermasalah... that's it!


Di belakang hari baru ketahuan, bahwa si tetangga tsb ternyata kewalahan sumber daya dan tenaga ketika harus melayani pertumbuhan sejumlah pesanan dari gue.. dan bumbu kericuhan rumah tangga mereka, menyebabkan mood komitmen mereka naek turun dan ogah-ogahan. Padahal bisnis adalah komitmen pelayanan sebaik mungkin kepada banyak orang... apalagi sudah janji dan tak ada kata maaf sekali atas kerugian muke gue ini... Langkah solusinya bini gwe segera mencari provider lain yg mampu membuat menu jajanan yg sama. Dan walau mungkin citarasa buatannya sedikit dibawah yg terdahulu, ternyata terbukti sampe sekarang si tetangga yg baru ini lebih komit dan lebih meyakinkan untuk mengikuti "irama" bisnis tim gue. Dan potensi tim gue makin bete atao jadi kagetan perkara cancel dadakan juga berkurang. Dan konsumen gue pun ternyata masih cukup puas dengan pelayanan yg lebih pasti, daripada rasa hebat tapi gak jelas ada atau enggak kalo dipesan...


Dari pengalaman BETE gara-gara mitra-dagang ini gue dapetin pelajaran dan hikmah yang sangat jelas, ujung-ujungnya demi kepuasan konsumen kite jugak:


  1. Keahlian yang Hebat kaga begitu berarti tanpa KEULETAN Tenaga/hati/pikiran yang kuat dalam urusan kualitas pelayanan konsumen...
  2. Kesepakatan bisnis dengan mitra dagang harus diikuti keyakinan bersama thd tuntutan kinerja yg selaras, selaen urusan bagi untung.
  3. Perlunya berjaga-jaga dengan mitra bisnis cadangan jika mitra bisnis utama kapasitasnya mentok, atao kinerjanya menurun, atao melanggar kesepakatan...
  4. Pelajari dan analisa mutu dan rahasia kelebihan/kekurangan produk mitra bisnis, so jika sewaktu-waktu pola-kerjasama harus dropped out, maka kite punya spesifikasi/requirement yg jelas untuk ditawarkan kepada mitra dagang yg baru, atau bahkan dikembangkan sendiri...

Wednesday, May 21, 2003

Barang Seludupan/Bajakan bikin rugi Negara dan marah?, atau salah satu alternatif bahan baku murah? , atau jadi jalan pintas ongkos bisnis jadi rendah?...


Kemungkinan besar buat para pemburu atao penggemar belanja barang-barang murah (ekektronik/tekstil) dibawah pasaran alias black-market harus bersabar untuk sementara waktu, yaaa biasanye sih sekitar 2-3 bulan lah. Iyaaaa soale akibat analisa kompreshensif Bu Menteri rini Suwandi ke Bu presiden Mega tentang turunnya investasi asing dan domestik indonesia akibat meluasnye daya serap barang-barang black market di Indonesia, Nah tercetus tercetuslah perintah lisan buat TEMBAK MATI DITEMPAT buat PARA PENYELUNDUP. ck ck ck ini dibelang serem sebetulnya enggak juga, tapi dibilang lucu yaaa terlalu jayuzzz... Masalahnya kalo sudah tesebar di media massa, biasanya gak aparat, gak oknum, apalagi mafia ybs. akan bikin aksi bulan-bulan tenang... Jadi prenz yang biase cari2 HP, atau barang2 elektronik jenis black market (pasar gelap) yaaa siap2 kuciwa deh. Tapi tenang dan sabar aje seperti biasanye aje, misalnya razia CD/VCD/BUKU bajakan dulu juga begitu... ketat dan ramai bulan-bulan pertama, nanti juga biasa-biasa lagi... tul gak prendz :)


Soal Selundup menyelundup barang ini, sebenernya memang gak selalu bisa disalahin kepada mafia penyelundupan doang. Analoginya kondisi kite itu, Bisa dibilang mafia penyelundup barang kan' emang niatnya sadar jadi tikus got yang sengaja cari-cari celah dirumah-rumah yang gampang buat nyolong makanan yg kaga terjaga dengan baek. Udah gitu tu masalahnye rumah punya Kucing 'penjaga', sayangnye ternyata model nya juga Kucing dapur doang. Yang ikut-ikut nyolong makanan kalo majikannye lengah... duh, tu kucing baru ribut, kalo saingan bentrok nyolong bareng si tikus got... Begitulah kire2 dilema negeri ini.


Soal salahnye tikus got mungkin semua bisa seragam jago maki2nya prendz. Tapi coba sekarang kite tengok kualifikasi persiapan pemerintah sendiri. Kalo mo gamblang dan makro, dampak selundup-menyelundup ini terkait dengan masalah kedaulatan negara kelautan RI sendiri. Kalo mo jujur sehhh, Kejayaan Penyelundupan dan Pembajakan barang/jasa di negeri ini akibat Rapuhnya Pertahanan kite sendiri, baik secara Strategis, Taktis, juga tingkat Operasionalnya


  • Kelemahan Strategis

    Buku Putih Pertahanan Indonesia tahun 2003, yg diterbitkan DepHan-RI dan telah disebarkan ke beberapa negara, menunjukkan kesempitan cakupan antisipasi kedaulatan RI. a.l. sbb.:

    1. Lebih terarah pada pertahanan sumber-daya doang, seharusnya mencakup kedaulatan nusantara seutuhnya baik militer, ekonomi, sosial politik, bahkan budaya dalam warna terkini.
    2. Kaga mengkaji dg tajam atau mendalam soal perkembangan dunia internasional terkini, yg megambarkan Dinamika dan pola hubungan antar negara, khususnya kekuatan adidaya dan kekuatan besar maupun kekuatan regional. Padahal dinamika dan pola hubungan harus segera dikaji supaya RI dapat menentukan potensi bahaya/ancaman mata rantai bahaya yg bisa terjadi baek saat ini juga masa depan.
    3. Lucunya kaga nyentuh ttg bagaimana pentingnya preventive diplomacy dan kerjasama keamanan regional/internasional, bilateral /multilateral yang harusnya jadi lini awal pertahanan Nusantara. Malah dg lugu mengesankan pelembagaan kerjasama berorientasi ke dalam, ujung2nya cuman terpusat ke peran (kebanggaan) TNI doang dalam menjaga perdamaian...
    4. Anggapan bahwa ancaman yang paling mungkin dari luar negeri terhadap Indonesia adalah cuma kejahatan yang terorganisasi, dilakukan oleh aktor-aktor non-negara, untuk memperoleh keuntungan dengan memanipulasi kondisi dalam negeri dan keterbatasan aparat pemerintah. Nah padahal banyak lagi sekali kenyataan terkini bahaya kedaulatan bangsa muncul dari teori konspirasi politik International...
    5. Jelas tergambar kelucuan, ternyata teteb ajah tulang punggung pertahanan negara tetap terletak pada aspek darat doang,padahal Indonesia adalah negara kepulauan. Seharusnya titik tumpu pada Angkatan Laut yang didukung oleh Angkatan Udara dalam kerangka pertahanan terluar (zona penyangga). Nah sejak tahun 1982, secara Internasional perairan Indonesia terbuka bagi lintas damai baik kapal sipil maupun kapal militer asing. Tapi kan' kagada jaminan kalo ”tamu” yang melintas selalu berniat 'sopan'. Mengantisipasi hal tersebut, Indonesia harus memiliki penggentaran di laut maupun di udara. Gak heran deh kalo kite lah lama banget jadi ladang empuk medan penyelundupan.
    6. Kagada perhatian khusuus atas pengembangan teknologi pertahanan, malah menurut kritisi strategis pertahanan yg terbaru ini lebih cenderung pedoman KANTIBMAS yang seharusnya tugas utamanya KEPOLISIAN, dan kaga berkembang jauh dari buku putij taon 1995 terdahulu :(


  • Kelemahan Taktis

    Gamblang aja, pedoman taktis jelas dibuat bdsk strategi yang telah disetujui pemerintah. Akibatnye yaaa secara manajemen langkah taktis terkait: Penyelenggaraan HUKUM, SISTEM, PENDANAAN terkait operasi pengawasan perdagangan, transportasi, ekspor-impor, pertahanan dan keamanan... tentu jadi kaga pas dengan ancaman/kondisi yg terjadi di lapangan dan variasinya secara nyata dan telak... Begitulah lalu terjadi TAMBAL SULAM yg COMPLICATED, akhirnya malah membuat celah makin lebar dan makin banyak lagi tikus GOT kian bebas menggerogoti kemakmuran dan kedaulatan ekosospol bangsa.


