Deepdrown' daily Plurks

Thursday, August 28, 2003

Menggugah hati sendiri jika menjadi Jompo nanti...

Saat ini gue cuman punya email, buat bersetia berbagi cerita dengan kawan-kawan lama... Hanya saja interaksi seperti ini walau cenderung cepat sampai karena didukung teknologi komunikasi internet, ternyata enggak selalu bisa mengharapkan respon dari mereka dengan sama cepatnya... Ha ha ha ujung-ujungnya memang teteb mood dan minat manusianya sendiri...

Gue punya kawan temen sekampus dan seangkatan yg termasuk rajin mengirimkan email-email yg berisi artikel yg menarik dan maunya sih menyentuh hati... Tapi sejujurnya kaga banyak yg mampu memprovokasi gue untuk merespon dengan bersungguh-sungguh.. Hmm kecuali artikel semacam dibawah ini...

Cerpen Chairil Gibran Ramadhan,
tinggal di Jl H Haiman No 43, Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan memperoleh ‘uang lain-lain’ dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak terhalang sebutir kerikil pun. Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.

Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan.

Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.

Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya. “Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali.”
Akhirnya aku menyetujui saja.

Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali.

Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah kutemui.

Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.
Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia memberitahukan keinginannya. “Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih.”

Dua bulan lagi umurku 68 tahun. Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan menjengukku.
Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.

Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.

Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi.

Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal. Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri, mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke kamar.

Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan kue-kue kecil.
Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.

Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor satu.

Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah banyak yang tiada.

Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-buku kegemaranku. Kebetulan aku paling menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah fakultas hingga menyelesaikannya.

Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, “Uang panti tidak cukup,Nyonya.”
“Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?”
“Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca.”
“Begitu? Bagaimana dia tahu?”
“Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini.”
“Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya?”
“Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati.”

Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu.
“Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama berikan untukku.”
Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima.

Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.
Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk.
Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-sama. Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka. Ya!



Iyaaa... Tiba-tiba artikel ini rasanya mau menyindir "kecemasan" gue sendiri soal kewajban memelihara orang tua, khususnya Nyokap gwe yg sebenernya punya karakteristik agak rumit. Sebenernya fenomena seperti cerpen diatas, udah jadi pemikiran atau beban gue sendiri sejak lamaaaa, sebage anak pertama dari 3 bersodare laki2 semua, nyokap gwe udah hampir 60an... Alhamdulillah memang masih sehat dan enerjik. Walaopun begitu kaga bisa disembunyiin kalo beliaw merindukan kedekatan dengan anak-anaknya seperti dulu...

Adek gue yang ke-dua udah berkeluarga dan dinas di padang, adek gue yg terakhir karirnya lagi nanjak dan sering pergi keluar kota... Gue sendiri udah bawaan orok kali, tiap pulang kerja dari dulu kaga kurang dari jam 10 malem. Dulu sebelon gue nikah, setiap bulan selalu aja ada event piknik keluarga yg juga ngajak bbrp anak tetangga. Gue pikir ini sebage "cicilan" moral gue untuk sedikit membuktikan bahwa, biarpun anak lelaki gue punya perhatian yg memadai... Sebenernya buat kebanyakan orang Indonesia, usia gue termasuk perjaka telat menikah. Pilih-pilih ??? Mungkin iya juga, salah satunya gue dulu berniat mencari Wanita pendamping yg bakal "TEGAR" merawat orang-tua gue bersama-sama. Sinisme Nyokap gue soal komitmen anak lelaki buat "BERBAKTI dengan ORANG TUA" berdasarkan ukurannya sendiri, sejujurnya menghantui sekaligus menantang kapasitas moral gwe sendiri.

Dan sekarang, gue makin sibuk urusan kerja dan urusan keluarga... Lalu gue mule mikir, begini refotnya kaga punya adek cewek, karena jika adik cewek, walaupun sudah berkeluarga, biasanya bisa lebih fokus mengayomi ibundanya. Sekarang gwe sebage suami gue harus belajar "adil" kasi perhatian buat 3 cewek, nyokap gue yg udah mule tua, bini gue, dan anak pertama gue yg lagi lincah dan lucu2nye... Saat ini memang masa transisi diantara masa kebebasan gue dulu dengan masa peduli tanggung jawab lillahi ta'ala.

Anak gue ini memang jadi hiburan sekaligus intermediasi pemersatu di tengah-tengah hiruk pikuknya drama suasana rumah tangga yg didalemnya ada bini dan nyokap gue dalam kontak lansung... Dan ini memang harus gue anggep perkara biasa dimane cuman perlu persistensi kesabaran en diskusi aja. Sebenernya gue punya rumah sendiri yg rencananya memang buat keluarga sendiri... Tapi seperti yang diceritaken artikel ini dibawah... gue kaga tega meninggalkan nyokap gue yg udah mule tua sendokiran tanpa sanak-keluarga yang masih bisa nemenin. Keputusan yg ribet sebenernya.. tapi memang bolak balik gue harus bersikeras, insya Allah gue kaga perlu kirim nyokap gue itu ke panti jompo bgmnpun keadaannya kelak...

Kebetulan banget salah satu yg tenant di rumah kontrakan nyokap gue itu, ada juga seorang nenek, gue sendiri sering manggil beliaw oma, umurnya sekitar 60 lebih lah... sanak keluarga dan anak-anaknya jauh semua, dan gue sendiri jarang melihat ada tamu keluarga yg bertandang. Tapi OMA ini gue perhatiin demikian sibuknya, sekaligus kesehatan dan semangat hidupnya keliatan tinggi. Apa sebabnya ??? Gue tanya-tanya ke nyokap gue, bahwa OMA ini ternyata masih bekerja menjadi penjahit profesional, dan kerja keras dari senin sampe sabtu. Sehingga gue duga beliaw masih merasa bahwa diusia tua seperti itu masih cukup banyak tanggung jawab dan tantangan hidup yg dapat dilakoni sebage pengisi suasana masa tuanya. Sehingga kehangatan mental, intelektual menjaga kadar spiritualnya untuk selalu siap hidup tua sendirian.

Ada lagi nenek dari bini gue itu umurnya sebentar lagi 80 tahun, tapi dibalik rentanya selalu sigap nyuci baju, kepasar, masak yg enak2, pokoknya kerja keras buat cucu, buyut dan tetangganya di Semarang. Anak-anak beliaw yg sudah mapan sewajarnya jika minta beliaw untuk sekadar istirahat aja di rumah salah satu anaknya, tapi setiap kali dicoba.. Si Mbah ini lansung sakit dan sedikit depressi. Akhirnya minta pulang lagi ke rumahnya disalah satu gang di Semarang karena rindu dengan kesibukan rutinnya. Sekali lagi gue salut sekaligus penasaran kenapa bisa begitu ? Tapi sangat kuat alasannya hampir serupa dengan contoh diatas...

Beberapa tahun lalu, gue pernah tugas beberapa minggu ke Singapur. Pada suatu kesempatan gue coba makan-makan beberapa menu di MAL sekitar Orchad Road. Ketika asyinya gue makan sambil cuci mata, tiba-tiba gue kaget, karena disamping gue seorang Kakek berseragam memohon ke gue untuk membersihkan sisa makanan yang ada dimeja. Dibalik kemelongoan gue, masih terlepas senyum terima kasih gue dan sempet mikir ini kakek pemulung atao anggota salah satu panti jompo mana ? Kok tega banget disuruh "ngobyek" di mal-mal kaya gini. Apalagi sbg orang jawa, rasanya gue ganjil bener, melihat kakek atao nenek sibuk bersihin meja, dimana ada ABG dengan cueknya terus becande sambil makan kaga ambil peduli. Ketika beberapa kali gue makan di beberapa mal singapur selalu muncul fenomena seperti itu, bari gue sadar.. kalo Kaum Jompo ini memang dipekerjakan di food court MAL-MAL sebage pembersih meja, dan situasi itu memang udah jadi salah satu program ketenaga-kerjaan pemerintah Singapura.

Berbagai Pengalaman, pengamatan, dan kenyataan ini barangkali memang rejeki buat gue, sehingga gue berani menarik kesimpulan. BAHWA mengelola dan mengasihi kaum JOMPO memang bukan dengan "memenjarakan" mereka sebage orang LEMAH. Akan tetapi harus ada upaya untuk memberikan kesibukan dan tanggung jawab yang positif yang sesuai dengan potensi dan kondisi fisik masing-masing. Dengan begitu, rasanya kite bakal lebih nyata dan aktif mengayomi hidup orang-orang tua kite itu dengan pemberian Harga diri dan produktifitas yang lebih tinggi, sehingga harapannya masa tua mereka dapat dijalani lebih IKHLAS dan BERNILAI ( selain pendalaman spiritual keagamaan tentunya )

Pemerintah memang memegang peranan penting tentang pemberdayaan upaya pengayoman para KAUM JOMPO selain ANAK-ANAK YATIM-PIATU dengan langkah-langkah yg lebih progresif dan kreatif. Tapi untuk berharap seperti itu kayanya gue perlu ngaca situasi terkini... soal pemberdayaan KESEHATAN MASYARAKAT ajah masih memprihatinkan... Rasanya buat pren-pren yang tersentuh dengan hal seperti ini harus berjuang membuktikan sendiri jalan yg terbaik untuk masalah-masalah ini (hiks). Semua memang selayaknya mencari jalan ketauladanan sendiri, soale ketelaudanan kepemimpinan di negeri ini udah langka. Semua harus mulai koreksi dari diri sendiri dan mulai dari keluarga sendiri tanpa kenal putus asa. Semoga orang-orang kuat seperti ini, kelak mampu mengarahkan negeri ini jadi KAMPOENG KASIH SAYANG dalam arti sesungguhnya.. AMIN...

Thursday, August 14, 2003

Ada Cuek membawa Hikmah.. Ada Cuek demi Salah Kaprah

Gue ini terbiasa pada suatu kondisi, jika sedang kena musibah selalu beruntun... mo gak mo harus mikir pasti ada yang salah dengan langkah gue sebelumnya... atao gue perlu bersabar karena buntutnya kemungkinan gede bakal muncul "rejeki" yg tersembunyi selama ini...

Baru-baru ini, sekitar tgl 2 agustus lalu, gue pergi bareng bini dan bayi gue yg baru 1 tahun itu ke semarang naik kereta Argo bromo, tiba-tiba aja kereta Kamandanu yg juga berangkat dari jakarta ke semarang, persis 1 jam sebelum kereta gue start, ternyata ambrol 4 gerbong di cikarang. Sekitar puluhan penumpang luka-luka... Akhirnya kereta harus berenti 4 jam di Cikarang, dan gue diuji untuk menenangkan bayi gue yg mule rewel... alamak capeknya setengah mamfus. Disaat yg melelahkan itu terdengar berita bahwa kamandanu rodanya pecah karena sabotase, kalo bukan mr agum gumelar yg bicara mungkin gue cuek aja.... tapi jadinya kepikiran rada aneh... hari gini di relkereta yg jarang ada expose kok bisa-bisanya ada orang niat sabotase ??? Apa jadinya kalo yang kena Argo Bromo ??? uhhh begitu rapuhnya nasib manusia sebenernya :(

Ditengah kelelahan yg menggunung, gue teringat juga 2 hari sebelumnya AC mobil gue mampus gak bergeming menyemprotkan udara dingin sedikitpun. Setelah sedikit lega menghabiskan biaya reparasi AC sampe 1 jutaan, esok harinya tu mobil butut tiba-tiba bersuit-suit gak jelas kenapa.. ditambah deru AC yg baru bener itu jadi tambah rame... apa gerangan? Gue mule cemas kenapa pula mesin ni mobil? tentu gak ada lagi kesempatan, karena persiapan keberangkatan ke semarang udah mepet waktu itu... so jadilah gue pergi dengan hati mengganjal... Akhirnya jadwal argo bromo yang seharusnya tiba jam 3 sore harus sampai di stasiun balapan sekitar jam 8 malam... Waktu yang begitu mepet bener2 gue manfaatkan buat silaturahmi, jalan-jalan, dan istirahat sebisanya.. untung deh bayi gue itu kaga rewel... Masalah lain muncul, karena mobil yg rencananya bisa dipinjam untuk jalan-jalan ternyata wujud si mobil nggak muncul-muncul, gelisah lagi... Akhirnya malam-malam pun gue ajak keluarga gue untuk menyusul paman bini gue si empunya mobil. Pendek kata semua tantangan yg berat coba gue hadapi saat itu juga, gue berusaha cuek dengan segala males dan cape... Akhirnya mobil pinjaman dapet, silaturahmi pun dapet, cuma kepala gue dan bayi gue harus dapet sedikit benjol coz terantuk hiasan ruang tamu yg terlalu rendah ughhh... masih ada aja :(

SIngkat kata begitu senin, rasanya lega keluarga gue selamat lagi sampe di jakarta tercinta, dan walau gue harus cape tap hari itu tetep masuk kerja menyelesaikan semua kerjaan yg terbengkalai karena harus cuti jumat minggu lalu. Disini rasanya gue masih harus kecewa, karena anak buah gue satu2nya kaga bekerja dengan performa memuaskan, alasannya harus partisipasi PPAP-III di WBD. lt.3 atas perintah boss gue. Dengan sedikit kesal akhirnya gue sendiri yg harus kerja ngeberesin semuanya... Ketika anak buah gue itu harus ketemu gue, alasannya menunjukkan hal yg dibuat-buat, sayangnya hari itu gue masih bisa ketawa, ketawa kecut tentunya... Begitu mudah rasanya gue temuin di kantor gue, manusia menghianati dan melalaikan tanggung jawab yg diemban dengan imbalan gaji yg nggak sedikit.. hmmm komplen lagi dalam hati... Tapi gue teteb cuek dan target adalah selesekan kerjaan...

