Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, June 25, 2003

SAKIT dan PENYAKIT pertanda KESIALAN atau PELAJARAN ?...

Menjadi “pesakitan” rupanya memang sering jadi corak “kesialan” hidup tersendiri buat kebanyakan orang. Stamina menurun, kondisi fisik melemah terserang penyakit, dan fikiran menjadi berkurang pula stabilitasnya. Aktifitas normal yang biasanya berkutet seputar pergaulan mencari nafkah pun terganggu. Terbayanglah, boss yg bertanya-tanya atau mungkin keki karena terpaksa kite gak terutilisasi seperti biasanya. Mungkin ada juga rasa masgul, karena yakin ada orang yg senang dengan kondisi ini dan was-was mereka mencari keuntungan darinya. Yang dasarnya pengusaha, terfikir hambatan-hambatan ekstra yg menahan antusiasme menggali potensi bisnis yg menanjak, atau kesal karena bisnisnya makin menurun karena sakit. Buat kelas sosial yg lebih rendah, momoknya jauh lebih parah, masalah sakit prioritasnya jauh lebih kecil daripada kekuatiran tentang biaya berobat darimana didapat, walau sekedar periksa-periksa ?

Diatas itu baru jadi contoh jika diri sendiri yg harus jadi pesakitan, ada pula kasus dimana keluarga atau kolega terdekat yang menjadi sakit… Hubungan emosional yang dekat cenderung berdampak tekanan perasaan “sial” yang sama… “Kesialan” yang berlandaskan pada potensi kerugian moral seperti kemungkinan kematian, cacat dan timbulnya depresi, juga potensi kerugian material seperti pengeluaran biaya tak terduga, kehilangan waktu potensi sukses (belajar/kerja/bisnis), dan kelelahan fisik tentunya…

Akhirnya yang dipikirkan adalah mengasihani diri sendiri, dan menyesali “kesialan” yg seolah-seolah kaga pengen tumbuh mulusnya kesuksesan kita yg baru muncul, atau mungkin bersorak dengan keteperosokan kita yang makin dalam. Setelah itu, jauh didalam relung hati pun sangat mungkin kita menjadi sibuk bertanya-tanya: ini salah siapa; karena apa; dan mungkin kutukan darimana ? Kita jadi lebih bersikap inward looking (bertahan dalam kecemasan sendiri) terhadap berbagai bayangan “gak enak” , sebelum akhirnya mengalami sindrom inferior alias rendah diri. Ketika bayangan buruk tersebut jadi kenyataan jadilah depresi yang menyulut penyakit-penyakit lain, ya mental (fobia) ya fisik (psikosomatis).. walaupun pada kenyataannya jarang masalah ini muncul kasat mata.

Penyakit yang mau gak mau kita idap, sebetulnya bisa jadi cuman termasuk penyakit ringan. Yang justru terasa sangat mengganggu dan makin terasa parah ketika mental bener-bener gak siap mengantisipasi . Akibatnya daya tahan fisik kita jadi jauh lebih menurun dari yang seharusnya… Loh? Apa hubungannya kesiapan mental dengan daya tahan fisik? Bukankah kalo emang penyakitnya berat yaaa berat aja dampaknya … dan kalo badan akhirnya makin lemah dan loyo yaaa sah sah aja tentunya !

Rasanya gak ada yang salah dari pandangan seperti diatas… Namun perlu diketahui, bahwa Jasad Manusia hidup itu berfungsi normal dikendalikan oleh Kesadaran fungsi Otak (Akal/Budi), sedangkan Otak dan Jasad mampu hidup karena ada energi kalbu (ruh). Oleh karena itu cukup beralasan kiranya, jika seseorang yang sakit perlu diupayakan optimisme dan semangat hidup yang tinggi, baik bersumber dari kesadaran dari diri sendiri (jauh lebih baik) maupun dari lingkungan terdekatnya. Karena itulah muncul banyak pendapat dari para ahli psicho-therapy atau pengobatan alternatif yg berkesimpulan bahwa, keyakinan spiritual yang baik, mampu meningkatkan sugesti dan rasa “aman” yang menenangkan , sehingga kondisi ini dianggap menjadi 50% potensi kesembuhan, yang mana selanjutnya dilakukan upaya-upaya pengobatan secara fisik/kimiawi.

Tentu saja menenangkan diri sendiri pada saat sakit bukanlah perkara mudah, terlebih mencoba menghibur orang lain yang sedang sakit. Pada budaya populer dan science seperti saat kini, manusia seringkali hanya bergantung pada Kekuatan rasional yang menerbitkan teknologi kedokteran dan pengobatan mutakhir berorientasi science. Dan menampik adanya kekuatan yg lebih besar daripada sekadar kreatifitas otak manusia ( unsur materi dari hidup manusia ). Apakah ini akan mengarah pada spiritualisasi hidup ? tidak sepenuhnya bener, karena sekadar pertanda, bahwa sebenarnya obsesi kemapanan dan kemakmuran hidup manusia tidak akan dapat terpenuhi jika mengabaikan faktor spiritual ( unsur anti-materi hidup manusia ). Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu disadari sepenuhnya sebelum diri sendiri atau orang-orang yg terdekat benar-benar sakit diuji penyakit:


  1. Sepanjang sejarah Manusia, sesehat apapun akan menghadapi kematian, dan tidak ada satupun manusia yang siap sepenuhnya untuk mati;
  2. Yakinlah bahwa selalu ada kekuatan yang Maha Besar menguji komitmen dan ikhtiar hidup kita, dan salah satu ujian itu mungkin saja serangan penyakit ringan atau berat;
  3. Tidak ada kesehatan, kesempurnaan dan kemapanan absolut selama kita hidup dalam dunia yang fana;
  4. Penyakit dan Sakit harus disikapi sebagai sebuah tantangan bukan kekecewaan, dan dihadapi dengan kesabaran bukan ketakutan;
  5. Penyakit dan Sakit perlu diproyeksikan sebagai impulse introspeksi diri atas kelalaian kewajiban sosial, dengan begitu motivasi untuk segera memperbaiki diri dan semangat hidup dan kesembuhan menjadi lebih tinggi.
  6. Betapapapun cerdasnya manusia, kita tetap makhluk ciptaan dari Yang Maha Kuasa, untuk itulah perlunya berdoa dan merendahkan diri padaNya.
  7. Kekurangan apapun dari hidup ini perlu ditentang sekuatnya dengan wujud rasa syukur, karena harus diyakini banyak sekali kelebihan/pelajaran berguna yang tersembunyi.

Bagaimanapun tulisan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah dihadapanNya… semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan, kesabaran dan melindungi dari segala kehinaan Duniawi… Amin.

Monday, June 09, 2003

APA HUBUNGANNYA ANTARA MODERNISASI + NEO-LIBERALISME + MABOK TEKNOLOGI ???...

Citarasa suka-duka apa aja sih yang kite rasakan sebagai orang kota ? Hmm pasti ada yang bertanya relevansinya apa timbul pertanyaan seperti itu ? Runtutannya cukup rumet sebetulnya buat mutu isi kepala yg serba pas2an kaya gue, tapi yang paling jelas awal dan dampak akhirnya kearah transformasi perilaku dan cara berfikir manusia juga ya... Jika dijelaskan bdsk aktifitas ekonomi, sebuah Negara geografi/bangsa tertentu memiliki budaya/kekuatan tertentu (ekosospol) yang didukung oleh perilaku dan kemampuan bangsanya sendiri dalam pengelolaan berbagai sumberdaya alam & manusia itu sendiri.