  • Kelemahan Operasional

    Demikianlah, ketidak layakan proses Law Enforcement, menyebabkan meningkatnya ketidak-pastian resiko bisnis, dan yang jelas proses Good Corporate Governance (Pengelolaan proses pemerintahan/pengelolaan institusi yg sehat) juga limbung. Contoh kasarnya yaaa rontoknya ketahanan moral aparat pemerintah dari ujung LANGIT sampe ujung GOT... karena sebage manusia, canggihnya hawa nafsu manipulasi tidak terbendung oleh hukum/prosedur/teknologi yang mapan. Dan seperti rahasia umum lainnya, Hukum malah jadi sebuah permainan DUIT yang menguntungkan *slooorph*
Sumber: Sinar Harapan, 22 April 2003


Jadi Kalo memang Pemerintah yakin bahwa pemasaran barang selundupan dan bajakan itu berbahaya bagi kesehatan ekonomi Negara, yaaa rasanya rakyat kite yg emang kebanyakan 'miskin' harta, dan lebih banyak lagi berpotensi 'miskin' moral ini... perlu diluruskan dengan tindakan-tindakan yang nyata, edukatif dan komprehensif, bukan OMDO lagi,lagi-lagi OMDO... Seruan tembak ditempat bagi penyelundup oleh Bu Presiden Megawati, perlu diartikan lebih dalam untuk lebih dulu SEGERA MENCANGGIHKAN PEMBERDAYAAN HUKUM (gak klaar2) dan SEGERA MEMBERSIHKAN APARAT PEMERINTAH dari yang paling atas dan yang paling kaya lahhh...


Lalu Pemberdayaan kemandirian ekonomi masyarakat yang lebih terukur… Karena pembajakan dan penyelundupan jelas makin kagak laku, jika biaya industri dan ekonomi dalam negeri mampu menghasilkan produk yang relatif murah dan bermutu makin baik. Naluri utama masyarakat hanyalah mencari kebutuhan yg paling memadai bagi kapasitas ekonominya, jika tidak tersedia alternatif yg positif dari pemerintah, maka barang selundupan atau bajakan pun bole lah, asal murah, dan bisa gaya, atau dapur pun bisa segera ngebul buat hidup sehari-hari… APA BOLEH BUAT?


Kencenderungan Budaya Patrimornial bangsa ini yg menuntut contoh dan suri tauladan yang "MULIA" dari "YANG DITUAKAN", sehingga akan menyebabkan kesadaran yg utuh dan perbaikan kualitas hidup secara berantai bagi seluruh anak bangsa yg rela dipimpin... Dan rasanya gak ada salahnya, jika Cak Nur yang tadinya ogah berpolitik praktis, kemudian menyadari fenomena ketauladanan KEPEMIMPINAN tsb untuk mencoba diterapkan jika beliau berhasil jadi presiden yg berikutnya... POLITIK itu KEJAM kata banyak ORANG, oleh karena itu perlu ORANG yang BENAR2 punya KEIKHLASAN NIAT BAIK untuk menjinakkannya...

Tuesday, May 20, 2003

Tidak Perlu Nampak "BESAR" sendirian, agar berhasil beraksi benar-benar BESAR...


Pernah denger kiat "Lebih Mudah Membuat sesuatu daripada Memeliharanya kemudian" ? Ternyata pada dunia bisnis/dagang mandiri yang terasa malah... ya baik proses awal atau memeliharanya jadinya sama-sama sulit, dan perlu ketegaran menghadapi persaingan yang sangat ketat. Modal besar doang ternyata gak cukup menjamin, tanpa dikembangkan mental disiplin, tidak mudah menyerah, nekat dan selalu penuh semangat juga ide inovatif.


Banyak sekali pemahaman yg muncul dari para pebisnis pemula, atau bahkan perusahaan yg lama berdiri cenderung berpijak pada keyakinan bahwa, Kekuatan dan Keunikan lalu keuntungan maksimal sebuah produk barang atau jasa yg mereka buat dan jual, haruslah sebanyak-banyaknya dibuat oleh sumberdaya mereka sendiri. Pendapat ini wajar saja, karena latar belakangnya pada tujuan mempersempit peluang para pesaing mengikuti kesuksesan/keunikan produknya semata. Masalahnya tekad kuat model begini, jika dituntutu mengikuti demand pasar, malah menuntut balik adanya perluasan sumberdaya (manusia, skill, riset, alat2kerja) yg dua kali lipat musti tersedia, dampaknya yaaa UUD (ujung2nya dokat) juga, soale biaya investasi(utang,riset,marketing,design), produksi(sdm,bahanbaku,sistem), dan operasional(umum,administrasi) juga makin bengkak...


Nah kalo udah kaya gini makin berasa marjin keuntungan yg diperoleh makin tipis ajah. Dampak psikologisnya, perusahaan itu jadi makin serba salah mengimbangi permainan pasar... keder dah, mao inovatif perlu dana lebih lagi buat ngelakuin semua upaya improvement sendiri, tapi kalo minjem duit nambah beban kewajiban financial yg melorotin laba bersih... tapi kalo nggak begitu, image produknya jadi kaga berkembang... Sadar gak sadar kelimbungan ini mengakibatkan performa bisnis kaga bisa memberikan pencerahan yg menyolok melawan pesaing, dan kecenderungan harga jual produknya terpaksa jadi mahal...


Ada suatu CONTOH menarik tentang persaingan antar perusahaan komputer yg begitu ketat di amrik sono. Baru-baru ini analis saham teknologi menilai, harga saham IBM termasuk datar-datar ajah sejak 2001, sementara itu saham komputer DELL yg termasuk pendatang baru udah naik sampe 70%, melangkahi pertumbuhan saham komputer HP. Sebaliknya saham komputer Gateway udah drop 70%, Sun System jongkok sampe 80%, Apple sendiri lagi menggantung 1% ajah. Fenomena yg menunjukkan, bahwa perusahaan yg mampu bertahan bahkan meningkat itu udah melalui dan mampu menampilkan nilai-nilai ekonomis secara proporsional & efektif bagi sebahagian besar konsumen disaat situasi ekonomi yg pailit kaya gene.


Gejala yang paling gampang disimak, Perusahaan Komputer Sun yg sahamnya makin jongkok itu, ternyata merancang SEMUAnye sendiri, ya komponen server, ya mikroprosesor, sampe s/w sistem operasinya (SUN/OS). Demikian pula perusahaan komputer Apple merasa lebih yakin merancang sendiri komponen dan s/w Macintosh (SYSTEM/7), juga berbagai aplikasi inovatif pendukungnya, yaaa akhirnya harus menjual mesinnya dengan harga jauh lebih mahal, itupun cuma menguasai 2% pasar PC global, belakangan malah penjualan PowerMac anjlok sampe 40%. Coba bandingkan dg perusahaan IBM,DELL,dan HP yg mampu bertahan itu... mereka justru membeli dan bekerja sama dengan Intel Corp dalam penyediaan mikro-prosesor, sedangkan s/w menggunakan produk Microsoft corp.


Memang sehhh secara kasat mata, produk mereka jadi kurang unik alias susah dibedakan, tapi konsumen diberikan solusi yg efektif dan relatif murah dengan dukungan kuat hampir semua aplikasi penting kebutuhan profesional kan? Nah vendor2 ini tinggal bermain pada unifikasi kombinasi komponen vs segmentasi pasar, dan konsentrasi penuh pada peningkatan CRM (Customer Relationship Mgt.)yang lebih baik lagi. Dengan demikian biaya organisasi terkait riset, pemenuhan skill SDM yang MAHAL, dan penggelembungan organisasi makin dapat DITEKAN abizzz.