Hari Selasa, 5 Agustus 2003, rasanya gue masih harus kesal karena kerjaan anak buah gue itu masih juga gak beres, dan gue terlalu banyak pikiran untuk sekedar berdiplomasi. Apalagi jam 11 ini gue janji ke Perbanas untuk menanda tangani form registrasi dosen semester baru. Sibuk sana sini bikin gue sellau lupa makan siang, untung bini gue antisipasi bekel lontong & roti dari rumah yg lumayan ngeganjel... jam 13.15 WIB, Tiba-tiba ada teman kantor lewat deskcorner gue sambil tereak, "OEY UDAH TAU BELON HOTEL J.W.MARRIOTT DI BOM ?". Serentak gue kaget, dan melihat ke jendela ketinggian kantor, memang Hotel yg tertutup pandangan gedung Danamon dan Apartemen Mega Kuningan itu mengepul ASAP yang begitu HITAM. Tentu bukan bom kecil, dan gue cepet-cepet setel radio elshinta... beruntung gue masih dapet berita bahwa bom yg meledak di plaza mutiara dan hotel J.W. Marriott itu meledak 2 kali dengan sangat dasyat. Korban meninggal saat itu belum diketahui, yg jelas warga belanda presdir ReboBank dipastikan tewas...

Segera gue buka-buka internet cari info lebih jelas, ternyata pagi tadi sebelum Marriott lalah luntuk, ada berita adik presdir TEXMACO yg lagi ribut dengan koran KOMPAS dan TEMPO juga utang betumpuk di BPPN... Manimaren BUNUH DIRI lompat dari lantai 40 hotel Aston persis ngikutin gaya desperadonya Presdir Hyundai Korea Selatan yg kena kasus suap dengan Korea Utara. Akhhh akhirnya dapet juga foto dan berita pemboman Marriott, keliatan seorang berseragam SATPAM compang camping berdarah-darah terduduk shocked berlatar belakang lobi Marriott yang rushak beraaatz. Hmmm yang selamet aja penampilannya begitu drastis, bagemana pulak yang tewas? Kembali gue jadi lemes, entah mo marah dengan siapa, atau kesal karena apa, rasanya bakal begitu risau bin rumitnya hidup menjaga perut disini setelah tragedi baru lagi... Rasanya baru aja kaget soal bom BALI, tapi ditengah ketenangan ekonomi yg mau bangkit, harus ada BOM di tengah Jakarta. Makna Ujian hidup buat gue selama seminggu ini begitu berturut-turut... Seharusnya jadi masalah yg berat buat kebanyakan masyarakat tentunya...

Hari demi hari berlalu, media tereak kesana kemari, Tuduhan campur klaim dari Koran Singapur soal telepon kaleng JI yang bertanggung jawab dibales bantahan para kaum ulama dan dugaan sentimen Australi & Singapur thd Islam di Indonesia. Buntutnya Pariwisata mulae rentan, Downer "mandor" australia udah mule ngeblok warganya ke Indonesia, Amerika juga sibuk neken BI soal UU Money Laundering, dan seperti biasa opini-opini tokoh masyarakat demi menjaga citra agama berkesinambungan, begitu pula korban-korban ledakan dirumah sakit mulai menyusul ke alam baka, dan geneplah korban menjadi 12 meninggal... Tawaran bantuan intel asing ramai berdatangan, yang tereak anti jugak kaga kebilang...

Begitulah kata orang kalo ada tragedi biasanya juga bisa muncul mukjijat... Bom yg dikira bisa bikin drop investor pasar modal, ternyata cuman stuck bentar, dan kemudian stabil lagi... Rupiah bebannya berat cenderung gara2 Greenspan cenderung nahan turunnya Fed. Pesta Jualan BPPN ( aset kredit, properti, investasi ) langsam terusss kaga bergeming. Dan gue pun terpaksa harus maen emosi jungkir balik antara empati dengan situasi sosial sekaligus berkutet dengan begini banyak target kerja... Capek ??? mungkin iya banget...

Dari kebanyakan suara kuatir ancaman bom rasanya lebih berasal dari masyarakat kelas tengah ke atas.. Gue rasa mereka ini biasa begowl di tempat-tempat elit, gara2 Marriott, keberanian Nyali nya jadi makin pelit... mungkin juga kuatir Koit pas lagi banyak duit... Sekitar 2 hari setelah meledugnya Marriot, gue iseng naek motor ke kantor lewat komplek mega kuningan situ... Alamak, tanah-tanah disekitar hotel udah jadi keriaan seperti biasanya, pemaen bola 'kampung" dengan seragam warna warni udah sibuk berebut bola. Penonton dan Penjual kaki lima seperti biasa berkerumun tanpa kuatir dengan pemandangan latar belakang gedung Marriott yang lobinya gosong dan kacanya banyak yang rontok itu... Suasana Mental CUEK kaya gitu barangkali cukup menghibur hati jugak, apakah kaya gini hikmahnya hidup di negeri yang terlalu banyak ricuh...??? Paling enggak buat rakyat banyak keliatannya Isi Perut lebih utama dari pada Isi BOM yang sampe sekarang sasarannya ke obyek-obyek berkumpulnya orang-orang elit doang.

... Dan gue pun jadi sedikit malu kalo sempet jadi galau hanya gara-gara berisiknya AC atau REWELnya mesin sedan butut gueh. Gue seakan-akan dapet pencerahan yang paling nyata, bahwa emang bukan kuantitas "HARTA" atau "KUASA" yang bikin TENANG ngadepin RESIKO PALING BERAT dari UJIAN HIDUP,yaitu harus "MATI" pelan-pelan atao mendadak. TAPI... sampe seberapa jauh gue mampu ngarti bin sabar dengan setiap warna hidup yg gue jalanin, lalu ... seberapa banyak sehhh gue berani jalanin titian jalan lurusNYA ???

Friday, July 25, 2003

Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 2 dari 2 tulisan


Barangkali aja gue ini terlalu males dan sok tahu juga, tapi tersrah ente lah... yang jelas ketika gue baca cuman dua buku aja para orientalis ilmiah tentang sejarah alam semesta, asal usul manusia dan nasibnya.. Makin berasa bahwa terlampau bahaya rupanya sekadar bergantung ( baca: beriman ) pada kemampuan nalar... Ada suatu nuansa bahwa Nalar manusia yg wujudnya berbentuk gumpalan otak memang jasad ragawi yang mencuatkan energi hawa-nafsu dan syahwat manusia. Akibatnya memang antara produk nalar satu dengan nalar yang lain menjadi amburadul dan penuh reka-reka yang membabi buta... Kemudian jelas memunculkan ambisi pembenaran nalar dari individu satu dengan yang lain, sehingga kemungkinan besar biasnya makin jauh dari kepastian mana yang paling benar... Makna kebenaran jadi bertumpu pada nalar, dan nalar cenderung bekerja berdasarkan siapa mengamati siapa atau apa ( materialistik )... sehingga nilainya jadi relatif.

Dari Kemampuan Nalar manusia yang sebetulanya cukup naif itu, berusaha dibentuk dan dihitung wujud keilmuan dan logiak teknis TUHAN melalui hukum-hukum yang berlaku pada manusia. Tentu saja salah kaprah... Lawrence Krauss dan Barbour sendiri menemui fenomena fisika kuantum terlalu ambigu untuk dipahami melalui perhitungan matematika fisika klasik. Keduanya mengakui perlu peta matematika gaya baru dan perubahan total paradigma fisika yang ada sekarang agar mampu menguak hakiki fisika kuantum. Gue cenderung melihat bahwa mereka terbentur pada wujud Ilmu Tuhan yang paling kecil saja. Oleh karena itu perlu pemahaman dari nalar jenis lain yang lebih tinggi/murni dari pada sekedar otak manusia, yaitu KALBU yang mengerti jalan pikiran TUHANnya.

Barulah gue sadar lagi bahwa kebebasan daya nalar manusia tetap memerlukan KENDALI kesahihan dan keabsolutan nilai MORAL secara universal, yang memang keliatannya makin kagak populer didalam komunitas manusia terkini yg lebih terobsesi kedigdayaan materi (kekuasaan, harta, cinta fisik). MORAL inilah yang menunjukkan fenomena naluriah bahwa sang ibu patut melindungi anak-anaknya yang baru lahir tanpa harus diajarkan makhluk lain. Atau mengapa ada pemahaman semua manusia bahwa mencuri dan membunuh itu pasti tidak diperbolehkan, karena MORAL menilai tindakan itu melanggar nilai kemanusiaan yang murni. Pemahaman perilaku secara naluri tentang hubungan sex normal antara laki-laki dan perempuan misalnya... dan lain lain.

Nilai-nilai Moral ini muncul dari kejernihan KALBU (akal hati) sebagai inti dari Jiwa manusia. Semua obyek yang gue sebutin terakhir merupakan organ non materi manusia yg dibawa sejak lahir, tidak berwujud jasad kasat mata, tetapi mewujudkan nilai SPIRITUAL manusia. Dalam kalbu inilah terjalin dengan database berbagai nilai-nilai keTuhanan yg dibawa sejak lahir. Disinilah letak akses Tuhan memberikan hidayah dan petunjukNya terhadap berbagai pelik kehidupan manusia, dan "menjawab" semua doa-doa. Oleh karena itu pada situasi yang normal, Kalbu manusia yang sehat mampu berkoordinasi dengan wajar dengan Hawa nafsu serta syahwatnya, sehingga menimbulkan enerji dan dampak kehidupan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya...

Makna Ujian Hidup

Penjelasan yang paling gampang, jika bisa kite bilang kalo dunia ini adalah memang bukan sorga hakiki, tetapi memang bener-bener berupa sorga halusinasi, hyper komputer virtual reality, yang memang semau-mau si Empunya komputer untuk menguji interaksi obyek-obyek "cerdas" yang diuji dalam berbagai algoritma, untuk kemudian dicatat kinerjanya... kalo Kata DIA pengujian obyek tersebut memang OK yaaaa... mungkin bakal di konversi jadi obyek absolut pada sorga yg absolut.. tapi kalo memang belon okay ya "dibetulin" di bengkelNya, kalo udah rusak yaa terpaksa di BUANG... Ha ha ha memang begitu rapuh cara berpikir manusia ( apalag kaya gue gini ).. tapi mudah2 an analoginya kelak bisa mencakup 65% kebenaran saja dari sebenernya Wallahu'A'alam :)

Tapi kalo kite mo jujur... sebenernya pandangan fisik kite memang cenderung tertutup oleh hawa nafsu... dari mata kite ini melihat orang banyak duit (misalnya), tentu seringkali terbayang oleh otak nafsu kita, betapa mudah kite belanja dan berfoya-foya, pokoknye menyenangkan dan mensukseskan ciri sendiri... ahhh indahnya. Begitu pula jika mata ini tertumpu pada sosok yang kumuh, lansung aja kebayang begitu menderitanya orang yg harus menjadi "lusuh" dan sepertinya nggak ada kata bahagia didalamnya... SEKALI LAGI begitu rapuhnya indera manusia prend :)

Masyarakat sering lupa bahwa kenikmatan duniawi adalah tanggung jawab batin/moral/siksaan obsesi teramat berat pada akhirnya, sedangkan kesengsaraan memikul kehinaan pandangan pada awalnya, namun sebenarnya menghimpun ketenangan dalam berjuang. Apakah perkataan gue ini bisa diuji secara nalar semata ??? yaaa tentu nggak bisa... pernyataan itu merupakan kesatuan proses pemahaman pergulatan hidup, dimana didalamnya bergulat antara nalar vs mata hati, dan keimanan vs hawa nafsu dalam proporsi yg balanced... Dan ditengahnya muncul rasa SYUKUR dan SABAR... Walau untuk topik seperti ini budaya science modern cenderung mengingkari... Tapi apakah benar dapat diingkari ? Lihatlah masyarakat Eropa, amerika, jepang dimana masyarakatnya telah "mapan" rejeki nalar, ternyata angka statisitik menunjukkan pertumbuhan depresi dan bunuh diri ... Artinya apa ??? silahkan simpulkan sendiri... TAPI buat gue yg simpel-simpel aja, bahwa Kenikmatan atau Kesengsaraan Duniawi keduanya merupakan UJIAN HIDUP yang sama berat, berkorelasi, sama mulianya buat yg berhasil, dan sama hinanya buat yang gagal...