Pusat-pusat kegiatan dan pertemuan manusia dari berbagai pelosok dalam mengupayakan peningkatan nilai ekonomi dan kemakmuran kemudian membentuk KOMUNITAS KOTA, dan hasilnya kemudian menyebarlah ke wilayah lain baik dalam satu Negara (domestik) maupun berbeda (internasional). Interaksi yg meningkat secara akumulatif memberikan perembesan pengaruh budaya dan berbagai sharing hal-hal baru, yang jelas muncul perbaikan dan kemudahan di berbagai sisi kehidupan masyarakat dalam menjalani hidup, sehingga harapan nilai kemakmuran jauh lebih cepat dan mudah diperoleh, walaupun seringkali tidak harus lebih murah dari sisi "biaya", karena muncul komplikasi transformasi kelas sosial dan budaya yang gak berujung. Inilah yang dirasakan sebagai MODERNITAS RELATIF yang selalu dikejar manusia dari abad ke abad...


Setelah berabad-abad manusia berhasil memajukan dan memudahkan kerja manusia dengan berbagai ilmu-ilmu yg mendasari lahirnya "mesin-mesin" ekonomi & industri, kini sadar atau tidak ... ternyata begitu besar tanggung jawab dan polemik manusia menghadapi kegairahan abad modernisasi yang makin agresif ... Paling nggak itulah yang gue simak dari Intisari 3 buah buku yang sangat menarik: 1. "Melampaui Positivisme & Modernitas" (Hardiman,F.Budi, Maret 2003), 2. "Neo-Liberalisme" (Wibowo, I & wahono, Francis, Feb 2003), dan 3. yang terakhir "High Tech - High Touch" (Naisbitt, John, 1999) Entah Sengaja atau enggak, emang nasib atau sudah takdir... keliatan suatu alur yang searah dari ketiga buku tsb. Garis besarnya mebentuk siklus: gejala/dampak modernitas manusia --> pasar-bebas/neoliberalisme pencipta kesenjangan --> badai informasi/ teknologi yang memabukkan. Tentunya kaga bisa detil dirinci hikmahnya, kecuali prendz berminat membacanya sendiri heheheh... Tapi gue gak bisa menahan untuk menulis garis besar kesan yang kuat dari penelusuran ini prendz...smoga berkenan...


Dalam nuansa yang lebih optimis, sebenernya Modernitas memiliki titik tolak yg ingin menjawab kasus-kasus kemanusiaan...:

  1. Modernisasi, mengandaikan adanya kesadaran untuk memperhatikan soal hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi.
  2. situasi dan kondisi yang modern bakal mewajibkan berkembang-biaknya sikap kritis manusia dalam menjalani hidup.
  3. Modernisasi mengidealkan terjadinya berbagai perubahan signifikan dan terukur secara kualitiatif.
Nah pada kenyataannya ketika manusia memperjuangkan alasan-alasan tersebut yang muncul adalah polemik dan dilema. Yang paling jelas adalah interaksi ekonomi & teknologi, karena ketika kesadaran bersikap kritis telah berkembang dan matang, yang terwujud malah bangunan akumulasi modal (kapitalis) yang didukung teknologi (teknokratis). Kondisi ini disebabkan ketidak-sadaran manusia untuk mengendalikan hawa-nafsu nya dalam pengejewantahan sikap kritis itu sendiri. Sehingga Kapitalis dan teknokratis yg berkembang dan terwujud saat ini cenderung lebih menumpulkan kesadaran kritis masyarakat modern, dimana individu-individu nya lebih "suka" bersikap konsumerisme. Jatuhnya mekanisme pertumbuhan ekonomi, kecenderungan totaliterisme, dan kerusakan lingkungan menjadi variasi resiko tingkat wahid dari sisi suram modernisasi.


Interaksi ekonomi dan pembatasan pasar dalam perlindungan hukum-hukum lokal geografis suatu negara mulai terlepas sedikit demi sedikit, lalu berdampingan dengan makin santernya implementasi politik menuju Globalisme perdagangan dunia, itulah dia Neo-Liberalisme. Katanya francis Wahono,"Neo Liberalisme dengan sistem pasar bebasnya bukan melahirkan kebebasan dan kemakmuran bersama, tetapi hancurnya tatanan seluruh aspek kehidupan." NeoLiberalisme mewarnai Jaman baru ketika kapitalisme memiliki bungkus yang tercanggih dan radikal untuk menghisap enerji dan kapasitas kehidupan kaum yang lebih lemah. Dengan adanya dukungan teknologi dan informasi canggih,kekuatan kapitalis global maupun domestik bergotong royong mengeruk abis-abisan kekayaan Hasil Bumi dimana-mana. Iming-iming muluk diperolehnya kemakmuran global SEOLAH-OLAH lebih cepat terwujud. Sayangnya setelah sekian lama bereaksi dan bersintesa dalam kiprah duniawi yang fana ini, KOK BISA BEGITU ???


Kite cuman mampu melihat kalo kredo kapitalisme pasar bebas begitu cepatnya tersiar ke seluruh pelosok bumi menumpang pada kendaraan teknologi media & komunikasi, yang mana "cikal bakal" dan "buntut"nya lebih dikuasai/dikendalikan pihak-pihak berkuasa dan bermodal kuat saja tentunya... Lalu dipake deh badan-badan dunia seperti IMF & WorldBank (sbg NeoLiberalist Institusi penyedia kredit International) untuk mensosialisasikan "Washington Consensus", supaya semangat kapitalisme ini dapat disusupkan secara sadar/kaga ke dunia-dunia Amerika-latin, Afrika juga Asia-Timur... Ketika komunisme harus rontok pada era Gorbachev, enggak ketinggalan Rusia pun jadi mangsa IMF karena hampir bangkrut.. Dengan begitu Kapitalisme telah berhasil menginjak kemenangan mutlak thd ideologi extrim kiri musuh bebuyutannya: komunisme...


Daya tarik perolehan keuntungan dari pasar yang lebih besar dan lebih bebas ternyata menarik minat beberapa negara berkembang lebih komitmen mengidap doktrin kapitalisme pasar bebas. Kenapa ? Soalnya gejala globalisasi terjadi pada makin cepat dan mudahnya proses perpaduan individu-individu dalam transaksi internasional (akses informasi, dagang, kerjasama) dengan pihak/institusi dari latar-belakang ekosospol yg berbeda-beda. Latar belakang yang kondusif berasal dari faktor-faktor:

  1. Transformasi pertumbuhan ekonomi bdsk kebijakan pemerintah ke arah Perkembangan modal/keuntungan oleh kebebasan mekanisme Pasar,
  2. Teknologi komunikasi/media memudahkan koordinasi produksi & pemasaran pada kisaran global (contoh: e-commerce).
Sehingga makin kecil saja kemampuan kebijakan pemerintah domestik mampu mengisolasi interaksi ekonomi seperti ini. APA BAHAYANYA ??? Karena Mekanisme Bisnis yang mengutamakan orientasi kekuatan modal dan mengejar untung SEMATA, ternyata menimbulkan DAMPAK RUSAKNYA MORAL KEMANUSIAAN itu sendiri, yaitu:
  1. Keprihatinan atas Kesenjangan/ketidak-merataan distribusi dari manfaat Globalisasi ekonomi itu sendiri. Misalnya: Pada tahun 92 aja, sepatu Nike perlu biaya 5,6USD saat "assembling" di Indonesia, dimana buruh-buruhnya cuman dibayar 1,35USD/hari, nah pas dijual di Negara "kaya" harganya bisa melonjak hingga 40-60USD, dan biaya marketing Nike sendiri bisa habis 20Jt.USD buat bayar Michael Jordan sebagai image promosi jor-joran.
  2. Kaga ada satupun yang bisa "mengendalikan" mekanisme globalisasi/neoliberalisme ekonomi ini... Semangat Modernisasi yang luhur telah menciptakan kecanggihan teknologi demi "membantu" kemakmuran manusia, sedangkan Dampak Kebebasan semu dari hasil eksploitasi manusia thd teknologi demi kemakmuran semata, ternyata malah menghasilkan MODERNISASI HUKUM RIMBA semata... IRONI :)
Modernisasi yang kebablasan ini ternyata mampu dijelaskan dan dibahas dengan sangat manusiawi oleh John Naisbitt, Nana Naisbitt dan Douglass Philips dalam bukunya yang terbaru "HI-TECH, HI TOUCH". Secara garis besar, Buku ini melukiskan obsesi modernisasi berbungkus teknologi dalam masyarakat Amerika (atau negara berteknologi maju lain) sedemikian kuat hingga menimbulkan penyakit sosial yang disebut dengan "GEJALA MABOK TEKNOLOGI CANGGIH". Dimana :
  1. Munculnya kecenderungan masyarakat menuntut solusi "kilat" dari berbagai masalah; Tuntutan konsumerisme dan gaya hidup yg "terpaksa" diakibatkan penghambaan teknologi;
  2. Kerumitan dan anomali dalam membedakan kenyataan dengan kepalsuan (teknologi media);
  3. Masyarakat dipaksa menerima tindak "kekerasan" sebagai hal yang wajar (game,film);
  4. Latar belakang Ketersediaan Teknolog bukan fungsional semata tetapi MAINAN yang memanjakan hawa-nafsu konsumerisme.
Yang sangat menarik pada garis besar solusi yang ditawarakan buku ini adalah, mengupayakan kesadaran masyarakat bahwa HI-TECH perlu dianggap sebagai kesatuan arti: Teknologi tinggi yang memerlukan kepedulian atas konsekwensi pemakaian yang tinggi pula... Sedangkan HI-TOUCH merupakan kadar tinggi pemberdayaan empati/emosi/spiritualisasi hidup dalam menghadapi badai Hi-Tech, agar sadar/tidak mampu menguatkan kembali "kemanusiaan" manusia dari sekadar "budak" dari mesin-mesin ciptaannya sendiri. Kesimpulannya Hi Tech - Hi Touch adalah model kacamata yang harus manusia gunakan, agar mampu mempertahankan posisi KEMANUSIAANnya dalam menyikapi kedigdayaan teknologi era kini menyaksikan gejala KeTuhanan, Waktu, Kesenian dan Permainan hidup yang cuma sementara.

Thursday, June 05, 2003

MENCEGAH PERANG SECARA PERSUASIF ? APA MUNGKIN ?...


Perang diplomasi dan Perang fisik di tanah rencong makin rumit yak... Sekarang Pemerintah Swedia pun kena getahnya karena kaga mao menyerahkan warga-negaranya HASAN TIRO yg dituduh pemerintah kite sebage pemimpin terroris GAM. Sebelum itu pula Institusi Palang Merah International Henry Dunan Center (HDC) juga "didepak" Pemerintah Indonesia karena dianggap gagal dalam implementasi perjanjian COHA yang adil ... Segalanya nampak pupus mengupayakan alternatif tindakan "persuasif", akhirnya ya berkutat berkutet seperti ini ... lalu berpusar terus menuju validasi tindakan "represif" juga...


Lucu juga ... fenomena seperti perang Irak menjelma. Perang informasi dari media/jurnalis yg lansung atau tidak pro/kontra GAM berhamburan... Opini Masyarakat pun terbelah jadi apatis,pro dan kontra pemerintah. Dan sebagaimana tindakan pemerintah Amerika yg bergegas me"lobi" (menekan) pers-nya agar mendukung pemerintahnya dalam perang Irak, maka yang disini juga gak jao beda... Jajaran TNI dengan segera me"lobi" Para Jurnalis dan Media massa, dengan atas nama kebangsaan dan persatuan menitahkan agar berbagai laporan situasi aceh tidak menyudutkan pemerintah. Berbagai laporan penyelewengan HAM oleh TNI sebaiknya segera dilaporkan dulu ke PR ABRI agar segera ditindak-lanjuti... Rasanya buat masyarakat awam, yaa begiitulah sewajarnya lika-liku perang... walaupun yang ini termasuk Perang saudara.


Apakah gak ada sisi lain yang disimak selaen Perang ? Wah banyak banget prendz... dan yang paling gampang dan menarik adalah dari Sejarah Politik GAM itu sendiri... Pada tahun 1953, Aceh sudah resah dengan jalan politk Soekarno pasca Kemerdekaan yang kaga sejalan dengan janji-janjinya kepada para pemimpin aceh.. salah satu yang utama adalah Penerapan Syariat Islam secara eksklusif. Sedangkan menurut catatan sejarah, Para aristokrasi dan pemimpin adat aceh sudah merasa memberikan modal revolusi yg begitu besar kepada Soekarno disaat minimnya dana perjoangan... Rakyat Aceh merasa tertipu. Oleh karena itu muncullah pemberontakan DI/TII oleh Daud Beureuh. Dari sinilah Hasan Tiro masuk jadi pendukung pemerontakan menjabat Duta Besar DI/TII untuk PBB. Pemberontakan reda, segera setelah Soekarno tahun 1960 memberikan bbrp keistimewaan politk dibidang Adat, Agama, Pendidikan beserta implementasi Syariat Islam. Disini Hasan Tiro kecewa karena DI/TII mau bernegosiasi. Hasan Tiro memang ingin Aceh lepas saja dari NKRI. Nah pada masa Orba, bergantilah Daud Beureuh yg kandas hatinya, karena Orba mencabut kembali kewenangan Syariat Islam di Aceh...


Inkonsistensi dan "ingkar" janji dari kebijakan pemerintah NKRI sendiri telah membuat ricuh stabilitas moral dan mental masyarakat aceh. Kekecewaan ini dimanfaatkan Hasan Tiro menghasut rakyat Aceh & memprovokasi kreatifitas politiknya lewat proklamasi GAM ke dunia Internasional, dan GAGAL. KEnapa? karena buntutnya baru ketahuan.. bahwa Hasan Tiro punya konflik perbedaan visi yang dalam dengan Daud Beureuh, terutama ketidak setujuannya thd Syariat Islam... Yang lebih penting lagi, adanya fakta bahwa Masyarakat Aceh sebenarnya tidak ingin berpisah dengan NKRI, tetapi mereka memang kecewa dan memang paling berani mengkritik PEMERINTAH yang sah dengan cara-cara yang keras dan tegas... Ketika ORBA menanggapi kritik dan protes masyarakat Aceh dengan pemberlakuan DOM, mereka seperti makan buah SIMALAKAMA... Mereka menuntut proporsi politik dan eksonomi yang wajar dan tidak ingin berpisah dari NKRI tapi malah "dihajar" ... Mereka menolak Partizan GAM dan misinya, malah kena pula diperas dan diancam... Justru tumbuhnya kekuatan GAM lebih sering muncul karena dendam masyarakat Aceh yang harus kehilangan bbrp anggota keluarganya atau mengalami siksaan gara-gara Operasi DOM pemerintah sendiri...