Jadi kalao gue inget ada kiat menarik dalam bidang e-commerce (perdagangan elektronik) yang terkait dengan fenomena ini,"Sebuah perusahaan bisnis tidak perlu jadi 'besar' agar berhasil bertindak BESAR". Bagaimana caranya? yaitu berupaya melakukan proses Collaboration to Compete, yaitu bekerja sama dengan berbagai vendor pendukung yang paling PASSS buat sepakat pola bisnis win-win, dengan demikian resiko persaingan dan beban pengelolaan bisnis dapat dibagi bersama-sama, makin variatif pula biaya organisasi yang dapat dihemat agar LABA BERSIH makin terdongkrak. Dengan sendirinya kehandalan dan ketersediaan layanan konsumen pun makin terjamin kan?

UANG PLASTIK yang keliatan renyah bak KRIPIK berpotensi bikin resah kaya ketemu JURIK...


Pernah denger istilah "UANG PLASTIK"? Ergh, emang sih bahan baku uang kertas kite yg terbaru ada kandungan plastiknye pren, tapi maxud gwe bukan nyang itu... Tapi ini istilah buat media transaksi via "KARTU-DEBET" dan "KARTU-KREDIT", bahkan "KARTU-DISKON". semuannya udah teramat populer buat masyarakat kelas perkotaan, dan semakin lama menjadi bagian yg tak terlepaskan dalam budaya berbelanja maupun transaksi pembayaran lainnya, umunya terkait kebutuhan hiburan dan kebutuhan sekunder (lifestyle)... misalnya nonton pilem bioskop, makan-minum di resto/cafe, atao taman-taman permaenan (bilyar, mini-golf, electronic game dll).


Sebetulnye yg gwe lagi pikirin bukan soal manfaat "UANG PLASTIK" itu pren, terlalu banyak yg tahu soal itu... Nah yang bikin penasaran, adalah kenapa ada fenomena yang mendorong pemakaian "UANG PLASTIK" ini makin gencar dan makin mudah saja memperolehnya dari tahun demi tahun. Dan bisa dipastikan, sebahagian besar dari Penerbit "UANG PLASTIK" (Banks, Merchants, Financial services) akan bicara bahwa media ini adalah wujud kemudahan sekaligus keamanan bagi Nasabah dalam bertransaksi. Dan tentu untuk sebahagian komunitas yg rejekinya "LANCAR", mereka menjadi sangat bebas beraksi "JUAL-BELI". Bahkan sebahagian kalangan merasakan lansung/tidak prestige dengan tersedianya berbagai macam kartu debet/kredit/diskon bertengger di dompet masing-masing :)


Berbagai perilaku ekonomi diatas memang sah-sah dan keliatan aman-aman saja, jika selalu dipandang dengan sisi positif dan optimisme yang subyektif sifatnya. Lalu dari sisi mikro, perlu ditelaah apakah si pengguna "UANG PLASTIK" benar-benar merasakan keuntungan yang "UTUH" atau hanya paham "KULIT-KULIT PEMANIS" dari janji-janji sales para agent marketing? Perlu diingat bahwa prosentase masyarakat Indonesia yg terdidik cukup (SMU keatas) di Indonesia ini maksimal 25% saja. Lalu coba lihat perbandingan strata sosial ekonomi menengah keatas vs kebawah... dijamin masih jomplang abizzz.


Dari sisi Makro, Dunia perbankan kite ini belon mampu meningkatkan pertumbuhan kreditnya kemabli ke kondisi sebelon krisis, Bisnis Perbankan yang sekarang pun masih beresiko tinggi karena Dana kucuran kredit-kredit yg terbaru pun setengahnya masih bernuansa HIGH-RISKs. Nah sementara pengucuran dana kredit ini masih "seret" untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka bisa muncul kecenderungan kuat bahwa secara alami Industri Perbankan akan "mempermainkan" Masyarakat dalam umpan-umpan pola hidup Konsumtif, misalnya hadiah-hadiah yang bombastis untuk pemakaian kartu kredit atau kartu debet, atau menjadi nasabah suatu bank. Sehingga ketika Nafsu "Belanja" Masyarakat melonjak maka diharapkan mampu menyokong pertumbuhan ekonomi, NAH yg paling menyolok adalah terbitnya marketing agresif pemakaian Kartu kredit dan Kartu Debet. Sayangnya ini masih berbau gali lobang tutup lubang, karena pola konsumtif ini ujung-ujungnya cuman bergantung pada kapasitas pinjaman Luar Negri :(. Complicated memang, tapi jalan yg termudah untuk memperpanjang nafas bagi Perbankan pada kondisi minimnya Investasi LN adalah melakukan hal tsb.


Lalu bagaimana dari sisi pengguna ? Marketing Penggunaan Kartu Kredit dan Karti Debet ini makin lama ternyata MAKIN GAMPANG saza... Coba bayangkan, para marketer di MAL2 dan GERAI2 serba ADA itu seolah2 gak perduli apakah masyarakat yg ditawarkan PANTAS atau BERESIKO menggunakan Kartu Kredit atau Debet yg ditawarkan... Dalam beberapa kasus kredit macet pemakaian kartu kredit, ternyata cukup banyak nasabah yg begitu naif memahami tanggung jawab dan kegunaan kartu kredit yang sesungguhnya... Ekstrimnya bahkan ada yang berfikir bahwa Kartu Kredit adalah Kupon berbelanja yang seolah2 gratis sampai plafon tertentu, bahkan ada yg sengaja memberikan identitas palsu sekedar menghabiskan plafon sesaat. Abis gitu tinggal Debt Collector yg galak-galak maen peranan memburu dan teroro si nasabah soal kewajiban bayar utang deh :) Kasus KArtu DEBET mungkin jauh lebih halus, masyarakat menjadi tidak peka dengan Nilai nominal yg tersisa dalam transaksi Kartu debetnya, dan Kartu debet yg tipis itu menguatkan tekadnya untuk menghabiskan cadangan tabungan yg tersisa untuk berbelanja pada gerai yg siap dengan Mesin Debet Onlinenya.


Apa yang perlu disimak dari kasus-kasis diatas ? Seolah2 demi target menggaet nasabah, Para Institusi Keuangan seolah-olah melempar resiko besar yg tersembunyi kepada nasabah yg "terlena". Kenapa ? Karena sudah menjadi kewajiban Institusi Keuangan pula untuk melindungi nasabahnya, dengan informasi yang jelas, baik yg muluk2 juga resiko yg buruk2 kepada calon nasabah. Tindakan itu seharusnya direalisasikan dengan tindakan pengawasan dokumen kependudukan dan kapasitas ekonomi yg akurat dari calon nasabah.. Karena jika tampak sekedar merayu, ini akan berpotensi jadi kasus penipuan bukan? Dalam tanda tangan perjanjian pun, seharusnya sang marketer mengingatkan calon nasabah ttg pasal-pasal resiko dan tg.jawab ybs (biasanya tertulis dalam huruf2 kecil) dalam akta perjanjian. Disinilah letak pentingnya PRosedur resmi Perlindungan Nasabah Jasa Keuangan, akan sangat baik jika Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mulai meningkatkan awareness ttg meningkatnya potensi-potensi kerugian nasabah... Selain sosialisasi terkait pendidikan memperlakukan "UANG PLASTIK" dengan cerdik & aman, juga mengajukan pasal-pasal baru perlindungan Nasabah yg lebih canggih kedalam UU Perlindungan Konsumen yang lebih mapan dan win-win. pfff...

Wednesday, May 14, 2003


Ingin memahami hidup yang ribet ini? Seimbangkan kadar Spiritual,Emosional,dan Intelektual buat mencongkel rahasianya...