Pernahkah anda merasa tersiksa kebosanan dan hampa ??? Percayalah jika manusia yang "cerdas" ini tidak diberikan "ujian hidup" maka pasti otaknya lumer, dan depressi akan mengundang tindakan radikal dan bunuh diri... Pernahkan anda jatuh dari sepeda tapi merasa bersemangat campur takut untuk mengulangi lagi ??? Arrggh ya itu dia .. manusia butuh emosi yang menantang tantangan hidup yang lebih besar lagi.. itulah kodrat hidup... Sayangnya memang manusia tidak bisa minta tantangan dan ujian hidup ini sekedar pada yg mereka suka... Karena memang hanya Pencipta manusia yang paling tahu "kebutuhan" ciptaanNya...
Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 1 dari 2 tulisan


Kalo mo jujur .. coba deh simak suara hati kita sendiri... Bagaimanapun kondisinya, sedang kaya atau miskin, lagi sehat atau sakit, jadi pejabat atau kroco, apa aja deh pokoknya, pasti selalu ada berbagai alasan untuk senang atau susah... ya kan? Jamaknya kalo sedang senang gumbira maka melepas semua emosi hingga lupa pada yg sedang susah. sebaliknya juga begitu, tiba-tiba mendapat musibah sengsara, maka seakan-akan terasa seluruh hidup ini begitu sial... terlupakan nikmat kesenangan yg masih tersisa. Begitulah kesan dan bayangan gue pas baca email curhatnya dibawah ini :

-----Original Message-----
From: SPr
Sent: Thursday, July 24, 2003 6:00 PM
Subject: mengapa manusia mesti di uji ya...?

Kadang kalau menelaah perjalanan hidup ini, kita tidak lepas dari segala ujian-ujian yang tiada hentinya.
Dari kesenangan hidup sampai musibah-musibah yang datang dengan tiba-tiba.
Rahasia apa dibalik semua ini ?
Pada saat senang kita bersyukur dengan hati yang penuh bunga, tetapi kesenangan itu menjadi tidak lagi berarti ketika musibah datang kepada kita yang datang tiba-tiba ! iya ya..mengapa manusia mesti di uji ya...?
Padahal Alloh sudah tahu tentang kita, seberapa mampu kita..so buat apa di uji kalau Alloh sudah tahu tentang kita ?
eh..tapi sudahkah kita tahu tentang kemampuan kita sendiri ? batas daya tahan kita ? kebesaran jiwa kita ?
keikhlasan kita? kesabaran kita? ketenangan kita? tawakal kita ?

Topik seperti ini kalo gue mo gampangnya yaaa jao lebih mudah untuk berkutet pada sisi moral dan doktrin-doktrin lateral keagamaan.. Dan gue harus rela menduga para pembacanya bakal bergumam,"ahhhh klise...". Apakah ini berarti gue juga ketularan pesimis dengan ajaran agama??? Enggak begitu, masalahnya memang masyarakat sekarang warnanya makin sekuler dan sering merasa hampa ditengah riuhnya khotbah agama. Yang jelas keselarasan moral, mental dan intelektual adalah isu krusial untuk memahami hidup lebih bermakna positif. Oleh karena itu mungkin perlu empati dan simpati "khusus" buat mendalami keluhan seperti ini, hingga patut kita semua pahami bahwa kita kaga sendiri..

Isu-isu pelik dan penuh dilematis dari email temen gue itu mencakup beberapa pertanyaan yang menimbulkan polemik : Mengapa Perasaan dan Nasib Manusia cenderung berubah tanpa irama; Bagaimana jalan fikiran Tuhan sehingga drama kehidupan ini cenderung tragis dan berbeda antar manusia; Tuhan maha Adil dan mengetahui lalu kenapa harus ada gejala diskriminasi dan istilah ujian hidup?... Disini gue beranikan diri membahas bdsk pengalaman dan pencerahan yang gue terima dari kondisi sehari-hari, barangkali ada gunanya buat gue sendiri atao pembaca yg berkenan.. semoga...

Dua bulan bulan ini gue sedang menghabiskan beberapa buku, antara lain: Fisika Startrek (Lawrence Krauss), dan Juru Bicara Tuhan : antara Sains dan Agama (Ian G.Barbour). Kaga disangka... buku-buku yang keliatannya gak begitu tebal itu ternyata menyimpan berbagai rangkuman dan polemik filosofi dan pendapat ilmiah para fisikawan tingkat duna tentang wujud/asal usul alam semesta, dan akhirnya terkait tentang perlu/tidaknya adanya Tuhan disana. Topik yang sangat ekstrim sekaligus eksotik, dan memang berat banget menghabiskan halaman demi halaman... barangkali karena prosesor imajinasi dan pemahaman otak gue baru pentium MMX yaa?

Pencerahan dari Ian G.Barbour

Yang menarik dari bukunya doi, yaitu begitu kayanya pencatatan polemik dari berbagai filosofi dan pendapat ilmiah (terkait teori evolusi, kosmologi, fisika kuantum, genetika, dan neuroscience) serta sejarah isu keilmiahan science tsb vs doktrin teologi hingga abad ini. Hingga melukiskan bentuk interaksi antara kaum nalar ilmiah dan teologi tentang kejadian alam semesta dan asal usul manusia, menjadi pemetaan 4 pola hubungan toeri dan interaksi, yaitu: Konflik, Indepedensi, Dialog, dan Integrasi.

Gue sendiri ngeliat, bahwa 4 pola itu terbentuk, karena memang begitu kompleksnya latar belakang manusia beserta keahlian dan keyakinannnya bdsk nalar dalam memahami kejadian alam, asal usul manusia, serta peran Tuhan. Fakta sejarah yg terkenal adalah adanya kesalahan sikap totaliter kaum Gereja thd teori kritis Galileo kemudian serta copernicus tentang kesimpulan ilmiah bahwa matahari sebagai pusat kosmis, dan bukan bumi seperti kata gereja. Yang berakibat kedua tokoh tersebut dikucilkan, dan yg satunya lagi dihukum bakar sampai mati. Namun bdsk kemajuan jaman , akhirnya Gereja mengakui kebenaran pemahaman science. Pada abad 20 konflik memanas lagi dengan muncul teori Darwin yg teramat yakin bahwa kemiripan spesies menunjukkan evolusi biologi dari jaman ke jaman menyesuaikan kondisi Bumi. Dan kembali melanggar doktrin agama, bahwa nenek moyang manusia ya memang manusia bukan lagi spesies yang lain.

Pada masalah kejadian semesta alam, Tokoh fisikawan legendaris seperti Albert Einstein ( penemu teori relatifitas ), Niels Bohr ( penemu teori atom kuantum ), Newton (penemu teori mekanika klasik) contohnya berdiri pada pada sisi peneliti ilmiah yg melihat keterbatasan manusia memahami gejala alam yg begitu kaya. sehingga akhirnya mereka perlu mengakui bahwa gagalnya formula nalar mereka thd gejala alam yg lebih rumit, karena ada variabel tersembunyi yg tetap digenggam oleh kekuatan yg lebih maha Jenius, yaitu TUHAN.
Tentu keyakinan mereka bukannya tidak mendapat lawan, karena para ahli fisika lain ug berpatokan pada falsafah: alam ini tampak ada dan wujud karena kemajuan pemahaman nalar mereka... Menganggap Alam semesta hadir karena kebetulan. Fisikawan kontemporer abad ini Stephen Hawking berdiri pada teori ini, dan ketidak tahuan manusia hanya bersikap sementara, karena alam memiliki kadar chaos dan kebetulan yang acak.

Ian sendiri yg latar belakangnya seorang Guru besar fisika sekaligus teologi, cenderiung berpihak pada upaya dialog menuju integrasi terkait hubungan science vs agama. Dai meyakini bahwa polemik yg terjadi kini, merupakan upaya/ konsekwensi dialog panjang dan diyakininya menuju titik temu (integrasi) pemahaman bahwa Agama dan Science perlu saling mengisi dan menguatkan (anti sekuler), agar hidup manusia lebih bermakna dan tidak hampa di tengah alam semesta yg begitu luas.Oleh karena itu PEMAHAMAN masalah NASIB masa depan MANUSIA yaaa terkait dengan bagaimana generasi sekarang memposisikan pola hubungan fakta/teori ilmiah dengan doktrin/keimanan agama.

Pencerahan dari Lawrence Krauss

Buku ini sanagt serius mengupas kepopuleran film fiksi ilmiah STARTREK yg menjual berbagai teroi fisika kontemporer selama 30 tahun. Pada setengah buku, gue menikmati sekali koreksi-koreksi ilmiah Lawrence terhadap berbagai kesalahan pemahaman teori fisika penulis cerita STarTrek, walaupun nggak sedikit juga yang hampir betul... Tapi menjelang halaman selebihnya, mulaelah kerumitan muncul dengan berbagai perang teori fisika populer a la Einstein vs stephen Hawking.

Yang jelas menurut Stephen Hawking ( Krauss pun keliatannya mendukung ) mengesahkan perasaan adanya Tuhan akan mengakibatkan imajinasi dan semangat eksplorasi manusia menjelajah keluasan alam semesta dan berbagai kemungkinannya akan makin tertutup.
Walaupun ironisnya keterkinian nalar manusia membayangkan imajinasi total dari berbagai drama fiksi ilmiah STARTREK itu, dibahas sendiri panjang lebar oleh Krauss tentang kemustahilannya. Dan akhirnya perlu bergantung pada teori-teori yang belum sempurna seperti berbagai anomali & ambiguitas Fisika Kuantum.

Pertanyaan Krauss sendiripun terbentur pada berbagai teori ketidak pastian, yang mengakibatkan bagaimana pula interaksi manusia menghadapi ketidak pastian hukum fisika yang ada ( buatan manusia ) terhadap fenomena alam semesta. Sehingga manusia patut sekadar puas memahami alam yang luas itu dengan keterbatasan hukum nalar fisika nya, dan ditambah hiburan imajinasi tentang obsesi status manusia yang akan "serba mampu" di masa depan...

bersambung...

Tuesday, July 22, 2003

Sikap Balas Jasa VS Prinsip Keikhlasan dalam Proses Kepedulian Sosial

Kesibukan orang-orang pada utopia masalah politik, science dan ekonomi yg diransang karena gencarnya pemberitaan media, kadang-kadang melupakan akar masalah yang mendasari interaksi manusia dan dampaknya, baek sekarang atao dimasa depan... Mangkanya gue pun sedikit kaget, ketika ada seorang kawan memulai dikusi dengan pertanyaan yg sederhana tapi menyodok keterbiusan gue sendiri, seperti bisa disimak pada email dibawah ini :

-----Original Message-----

From: EndiFa
Sent: 22 Juli 2003 11:11
Subject: Ikhlas nggak sih?

Saat membantu orang dengan bersedekah dan mengharapkan pahala, sebenarnya nggak bisa dibilang ikhlas 100% karena masih mengharapkan 'reward' berupa pahala. Ikhlas adalah saat memberi bantuan pada orang lain tanpa mengharapkan reward apapun dan tujuannya benar2 membantu orang yang kita beri / mengatasi kesulitannya --> dari sudut pandang kemanusiaan. Benar ngga sih?


Beberapa respon terhadap pertanyaan itu sendiri enggak kurang bikin kaget kesadaran gue sendiri... Karena suatu prinsip ideal yg secara sepihak gue anggep semua orang bisa terima, eh eh eh ternyata justru merepresentasikan terbalik rasa optimis gue. Misalnya ( secara naif ) gue beranggap bahwa anggapan umum bahwa peduli sosial seputar sedekah, bantuan sosial, bantuan pribadi kepada komunitas yg layak dibantu tentu perlu dilaksanakan dengan IKHLAS dan tanpa pandang bulu...