Nggak mengherankan sebetulnya jika beberapa analis sosial dan LSM sebelum pemberlakuan hukum darurat militer di Aceh baru-baru ini, menghimbau agar pemerintah lebih banyak bersabar dan terfokus pada penyelesaian masalah Sosial dan Penyelesaian hukum para Korban DOM masa lalu... Karena memang GAM hanya sebahagian kecil aspirasi politik represif masyarakat Aceh, sedangkan mayoritas masalah ada pada masyarakat yang menjadi korban pertikaian politik, dan kelalaian pemerintah dimasa lalu. Dan lebih nggak mengherankan juga kalo pihak TNI secara implicit berkeberatan dengan wacana ini, karena bila kite menengok proses penyelesaian hukum kasus penembakan mahasiswa Trisakti aja belon ada tindakan yang memuaskan masyarakat... Apalagi korban-korban orang/aktivis.mahasiswa yg hilang era kekuasaan ORBA dulu... KELAUT dah pokoke...


Sebaiknya kita memang tidak terbawa-bawa pada emosi negatif perang saudara ini, melainkan memahami secara mendasar sejarah dan pelajaran masa lalu agar dapat memberikan semangat dan kesadaran yang lebih baik buat generasi muda... Lagipula tindakan represif dan terutama yang berakhir dengan perang memiliki latar belakang yang sama... Keributan sepanjang Hayat di Palestina contohnya... Ketika baru-baru ini Mahmud Abbas ditunjuk menggantikan Arafat.. paling pertama yg ditegaskan untuk Warga Palestina adalah..., Tindakan tegas dan Penertiban dengan keras thd berbagai perolehan/pemakaian/pemilik senjata gelap pihak/organisasi perjuangan di Palestina. Ternyata sebahagian warga dan organisasi perjuangan palestina itu menjawab tidak mungkin meletakkan senjata, jika Israel sendiri tidak menghentikan tindakan represifnya diatas tanah palestina, dan tidak pula menghentikan perluasan pemukiman warga Israel dengan merebut secara paksa kepemilikan sha warga palestina. Pendek kata ... Jika ISRAEL berhenti menghentikan ambisi dan agresifitasnya, tentu dengan sendirinya hilang juga angkat senjata di Palestina... Impas dan logis kan? Tapi sayangnya fakta yang ada hanya menggambarkan dominasi yg satu thd yang lain.. SOLUSI WIN-WIN??? ANGGAP AJA ANGIN...

Wednesday, June 04, 2003

SOLUSI EKSLUSIF DALAM POLEMIK ISU-ISU SOSIAL, MEMASYARAKATKAN ATRIBUT KEAGAMAAN ATAU KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ?...


Mungkin memang sudah takdirnya sejak bayi gue menjadi ISLAM dan dilahirkan oleh IBU dan BAPAK yang sejarahnya ISLAM pula... Hanya saja begitu usia bertambah, pemahaman peran & kedudukan "ideal" agama sebagai pembimbing hidup manusia, mule gue jumpai berbagai benturan dan konflik diantara kelas sosial masyarakat domestik ataupun Internasional. Pada strata Sosial kelas Atas terjadi kristalisasi pemahaman dan kultur bahwa Agama berpihak pada pemegang amanat kekuasaan (ningrat) seolah layak jadi Dewa kagetan... sedangkan pada strata kelas bawah (grass-root) pemahaman agama menjadi gantungan harapan/muluk-muluk akan mitos hadirnya Nabi-nabi kagetan pula... Strata ditengah (aristokrasi/priyayi) karena kelebihan intelektualnya ada 2 pilihan.. Jadi alat kekuasaan atau oposisi kekuasaan itu sendiri.. Godaannya pun berharap menjadi sosok Nabi Kagetan :)


Buat sejarah keterlibatan berbagai Agama dalam sejarah Nusantara, yang muncul justru ironi... bahwa masuknya kolonial begitu lama menjajah Nusantara, karena nilai essensi agama tidak berhasil dipahami dengan benar oleh para ningrat/priayi/rakyat setempat. Justru sengaja atau tidak Agama dimanipulasi jadi alat legitimasi kekuasaan mutlak yg mengukuhkan sosok Raja adalah Dewa dan sekaligus Hukum nyata demi Kekuasaan duniawi tentunya. Agama pun saat itu tidak mampu menahan pembantaian akibat perebutan kekuasaan, dan tidak mampu mencegah penderitaan masyarakat luas. Pertarungan elit memperebutkan raja atas dasar kekuatan Wahyu merubah dan memecah masyarakat beragama dimanapun pelosok nusantara, sehingga hanya bisa tunduk dibawah penjajahan Belanda :(. Barangkali atas dasar latar belakang sejarah seperti itu, rasanya Manusia yang secara eksplisit loyal taklid pada ajaran Agama justru sulit dipersatukan. Khususnya dalam kasus kehidupan ummat Islam yang muncul dari fenomena international/domestik malah saling benci karena delik-delik teknis/strategis antara aliran Syiah, Sunni, Jamaah, Islam Liberal dll., dalam tatanan sosial/politk yg seharusnya bisa mempersatukan misi/visi yg lebih universal.


Contohnya saja suatu polemik yg sudah lama berkutet tampa kesimpulan: POLIGAMI. Udah lama gue terima debat teknis dan adu kesahihan refrensi atau sosok tertentu yang mengarah pada KEADILAN GENDER atau BOLEH/TIDAKnya lelaki berPOLIGAMI seperti gini. Sayangnya kebanyakan memang cenderung mengutamakan pada referensi historis semata. Pihak yang dianggap oposisi dan menentang mayoritas dilecehkan tanpa respek, apalagi penilitian ilmiah lebih lanjut. Pendapat gue sendiri ? pada HAKIKATnya gue setuju bahwa poligami bukan untuk main-main, dipermainkan, atau wacana tempat bermain… apalagi sekadar bermain-main dengan pembenaran "nafsu kelamin" (sorry)… Dan banyak hal yang patut dipertimbangkan baik-baik yaaa analisa dari kelompok mayoritas (konservatif) atau kelompok pembaharu (modern/liberal), justru perbedaan yg begini yg namanya takdir yg penuh berkah dan melatih ummat untuk makin pinter menyusun strategi win-win yg low profile, lambat tapi nyata dan pasti hasilnya.