Barangkali ada sering terdengar dari orang lain, atau diri sendiri berucap penasaran masalah takdir atao nasib kite selama hidup ini... Macem-macem emang pendapat dan persepsi orang rupanya. Ada yg terkait soal pemahaman agama masing-masing, ada yg bertolak dari falsafah keilmuan ilmiah yg mayoritas pada akomodasi nalar, ada juga yg campur2, malah ada pula yg berpendapat nikmati apa aja selagi hidup, masalah mati soal nanti... heheheh. Tapi soal Nasib dan takdir ini biasanya menguasai hati dan menghantui pikiran, kalo kite pas lagi ketimpa masalah diluar dugaan, lalu mentok ... Lucunya kalo pas sukses gemilang, manusia biasanya lebih sering bilang,"ini memang buah usaha dan kepandaian saya..." Hehehe begitulah manusia :)


Memang sih gak ada salahnya mengetahui lebih dalam hal ihwal soal takdir, nasib, suratan dan lain sebagainya, Pendapat umum kan TAKDIR itu sesuatu yg jadi suratan tak dapat diupayakan lagi, pendek kata ini haknya Tuhan, sedangkan NASIB itu suatu kejadian yg berlaku berdasarkan pilihan-pilihan yang diambil manusia. Yang sering jadi masalah, malah kapan kite orang bisa tahu PASTI mana yang jadi TAKDIR mana yg cuman NASIB heheheh.


Kenyataannya memang umumnya masyarakat kita ini jika getol mendalami sesuatu, suka lupa sama hal ihwal kewajiban yang lain dan jauh lebih penting pulak, APA ITU ? yaaa itu dia Kualifikasi Ibadah, Ikhtiar dan Ikhlas… Soalnnya tanpa “eksplorasi” 3 hal tsb, yg keliatan malah Mudlarat (negatif) nya persepsi manusia soal takdir dan nasib itu sendiri, ketika manusia ini terbentur pada konflik yg rumit dan seolah2 mentok, maka dengan mudah cenderung memunculkan soal nasib dan takdir sebage kambing item, malah juga kambing conge’… *mbeeeeek*


Justru dengan memahami 3 masalah yang lebih krusial itu, maka persepsi soal takdir dan nasib itu (insya Allah) bisa difahami dalam kalbu masing2 pribadi, walau syusyah banget dan cenderung mengundang perdebatan ajah jika harus dinyatakan dengan proses verbal. Sebenernya fenomena takdir atau nasib seseorang itu adalah hanya salah satu saja fasilitas kemudahan yang diberikan Tuhan buat masalah hidup yg paling pribadi masing-masing makhluk. Nikmatnya dimana? Begitu sukar dijelaskan … seperti halnya Apakah kenikmatan tidur itu ? dibilang enaknya pas bangun tidur, gak jelas juga soalnya itu berarti kenikmatan bangun tidur? Dibilang ketika ngantuk mau tidur, itupun nikmatnya ngantuk! Mimpi? Iya kalo mimpi enak, itupun pas mimpi orang kan gak berasa tidur? Nahhhh ribet kan? Itu baru soal persepsi sepele ttg apa enaknya tidur … bagaimana pula persepsi yg lebih makro seperti nasib dan takdir ?


Makhluk dan benda lain selain manusia di dunia ini tidak diberkati hawa nafsu dan kemampuan berfikir, juga sudah memiliki pemahaman bulat-bulat soal nasib dan takdir dalam ROM-BIOS mereka masing2 tanpa tawar2 dan pertimbangan… Buat manusia ? inilah seninya mengelola batin dan daya berfikir diuji dengan berbagai umpan hawa nafsu. Karena kelebihan manusia itu, maka diri mereka sendiri menuntut pemahaman nalar atau wujud eksklusif soal takdir dan nasib hidupnya di dunia. Kenapa ? yaaa karena kelebihan manusia itu juga, terjadi naik turun kinerja dan kualitas Ibadah (bersama TUHAN utamanya) --> Ikhtiar (Upaya/Perjuangan hidup) --> Ikhlas (karena TUHAN juga akhirnya). Mbulet ya ? Hahahah itulah canggihnya manusia, mangkanya tujuan dan pemahaman apapaun soal hidup ini sangat bergantung pada keseimbangan siklus Spiritual --> Emotional --> Intelektual setiap individu.


Oleh karena itu pemahaman secara mendalam soal arti dan fenomena hidup semesta nggak bisa sekadar ditinjau dari sisi nalar (intelektual) semata, karena tidak akan pernah diperoleh pemahaman yg pasti dan cocok untuk semua. Justru keunikan manusia memang pasti melahirkan keunikan jalan pemahaman dan eksplorasi hidupnya masing-masing… Nah agar berbagai manusia itu dapat hidup dalam lingkungan mudlarat yg minimalis menuju maksimalisasi manfaat sosial ??? cari + laksanakan + pahami : Ibadah --> ikhtiar --> ikhlas : yang paling benar, mulai dari keberanian pemahaman dan koreksi diri sendiri.. barulah kpd lingkungan yg terdekat, okeh prendz? Semoga jadi wacana yg baek buat dipertimbangkan... Masalah setuju atau kagak, itu mah biasa :)~

Wednesday, May 07, 2003

Para REGULATOR kaga BECUZZZ, Kemakmuran Masyarakat yang harus NEBUZZZ :((


Seharusnya kite udah kaga 'aneh' lagi kali yee kalo denger istilah KOMUNIKASI... dengan demikian harusnya banyak juga yg 'ngeh' tentang KEUTAMAAN adanya proses komunikasi juga dampak turunannya dooong? Soale urusan cari MAKAN sejak purbakala perlu proses KOMUNIKASI juga, biar gak saling "MAKAN" temen misalnya.. atau ngajak sama-sama "MAKAN" enak. Nah era abad 21 seperti sekarang ini KOMUNIKASI bukan jadi sekadar trigger cari makan, melainkan pemenuhan informasi, pemeliharaan relasi, sampai ajang ekspresi emosional antara individu/ kelompok/ institusi malah... Nah kenapa jadi melebar begitu? Karena Indera "telanjang" manusia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup saat ini yg makin perlu kecepatan, kerincian, dan kapasitas pengetahuan yang makin besaaaarrr sekaligus, demi mepertahankan nilai kemakmuran komunitas yang berlaku saat ini dan masa depan. Maka dikembangkanlah TEKNOLOGI KOMUNIKASI yang terus berevolusi agar mempermudah dan mempermurah biaya hidup manusia :)


Ironinya ( at least dari pemahaman pribadi ) di Negara ini perkara kemudahan dan kemurahan jasa komunikasi selalu jadi kekisruhan yg terpendam tanpa solusi. GARIS BESAR MASALAHNYA ? Orientasi regulator masih MENTOG pada SETORAN KAS NEGARA, buat apa ? BUAT BAYAR CICILAN UTANG LUAR NEGERI tentunya ( Warisan kemiskinan Abadi ). Konflik laen yg terus menekan adalah Kebutuhan Masyarakat yang amat sangat atas MERATANYA ketersediaan alat bantu kemakmuran nyang namanya INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI itu tadi... Ironisnya lagi tekanan rakyat itu tadi kayanya jadi bumerang balik, yang mana oleh REGULATOR muncul lagi biaya "PENYESUAIAN" pulsa pemakaian Telepon Tetap & Bergerak ( wireless fix, selular ), biar sang REGULATOR bisa menyediakan infrastruktur baru... *plok...plok...plok*


Pembahasan bdsk.mikro & makro ekonomi tentang kebijakan kontroversial regulator komunikasi kita kayanya udah lama bergema... dan gwe kayanya gak mao kutak katik itu. Yang lebih menarik gue sebenernya adalah, adanya hambatan-hambatan "aneh" terhadap berkembangnya wacana-wacana ilmiah sb terobosan-terobosan alternatif teknologi KOMUNIKASI yang murah meriah muncrat bagi masyarakat banyak. Hambatan itu ekspresinya macem2, ada yg tiba2 timbul regulasi baru yg halus, keras/galak, bahkan cueks dari sisi REGULATOR... Akibatnya ? Masyarakat dibuat tidak punya pilihan kecuali kepentingan REGULATOR, dan terpaksa kite mengasumsikan diri sbg masyarakat yg "NERIMO". Yah supaya mengurangi kadar SAUDZON, baeknya gue beri contoh GARIS-BESAR beberapa kondisi...