Nyatanya ada saja yg bilang, bahwa bertindak praktis dalam membantu "orang susah" perlu ada azas manfaat timbal baliknya, paling tidak keliatannya mencuat kebutuhan syahwat khusus yg cenderung subyektif dengan berbagai prasangka dan pemahaman apakah suatu bantuan sosial itu perlu bagi masyarakat tertentu ... Apakah orang yg dibantu yakin jadi baik ? atau kan terjamin tidak mengecewakan ke diri si penolong ? atau menzalimi si penolong ? Apakah tujuan dana bantuan itu cerdas atau mubazir ? Dari pendapat sok tahu gue, harusnya ada perbedaan antara niat menolong/peduli, dengan penanganan tindakan kriminal... karena itulah sudah seharusnya Agama & Hukum formal mampu bersentuhan dengan piawai ( hi-touch )

Dalam kegundahan yang naif pulak, gue akhirnya harus percaya bahwa terlalu pelik masalah kepedulian sosial dan sosialisasinya dalam kehidupan bernegara disini, apalagi kalo terkait dengan pengakuan sebagai negara hukum yang beragama... Bagaimanapun gue yakin harus ada jalan.. karena intinya adalah munculnya persepsi yang subyektif, dimana hukum negara yg katanya beragama ini pun tidak mampu menghasilkan fatwa yang cerdas demi membantu masyarakat yg terpuruk...

Ujung-ujungnya cuap-cuap inipun idealismenya memang ke masalah yang gede banget, dan sampe sekarang irionisnya cuman jadi jargon-jargon buat pemerintah buat narik dana-dana bantuan dari luar negeri doang… apaan tuh ? KEPEDULIAN SOSIAL dan KEMANUSIAAN… Jadi pengertian gampangnya selama itu manusia, dan manusia itu adalah pelaku komunitas sosial sekaligus obyek penderita.. maka upaya-upaya kearah sono ( sedekah, dana kemanusiaan, raskin, santunan yatim piatu dll ) memang harusnya TABU buat dipilih-pilih berdasarkan perkiraan (apalagi pengharapan) atas imbal jasa pren… Selaen tentunya kondisi-kondisi yang memang haknya perlu dibantu… Kepedulian Kemanusiaan sendiri adalah tingkatan kesadaran kepedulian sosial yg lebih tinggi dan universal, rasa-rasanya terlalu mengawang, jika kesadaran peduli bantuan sosial anatar ummat, antara warga senegara pun belon jelas titik temu pencapaiannya :(

Ironisnya di negara-negara tetangga yang maju dekade kini ( contoh paling deket malaysia dah), Perkiraan Pengeluaran Anggaran Belanja Negaranya telah mencakup dana-dana santunan buat masyarakatnya yang tuna wisma, tuna karya, cacat, yatim piatu, kesehatan/ sekolah negeri… Dan itulah sebabnya penarikan pajak di negara-negara tsb gede banget, dan… hasilnya memang “jelas”. Mungkin karena peran negara yg begitu besar dalam pengayoman warga negara “tak berdaya”nya, maka kalo kite orang timur kalo denger selentingan , atau baca-baca sekedarnya tentang budaya negara mereka .. seolah-olah masyarakat mereka begitu individualis, acuh gak acuh satu dg yg lain… Mungkin bentuk kepedulian dari komitmen bayar pajak, wallahu’alam.

Belakangan gue pikir, justru negara kite yang gotong royong, murah senyum dan basa basi, gemah ripah loh jinawi ini … orang kotanya ( mungkin sekali mule menjalar kekampung ) begitu kemaruk dan lebih individualis, karena besarnya budaya penyelewengan pamong praja, masyarakat yg biasa tertindas/dibohongi maka empatinya hilang/skeptis, dan balasannya begitu kayanya mental masyarakat dengan paranoia & rasa tidak percaya siapapun… Maka bole jadi deh… jangankan pengumpulan dana sumbangan sosial atau dana kemanusiaan yg krusial… Renald Khasali aja begitu sebelnya, ketika tahu bahwa begitu banyak perusahaan besar yg biasa pasang budget iklan milyaran rupiah, sampe hati kaga peduli alias medit buat komit sumbangan dana riset dan pendidikan yg besarnya Cuma 25-30 juta perbulan aja…

Keliatannya Gembar gembor Agama secara umum gagal memperkokoh mental dan intelektual ummatnya buat saling peduli, apalagi tujuan yg lebih populer: Berjuang melawan KKN??? Lalu apakah Agamanya yang salah ? Wuah ini lebih salah kaprah lagi, dan yang pasti salah adalah mental/moral manusianya... Indonesia ini udah lama jadi negara Super Liberal, hukum dan agama udah biasa dipolitisir bolak-balik jadi sekadar mercusuar yg menyilaukan, tapi landasannya masih rawa yang kaya penyakit.

Lalu apa sih yg sebenernya membuat kite tersilap sama inti ajaran Agama ? Itulah dia IKHLAS… Itupun ternyata sosialisasinya gak sebanyak ucapan kata-katanya sendiri… Ada aja orang yang skeptis bin sinis, kalo dibilang bahwa Amal ibadah di pekerjaan, pendidikan, pergaulan, peribadatan, usaha, dan kepedulian alam/manusia itu perlu IKHLAS supaya bisa jadi tiang Agama. Serangan balik yang umumnya terucap adalah… “Emang gampang cari duit? Sumbang sana sini seenaknye!” ; “Emang siape die? Gak kenal!” ; “emangnye kite nabi?” ; “Argghhh yang lain juga begitu kok” ; “Huuuu Sok Idealis looo” ; “Ahhh teoriiii… “ ; “Ini jaman edan bung, mampus bisnis kalo gak ikut edan!” .. dan banyak sekali ungkapan-ungkapan yang menghalangi manusia mendalami dan mewujudkan rasa kemanusiaannya sendiri ( biar kaga omdo gitu ).

IKHLAS itu emang menuntut PROSES yang berat.. dan pasti jauh lebih mengecewakan/menakutkan kalo kite menuntut atao ngebayangin wujud hasil proses KEIKHLASAN itu berdasarkan versi yang diinginkan manusia secara subyektif ( Udah nonton Bruce AlMighty ? ), dan akhirnya emang malah bikin ambruk proses IKHLAS itu sendiri… Jadi jelas kan kalo IKHLAS itu adalah warna dari suatu proses menjalani hidup. Pertanyaannya IKHLAS itu harusnya kaya gimana sih warnanya ? Hahahha sebetulnya gue yakin banyak yg udah tau, cuman perkara mewujudkannya dari diri sendiri jelas banget tantangannya dengan bermacem-macem “keberatan” hehehhe…

IKHLAS itu sebetulnya kan perasaan atau mental tanpa pamrih, tanpa tuntutan balas jasa, tanpa tuntutan penghargaan, tanpa tuntutan perhatian dari siapapun, … setelah melakukan sesuatu hal yang diyakini berdampak positif buat orang/organisasi lain. Seirama dengan kata-kata bijak,”Lupakanlah budi baik mu buat orang lain, tapi ukirlah sedalam-dalamnya kebaikan orang lain dalam dirimu sendiri…” Positifnya jika prinsip tersebut dijalankan, kite akan terlampau sulit digoda “keadaan” apapun untuk menjadi sosok yang arogan, takabur, dan berketergantungan pada interaksi duniawi doang.

Dalam Agama sudah jelas bahwa ke-IKHLAS-an adalah jika setelah berikhtiar/ beribadah/ beramal sebaik mungkin, tempat paling tepat menggantungkan harapan yaaa cuman Sang Pencipta Yang Maha Kuasa belaka. Oleh karena itulah kite biasa dperkenalkan adab berdoa dan beribadat kepada Nya agar diberikan Pahala Individual/Sosial dan dunia/akhirat serta berbagai HidayahNya ( bisa keliatan baek atau sebaliknya ) … Ini patut dimengerti bahwa setelah segala perjuangan/ ibadah di dunia ini, maka doa yang terkabul atau “seakan-akan” diluar pengharapan si-manusia adalah PASTI wujud terbaik buat semua…

Dan kite pun jadi dididik untuk lebih Toleran dan cerdas sebage masyarakat SOSIAL ( dan bukan sekadar melampiaskan ketidakpuasan membabi-buta ). Dengan semangat itu Hukum Formal dan Ilmu Manajemen jadi alat bantu yang baik agar semua ITIKAD BAIK lebih terjaga/terjamin "kelurusannya" dari hulu hingga hilir. Maka lambat atau cepat akan mampu meningkatkan kepercayaan lebih banyak lagi masyarakat untuk ikut serta dalam belajar lebih PEDULI dan AKTIF menghimpun berbagai bantuan sosial secara swadaya. Jadi ayo kite jangan menyerah buat belajar ikhlas setiap saat, jangan mo kalah sama bau badan ;p

Wednesday, July 16, 2003

Pelajaran dari perilaku Bruce Banner dan Bruce Paine

Industri Film Hollywood yang sarat kapitalisme itu, kadangkala kagada salahnya sekali-kali disimak sebagian produksinya. Sayangnya beberapa kolega terdekat gue akan bilang kalo saran itu hanya muncul dari subyektifitas selera gue yg agak unik soal film... Padahal kalo dipikir-pikir selera gue wajar-wajar ajah... sekali waktu action laga, bisa juga kolosal sejarah, komedi konyol, sampe drama percintaan cengeng atau politk penuh intrik pernah gue jabanin, sci-fi themes juga kartun-kartun pun oke ajah... Jadi apa ya yg dibilang aneh dari gue soal film. Hmmm mungkin ini, film apapun rasanya gue terlalu serius berlarut-larut untuk menyimaknya... Oke lah kalo ini gue terima aja dibilang aneh, karena saat temen-temen gue menganggap semua itu hiburan yg gak ada sangkut pautnya sama dunia nyata... sementara Gue selalu yakin ada pesan-kesan khusus dari film itu yang bisa jadi hikmah buat ngebantu memahami dunia kehidupan yang nyata... Selain itu betapa bohong atau naifnya alasan si pembuat film, maka pasti selalu ada yg tersisa dari warna kalbu mereka yg sejujurnya... dan kalao mata hati gue berhasil menangkap remah-remah itu, maka makna asli film itu rasanya jauh lebih menarik dari tampaknya...

Bruce Banner itu adalah nama tokoh utama dalam film "HULK".
Dia itu seorang ilmuwan bionuklir yang terobsesi pada target rekayasa genetika yg mampu menghasilkan generasi manusia yg lebih tahan sakit sekaligus berintelektual tinggi. Sampai pada kecelakaan laboratorium yg tidak disengaja, si Bruce ini terkena radiasi nuklir sinar Gamma dengan intensitas tinggi, dimana pada kasus normal harusnya dia sudah tewas... Tapi nyatanya setelah koma beberapa hari, ternyata dia merasa makin sehat dan sempurna staminanya. Hanya saja ketika terjadi kasus dimana emosionalnya tidak terkendali, maka terjadi transformasi genetika tingkat tinggi, dimana endapan radiasi gamma mengembangkan beribu-ribu sel baru dan hormon aneh dalam ledakan-ledakan sel yg takterduga. Dan jadilah Bruce seorang Raksasa Hijau berkekuatan super yang kebingungan, sedangkan pda saati itu jati diri Bruce yg sebenernya merasa seperti mimpi berjalan... Nuansa komikal dari film ini justru lebih bermakna, ketika pada awal dan tengah cerita terdapat sambungan riwayat tentang asal-usul keluarga Bruce kecil, dimana ayahnya yaitu David Banner ternyata seorang ilmuwan genetika ambisius dalam proyek pengembangan senjata militer amerika di Padang Pasir Alamogordo. Karena marah dan penasaran karean formula nya tidak diijinkan dilakukan pengetestan terhadap manusia, maka David nekad menyuntikkan formula genetika temuannya ke anaknya sendiri Bruce Banner sejak bayi. David begitu yakin kalo formulasinya akan mengembangkan anaknya menjadi generasi super dikemudian hari. Tapi sebelum jadi kenyataan, kegilaannya keburu ketahuan provoost, kegusaran akan karirnya yg hancur menyebabkan terbunuhnya Ibu Bruce Banner dan kemudian memenjarakan Ayah nya ke rumah sakit gila bertahun-tahun. Ketika Bruce Banner menjelang dewasa dan mengalami kecelakaan radiasi tersebut, David Banner yang ambisius ini berusaha kembali dan menemui Bruce, dan malah senang karena investasi formula genetika yg disuntikkan sejak Bruce bayi ternyata berhasil... Konflik terjadi karena sebenarnya Bruce sangat tersiksa lahir batin ketika harus berubah menjadi Makhluk Raksasa Perkasa HULK. Terlebih pas tahu bahwa kejadian ini karena kegilaan Ayahnya yg emang makin gila kekuasaan & pemujaan kejeniusannya. Ketika Bruce menyadari KEKUATANNYA cuma menciptakan kehampaan dan agresifitas merusak, muncul pencerahan bahwa Bruce cuma butuh kasih sayang yang hilang... Akhirnya demi keamanan semua orang terdekatnya si Bruce pergi kepedalaman hutan Amerika Selatan dan berprofesi sbg dokter sukarelawan... Too Ironic but Humble :)