Gue pribadi justru udah lama "mangkel"/Bingung plus gatel dengan fenomena kekerdilan mental sebahagian besar ummat Islam ini… yg mana ketika terjadi perbedaan pendapat kecil atau besar masalah delik-delik ibadah dan persepsi ayat… yang menyolok malah hawa nafsu tuding dosa, bid'ah, liberal, diperbudak akal dan lain sebagainya… Padahal Proses proyeksi islam yg makna essensialnya kritikal perlu segera diimplementasikan dalam masyarakat luas malah keleleran. Contoh makro ya kite liat aja itu perpecahan politik OKI di timur tengah… selama2nya ribut sneggol-menyenggol dengan tetangga sendiri… jangan salahin kalo suksesi kepemimpinan perjuangan Islam makin KATRO, dan dengan pinternya pihak NEOKOLONIAL mengambil kesempatan menjilat jasa dan tetesan minyak bumi dari perpecahan seperti itu. Didalam negeri nggak kurang masalah… soal good governance & Penegakan hukum tanpa pilih bulu yg jadi inti kekuatan dan pelajaran pemerintahan Kalifaur rosyidin kagada beres2nya… malah Singapur, Cina, Malaysia dan Jepang jauh lebih berani belajar dan progresif…


Bbrp temen diskusi bilang, bahwa ummat ini sudah kelamaan terjebak pemberhalaan Quran & Hadist, bahkan Ulama ...demi pembenaran berbagai delik kekuasaan dan kesenangan pihak yg kuat… Banyak catatan sejarah yg melukiskan kekacauan kerajaan mataram era kejayaan Islam & sultan Agung sampai pecah jadi mangkunegaran dan keraton jogja… karena kekisruhan politik suksesi kepemimpinan, karena Raja-raja jawa kebablasan menggunakan ayat2 suci dan agama demi kuat2an kedudukan mereka. Suka gak suka , seneng atao gak citra kepemimpinan bangsa yg katanya negara islam terbesar didunia ini masih menganut kekerdilan mental raja-raja jawa.. Yg giat beratribut agama demi kekuatan pribadi… Sehingga sosok-sosok kritis dan oposisi yang harusnya memperkaya dan alat control kebijakan negara, malah dibabat habis. Itulah yg terjadi pada kisah babad tanah jawi.. Dari jaman amangkurat 1 sampai perang diponegoro.. Sehingga masalah keributan ummat yg gila kuasa/tahta/harta ini dengan mudah ditikung VOC (Kolonialisme) dengan profokasi bantuan dan diplomasi jilatnya yg canggih… dan tak terasa Bangsa akhirnya terjajah 450 tahun...


Ngelantur? Insya Allah enggak laaaa… gue cuman gak mau terjebak dalam dilema yg cenderung bikin bodoh dan melemahkan semangat, bahkan perpecahan. Dalam konteks krisis kebangsaan seperti saat ini, dimana ummat & pemimpinnya pun memang peka euforia & begitu terobsesi kuasa/ harta/ cinta bak raja-dewa-jawa, begitu mudah diobok2 dan diadu-domba dari luar-dalem, dan kaga terasalah IMF/ADB/CGI/WB (Neo-Kolonialisme) dengan tikungan niat bantuannya kembali mendikte nasib bangsa ini… Nah lo kemana lagi Intelegensia para Pemimpin Islam saat ini???. Harusnya para ulama dan peneliti sosial ilmiah memprioritaskan diri belajar banyak dari berbagai mekanisme Pemerintahan Nabi & Khalifaur rosyidin…Karena dalam berbagai naskah perjanjian warga negara dan pemerintah saat itu, justru para elit tokoh islam purba tsb justru tidak membawa agama secara eksplisit dihadapan masyarakatnya yg memang heterogen saat itu, tapi esensi dari nur islami yg kental tertuang baik dalam tauladan-kepemimpinan(leadership), hukum (law-makin) dan penegakannya (law-ernforcement). Ini juga yang bikin gue agak ambigu dengan wacana negara Islam… Negara Islam adalah Ideal Prima, nah realisasinya yaaa lakukan sosialisasi budaya, implementasi nyata dari Essensi nilai-nilai Islam itu sendiri dulu dalam tatanan sosial yg udah ada… Ulama , Pemimpin dan cendekiawan Islam memang udah gak bisa sekadar jual omongan kemana-mana, tapi malah bingung cari lokasi PANU dibadannya sendiri…


Gue bukan ahli soal ayat dan delik agama, juga belum cukup banyak membaca berbagai referensi yg relevan… Jadi celotehan gue disini anggap aja sekadar sharing unek-unek ajah. Persepsi gue... hidup di dunia ini adalah amanat dan titipan Allah SWT agar kita mampu berjuang menghadapi Ujian2NYA dengan ikhlas lillahi ta'alaa. Untuk itu ranah operandi Ibadah Ummat ada dua yaitu Vertikal dan Horizontal… keduanya reciprocal tak bisa terpisahkan, dan justru itu keadilanNya. Jadi jangan berharap hidup ini lancar dan mulus semata seperti di SORGA… Gejala dan masalah sosial ummat semacam poligami, negara Islam memang tidak terelakkan, jadi memang seharusnya ummat jangan bego-bego amat sekadar berpatokan/mendewakan pada kaidah ranah vertikal ( referensi ibadah sakral ) doang. Dinamisme dan perkembangan gaya hidup manusiapun adalah wujud takdirNya untuk menguji iman dan ibadah sosial manusia… Kalo gak begitu tentu Allah SWT mungkin mengijinkan umur Rasulullah hidup dan membiarkan Beliau menDIKTE kite sampai sekarang . Kenyataannya Rasul sejak dulu lebih memuliakan generasi masa depan yang iman dan pemikirannya teruji/terpuji walau Jasad Rasul tiada, oleh sebab itu beliau menangis haru menghadapi sakratul maut. Dan semua itu memang lebih gampang buka mulut, karena kenyataannya salah satu ujian terberat hidup kita saat ini adalah Relatifitas/Absolutisme Salah atau Benar ? Sekali lagi jawabannya hanya dengan Iman dan Ikhtiar yang ikhlas. Ikhtiar macam mana ? Tentu yg terkait dalam ranah Horizontal ( ibadah sosial/ekonomi/politik/science ). Kembali pada masalah konflik dilematis isu-isu sosial… Ulama, Pemimpin, dan Ummat harus belajar menghormati petunjuk empiris dari science yang bertujuan memberikan bantuan pemahaman maupun kritisi yg lebih ilmiah, demikian pula sebaliknya.. Sehingga yg terjadi adalah synergi dan saling complementary menuju peningkatan Kecerdasan Iman (ESQ) dan Intelektual (IQ) ummat sekaligus. Dan inilah Nilai HAKIKI dari istilah MODERN HUMANITY.


Manusia ini sering gak sadar, bahwa pembenaran tindakan Pengkhianatan / Character assasination satu sama lain dalam suatu organisasi/komunitas adalah tanda-tanda kejatuhan yang saling berbalas dan makin melemahkan. Oleh karena itu kaga mengherankan begitu banyak ELANG PEMANGSA RAKUS yang BERGEMBIRA mengintai pertikaian dan perpecahan suatu KAUM. Demikianlah resahnya desah seorang pelamun penyendiri kaya gue. Cita-cita gue cuman pengen jadi ahli mengkoreksi dan tauladan buat diri sendiri. Karena ajaib memang, bahwa untuk memahami Tuhan & Ciptaannya yaaa upayakan kenali dan pelajari kelebihan dan kelemahan diri sendiri sebagai manusia dulu… SEMOGA BERMANFAAT...

MALAS MEMBACA SESAT DI DUNIA...


Pagi ini dalam suatu kolom opini koran warta kota ... ada kutipan yang sangat menarik disimak dari ucapan mantan presiden amerika Richard M Nixon,... bahwa jangan terlalu berharap lahirnya Pemimpin yang berkualitas pada era Televisi abad ini, Karena televisi membuat manusia cenderung berfikir pasif karena makin malas membaca... Tentu aja gue kaget prendz.. bukan, bukan karena yg ngomong pesimis itu seorang presiden amerika yg termasuk kontroversial... Tapi karena berdasarkan banyak informasi media dan analis pendidikan kite selama ini, diketahui bahwa secara statistik sebahagian besar Generasi Muda Indonesia dihinggapi MALAS MEMBACA BUKU... apalagi yang namanya SEJARAH... nah lo cocok kan?