  1. Prendz pernah denger kan, kabar gembar gembor akhir taon lalu, tentang suksesnya pilot proyek TEKNOLOGI INTERNET VIA KABEL LISTRIK ? Proyek itu berhasil dikembangkan oleh Tim ICON+ sebage anak perusahaan PLN. Para analis juga telahmenerima cetak biru desain teknis jaringan komunikasi via instalasi listrik PLN yg udah ada... sangat applicabel gitu kesannya. COBA bayangkan kemudahan apa yg bisa kite terima sbg konsumen? KECEPATAN DATA TINGGI, ADMINISTRASI LANGGANAN INTERNET MURAH, BIAYA AKSES MURAH, KAGA PAKE PULSA TELKOM, DESA2 BISA AKSES INTERNET... INDAHNYA :) Abis gitu ditunggu2 susaui janji hingga Januari 2003, yg muncul malah beberapa artikel tentang kekisruhan administratif regulator (PLN, TELKOM, INDOSAT), Ujung2nya terkait masalah kuno: regulator yg satu TAKUT kaga ngeboel gara-gara kemajuan REGULATOR yg laen, PARANOID! Akhirnya harapan-harapan yg membumbung itu cuman jadi KABUT ASAP di pagi hari. DAN sekali lagi KEMAKMURAN masyarakat harus DIKALAHKAN oleh faktor KETIDAK-BECUSAN bisnis para REGULATOR *sedihnya*


  2. Sejak 2-3 bulan lalu makin populer teknologi Unlicenced WIRELESS NETWORK freq.2,4GHz yang dikelola oleh lembaga independen INDOWLI. Teknologi ini menyediakan media alternatif yg cepat tersedia bagi institusi/bisnis/edukasi menengah kebawah untuk memeproleh akses INTERNET. Biaya Langganan ke ISP fix berapapun lamanya anda akses Internet, Media kaga pake bayar telkom, Investasi alat tersedia dari sangat murah sampe mahal. Tapi samapai saat ini pihak REGULATOR sedang perang hangat dengan para pemakai WIRELESS LAN (kalangan Warnet, Komunitas, UKM), karena tiba-tiba menerapkan SWEEPING dan pembredelan instalasi masyarakat tanpa sosialisasi regulasi baru yang meluas & mendalam.. buntut2nya adanya regulasi baru ttg BIAYA pendaftaran pemakai & standar peralatan yg BOLEH digunakan. Semua ini diprotes keras dan alot oleh komunitas INDOWLI, karena terkesan aksi SEPIHAK sang REGULATOR yg bernuansa khas KKN(lagi2)... Dan akhirnya mayoritas pemakai INDOWLI (individu atau komunitaskecil) terpaksa bergerilya mengoperasikan jaringan wireless nya agar tidak terlibas pembredelan regulator.


  3. Baru-baru ini TELKOM memasarkan salah satu fasilitas baru yaitu: FIX WIRELESS PHONE = TELKOMFLEXI. BDsk spesifikasi resmi pemasaran telkom, telepon ini hampir sama dengan instalasi RATELINDO, hanya jangkauan jadi lebih luas, investasi alat lebih murah pdhal scope teknologi CDMA udah lebih canggih, akibatnya pulsa menjadi jauh lebih murah.. Maka berbondong-bondonglah para konsumen yg selama ini sulit mendapatkan jaringan telepon tambahan tertarik mendaftar dan membayar. Belakangan ada indikasi pelayanan TELKOMFLEXI jadi buyar dan mampet. APA SEBAB? Karena DEPPARPOSTEL tiba-tiba ngomelin TELKOM karena pemasaran TELKOMFLEXI ini melanggar kespakatan pengadaan investasi peralatan berteknologi CDMA. Awalnya telkom cuman bilang bahwa, demi mempercepat perluasan/memperbanyak gardu telepon ke daerah2 atau desat yg sulit instalasi kabel darat, maka dipercepat dengan transmisi komunikasi tanpa kabel dengan protokol CDMA itu, JADI BUKAN untuk dipasarkan sbg fasilitas lansung ke KONSUMEN (end-user)... Belakangan para OPERATOR TELEPON SELULER yg menggunakan protokol GSM saat ini (TELKOMSEL, SATELINDO, PROXL, IM3) protes juga... Karena jika TELKOMFLEXI ini jadi operasional dg biaya pulsa jauh lebih murah, maka berpotensi jadi pesaing yg bikin bangkrut!!! Kok bisa begitu? ternyata instalasi TELKOMFLEXI dg teknologi CDMA yg ceritanya bukan untuk telepon bergerak, MASIH bisa diakses denagn ALAT HANDPHONE CDMA yg dijual dipasaran, dampaknya TETEB aja jadi komunikasi BERGERAK alias SELULAR... hahahah RIBUT PASAL PARANOID lagi deh. Juntrungannya MASIH teteb setali tiga uang, KEMAKMURAN masyarakat harus DIKALAHKAN lagi oleh faktor KETIDAK-BECUSAN berbisnis para REGULATORnya *kesyaaaan deh kiteee* ;p~

Mungkin karena gue ini termasuk masyarakat menengah yg AWAM pulak, yg keliatan jadi inti masalahnya ini cenderung ke MENTAL dan MOTIVASI ASLI para REGULATOR ini aja jek. Konflik diantara pengelolaan bisnis MEREKA sendiri SUDAH terlalu banyak berpotensi bikin INTELEKTUALITAS masyarakat apalagi generasi mudanya jadi MUNDUR beberapa langkah, tertinggal jao dari Malaysia/singapur/Tailand.. apalagi Australia. Kalo semangat dan fokus intinya adalah bener-bener Kemakmuran Rakyat, gue yakin banget akan selalu ada jalan tengah sebage solusi yang anti PARANOID...

Tuesday, May 06, 2003

Mental Intelektual Bangsa Yang Terjajah, Mandiri Susah, Saling Peduli juga Ogah :(


Kalo gwe inget-inget begitu banyak berita, analisa, koar-koar dari berbagai media-massa, kayanya hampir mayoritas 80% cuman bikin dongkol, buat2 perdebatan baru, minder krn event pertandingan olahraga bangsa kite lagi kalah muluw, atao Jantung dibuat 'EMpot2an' karena masalah kriminalitas merajalela, bahkan dihantui rejeki yg seolah2 bakal makin kempes aza... Nah minggu lalu, akhirnya dapet juga berita yg bikin gwe lumayan terharu... Acara METROTV pagi menyiarkan & mewawancarai TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA (TOFI) yg bersaing pada event OLIMPIADE FISIKA ASIA berhasil menjebol 6 Medali Emas & 2 Penghargaan *plok...plok..plok...* tak tak phiewwiittt :))


Yang paling menarik adalah proses persiapan khusus para peserta TOFI dibawah bimbingan lansung Yohanes Surya tuh... Implicitly remaja-remaja ini memang dasarnya telah memiliki dasar teori dan minat yg jauh melebihi rata-rata remaja Indonesia pada umumnya, Hanya saja pada wawancara tsb. Kedua remaja tersebut menyatakan kagum dan sangat "terdongkrak" dengan wacana dan metode pemahaman FISIKA a la Yohanes Surya... Ternyata terbersit dalam wawancara tersebut Yohanes surya telah memberikan diskusi intensif yang memompa PEMAHAMAN NALAR dan BERBAGAI ANALOGI sederhana dari kehidupan nyata thd berbagai TEORI FISIKA... Dan ini menarik karena TIM TOFI tsb jadi mengerti dan faham mengapa & bagaimana falsafah formula (bbrp) TEORI FISIKA tsb terjadi... dan disinilah fenomena yg meningkatkan kepercayaan diri para tim TOFI dalam KEBERHASILAN menghadapi berbagai soal Olimpiade Fisika Asia di TAiwan itu...