Bruce Paine itu adalah nama tokoh utama dalam film "Bruce AlMighty".
Dalam film ini Bruce emang digambarkan sebage nuansa profesional yang selalu gelisah dan kaga pernah puas dengan pencapaian karirnya. Sebetulanya si Bruce ini sudah cukup punya segmen yg spesific sebage reporter acara-acara yg berkaitan dengan restoran/ makanan/ minuman disebuah acara perusahaan televisi mapan. Tapi nyatanya dia selalu tersiksa dengan fenomena kolega reporter laen yan gmenurut anggapannya jao lebih terkenal, mapan, dan disayang perusahaan karena acara yg dipandu temannya itu dipercaya sebage mesin penarik duit sponsor dan iklan. Gampangnya fenomena Syirik Menyirik menarik dan kocak banget. Pendek kata kekisruhan ini mneyebabkan semangat kerjanya turun, uring-uringan, berbagai hambatan dan kendala hidup disekitarnya selalu dianggap sebage ketidak adilan Tuhan atas hidupnya. Pasangan hidupnya yang kebetulan cukup relijius selalu menekankan kesabaran dan rasa bersyukur, tetapi ditanggapi sebagai nasihat basi dan konservatif yang gak ada pengaruhnya apa-apa. "Kesialan" yang kemudian bertubi-tubi menimpa bukan dihadapi dengan sabar dan introspeksi, tapi sebaliknya berteriak-teriak memaki bahwa Tuhan tidak ada... Nah disinilah dram satire dan komedi ironis mulae muncul dengan mengundang banyak tawa dan perenungan... "Sang Wujud Tuhan" yang digambarkan peduli atas komplain si Bruce ini, kemudian bertemu dan menawarkan Kekuasaan sebage Tuhan kepada Bruce sekedar membuktikan seberapa baik pemahaman Bruce berkuasa sebage Tuhan ... Jadilah Bruce bergelar Bruce yang Maha Kuasa (The Bruce AlMighty)... Semua hukum Alam dijamin tunduk pada kemauannya si Bruce. Yang ironisnya justru Bruce tak begitu sadar sebenarnya konsekwensi dari ambisi dan ke-aku-annya berdampak fatal ketika harus menjabat pula sebage Tuhan. Kelucuan dan Ketidak masuk akalan film ini muncul didasari kekuatan Bruce sebage Tuhan yang "dendam" terhadap segala sesuatu yg pernah merendahkannya pada masa jadi manusia biasa. Romantisme terhadap pasangannya ditunjukkan lewat kekuatan menarik Bulan jauh lebih dekat dalam orbit bumi... dan tidak disadarinya di belahan Bumi lain harus mengalami bencana banjir , karena dampak peningkatan gravitasi bulan terhadap permukaan air... Setelah si Bruce puas melampiaskan kekuasaanya, barulah berbagai kewajiban datang.. terutama melayani dan mengelola permintaan doa selurh manusia sejagad... Ambisi manusia yg dibungkus dengan Kekuatan Tuhan ternyata masih membuat kewalahan si Bruce, dan dasarnya manusia yg cenderung mau enak sendiri, akhirnya dengan gampang mengabulkan semua doa tanpa pilih kasus dan waktu.. Yang terjadi memang bukan semua senang, melainkan semua kacau.. Keributan sosial yg dicontohkan dengan pembagian Lotere berhadian jutaan dollar untuk semua peserta, malah jadi rusuh gara2 setiap peserta kahirnya cuman dapet 17 dollar saja... Akhirnya Bruce mulai berasa makan hati jadi Tuhan, dan meminta sang "Wujud Tuhan" menarik kembali kekuasaannya dan kembali menjadi manusia biasa... Kata-kata yang sangat filosofis sang "wujud Tuhan" adalah... bahwa Manusia itu memang seringkali tidak mengerti esensi keinginannya dan tidak pernah tahu selengkap mungkin konsekwensi dampak dari berbagai keinginannya itu jika terpenuhi.. Oleh karena itulah Tuhan perlu mengatur sebijak mungkin berbagai keinginan manusia itu agar mata rantai alam semesta tetap berjalan seimbang...

Rasanya ada kaitannya juga dengan pelajaran moral sehari-hari, bahwa manusia sejatinya selalu extra hati-hati dengan ambisi dan kekuasaan yang telah ada digenggamannya... Karena kenikmatan kasat mata yang ditawarkan, tidaklah terlalu menggiurkan jika saja manusia sadar betapa berat tanggung jawab yg dipikulkan Tuhan padanya...

Begitulah, gue memang sama sekali enggak bermaxud jadi agen reklame dari film-film hollywood sono... hanya saja jika ada suatu hidayah yang gue rasa bermanfaat untuk disharing tetapi cuman tertahan dalam kebesaran hati sendiri, rasa berdosa nya bakal jaoo lebih gede kan? Oleh karena itu jika ada yang gak percaya atau ingin membuktikan sendiri tentang makna yg sebenernya, gak ada ruginya juga mengeluarkan uang tabungan untuk menonton film itu segera... jika uang kurang bole juga patungan dan segera sewa vcd film-film itu di tempat yg tepat... Selamat merenung :)

Tuesday, July 15, 2003

Tauk dari mana kalo Jakarta itu bener-bener kejam ???

"... Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, jauh lebih kejam Ibu Kota"
Begitulah kira-kira ungkapan satir yang gue denger berulang-ulang sejak kecil hingga bangkotan kaya gini. Dan kebetulan sebage anak "kolong" ... bokap gue ketempuan dapet ngepos disuatu pangkalan dan sekolah militer di ujung selatan Jakarta selama 30 taon. Gue aga begitu tau apakah itu pertanda karir militer bokap yang emang bakat mandeg, atau mungkin memang sebenernya disayang keadaan yang kaga jelas... Dan emang celotehan kali ini kaga bermaxud membicarakan soal begituan...

Topik soal kejamnya Ibu kota ini jujur kaga muncul kagetan dari diri gue yg udah cukup berminat baca artikel-artikel analis atau budayawan soal pola budaya hidup ibu kota ini. Lagipula sebage seseorang yg dapet kesempatan melihat jakarta tumbuh dari taon 1969 sampe abad reformasi kaya gini... anggapan kisruh atau recok tentang Jakarta emang kaga berasa, sepertinya sadar atau kagak udah jadi hal yang lumrah aja. Barangkali disinilah perlunya sekali-kali merantau atau melakukan perjalanan beberapa lama ke negeri atau kota lain yg mungkin berbeda nuansanya... dengan begitu kepekaan dan sikap kritis kaga telmi kaya gini... hehehe btw umur dan kesehatan yang cukup seperti saat ini patut disyukuri sebage kesempatan memperbaiki diri.. ya gak?

Sepanjang riwayat remaja hingga awal-awal masa kerja, gue emang kaga berkesempatan merasakan kendaraan sendiri atau punya orang tua. Dan ketika mulae merasakan naik motor dan mobil butut sendiri... rasanya mule muncul suatu keanehan dan protes dari dalam sebage dampak akumulatif menghadapi suasana interaktif diberbagai jalan raya Ibu Kota... Supaya nggak berlarut-larut mungkin ada baeknya gue ceritain pengalaman gue sendiri deh...

  1. Suatu ketika disuatu jalan protokol yg konon banyak polisinya... Gue yg lagi konsentarasi naek motor harus kaget setengah mati, karena bus angkutan umum didepan gue yang memang jalan ditengah dengan gagahnya.. tiba-tiba dengan santainya berenti ditengah jalan untuk menurunkan penumpang. Alamaaak resikonya tentu ada pada gue sendiri dan penumpang yg diturunkan disembarang tempat... Menekan kecemasan yg luar biasa gue ngerem dan mengelak sedaya upaya, naluri mantra suci a la kebon binatang akhirnya keluar dari helm gue yg bauk. Jelas gak ada yg ngeh.. kecuali helm dan idung gue sendiri. Masyarakat sekitarnya mungkin baru ngeh.. kalo misalnya gue harus terpaksa nubruk bus atao nyamber si penumpang itu sendiri... duh :(

  2. Di perjalanan ke rumah mertua di bilangan jakarta timur sana atau sekitar rumah di selatan sini, cukup banyak jalan kelas dua yg menghubungkan daerah-daerah perumahan. Pada saat mobil gue berpapasan dengan mobil lain, terpaksa gue harus menepi sedikit.. dan sadarlah disamping kiri gue itu ada sekelompok orang pejalan kaki yg harus terpojok-pojok menghindari srempetan kaca spion gue... Baru dah ngeh gue, kalo sepanjang jalanan itu bukan diperuntukkan buat manusia, tetapi seolah-olah aspal tanpa trotoar khusus dilewati roda-roda karet ajah... Kalo mo dipaksain mikir positip, bayangan gue nanti pejalan kaki mo dibikinin trotoar layang model bangku berjalan sperti pengangkut pemaen ski di gunung2 es di swiss kali...

  3. Di suatu lokasi pasar rakyat yang terkenal baek di bilang jakarta selatan atau timur, gue hampir muak kebosenan.. pasalnya mo gue berangkat kerja telat atau nggak, selalu aja macet, dan yang bikin gondok ternyata memang bukan karena keadaan memaksa... Tetapi ternyata begitu banyak orang mencari nafkah terpaksa dengan kejam.. Pedagang kaki lima (PKL) yg tadinya menjarah trotoar yg tersedia, akhirnya mendominasi kapasitas jalan raya yg tadinya cukup 3 mobil jadi 1 mobil aja untuk jualan... Ditambah para angkot yg asik berjejer di jalanan umum seolah2 mendompleng dampak PKL jadi sah2 aja menunggu penunmpang di tengah jalan raya... Polisi pun kalo ada sekedar semprat semprit menerbitkan harapan semu... dan kemacetan panjang harus merelakan kata-kata tuah "waktu adalah uang" jadi "waktu biasa terbuang" :(

  4. Lokasi tempat kerja gue ini kata orang termasuk segi tiga emas... Perusahaan gede di gedung2 megah bercampur dengan PKL makanan yg bertebaran di pinggir jalan protokol... Walao begitu ternyata sebahagian pegawainya sudah biasa hdup dalam gaya penuh maut. Ketika jalan protokol yg begitu ramai itu dibuat jembatan penyeberangan, justru mobil gue harus hati-hati karena ada aja penyeberang jalan dari berdasi s.d berseragam, cantik atau gak menarik lebih suka nyeberang maut lansung di jalan... Ketika beberapa koran melampirkan berita kecelakaan menewaskan para penyeberang ini , barulah penghalang jalan buat penyeberang liar bener2 ketat!

  5. Pada bagian lain ada sisi jalan besar strategis yg menghubungkan ke bilangan karet-kuningan... Dimana begitu banyak pertokoan/mal besar berseberangan dengan kantor2 megah .. malah kaga ada satupun jembatan penyeberangan... Dan terpaksa para penyeberang seolah-olah mengemis nyawa pada cepatnya berpuluh2 kendaraan yang lewat tanpa belas kasihan itu... Gue sendiri sering terpaksa melewati penyeberangan jalan maut seperti ini sekadar melepas kebosanan menu makan di gedung sendiri... dan berdoa semoga nggak perlu ada korban samber nyawa hingga mungkin kelak ada terowongan khusus pejalan kaki macem di singapur itu...

  6. dan seterusnya dan .... wah duh terusss....

Kadangkala rasanya telat bener gue sadar soal beginian, dan kesannya jadi basiii bener... tapi barangkali itu lebih baik daripada kaga peduli sama sekali... yang jelas sekarang gue makin ngarti latar belakang para penulis yg peduli kehidupan kota itu terpaksa mengumpat-umpat panjang lebar soal kisruhnya pendidikan dan kedisiplinan masyarakat Ibu kota... Mereka cuman mengingatkan bahwa kekejaman yg telah diterima secara evolusi seringkali berakar dari ketidak pedulian dan subyektifitas kaum Prajanya sendiri...