Dalam persepsi awam, disadari memang televisi dalam misi/visi dan operasinya jelas bercorak bisnis murni yg dijejali keterbatasan modal/ waktu/ teknologi/ selera/ kepentingan... dengan demikian berbagai tayangan dan informasi akan muncul INSTAN dan harus menghibur PENONTONnya...Yang bersifat menghibur jelas mengupayakan PENONTON memperoleh kesenangan/ kenikmatan/ kepuasan belaka, mereka dimanjakan PERSEPSI jadi (pasif), tanpa harus mengalami susahnya mengeksplore pencarian makna (aktif) yang lebih hakiki. Oleh karena itu jika tidak selektif terhadap acara TV, maka generasi muda yg penuh gejolak ingin tahu itu akan BABLAS mencapture begitu aja berbagai doktrin dan aneka persepsi dari tayangan2 acara TV, yg seharusnya perlu bimbingan intensif dan dicerna mendalam. Jika generasi muda ini terbiasa menunggu dan pasif menghadapi tantangan masyarakatnya yang begitu dinamis, bagaimana pulak kite mengharapkan suksesi kepeminpinan masa depan yang kreatif mampu menjawab persoalan bangsa?


Lalu apa ruginya berfikir PASIF ? Soal untung rugi secara individu emang gak signifikan, yang jelas cara berfikir seperti ini mendorong seseorang untuk sekedar memperhitungkan, memaksakan "KEMUDAHAN" berbagai masalah berdasarkan sisi pandang yang diinginkan atau ybs ketahui ajah, kemalasan menghadapi resiko perjuangan idealisme secara nyata .. Akhirnya SOLUSI yang dihasilkan tidak menyeluruh dan biasanya overlap dengan kondisi-kondisi lain yang sebelumnya "diabaikan": TAMBAL SULAM. Semua ini akibat sempit dan terlampau sedikitnya wawasan dan wacana yang dimiliki, sehingga makin sedikit pula NYALI dan kadar INTELEGENSIA yang ada. Nah kalo udha begini tentu terasa GETIRnya ketika kePASIFan muncul secara nyata dalam kondisi masyarakat yang heterogen, apa lagi kalo sosok dan struktur kepemimpinan yang telah diberi mandat tidak kuasa menjadi tauladan...


Ayooo sebentar menengok sejarah perjuangan, mungkin kite terkagum-kagum pada sosok Pemuda Pejoang era Budi Utomo (1909), Sumpah Pemuda (1928) dan Menjelang Proklamasi (1945). Ketika pada tahun 1904, Gubernur Jenderal Van Heutz membuka politik ethik terhadap penduduk kolonial hindia Belanda... Maka terbuka banyak peluang pemuda-pemuda untuk belajar berbagai keilmuan dan wacana ekonomi/sosial/politik dari luar.. walau saat itu hanya terbatas pada pemuda-pemuda turunan ningrat, dan orang-orang kaya (aristokrasi, borjuis). Mereka dibanjiri oleh BUKU-BUKU bermutu dan KORAN-KORAN internasional/domestik yang membuka kungkungan adat/budaya yang selama ini jadi patokan satu-satunya... Hingga wacana., motivasi, dan semangat eksplorasi yang kaya dari kegiatan membaca BUKU saat itu, memberikan banyak informasi dan inspirasi para pemuda saat itu untuk berani mengupayakan perjuangan perubahan tatanan sosial masyarakatnya yg terbelakang, sehingga akhirnya 17-Agustus-1945 mampu memperoleh kemerdekaanya. Begitu besarnya dampak buku bagi nyali, motivasi dan isnpirasi perjuangan manusia ke arah yang lebih baik... KArena pada dasarnya manusia perlu referensi, wacana dan wawasan terbuka yang secara aktif memberikan keleluasaan pemikiran menghadapi komplikasi beragam masalah. Akibatnya allternatif-alternatif solusi yang akurat dan matang memberi warna pengambilan keputusan yang bijak dan tepat sasaran... Begitulah harapan besar masyarakat di pundak generasi muda... SUKSESI kepemimpinan masa depan.


Kesadaran meningkatkan minat BACA BUKU pada orang muda bukannya tidak disadari pemerintah, praktisi informasi dan pendidikan... memang banyak melakukan trial error berbagai metode tentang Proses berfikir Aktif dan Membaca Aktif... Salah satu metode yg dulu pernah populer adalah CBSA = Cara Belajar Siswa Aktif... yang realisasinya ternyata GAGAL karena berbagai hambatan tidak lansung... Seperti krisis ekonomi yang menyebabkan mahalnya harga buku, dan kurangnya kreatifitas mengemas buku-buku ilmiah kedalam format yang lebih populer agar "tidak disegani" kebanyakan selera orang muda... Walaupun begitu ada perkembangan yang menggembirakan tentang daya tarik masyarakat pada penerbitan buku-buku bermutu... Pada event-event pameran buku selama 2-3 tahun terakhir, gue simak sendiri betapa ramainya khalayak ramai mengunjungi pameran dengan berjejal-jejal, bahkan bersama anggota keluarganya... selain semakin banyaknya tema kreatif dari buku-buku yang memancing minat masyarakat, dalam pameran tersebut para penerbit makin berani memberikan diskon yang menarik sehingga layak untuk segera dibeli... Tentu akan lebih baik lagi dalam event-event yg mendatang, program perkembangan minat baca buku ini dipicu dari lembaga2 formal pendidikan melalui kurikulum-kurikulum yg lebih memacu kreatifitas dan penelitian.. .DAN lebih penting lagi KEBERHASILAN restrukturisasi rekonomi dan regulasi industri percetakan yang mampu meminimalisasi biaya pendidikan bermutu, juga BUKU-BUKU yang berkualitas.


Kemajuan era Informasi melalui berbagai media elektronik (TV,RADIO,INTERNET) memang sudah suratan takdir yang kaga bisa ditentang. Namun Cenderung menjadi keharusan, bahwa segala wacana yang diterima dari TV,RADIO,INTERNET memrlukan pengkajian lebih lanjut, memicu semangat eksplorasi dan penelusuran lebih lanjut melalui PENINGKATAN BUDAYA MEMBACA BUKU. Moga-moga dengan begitu tanggung jawab perjuangan memperluas dan meningkatkan kecerdasan bangsa menjadi kesadaran seluruh masyarakat... Terlebih lagi mampu meningkatkan Kecerdasan dan Kebijakan Para Pemimpin masa depan, yang problematikanya bakal jauh lebih ribet lagi.. SEMOGA :).