Lalu setelah perayaan kemenangan itu apa ??? Kebetulan, ada cerita bdsk pengalaman kuliah gwe di Jurusan MATEMATIKA KOMPUTASI dulu... Begitu banyak pertanyaan yang hendak tertumpah melihat begitu banyak teori MATEMATIKA yg njelimet, tapi BUNTU & FRUSTASI, karena metodologi dan wawasan kebanyakan pengajar saat itu sangat sedikit yg memfokuskan PEMAHAMAN ANALOGI SEDERHANA ke dunia nyata... Akhirnya Mahasiswa akan menjadi 'MASA-BODO' dengan pelajaran yg mereka terima, kecuali kejar target SKS dan segera CARI DUIT... GENERASI MUDA TERDIDIK kite cenderung jadi KONSUMEN BUAT thd berbagai WACANA KEILMUAN dari LUAR. Jika fenomena pengajaran perguruan tinggi kita bakal seperti ini terus-menerus apa yg akan diharapkan? Budaya Riset dan sosialisasi teknologi pada generasi muda bakal mampet jadi ideologi 'OMDO' semata. Apalagi memang NEGARA ini dg alasan/kendala ekonomi belum bisa mengganjar dengan pantas para tenaga PENDIDIKnya, apalagi... menghargai dengan 'HORMAT' suatu karya atau hasil riset ilmiah secara nyata...


PBB punya teori tentang riset, bahwa agar hasil riset bisa efektif mendukung kemajuan pembangunan, maka dana riset yg harus dianggarkan bangsa tsb MINIMAL SATU PERSEN dari PDB (Pendapatan Domestik BRuto). Sedang kondisi di Indonesia : Anggaran Riset Nasional di APBN cuman 0.2% dari nilai semua barang & jasa (PDB). Mangkenye... walao kaga bisa dibilang "MOKAT", tapi dunia riset kita memang macet pren. Bayangin ajah .. di Amrik, biaya riset itu 26% dari negara, sedangkan 65% dari Industri, Nah diIndonesia hampir seluruhnya menggantung pada APBN, Industri nasional kite umumnya tidak tertarik investasi dana mereka dalam membantu riset teknologi atau keilmuan, pantesss secara mendasar bisa dibilang kadar intelektualitas bangsa saat ini lebih banyak dijajah dan dengan demikian sukar sekali menjadi MANDIRI... Lucunya karen budaya yg merugikan ini, maka bbrp kelompok yg berhasil maju akhirnya mensosialisasikan kemampuannya dalam patron bisnis berorientasi MODAL ajah... bahkan dengan bangsa sendiri yg kebanyakan "menderita".


Parahnya sejak awal metode pendidikan dasar hingga menengah tingkat atas di Indonesia dan juga kehidupan para pendidiknya, dengan sendirinya menyuburkan ilham industrialisasi bisnis pendidikan kelas Atas. Kenapa begitu? Karena beberapa keluarga terdidik dengan kelas ekonomi menengah keatas di perkotaan ternyata memiliki 'demand' selain profit yg besar agar anak-anaknya memperoleh pengajaran yg lebih baik dari masyarakat kebanyakan, berobsesi anak-anak mereka menguasai ilmu sebanyak2nya sebelum remaja. Fenomena SOSIAL kaya gini tentu bisa diliat dari berbagai sisi. Dari sisi moralitas individu, adalah hak pribadi tiap keluarga untuk berusaha memberikan pendidikan terbaik (termahal?) buat anak-anak mereka... TApi memang NJOMPLANG dari sisi KEMAPANAN SOSIAL, kerana tentu lebih jelas lagi menggambarkan jurang kesenjangan sosial... Dampak perkembangan mental dan moral bagi anak-anakpun sebetulnya patut dicemaskan, karena si anak yg terbiasa di sekolah "MAHAL" akan terbiasa dengan perlakuan dan gaya pergaulan anak-anak kelas atas... Kepekaan dan kesadaran Egalitarian yg seharusnya berpotensi dididik sejak anak-anak menjadi sirna, demi alasan perolehan Pengajaran berkualitas tinggi, yang akhirnya lebih sekadar menjaga prestige ajah... Lalu apakah budaya interaksi anak-anak secara alami yg bisa belajar berbaur tanpa pandangan kelas sosial bukan pendidikan yg bermanfaat ???


Jelas Pendidikan sorang anak memang bukan sekadar pengajaran ilmu, tapi juga bimbingan moral/mental yg peka pada norma-norma sosial maupun keTuhanan, kemudian lansung belajar berinteraksi secara kondisi heterogen nyata... dan bukan menjadi EKSKLUSIF. Sebenarnya semua punya jalan tengah... tidak ada salahnya jika anak-anak tetap bersekolah pada sekolah rakyat basa, agar tumbuh kepekaan sejak dini pada kondisi masyarakatnya sendiri, nah... sisi pembinaan keilmuan yg dirasa masih kurang dapat dipenuhi dengan sekolah/kursus tambahan lain
(musik, matematik, tari, agama, or) kan ? Harapannya generasi bangsa di masa depan nanti, jauh menjadi cerdas dan tegar baik dalam moral/mental/spiritual dalam MOTIVASI memperjuangkan ISU-ISU EKOSOSPOL demi kemaslahatan "orang" banyak. Dan ini bukan perjuangan sekali jadi pren, Orang tua perlu jadi tauladan dan berani koreksi diri.. itulah yg dihargai anak-anak kite kelak, bukan sekadar "HARTA" atau gelar "RAJA" doang prendz...

Monday, May 05, 2003

Partisipasi dalam Bizniz MLM, peluang Kerja atau menebar Mimpi ???...


Di tengah krisis ekonomi yang makin sesek beberapa taon ini, dampak yang klise tapi tak tertanggulangi pemerintah adalah: Susah dan menyempitnya peluang kerja, Perusahaan swasta juga makin 'keder' memberikan perbaikan gaji malah tunjangan hidup yg layak buat pekerjanya, Pmerintah sendiri kerepotan cari anggaran buat meningkatkan gaji pegawe negri dan ABRI... uihhh ribet ribet... Ternyata Jalan keluar yang paling mudah, paling bertahan dan banyak ditawarkan adalah menjadi PENJUAL atao SALES-PROFESIONAL kerennya... Jika individu yg terkait punya keahlian khusus dan produk unik yg berpotensi dijual, maka muncullah UKM-UKM home industri yg semerbak baek bersifat pertanian, peternakan, keterampilan, makanan/minuman/restoran, bakan teknologi tepat guna yg bbrp bisa dibilang canggih :)


Tapi bagemana dengan kelas masyarakat yang bercita-cita besar tapi masih "kebingungan" atas kapasitasnya ??? Sayangnya prosentase masyarakat berusia produktif yg kondisinya seperti ini ternyata cukup banyak (65-70%)... lalu apa yg patut mereka BUAT ??? Yak inilah sasaran utama para pengelola Bisnis MLM alias Bisnis Jasa pemasaran gaya Multi Level Marketing. Biasanya masyarakat yg "awam" pada pengalaman, metode dan hukum yg berlaku pada bisnis pemasaran akan berbondong-bondong mendaftar dalam bisnis ini pada awalnya... Kenapa ??? Karena gembar-gembor singkat nikmat para pengelola MLM pada umumnya adalah: iming-iming potensi perolehan keuntungan yg besar, ekspos mimpi-mimpi besar dengan berbagai hayalan yg tidak lagi membumi, ekspos keberhasilan beberapa peserta yg utamanya diarahkan pada kepemilikan harta-benda mewah maupun hiburan2 materi belaka... Susahnya secara hukum belum ada detil yang membahas pada etika dan cara-cara berbisnis MLM kecuali detil administratif doang, akibatnya selaen secara moral tidak mendidik, ternyata cukup banyak para anggota MLM yang tertipu dan putus asa karena investasinya 'mampet' tanpa hasil, dan tanpa sanggup menuntut apapun...


Lalu apakah semua bisnis MLM berbahaya ??? Rasanya perlu diketahui bagaimana garis besar kerja atau falsafah MLM itu...