Buat gue sendiri rasanya memang harus makin terbiasa terkaget-kaget dengan gaya liberal jalan raya ibu kota yang aneh ini. Kehidupan di Jalan raya ini jadi tumpuan berjuta-juta warga Jakarta yg mencari nafkah halal/tidak, tertib/ngaco.. semuanya tanpa ada jaminan tata-tertib apalagi hukum ... he he he Dan gak terlalu salah jika kelak kite bisa menilai Suksesnya EkoSosPol era reformasi yg populer itu, dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan Gaya hidup di Jalan Raya Ibu kota tercinta ini...
Jaman Nuklir kaya gini masih ada Ghaib ???

Biasanya kalo kita ngomong soal Ghaib, maka orang-orang bakal merosot kearah cerita yang serem-serem... tapi temen gue dibawah ini ngemail tentang istilah ghaib adalah "biasa" juga dalam masalah-masalah lain...


From: Iful B.
Sent: Tuesday, July 15, 2003 1:20 PM
Subject: Ghaib

Banyak yg salah kaprah dengan definisi Ghaib. Seperti dalam surat A-Baqarah bahwa ciri orang beriman itu adalah orang yg percaya dengan yg Ghaib.Dalam catatan kaki terjemahan Qur’an disebutkan bahwa Ghaib itu sesuatu yg tidak dapat ditangkap panca indra.
Ada dua yg akan didiskusikan disini:

  1. Ghaib di Qur’an itu banyak disebut tentang datangnya hari Kiamat (diantaranya dalam Surat Al Baqarah).
  2. Rasulullah pernah didatangi oleh seorang lelaki bersih yg duduk berhadap2an di depan Rasulullah dan disaksikan para sahabat. Tatkala lelaki tsb pergi kemudian Rasulullah menanyakan pada sahabat: “Tahukah kalian yg baru saja datang itu siapa…?” Para sahabat menjawab: Hanya Allah dan Rasul-nya yg mengetahui perkara Ghaib. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa lelaki yg baru datang itu Jibril.

Dari perkataan rasulullah bisa disimpulkan bahwa ghaib itu bisa ditangkap dengan panca indra, Lha buktinya Jibril bisa dilihat para sahabat.

Saya lebih setuju bahwa Ghaib itu sesuatu yg tidak kita ketahui sebelumnya. Kayak hari kiamat itu ghaib, tapi bisa kita lihat kalau terjadi sekarang misalnya, tapi kita nggak tahu akan terjadi kapan secara pasti. Kalau sesuatu yg nggak bisa ditangkap dengan panca indera kita disebut ghaib, lalu bagaimana dengan gelombang elektromagnetik/arus listrik yg ada disekitar kita. Gelombang elektromagnetik/arus listrik tidak kelihatan, tapi dengan alat kita bisa menggunakan contohnya kita bisa pake HP.

Jin itu tidak ghaib, bagi yg percaya dan yg mengira mahluk halus itu ghaib itu juga salah kaprah. Jalan2 di kuburan ah entar malem, kebetulan jarak 100 meter dari rumah saya ada kuburan, gua nggak takut ama yg beginian. Karana bukan ghaib…


Iya iya ada betulnya juga si Iful…. Buat lingkungan budaya yang kaya mistik bin klenik seperti bangsa kite ini, memang kecenderungan kuat istilah ghaib hanya terkait dengan hal-hal yg nyambungnya ke mistik dan klenik doang… Kenapa begitu? Karena berdasakan berbagai cerita sejarawan belanda atau analisanya ong khok ham, atau kisah epos sejarahnya pram, itu tergambar sekali … begitu banyak hikayat bual dan syair keagungan dibuat para elit kerajaan demi meningkatkan kewibawaan ( atau kengerian?) raja dihadapan masyarakatnya…

Mungkin sekali kebiasaan kebohongan publik yang dilakukan elit politik raja itu sama tuanya dengan budaya pungli sebagai warisan akar sejarah kehidupan politik bangsa ini… Dari pengetahuan cara2 itu si Belanda yang mau menguasai seluruh Jawa , tinggal ngomporin ajah lansung kena dua-duanya… si elit mo kerja sama krn pusing dijilat abis, dan masyarakat tinggal manut sing kuoso abis gitu dibodohin dengan berbagai isu-isu bohong buat nakut-nakutin kehendak mereka buat kritis…

Mangkanya dari kecil , Alm Nenek gue yg lumayan kuat jawanya sering nasehatin beberapa tabu yang gue sendiri ga pernah dijelasin nalarnya, kecuali disuruh manut aja, bahwa tindakan itu nggak elok… Atau juga ada budaya Jawa yg sering membunuh sikap kritis si anak kepada orang tuanya… dan Inilah yg lansung gak lansung menumbuhkan kebiasaan hidup otoriter di negeri ini… Si anak harus manut sama yg lebih tua dan kualat kalo melawan… Kebingungan karena nggak dapet pngertian nalar yg memadai sesuai kadar pengetahuan yang ada, sering diasumsikan sbg misteri.. misteri ini kadang konteksnya dianggap beda sama ghaib, padahal suatu yang misteri berarti ghaib juga…

Seringnya manusia itu berpikir, kalo otaknya itu baru bekerja setelah dapet stimulus dari 5 panca indera ( lihat, cium, rasalidah, sentuh, dengar).. padahal yang namanya feeling, motivasi, spirit adalah juga suatu stimulus yang lebih sulit dijabarkan kecuali si manusia ybs yg ngerasain… Nah ini yang dibilang indera ke-6, ke7 dst… Dalam masyarakat yang sekadar beriman dengan nalarnya, memang sangat bergantung pada pengamatan panca inderanya.. dan dari sanalah berbagai hukum yang mengatur interaksi sosial manusia dibuat… Bagi mereka sebab-akibat harus muncul dari 5 panca indera itu saja… Oleh karena itu banyak sekali kasus atau fenomena nyata yg diselidiki ternyata nggak match sama hukum nalarnya terpaksa harus masuk arsip Xfiles.

Lalu gimana dong istilah klenik & mistik yg lebih lekat dalam definisi ghaib itu sendiri? Bagaimana dengan kejadian seorang pengidap kanker tiba-tiba sembuh dari penyakitnya oleh seorang paranormal, padahal sudah divonis mati ? Atau kasus kriminal dimana terjadi sesorang yg tewas karena sebab-sebab misterius (setelah di otopsi) katanya akibat santet ? Ditambah lagi soal tempat/ barang/ orang keramat yg dipercayai memiliki kekuatan supranatural ? Tentu sebahagian besar buat masyarakat adalah jadi ke-ghaib-an yang populer… dan jadi lumrah aja.

Coba aja kembali ke taon 30 an dimana otomobil mule populer di hindia belanda, masyarakat yang terlongo2 ajaib akhirnya menerima sebagai hal yg masuk akal, ketika mereka mule memahami kaidah hukum teknologinya… gitu juga pesawat terbang, atau kapal selam… andai itu muncul pada jaman sultan mataram tentu jadi geger disangka Nyi Roro Kidul lagi unjuk kekuatan… dan pasti keghaiban (misterius) yang luar biasa buat manusia jaman itu.

Buat manusia abad science … segala hal yang dapat dikur bdsk cakupan ilmu nalar yang telah mapan yang ada saat itu, dan telah diakui standarisasi pengukurannya tsb dalam badan-badan yang telah diakui, maka hal tersebut tidak lagi menjadi ghaib… Karena listrik misalnya, atau sinyal elegtromagnetik yang tadinya ghaib dan tak kasat 5 panca indera, telah berhasil di scan dan diukur melalui indikator yang baku, sehingga sekarang manusia tahu mana benda yg berlistrik mana yang enggak.. begitu pula sinyal HP atau komunikasi lainnya… Cuman liat HP aja kite tau bahwa HP kite bakal bisa dipake komunikasi atau gak ? jadi udah kaga ghaib lagi…

Nah sebagai contoh, kalangan ilmuwan rusia dulu diam-diam lagi riset masalah ghaib yang lain, apa itu ? telepati… Nah untuk urusan telekomunikasi telepati ini masih ghaib.. dan lagi giat di riset biar ketemu metode nalarnya, kabar terakhirnya justru gue kaga tau… Yg gue tau pada jaman perang dingin, rusia riset telepati dan tele kinesisnya sebagai alat pembunuh jarak jauh, yaaah mirip santet gitulah ( discovery channel)…

Emang bener kadang-kadang soal klenik atau mistik jadi mengarah hal yang ghaib, karena masyarakat sering dicekoki secara intensif oleh mitos-mitos warisan budaya jamdul. Tantangan para ulama, budayawan dan scientist sendiri adalah jangan kalah intensif untuk mengimbangi dengan wacana yg lebih ilmiah dan edukatif… Tapi emang sih kadang-kadang dalam masyarakat yg “sakit” bisnis yg neko-neko jauh lebih menguntungkan. Seperti acara-acara tv yg sekadar mengumbar nuansa kleniknya aja, tanpa berusaha menampilkan wacana-wacana baru yg mampu berbicara lebih nalar…

Jadi kenapa pada jaman Nuklir seperti saat ini masih begitu banyak fenomena yang dianggap ghaib? Kaga laen kaga bukan karena memang dunia ini masih terlalu banyak rahasia alam yg belum mampu dipahami manusia dengan sempurna melalui kesombongan akalnya. Begitu keghaiban Bulan terkuak sedikit, ternyata keghaiban celah palung atlantis masih menunggu diraba… belum lagi berbagai penyakit baru yg baru akan muncul atau baru muncul… Dijamin dalam setiap upaya pencarian dan pencapaian daya nalar manusia akan terancam dengan tak berhingga keghaiban baru, dan kemungkinan besar akan dicari nalar baru yang mendobrak hukum nalar yg sudah ada… demikian seterusnya. Disinilah kita kenal ungkapan, bahwa hidup manusia itu serba relatif…

Suka atau kagak … keuletan / ketekunan manusia yang menggeluti kedalaman berfikir mulai dari panca indera 5 nya, lalu ke otak, perasaan, ilham, dan ketika masalah kian rumit… sadar atau tidak dia akan membentur kedewasaan Qolbunya (mata batin/hati) sendiri. Kemudian dia harus berhadapan dengan dua pilihan penting: Keimanan atas adanya kekuatan yang jauh lebih mapan, atau… terus mengelakkan diri demi tujuan superioritas nalar. Dan itulah Nikmat sekaligus Konsekwensi yang diberikan Tuhan buat kita sebagai manusia…

Tuesday, July 01, 2003

Warna DemoCrazy Anak Negeri (lanjutan 2)...

Seorang kawan lain menimpali wacana "democrazy" anak negeri sebelumnya sbb:

From: eminz.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 5:33 PM
Subject: Kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi

Aku setuju dengan iful b. dalam konteks pendewasaan bangsa, Ditengah terpaan kita tetap survive, kita tahan uji..apa jadinya kalo ujian ini menerpa amerika sudah bubar kali kayak soviet, kenapa ? karena menyatukan pikiran para jendral memang tidak mudah. Bahkan ada pepatah mafia yang menyatakan terkadang 1 orang prajurit yang bodoh jauh lebih berguna dari pada 2 jendral yang tak bisa bersatu. Inilah kehidupan jama’ah di Indonesia
Tapi kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi

Hidup INDONESIA, MERDEKA, hidup NKRI INDONESIA...
Terkahir ada syair dari penyair arab , supaya tidak frustasi menghadapi takdir Tuhan thd bangsa kita:
Biarlah hari-hari bertingkah semaunya
Relakan diri ini ketia ketentuan-Nya bicara
Janganlah engkau risau dengan kisah malam
Karena tak ada kisah didunia ini yang abadi



Ironis sebenernya, bahwa dalam sejarah politik kite, kaum Nasionalis terpaksa harus berbenturan dengan pendukung politik kanan aliran syariah islam... Politikus Nasionalis sebenernya kaga kurang yang Islamnya kuat, hanya pandangan mereka melihat nilai esensi keyakinan spiritual mereka harus diwijudkan dalam metode interaksi yang inklusif... DEMI menghormati keberadaan anak bangsa yang berkeyakinan selain Islam. Para politkus pro Syariah mengklaim bahwa 85% komunitas penduduk indonesia beragama Islam, sehingga secara de facto wajar saja suatu tatanan politik negara diterapkan bdsk Islam.. dalam hal ini metode interaksi mereka sangat eksklusif bdsk dukungan mayoritas agam yg dianut penduduk Indonesia. Hanya saja terkait sejarah antropolgi manusia, memang jalan pemikiran moderat cenderung tidak populis sebagai daya tarik politik praktis... sehingga bentrok wacana cita-cita persatuan bangsa terpelihara sekamnya sampe saat ini...