Tuesday, June 03, 2003

BISNIS MODERN = EFISIENSI + EFEKTIF + NGACA KAPASITAS DIRI... YAAA HAYOOO KERJA SAMA :))


Pada suatu waktu, ketika gue asik bin sibuk deliveri/jualan jajanan (sambilan) setiap-hari di kantor, tiba-tiba ada beberapa prendz yang bersimpati dengan usaha sambilan gue ini …kasih sumbang saran, agar gue secepatnya bisa mencari "pembantu operasional", buat jaga-jaga sekali waktu gue harus OFF, maka proses jual jajanan ini kaga terganggu kinerjanya alias teteb BERJALAN memperoleh OMZET... Gwe memang sempet berfikir sebentar, mengingat-ingat sesuatu kondisi yang mungkin oernah gue alami sendiri... Misalnya: Kalo gue enggak sehat atau harus sibuk berat dengan tugas-tugas kantor yg kritis, maka mau gak mau performa jualan dan kepuasan konsumen gue pasti bakal terganggu... karena waktu/tenaga/pikiran gak bisa disambi apalagi didedikasikan penuh ke Jualan, bahkan mungkin gue harus OFF jualan padahal konsumen lagi pengen jajan, atau jadi telat banget deliverinya... Sangat rapuh!


Akhirnya muncul kesimpulan, bahwa memang ada benernya bahwa "ideal" suatu proses bisnis memiliki jenjang dan kinerja operasional yang stabil dengan atau tanpa keterlibatan lansung sipemilik ide/bisnis. Bahkan gue pernah baca suatu pendapat seorang wiraswastawan kawakan,bahwa Belumlah berarti memiliki BISNIS yang sejati, jika yang dianggap bisnis tsb belum mampu menghasilkan pendapatan ketika sipemiliknya sedang "tidur", melainkan sekadar Pekerjaan yang dibuat-buat sendiri. Diperjelas keparahannya lagi menjadi, sekadar Pemilik Bisnis yang merangkap sekalian Pekerja Profesional yang digaji oleh dirinya sendiri pula..., Alamak sudah begini repot Jualan dan marketing Jajanan begini rupa, eh eh eh ternyata secara teoritis aja memang belon layak dibilang mekanisme bisnis yang bener... huahahhaha ;


Tampilan proses bisnis yang dijembatani via komputer, email, website, jalur internet, paket delivery yang memuaskan konsumen ternyata masih belum cukup merubah kesan TRADISIONAL menjadi BISNIS yang MODERN, tanpa pendidikan/pengelolaan manajemen kerja yang MODERN pula... Apa pula definisi modern ? Yaitu dampak proses dan beban proses bisnis yang relatif lebih efisien dan efektif baik dalam bingkai Sumberdaya keuangan, manusia, kebijakan/resiko, dan Value-Chain. Beberapa langkah penting muncul sebage upaya mengubah bisnis kecil menjadi lebih efisien dan efektif bisa dideploy sbb.:


  1. Kaderisasi : Keberanian merubah bisnis yang bercorak one man show, otoriter pada tahap perintisan usaha, kearah suasana lebih demokratis pada tahap lebih mapan, dengan pemberdayaan/pendidikan tim kerja dilindungi sistem & policy yang aman-nyaman bagi pemilik bisnis ataupun pekerjanya...
  2. Visi Bisnis : adalah visualisasi tujuan masa depan bdsk kondisi dan tantangan terkini dari bisnis itu sendiri... sosialisasinya harus gambaran proses sehari-hari yang nyata kemudian dapat dikonversikan menjadi NILAI yang "tak pilih kasih" & STRATEGI yang lebih membumi menghadapi TANTANGAN makro. Dengan proses komunikasi yang tepat & teladan kepemimpinan yg penuh komitmen, maka VISI makin mampu manyatukan Pemilik, Partner & Pekerja bisnis dalam motivasi, semangat juang & rasa memiliki yang kuat. SEHATI ditimpa SUKA dan DUKA...
  3. Kreatifitas & Cinta : Seorang enterpreuner cenderung memiliki ide-ide yang melimpah dalam berkreasi menciptakan peluang-peluang bisnis yg meningkatkan pendapatan. Kelebihan ini seharusnya diupayakan mampu diturunkan kpd berbagai pihak dalam lingkungan bisnisnya... Dampaknya kreatifitas yang membanjir dari seseorang, kemudian berani dikelola dan dipertimbangkan lebih matang & terstruktur dalam tim-tim yang ada akan lebih meningkatkan motivasi dan variasi kerja dengan nuansa-nuansa baru yg lebih realistis dan menghidupkan suasana... Ujung-ujungnya perjuangan bersama spt itu menumbuhkan bisnis dengan pola-kerja bersemangat "cinta" & kebersamaan yang pekat... Mutu produk/jasa yang dihasilkan menjadi lebih berkelas dan inovatif...
  4. Marketing & Networking berorientasi Pelayanan : Penting buat Bisnis kecil untuk memperkenalkan produk/jasa mereka ditengah persaingan dengan pemodal yang begitu kuat. Oleh karena itu terobosan yang paling jitu adalah mengupayakan marketing bdsk prioritas pelayanan konsumen yang prima... dan bukan OMZET yang jadi prioritas UTAMA. Keuletan dan Kekuatan Pelayanan konsumen mampu mendongkrak kepercayaan mereka lebih kuat ke HATI KONSUMEN: IMAGE BRANDING, selain memperoleh inputan yang berharga, juga mampu memancing calon-calon rekan bisnis berkualitas untuk menawarkan pola kerjasamanya yg terbaik : NETWORKING... setelah itu dengan sendirinya OMZET akan bertumbuh.
  5. Jangan terlalu Repot & Serakah : proses integrasi bisnis secara vertikal dari hulu sampe hilir (konglomerasi kolot) udah kaga sesuai jaman, selain ruwet dengan bertele-tele masalah yg sebenernya bukan fokus bisnisnya, bakal kelabakan pulak diterjang komplain eksternal karena begitu banyak celah yg dibuat sendiri dari proses internal yg menyeluruh begitu. Oleh karena itu metode OUTSOURCING/ de-Integrasi jadi upaya utama mengurangi keribetan kegiatan dalam value-chain system, dengan belajar percaya/kerjasama/bagi-rejeki dg calon-calon rekan usaha yg lebih spesifik dan berpengalaman dibidangnya. Manfaatnya jelas sangat signifikan, terutama dimasa krisis dan persaingan ketat kaya gini:

    Kualitas produk/Jasa lebih terjamin: karena pd bbrp proses yg kritis telah diserahkan kpd rekan bisnis yg lebih ahli dlm tahap pekerjaan tsb.

    Fokus ke Bisnis Utama: Keruwetan yg bertele-tele/makan ati digantikan dengan keleluasaan berkreasi di bisnis/keunikan utama, sehingga timbul peningkatan daya saing yang menyolok.

    Resiko Bisnis terbagi: Adanya resiko kegagalan mutu/kinerja proses disatu mata rantai, tidak menjatuhkan proses selanjutnya. Malah gampang aja melepaskan rekan bisnis yg gagal dengan mencari rekan bisnis spesialis baru yg lebih kompeten

    Struktur Organisasi Gesit Lansing: Berkurangnya beban kerja yang neko-neko membuat Bisnis menciptakan organisasi yg ramping dan lincah menghadapi tantangan. Akhirnya kecenderungan beradu gede-gedean asset bisa diarahkan jadi lebih fokus pada beradu efisiensi kerja, ujung-ujungnya maen gede-gedean profit.. lebih produktif kan?

    Proses Bisnis lebih singkat/sederhana: Ini jelas, karena berbagai tahap dari proses bisnis rumit yg bukan spesialisasinya dg segera di outsource ke pihak-pihak lain yang lebih ahli dan siap infrastrukturnya... Pokoknya Jangan sampe REPOT,Kalo emang bisa digampangin, ngapain juga dibiarin Keribetan?