  1. Suatu kreativitas pemasaran dari satu/lebih vendor barang/jasa tertentu
  2. Sekilas, MLM sama saja dengan sasaran distribusi konvensional: penjualan sebanyak mungkin produk denagn batas yg abstrak dan tidak transparan, sehingga HARGA yang layak juga kaga jelas, selaen cenderung tidak jelas apakah perusahaan vendor tsb sehat atau tidak? (Karena itu MLM perlu dipersoalkan)
  3. Seumpama kendaraan, MLM bagai BUS tanpa rem dan gas, soale kaga pernah jelas kapan produk harus digas dan kapan harus direm?
  4. Dalam MLM, Sebahagian besar keuntungan 'BESAR' seorang agen atau distributor MLM BUKAN dari JUAL BARANG, melainkan dari KOMISI agen kedua yang direkrut oleh agen pertama, sedangkan agen kedua mendapat komisi dari agen ketiga, dan seterusnya...
  5. Tiap agen baru akan bergerak mencari agen baru lagi, cuman begitu biar dapat komisi. Kecuali, ada yg jadi agen sekadar bisa beli produk, soale produk ini kagada di pasar terbuka, sedang mo beli dari seseorang yang telah menjadi agen, harga produk tanpa diskon :(
  6. Agen yang BERHASIL 'KAYA' sebenarnya dibayar oleh komisi agen-agen baru, bukan dari keuntungan penjualan produk (Adakah pemasaran kaya ini sehat?)
  7. MLM kaga butuh media promosi, kecuali pencarian agen lalu mengandalkan lingkungan terdekat (KKN): pertemanan dan perke-lu-argaan. Paling gampang kan merekrut kalangan yang dikenal, kaga 'duli pada ngarti soal pemasaran atau kaga (Ini satu lagi kebusukan MLM)
  8. Pertemuan & pelatihan berkala emang ada, topiknya emang bagaimana jual barang. Tapi, kenyataannya "SEDIKIT" doang ilmu pemasaran, yang seabrek cara MERAYU (atau NIPU?) orang biar mao jadi agen baru. Iming-imingnya bermacam SLOGAN provokatif: menjadi bos untuk diri sendiri, tanpa kerja berat uang masuk, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?

Implicitly falsafah MLM jadinya CUMAN ngejar uang dan uang dari komisi. Mentoknya kalo komisi bakal macet, karena semua orang telah menjadi agen. Jawaban NGELEZ agen MLM biasanye: ”Itu teori, karena penduduk Indonesia 200 juta.”

Masalahnya emang belon tentu tiap agen sama pinter/semangat mo cari agen lain. Biasanye kalo cuman gara2 "dibujuk"(buneng) keluarganya, kaga muncul tu motivasi untuk mengembangkan keagenan. Kecenderungan kuat, MLM bukan menjual produk, melainkan menjual mimpi: menjadi kaya raya dengan jalan pintas. Mirip beli lotre: seorang agen memang bisa kaya raya bila kebetulan ia berada di lapisan atas. Dan yang ada di lapisan bawah, silakan mimpi seumur hidup.


Pertanyaan besarnya: kalau sebuah produk memang layak jual, kenapa harus dipasarkan lewat MLM? Di Amerika, seorang agen penjualan yang merekrut agen baru dan karena itu mendapat komisi, melanggar undang-undang. Syukur dahhh, biar telat amir, akhirnya pemerintah Indonesia bakal menurunkan undang-undang baru tentang MLM dan sejenisnya. yaitu REVISI Kepmen Perindustrian dan Perdagangan RI No. 73/MPP/Kep/3/ 2000 tentang Ketentuan Kegiatan Usaha Penjualan Berjenjang. Sasaran PENTING Perbaikan Peraturan dari KepMen.PerDag diatas memang BUKAN untuk SEMBARANG BASMI Bisnis MLM yang ada, tapi lebih pada menertibkan dan mengurangi upaya-upaya penipuan... yg terpenting sbb:


  1. Program pemasaran itu harus memenuhi minimal empat ketentuan:

    Pertama, alur distribusi barang atau jasa yang jelas, mulai dari perusahaan penjualan langsung sampai konsumen akhir.

    Kedua, jumlah komisi atas penjualan dan bonus yang dibagikan kepada mitra usaha max.40% dari harga jual.

    Ketiga, membuka peluang usaha dan kesempatan buat mitra usaha untuk memperoleh penghasilan.

    Keempat, komisi dan bonus itu diberikan kepada mitra usaha berdasarkan hasil penjualan barang atau jasa.
  2. Perusahaan penjualan langsung dilarang melakukan kegiatan usaha perdagangan yang terkait dengan penghimpunan dana masyarakat. Mangkenye MLM yg bercorak 'MONEY-GAME' misalnya seperti WORLDNET harusnya bakal terbabat habiz... oleh karena itu MLM dari money-game ini disebut "MLM JADI2an" (tidak akan tercantum dalam APLI), biasanya menuntut setoran awal sebagai investasi dengan jumlah cukup besar, antara 1,5 s.d 10 juta rupiah ( tergantung rate USD)
  3. Dilarang Menarik keuntungan melalui uang pendaftaran keanggotaan sebagai mitra usaha dalam jumlah besar dan tidak rasional. Contohnya yg bakal kena klausul ini adalah MLM Gold Quest ... soale, setiap calon peserta Gold Quest harus beli koin emas 31 gr seharga Rp 8,5 juta. Padahal, harga emas di pasaran paling tinggi Rp 100 ribu. Artinya, koin emas tadi maksimal berharga Rp 3,1 juta doang!

Nah kalo ketentuan-ketentuan diatas tidak terpenuhi, maka sebuah perusahaan penjualan langsung akan dibekukan. Pembekuan juga bisa diterapkan ketika pihak manajemen diperiksa di pengadilan dengan tudingan melakukan tindak pidana. Bisa sehhh pembekuan itu dicabut, ASAL perusahaan ybs segera koreksi diri atau dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Nah wajar ajah APLI (ASOSIASI PENJUAL LANSUNG INDONESIA) dengan jumlah mitra usaha sekitar 4,2 juta orang yang melibatkan uang triliunan rupiah, aturan semacam ini memang harus segera diberlakukan di Tanah Air. Daftar korban MLM yg kaga jelas emang kaga pantezzz diperpanjang lagi prendz! Jadi kite semua harus Ati2 dahhh (sumber: majalah trust)

Friday, May 02, 2003

Selingkuh lewat PONSEL, Lalu gimana langkah-langakah awal Investigasinya...

Menyambung topik terdahulu tentang besarnya dampak perubahan gaya komunikasi, akibat memasyarakatnya PONSEL (handphone atao HaPe) sebage media berbagi informasi... Gue baru aja dapet tips menarik dari sebuah majalah tren telekomunikasi pren... APAAAAN TUT TU TUUU??? Sabar ... ini lhoo TIPS MELACAK PERSELINGKUHAN dari PONSEL pasangan masing-masing jek...

Jadi dari majalah itu bilang, jika kite suatu waktu perlu WASPADA atao RAGU menyoal "KESETIAAN" pasangan masing-masing, MAKA ada beberapa langkah pengamatan/indikasi yang bisa diamati dari PONSEL seseorang yg SUKA SELINGKUH... Apa aja? Coba simak ini :

  1. Ada PIN RAHASIA di ponsel
    Kalo ketika orang ini beredar dirumahnya sendiri, trus keliatan konsisten PONSELnye selalu OFF, biasanya alesan doi kaga mao diganggu CALL-CALL yg gak jelas. Karena ada PIN rahasia ntu, doi merasa aman karena pasangannye kaga bisa cek-ricek apa2 jek :)

  2. Punya Nomor PONSEL lebih dari satu Operator
    Apalagi udah gitu pasangannye biasanya kaga tao menao nomor rahasia doi. Terlebih lagi kalo ketauan ada SIM-CARD aneh, doi ngeles ini nomor PONSEL kantor hanya untuk kepentingan DINAS.. nah lhooo.