Biasanya kaum Nasionalis slam dicap sebage kaum Islam Moderat dan modern, sedangkan yang sebaliknya lebih bersifat Islam tradisional fundamentalis (literalisme quranis). Untuk saat ini, bisa cap-cap seperti itu jadi bias, karena berbagai perkembangan manuver dan edukasi politk yg terjadi pesat pasca reformasi. Yang jelas istilah Literalisme quranis, sebenernya gue ambil dari padanan istilah Literalisme Biblikal yg ada dari buku Ian.G Barbour "Juru Bicara Tuhan" sebagai alias dari fundamentalisme yg mebenarkan secara "as is" expresi ayat-ayat dari kitab suci injil.

Dalam struktur masyarakat indonesia yang budaya tumbuh dari akar spiritual/mistik yang kental, kerap istilah-istilah atau ayat-ayat yg dipersepsikan kaum sufi dan ulama yg didudukkan sebagai orang mulia wakil Tuhan yang tak terbantahkan. Dan suka gak suka kondisi seperti ini menjadi alat politik praktis yg mempengaruhi massa, tidak terkecuali penjajah Belanda menipu dengan baik+sukses sekali dengan metode ini. Mitos-mitos dan persepsi turun temurun ayat-ayat dan kata-kata bijak para sufi/ulama cenderung membuntukan sikap kritis bangsa untuk berani menelaah lebih jauh implementasinya dalam kaidah keterkinian... Kesadaran baru dari ulama modern yg kritis terhdap pelurusan persepsi budaya, malah meruncingkan benturan aliran seagama dengan tuduhan bid'ah dan penyelewengan misi keagamaan... Jelas pembelajaran demokrasi buat bangsa ini perlu ujian yang bertubi-tubi beratnya...

Keterpurukan ekosospol dan budaya anak negeri saat ini memang membutakan, sehingga misi keagamaan yg murninya sangat berat dan sarat tuntutan moral/etika yang tinggi, makin bergeser menjadi atribut pemanis dihadapan komunitas sosial... Jadi penyelewengan kinerja aparatur negara, budaya masyarakat yg jadi makin pesakitan karena putus asa, lebih mudah untuk diterima dengan lapang dada dan menjadi lebih terbuka terhadap penyelewengan kekuasaan berujung korupsi demi kemakmuran individual... Masayarakt kehilangan suri tauladan kepemimpinan, akibatnya perlu pembenaran spiritual yang dibuat-buat dan sebisa mungkin dicocok-cocokkan agar terhindar dari tuntutan dosa dari kalbu sendiri... Sekularisme dan Kemunafikkan makin subur...

Oleh karnea itu menyimak satu kata-kata bijak dari eamil kawan diatas sebagai senjata untuk pembenaran opininya ... jadi mengingatkan gue atas latar belakang penyakit mental akut dari masyarakat kite... mencoba menerima apa ada nya dan pasrah pasif membiarkan ikut sakit mental demi pencapaian target duniawinya sendiri... Barangkali dengan itu wajar-wajar ajah gue menghimbau untuk hati-hati menggunakan pemahaman harfiah faham "kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi" Istilah itu perlu dipahami jauh lebih mendalam karena merupakan rangkaian kata-kata bijak nan indah namun mewakili seribu makna pren :)

Jamaah yang keruh karena memang dampak pembelajaran masyarakat menuju perubahan, suatu hal yang kaga bisa dihindari dari fenomena dinamisasi sosial menuju penyesuaian jaman dan benturan berbagai ideologi dan kepentingan.. Ya pendewasaan bangsa itu tadi. Mangkenye udah jelas bangsa ini belon dewasa kaya gini, mbok yao mawas diri dan ngaca lebih efektif.. Karena orang kalo lagi belajar kaga sepatutnya terburu2 merasa tinggi dari yg laen apalagi merasa putus asa karena gonjang ganjing terus :)

Dan berjuang menjadi pribadi yang jernih adalah hak asasi setiap manusia yang ingin merubah diri dari lingkungan yang buruk menjadi lebih baik dengan keyakinannya masing2. Cobak simak sejarah dari jaman Nabi2, sampai revolusi sosial perancis atau revolusi industri di inggris… Masyarakat menjadi dinamis dan perubahan paradigma ekosospol karena ada keberanian, kepandaian sekaligus kepemimpinan para pribadi yang lebih baik dari lingkungannya. Istilah elo diatas itu lebih ditujukan kepada lingkungan jamaah yang menjadi taklid buta dan membeo, karena sosok pribadi yang membiarkan dirinya seolah2 paling mulia dan tak terbantahkan…

Contoh yang kawan gue tuliskan soal prajurit dan jenderal rasanya kurang tepat..., karena manajemen militer kaga pernah sama dengan manjemen masyarakat sosial.. Dalam militer kagada demokrasi dan hukum Cuma bdsk struktur berjenjang kepangkatan yang mutlak dipatuhi. Demikian pun arti "kepasrahan" yang diexpressikan kaum sufi dan agamawan proyeksinya harus jadi motivasi perjuangan tanpa lelah demi kemaslahatan manusia dimuka bumi, nah background reasoningnya yang demi TUHAN, bukan demi kedudukan atau perolehan materi yg jadi peringkat nomor wahid… itulah yg dimaxud kepasrahan illahi sesungguhnya, bukan ngebiarin masyarakat yg kisruh keruh dan kite cuman ikut-ikut aliran aer keruh pulak… Kalo pemahaman kaya begini yaaa gak salah bangsa kite cuman jadi MAHASISWA ABADI… belajaaar terusss, tapi kaga pinter2, mlorotin orang dan jadi pengemis kemakmuran orang laen…

Hati-hati dan sering koreksi diri tentang pemahaman berbagai ideologi dan filosofi yang kite yakini… Karena kaga ada yg mutlak dan abadi di dunia ini, selaen Tuhan itu sendiri... Nabi nabi utusan Tuhan semuanya sudah di langit.. Dan kite harus berjuang dengan pinter-pinter memadukan pemberdayaan emotional, spiritual dan intelektual yang ada baek individual atau kmunitas sosial .. Sekedar membebek dan membeo filosofi lama tanpa mau tauk memahami keterkinian sama aja kaya orang linglung yg kaga pernah tau sape lawan sape kawan dan sape yang udah sawan...
Warna DemoCrazy Anak Negeri...

Seorang kawan mengungkapkan perasaan nasionalisme yang menarik (lihat capture email dibawah), dalam penilaian gue sikap patriot kebangsaannya teramat kental... Secara psikologis memang seringkali perlu juga melonjakkan semangat kompetitif dan positif thinking, biar kaga "keder" mengantisipasi inferiority syndromme ( rendah diri) karena keterpurukan kondisi lingkungan sosial yg berlama-lama...


From: iful b.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 4:36 PM
Subject: Aku Bangga menjadi Orang Indonesia

Indonesia akan menjadi negara paling demokratis didunia, ada akademisi yg mendukung gerakan separatis seperti GAM, ada menteri yg bilang NO WAY ke presidennya, Ada yg mempermasalahkan pembelian pesawat buatan Rusia, ada orang2 yg nggak setuju dengan rapat2 tertutup seperti Rizal Ramli dan Setiawan Jody, ada juga voting.
Ada demo mendukung RUU-Sisdiknas, ada juga demo yg menolak RUU-Sisdiknas. Ada presiden yg diturunkan gara2 Bulog-Gate, Ada juga presiden yg diturunkan gara2 dekat dengan Suharto. bahkan disini ada Golput.

Dari sinilah saya bangga menjadi orang Indonesia.
Bandingkan dengan Amerika yg kongres dan Presiden-nya suka maen kekerasan, bandingkan dengan Irak yg pemilunya 100% mendukung Saddam,
bandingkan dengan Inggris yg ngawur dalam mengambil keputusan politik.
Bandingkan dengan Australi yg sok tahu, Bandingkan dengan Singapura yg tangan besi. Kalau mau belajar demokrasi, sekarang ini belajarlah ke Indonesia.

cheers,iful



Yah memang Soekarnoisme, yang mana pada jaman Perang Kemerdekaan hingga awal era Orde Lama memang dielu2kan sebagai tokoh Patriot/Nasionalis pemersatu bangsa... juga bahkan penggalang persatuan Bangsa Dunia ketiga... Pada masa kekuasaannya sendiri Soekarno dan JF Kennedy (presiden Amerika saat itu) sering dianggap padanan yg setara antara dunia sosialis vs kapitalis. Jargon-jargon Patriotik/ Nasionalisme yang paling legendaris adalah: "Write or Wrong is My Country"... dan satu lagi... "Do Not ask what the country do for You but what can you do for this country..."

Hingga saat ini jargon mantera diatas kerap menjadi hiasan penyedap banyak pembicara dikala orang harus berdebat membela harga diri suatu bangsa ditengah situasi yang terpuruk dibandingkan dengan keberadaan atau kebenaran bangsa lain... Pada masa perang kemerdekaan dimana nyawa dan harta menjadi obyek aniaya imperialis, rasanya jargon-jargon ini menempati situasi dan kondisi yang tepat. Tetapi bila menyimak tulisan kawan diatas itu mencontoh situasi kisruhnya kebijakan dan melempemnya pemberdayaan negara sebagai fenomena implementasi demokrasi yang TERBAIK dari negara-negara lain yg lebih makmur ? Tentu harus jadi kritik tersendiri... Karena kesannya jadi penyelewengan sikap patriot atao nasionalis itu sendiri, karena fenomena demokrasi buta hukum (DEMOCRAZY) dipersepsikan sebagai demokrasi TERBAIK...

Jikalo tujuannya sekedar kata penghibur dan pembenaran thd kekisruhan demokrasi kite ini, jelas ada fakta2 sejarah dari negare-negare makmur dan maju saat ini spt perancis, jepang, amerika, dll dimana pada 200 taon lalu merasakan "kegilaan" demokrasi (democrazy) seperti ape' yg bangsa ini alami baru-baru ini ... Berdasarkan pengalaman sejarah kemerdekaan RI, bangsa Indonesia ini belajar demokrasi modern selepas runtuhnya Kursi Kesultanan Soeharto yang Agung. Setelah itu fenomena yang ada memang kegilaan kegiatan belajar demokrasi.. Bagaimanapun juga demokrasi memang bukanlah DEMOCRAZY… Jadi macam mana sesatnya, jika ada sekelompok orang yang terpeleset kata dan pikiran bahwa keduanya sama, bahkan dianggap lebih baik !!!

Kulit ari demokrasi yang mengembar gemborkan kebebasan berpendapat dan bersuara, memang cuman menjanjikan jago-jagoan adu sapa yang peling bener dan kuat-kuatan tunjuk menunjuk sesiapa yang paling salah … Oleh karena itu demokrasi emang kacau kalau mata rantai kewenangan legislatif, yudikatif, eksekutif sebagai pengatur kehidupan demokrasi itu sendiri teteb terinfeksi dan bobrok coi…. Heheheh buah simalakama yg lama2 pahitnye jadi biase...

Hak kebebasan dan kebersamaan dalam berpendapat dan bersuara dalam warga negara memang jadi kontrol yang teramat baik dalam lingkup good governance & hi civiliance… Tetapi tetep aja harus ada mekanisme law making, law protection, dan law enforcement yg konsisten, bersih dan berwibawa.. Biar larinya demokrasi itu kaga ngawurrr ngetan ngidul kaga keruan kaya orang gila disorientasi pren… Dan akhirnya dalam lingkup perwujudan kemakmuran dan keadilan bermasyarakat, maka interaksi demokrasi - hukum menciptakan rasa aman dan stabilitas antara masyarakat dan pemenintahnya, dan kondisi ini yang kondusif menciptakan kemakmuran sosial yg relatif lebih baek…

Moga2 para penguasa dan masyarakat bangsa ini segera berhasil jadi pengamat dan pelajar yang baik, so kaga perlu waktu sampe 200 taon buat piawai merubah democrazy saat ini jadi demokrasi yg sehat walafiaat..
Dan sekedar himbauan/ kritik membangun aja, rasanya sih kagak haram bersikap jadi patriot nasionalis, asalkan mampu jadi patriot juga dalam menghardik kelaliman pada kawan/diri sendiri dan menghormati dengen kebesaran hati kebenaran pada lawan… *pis*

Wednesday, June 25, 2003

SAKIT dan PENYAKIT pertanda KESIALAN atau PELAJARAN ?...