    Menciptakan jalan sukses yang lebih lebar: Konglomerasi kolot nan serakah memang nasibnya mampus, dan gantinya mungkin sebuah Konglomerasi yang terkait pada jalur pemasaran diberbagai segmen... Pintu Sukses & Keuntungan pun lebih luas, selain buat bisnis inti yg lebih terkonsentrasi daya saingnya, juga bidang bisnis lain yg selama ini bekerja sama bakal kecipratan untung yang gak kecil kan?


Busyet dahhh... kalo udah dijembrengin gitu, terasa banget upaya gue saat ini masih jaoooooh jalannya ... Gue cuman berdoa semoga makin sabar dan kaga mati angin ditengah jalan tuh :)) Ternyata mengupayakan enterpreunership/bisnis yang benar-benar exist dan tertib terkendali bukan maen-maen sulit dan sabarnya... Lagipula mana ada jalan yang mudah buat menebus harga kesuksesan ? Nekad ngikut pesugihan atau giat-giat menjilat penguasa pun ternyata gak kurang makan atinya... hehehe Selamat Berjoang Bung!!!

Monday, June 02, 2003

LANGKAH BERADAB MELAWAN DOMINASI BUDAYA AMERIKA, KENAPE NGGAK?...


Perang Irak baru ajah lewat, dan baru dapet kabar dari majalah kapital terbaru... Proyek Jutaan Dollat rekonstruksi negara Irak yang "modern" udah "beneran" dibagi-bagi dengan jelas kepada beberapa perusahaan amerika dan bbrp negara sekutu pedukung perang sesuai kadar KKN nya (jepang,india,pakistan dll)... Tapi ternyata suka atau tidak, Dampaknya baik secara kasar atau halus, dunia dan warga Amerika dan Budayanya harus menerima kritik dan cercaan dari berbagai belahan dunia. Kagada yang perlu diherankan prendz, kemenangan dan kekalahan punya resikonya sendiri-sendiri :)


MIsalnya saja dalam dunia penghargaan Layar Lebar yang sama-sama kite kenal popularitasnya lewat OSCAR ACADEMY AWARD itu... Amerika memang bener-bener mendominasi seluruh penghargaan produk film layar lebar dan temanya sangat terfokus pada sekadar produk amerika dan karya berbahasa Inggris ajah... Untuk penilaian dan penghargaan film bukan berbahasa inggris diminoritaskan dalam kelas tersendiri... Gejala Superioritas US English Version ??? Kaga tau dah... Yang jelas dan sama-sama diketahui kalo film-film selain amerika seharusnya sudah sangat beruntung kalo sempet tersebut dalam nominasi atau pemenang oscar dalam kategori film-film berbahasa "asing"... Isu-isu seputar terkontaminasinya obyektifitas penilaian juri-juri OSCAR demi popularitas bisnis hiburan, memang belon pernah diklarifikasikan lebih lanjut... hanya saja gue jadi bertanya-tanya ... kenapa pernah ada berita santer tentang aktor/aktris kaliber dunia semacem Merryl Streep dan Daniel Day Lewis yang mengeluh "MUAK" dengan event OSCAR, juga sangat kecewa dengan moralitas bisnis dunia hiburan Hollywood, walaupun mereka termasuk penerima beberapa kali nominasi/pemenang OSCAR ??? Ada apa gerangan ? terpotong begitu saza :(


Orang Perancis punya cerita dan caranya sendiri dalam menghargai hasil karya Film yang benar-benar mendunia... CANNES FILM FESTIVAL. Dalam pemberitaan koran tempo edisi minggu. para kritisi Film mungkin agak nyinyir berpendapat, bahwa Citra Penghargaan Karya Film Dunia sebenarnya memang hanya ada di CANNES. Dan itu memang bukan sekedar pujian, karena kenyataannya selama penyelenggaraan Festival di perancis ini, Juri-juri setidaknya tidak pilih kasih atas kemampuan kreatifitas dan karya-karya film dari negara ketiga. Pada dekade sebelumnya Selain Eropa dan Amerika, maka film-film dari Taiwan, Iran, India dan Indonesia pun seringkali mendapatkan penghargaan yang bergengsi (cut nyak dien, daun diatas bantal, pasir berbisik).


Walaupun Begitu, Festival Cannes ke 56 untuk taon ini nuansanya memang agak berbeda... Sangat Terasa kurangnya participant film amerika ikut dalam event ini, walaopun dari hasil-hasil penilaian juri bener-bener tidak berkurang kualitas hasil dan kemeriahan pelaksanaannya... kenapa begitu? Latar belakang politik Perancis yang sangat ANTI PERANG INVASI AMERIKA ke IRAK kemarin ternyata cukup menimbulkan perang dingin antar warga/budaya kedua negara tsb. Boikot tidak resmi dari aktor/aktris/produser film Amerika pun jadi kenyataan, walaupun begitu ada beberapa produser film-film asal Amerika seperti Warner Brothers yang ngotot join disana demi pemutaran perdana film "MATRIX: RELOADED".


Yang terasa walau nggak vulgar adalah balasan Juri-juri CANNES terkait perang wacana politik pasca perang Irak, yaitu terpilihnya nominasi/pemenang festival film Cannes yang tema dan wacananya mengkritik pola EKOSOSPOL warga Amerika dan sisi GELAP kejayaan Amerika, dan lucunya film-film itu memang diproduksi di Amerika pulak hehhehe... Contohnya:


  • Palme d'Or (Palem Emas): Elephant, Gus Van Sant (sutradara), Amerika Serikat (Pemenang Cannes). Insiprasi filmnya dari kisah penembakan di SMU Colombine pada 1999, yang mana menurut sebagian orang, para siswa melakukan penembakan itu karena terinspirasi oleh The Matrix. Film ini memang tidak bercerita tentang penembakan yang diakhiri dengan bunuh diri pelakunya itu, tapi tentang saat-saat sebelum penembakan terjadi.
  • Dogville yang dibintangi Kidman, Lars Von Trier(sutradara), film DenMark (Nominasi cannes). Walau tidak dikategorikan sebagai film Amerika, tapi jalan ceritanya memang tentang kritik sosial buat kehidupan Amerika. Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang mencari tempat perlindungan di sebuah kota kecil di Amerika. Keamanan itu harus dibayar mahal dengan menjadi "budak" para penduduk kota. Dimana kesimpulannya masyarakat Amerika tidak terlalu peduli pada orang-orang yang tak punya banyak uang, hal inilah yang harus dikritisi.
  • At Five in the Afternoon, Samira Makhmalbaf (sutradara), dari Iran. ang bercerita tentang drama dampak politik dan pengungsian akibat berlansungnya perang
  • dan banyak lagi lainnya

Yang jelas kelihatan betul, misi dan visi Festival Cannes (juga Berlin) berusaha seobyektif mungkin menyuarakan karya-karya film siapapun dan darimanapun yang paling ampuh dan mampu memrepresentasikan Budaya dan lukisan dunia nyata manusia terkini. Mungkin memang teramat jauh dari gemerlap film-film "mimpi" yang dijual Hollywood selama ini... Dengan begitu, walau mungkin jauh dari kata berimbang, seharusnya patut disyukuri bahwa warna demokrasi dunia masih terjaga dengan adanya keberanian menegaskan corak warna politik dan sosial yang tidak selalu pure-AMERIKA...