  3. Ada kebiasaan Nama GEBETAN ditandain tersamar di PHONEBOOK
    Misalnya: yang sebenernya 'Maria' ditulisnya 'Marno', atao yg aturannya 'Susanti" eh eh jadinya 'Susanto', yaaa bisa jadi juga kebalikannye deeh. Yg Laki disamar seolah2 perempuan (biasanye ini gebetan si wanita), nah sebaliknya yg aturannya prempuan tercatat lalaki (pacar gelap si pria). Tapi kalo pasangannye ada kecenderungan AC/DC (laki prempuan sama ajah yg penting kasih2an 'cinta') ya indikasi kaya gini agak rbit juga pren. pokoke kalo ada nama di phonebook doi & doi kaga pernah cerita sama sekali tu orang, ya usahe deh sekali2 cek-ricek ponsel pasangan masing-masing.

  4. Curiga sama nama di phonebook doi, tapi di SMS pasangan masing2 kagada tanda-tanda?
    Hmmm coba dah periksa fitur semacem call-register atao call-records, pan ketauan tuh ada yg misscall atau receive call, biasanye rada2 kebaca seberapa sering juga seberapa lama tu nomor 'suspect' dikonek pasangan ente... Kalo durasinya cukup lama dan frekuensinya termasuk intensif, trus prendz ternyata kaga pernah dicurhatin ttg ni orang, ya udah catet deh sebagae indikasi-indikasi baru penyelidikan...

  5. Bole juga iseng telepon tu NOMOR 'suspect' sesekali
    Alesannya klise aje pren,"SALAH SAMBUNG", tapi cermat periksa intonasi suara, jenis suara laki/prempu? Perlulah sedikit belajar mengira2 profil/situasi si pemilik suara, asal jangan ke-ge'er-an jugak, kros-cek dg hasil penyelidikan laen-laen.

  6. Jika sampe pada tingkat KECURIGAAN makin tinggi plus BUKTI memadai?
    Yaaa buka deh komunikasi yg persuasif bin sabar, jangan maen antem kromo aje okeh? soale yg kaya gini perlu penyelidikan yg cermat dan perlu banyak bermain sandiwara... Tapi kalo akhirnya pasangan ente mao atao keceplosan ngaku, ente masih gondoks braatz??? Ya Ngambeg, Poles atao Jitak aje palanye "PLETAKKKK..." jamak laaah, Tapi bakal lebih asiiik bin konstruktif, kalao kite dan pasangan berani menganalisa akar masalahnye... dan cari jalan tengah sambil saling maap2an. Okeh dong ?

Thursday, May 01, 2003

Bisnis DAGANG nggak sekadar jual "BARANG", Belajar dari NOKIA pahami PELANGGAN...

Setelah iseng-iseng 'belajar' bedagang makanan kecil-kecilan selama hampir 4 bulan ini... rupanya gwe dapet banyak sekali "pelajaran" berharga. Yah Mulanya, sebage seseorang yg cenderung dilatar-belakangi pendidikan eksakta dan berorientasi teknis, gue lebih sering mengartikan usaha bisnis "JUAL PRODUK/BARANG/JASA" adalah yang penting Buat sendiri produk sebaek-baeknya, kemudian jembrengin di "pasar", ditambah koar-koar ngegombal sebisanya sebelon pasrah menunggu ada yg berminat beli atao enggak...

Beberapa waktu lalu jika gwe jalanin bisnis seperti ini, maka yang muncul di benak ini adalah, begitu banyak proses penantian "misterius" yg mana kadar "pasrah/ nyerah" nya kebanyakan. Artinya terlalu banyak berserah diri thd misteriusnya mekanisme "pasar" tanpa adanya tindakan-tindakan preventif yg mampu dibuat... apalagi tindakan alternatif mengatasi kerugian hehehe... Oleh karena itu gwe mule *tuink* bahwa untuk meminimalisasi kerugian dan meningkatkan image suatu barang/ produk/ jasa yg ditawarkan, ternyata tidak sekedar mengutak-katik detil produk nya atau cuman sibuk mikirin cari pasar yang "rame" doang pren, TAPI yang lebih penting adalah BAGAIMANA cara terbaik menganalisa SIFAT & TUNTUTAN KONSUMEN...

Analisa SIFAT & TUNTUTAN KONSUMEN tsb prakteknya memang efektif jika dilaksanakan secara paralel, yaitu metode penawaran/penjualan produk yg agresif BERSAMAAN dengan PELAYANAN KONSUMEN yang intensif. Karena akan menjadi proses pembelajaran yg efektif untk dicatat dalam "KNOWLEDGE BASE" kite sendiri (rangkaian pencatatan pengalaman, feedback, respons yg dikelola sedemikian rupa hingga memberikan pemahaman baru). Sehingga dampratan, hinaan, makian, pujian, dan inputan konsumen thd produk yg dijual dan dicatat secara detil malah MENJADI "FUTURE-ASET" yang sangat berharga... Kenapa begitu ? karena semua reaksi itu telah menjadi parameter2 yg akurat dalam menentukan model Produk terbaru , modifikasi operasional internal (mata-rantai produksi) juga eksternal (penjualan,pelayanan) yang BERORIENTASI KONSUMEN/PASAR... Sehingga POSITIONING produk (kedudukan/nilai kesan yang kuat/unik bagi konsumen) makin KUAT...

Apakah segampang itu??? Justru karena SULIT, analisa bisnis yang menarik ini harus BERANI DIPELAJARI sesegera mungkin, dan dimulai dengan cara yg paling sederhana tentunya :) Bdsk pengalaman gue, yang terpenting adalah berusaha SABAR memahami PSIKOLOGI KONSUMEN. Misalnya: yg terkait masalah selera, mood, kebiasaan, ketidak-sukaan, jadwal-kesibukan, bahkan kepribadian hehehe... Dari lika-liku interaksi dan insting yg "dipertajam" maka akan tergambar peta/kelas LIFESTYLE (gaya hidup) konsumen, ini sangat berguna dalam menentukan skala prioritas pelayanan, metode penawaran, dan jenis PRODUK gwe yg paling sesuai buat mereka jek... Dan akhirnya Jangan lupakan TEKNOLOGI prendz... dengannya dapat dilakukan optimalisasi mutu pelayanan juga operasional, misalnya : alert jualan/konfirmasi/feedback via teknologi messaging seperti EMAIL/SMS/WEBSITE, selain teknologi konvensional spt. telepon/fax, Juga proses koordinasi internal yg cepayt melalui SMS juga Laporan pesanan/hasil penjualan menggunakan Excel/Access/Aplikasi WEB-based (e-commerce).

Ada pelajaran yang unik diperoleh dari cara sukses NOKIA menguasai pasar seluler dunia. Mereka menganggap bahwa kelas konsumen,maupun produk yang dibuat TIDAK BISA lagi diartikan sekedar: Kelas Bawah, Menengah & Atas.. tuh ? Lalu NOKIA ini membaca konsumen bdsk konsep perpaduan Lifestyle vs Psikologi. Hasilnya menjadi 2 FAKTOR/ DIMENSI, yaitu: FAKTOR LIFESTYLE yang mempengaruhi sisi emosional konsumen (premium, fashion, classic, active, expression, basic), DAN FAKTOR FUNCTIONALITY dimana mempengaruhi sisi pertimbangan rasional si konsumen (phone, music, games, imaging, media, business). Nah jika 2 FAKTOR/DIMENSI ini dikawinkan akan muncullah 36 kategori produk HaPe yg kommit akan dilempar NOKIA ke pasar. Jadi mule kebayang nggak kenapa NOKIA begitu SUKSES positioning pasarnya??? Jelas karena konsumen selular punya kepribadian/ selera yg rumit, maka NOKIA berusaha mencapture kecenderungan tersebut, sehingga pemakai HP NOKIA cenderung merasa bahwa NOKIA telah mampu menyediakan hampir segalanya yg mereka inginkan, dan makin mempersulit psikologi konsumen untuk pindah ke laen HATI eh Merek :) ... Pesaing NOKIA pun akhirnya jadi cukup "NGOS2-an" jek!

Yap begitulah garis besar seni dagang yang baru bisa gwe serap hikmahnye sampe saat ini jeks... Yang jelas tim gwe akan terus belajar dan berani konsisten jualan jajanan seperti ini terussss