Menjadi “pesakitan” rupanya memang sering jadi corak “kesialan” hidup tersendiri buat kebanyakan orang. Stamina menurun, kondisi fisik melemah terserang penyakit, dan fikiran menjadi berkurang pula stabilitasnya. Aktifitas normal yang biasanya berkutet seputar pergaulan mencari nafkah pun terganggu. Terbayanglah, boss yg bertanya-tanya atau mungkin keki karena terpaksa kite gak terutilisasi seperti biasanya. Mungkin ada juga rasa masgul, karena yakin ada orang yg senang dengan kondisi ini dan was-was mereka mencari keuntungan darinya. Yang dasarnya pengusaha, terfikir hambatan-hambatan ekstra yg menahan antusiasme menggali potensi bisnis yg menanjak, atau kesal karena bisnisnya makin menurun karena sakit. Buat kelas sosial yg lebih rendah, momoknya jauh lebih parah, masalah sakit prioritasnya jauh lebih kecil daripada kekuatiran tentang biaya berobat darimana didapat, walau sekedar periksa-periksa ?

Diatas itu baru jadi contoh jika diri sendiri yg harus jadi pesakitan, ada pula kasus dimana keluarga atau kolega terdekat yang menjadi sakit… Hubungan emosional yang dekat cenderung berdampak tekanan perasaan “sial” yang sama… “Kesialan” yang berlandaskan pada potensi kerugian moral seperti kemungkinan kematian, cacat dan timbulnya depresi, juga potensi kerugian material seperti pengeluaran biaya tak terduga, kehilangan waktu potensi sukses (belajar/kerja/bisnis), dan kelelahan fisik tentunya…

Akhirnya yang dipikirkan adalah mengasihani diri sendiri, dan menyesali “kesialan” yg seolah-seolah kaga pengen tumbuh mulusnya kesuksesan kita yg baru muncul, atau mungkin bersorak dengan keteperosokan kita yang makin dalam. Setelah itu, jauh didalam relung hati pun sangat mungkin kita menjadi sibuk bertanya-tanya: ini salah siapa; karena apa; dan mungkin kutukan darimana ? Kita jadi lebih bersikap inward looking (bertahan dalam kecemasan sendiri) terhadap berbagai bayangan “gak enak” , sebelum akhirnya mengalami sindrom inferior alias rendah diri. Ketika bayangan buruk tersebut jadi kenyataan jadilah depresi yang menyulut penyakit-penyakit lain, ya mental (fobia) ya fisik (psikosomatis).. walaupun pada kenyataannya jarang masalah ini muncul kasat mata.

Penyakit yang mau gak mau kita idap, sebetulnya bisa jadi cuman termasuk penyakit ringan. Yang justru terasa sangat mengganggu dan makin terasa parah ketika mental bener-bener gak siap mengantisipasi . Akibatnya daya tahan fisik kita jadi jauh lebih menurun dari yang seharusnya… Loh? Apa hubungannya kesiapan mental dengan daya tahan fisik? Bukankah kalo emang penyakitnya berat yaaa berat aja dampaknya … dan kalo badan akhirnya makin lemah dan loyo yaaa sah sah aja tentunya !

Rasanya gak ada yang salah dari pandangan seperti diatas… Namun perlu diketahui, bahwa Jasad Manusia hidup itu berfungsi normal dikendalikan oleh Kesadaran fungsi Otak (Akal/Budi), sedangkan Otak dan Jasad mampu hidup karena ada energi kalbu (ruh). Oleh karena itu cukup beralasan kiranya, jika seseorang yang sakit perlu diupayakan optimisme dan semangat hidup yang tinggi, baik bersumber dari kesadaran dari diri sendiri (jauh lebih baik) maupun dari lingkungan terdekatnya. Karena itulah muncul banyak pendapat dari para ahli psicho-therapy atau pengobatan alternatif yg berkesimpulan bahwa, keyakinan spiritual yang baik, mampu meningkatkan sugesti dan rasa “aman” yang menenangkan , sehingga kondisi ini dianggap menjadi 50% potensi kesembuhan, yang mana selanjutnya dilakukan upaya-upaya pengobatan secara fisik/kimiawi.

Tentu saja menenangkan diri sendiri pada saat sakit bukanlah perkara mudah, terlebih mencoba menghibur orang lain yang sedang sakit. Pada budaya populer dan science seperti saat kini, manusia seringkali hanya bergantung pada Kekuatan rasional yang menerbitkan teknologi kedokteran dan pengobatan mutakhir berorientasi science. Dan menampik adanya kekuatan yg lebih besar daripada sekadar kreatifitas otak manusia ( unsur materi dari hidup manusia ). Apakah ini akan mengarah pada spiritualisasi hidup ? tidak sepenuhnya bener, karena sekadar pertanda, bahwa sebenarnya obsesi kemapanan dan kemakmuran hidup manusia tidak akan dapat terpenuhi jika mengabaikan faktor spiritual ( unsur anti-materi hidup manusia ). Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu disadari sepenuhnya sebelum diri sendiri atau orang-orang yg terdekat benar-benar sakit diuji penyakit:


  1. Sepanjang sejarah Manusia, sesehat apapun akan menghadapi kematian, dan tidak ada satupun manusia yang siap sepenuhnya untuk mati;
  2. Yakinlah bahwa selalu ada kekuatan yang Maha Besar menguji komitmen dan ikhtiar hidup kita, dan salah satu ujian itu mungkin saja serangan penyakit ringan atau berat;
  3. Tidak ada kesehatan, kesempurnaan dan kemapanan absolut selama kita hidup dalam dunia yang fana;
  4. Penyakit dan Sakit harus disikapi sebagai sebuah tantangan bukan kekecewaan, dan dihadapi dengan kesabaran bukan ketakutan;
  5. Penyakit dan Sakit perlu diproyeksikan sebagai impulse introspeksi diri atas kelalaian kewajiban sosial, dengan begitu motivasi untuk segera memperbaiki diri dan semangat hidup dan kesembuhan menjadi lebih tinggi.
  6. Betapapapun cerdasnya manusia, kita tetap makhluk ciptaan dari Yang Maha Kuasa, untuk itulah perlunya berdoa dan merendahkan diri padaNya.
  7. Kekurangan apapun dari hidup ini perlu ditentang sekuatnya dengan wujud rasa syukur, karena harus diyakini banyak sekali kelebihan/pelajaran berguna yang tersembunyi.

Bagaimanapun tulisan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah dihadapanNya… semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan, kesabaran dan melindungi dari segala kehinaan Duniawi… Amin.

Monday, June 09, 2003

APA HUBUNGANNYA ANTARA MODERNISASI + NEO-LIBERALISME + MABOK TEKNOLOGI ???...

Citarasa suka-duka apa aja sih yang kite rasakan sebagai orang kota ? Hmm pasti ada yang bertanya relevansinya apa timbul pertanyaan seperti itu ? Runtutannya cukup rumet sebetulnya buat mutu isi kepala yg serba pas2an kaya gue, tapi yang paling jelas awal dan dampak akhirnya kearah transformasi perilaku dan cara berfikir manusia juga ya... Jika dijelaskan bdsk aktifitas ekonomi, sebuah Negara geografi/bangsa tertentu memiliki budaya/kekuatan tertentu (ekosospol) yang didukung oleh perilaku dan kemampuan bangsanya sendiri dalam pengelolaan berbagai sumberdaya alam & manusia itu sendiri.


Pusat-pusat kegiatan dan pertemuan manusia dari berbagai pelosok dalam mengupayakan peningkatan nilai ekonomi dan kemakmuran kemudian membentuk KOMUNITAS KOTA, dan hasilnya kemudian menyebarlah ke wilayah lain baik dalam satu Negara (domestik) maupun berbeda (internasional). Interaksi yg meningkat secara akumulatif memberikan perembesan pengaruh budaya dan berbagai sharing hal-hal baru, yang jelas muncul perbaikan dan kemudahan di berbagai sisi kehidupan masyarakat dalam menjalani hidup, sehingga harapan nilai kemakmuran jauh lebih cepat dan mudah diperoleh, walaupun seringkali tidak harus lebih murah dari sisi "biaya", karena muncul komplikasi transformasi kelas sosial dan budaya yang gak berujung. Inilah yang dirasakan sebagai MODERNITAS RELATIF yang selalu dikejar manusia dari abad ke abad...


Setelah berabad-abad manusia berhasil memajukan dan memudahkan kerja manusia dengan berbagai ilmu-ilmu yg mendasari lahirnya "mesin-mesin" ekonomi & industri, kini sadar atau tidak ... ternyata begitu besar tanggung jawab dan polemik manusia menghadapi kegairahan abad modernisasi yang makin agresif ... Paling nggak itulah yang gue simak dari Intisari 3 buah buku yang sangat menarik: 1. "Melampaui Positivisme & Modernitas" (Hardiman,F.Budi, Maret 2003), 2. "Neo-Liberalisme" (Wibowo, I & wahono, Francis, Feb 2003), dan 3. yang terakhir "High Tech - High Touch" (Naisbitt, John, 1999) Entah Sengaja atau enggak, emang nasib atau sudah takdir... keliatan suatu alur yang searah dari ketiga buku tsb. Garis besarnya mebentuk siklus: gejala/dampak modernitas manusia --> pasar-bebas/neoliberalisme pencipta kesenjangan --> badai informasi/ teknologi yang memabukkan. Tentunya kaga bisa detil dirinci hikmahnya, kecuali prendz berminat membacanya sendiri heheheh... Tapi gue gak bisa menahan untuk menulis garis besar kesan yang kuat dari penelusuran ini prendz...smoga berkenan...


Dalam nuansa yang lebih optimis, sebenernya Modernitas memiliki titik tolak yg ingin menjawab kasus-kasus kemanusiaan...:

  1. Modernisasi, mengandaikan adanya kesadaran untuk memperhatikan soal hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi.
  2. situasi dan kondisi yang modern bakal mewajibkan berkembang-biaknya sikap kritis manusia dalam menjalani hidup.
  3. Modernisasi mengidealkan terjadinya berbagai perubahan signifikan dan terukur secara kualitiatif.
Nah pada kenyataannya ketika manusia memperjuangkan alasan-alasan tersebut yang muncul adalah polemik dan dilema. Yang paling jelas adalah interaksi ekonomi & teknologi, karena ketika kesadaran bersikap kritis telah berkembang dan matang, yang terwujud malah bangunan akumulasi modal (kapitalis) yang didukung teknologi (teknokratis). Kondisi ini disebabkan ketidak-sadaran manusia untuk mengendalikan hawa-nafsu nya dalam pengejewantahan sikap kritis itu sendiri. Sehingga Kapitalis dan teknokratis yg berkembang dan terwujud saat ini cenderung lebih menumpulkan kesadaran kritis masyarakat modern, dimana individu-individu nya lebih "suka" bersikap konsumerisme. Jatuhnya mekanisme pertumbuhan ekonomi, kecenderungan totaliterisme, dan kerusakan lingkungan menjadi variasi resiko tingkat wahid dari sisi suram modernisasi.


Interaksi ekonomi dan pembatasan pasar dalam perlindungan hukum-hukum lokal geografis suatu negara mulai terlepas sedikit demi sedikit, lalu berdampingan dengan makin santernya implementasi politik menuju Globalisme perdagangan dunia, itulah dia Neo-Liberalisme. Katanya francis Wahono,"Neo Liberalisme dengan sistem pasar bebasnya bukan melahirkan kebebasan dan kemakmuran bersama, tetapi hancurnya tatanan seluruh aspek kehidupan." NeoLiberalisme mewarnai Jaman baru ketika kapitalisme memiliki bungkus yang tercanggih dan radikal untuk menghisap enerji dan kapasitas kehidupan kaum yang lebih lemah. Dengan adanya dukungan teknologi dan informasi canggih,kekuatan kapitalis global maupun domestik bergotong royong mengeruk abis-abisan kekayaan Hasil Bumi dimana-mana. Iming-iming muluk diperolehnya kemakmuran global SEOLAH-OLAH lebih cepat terwujud. Sayangnya setelah sekian lama bereaksi dan bersintesa dalam kiprah duniawi yang fana ini, KOK BISA BEGITU ???


Kite cuman mampu melihat kalo kredo kapitalisme pasar bebas begitu cepatnya tersiar ke seluruh pelosok bumi menumpang pada kendaraan teknologi media & komunikasi, yang mana "cikal bakal" dan "buntut"nya lebih dikuasai/dikendalikan pihak-pihak berkuasa dan bermodal kuat saja tentunya... Lalu dipake deh badan-badan dunia seperti IMF & WorldBank (sbg NeoLiberalist Institusi penyedia kredit International) untuk mensosialisasikan "Washington Consensus", supaya semangat kapitalisme ini dapat disusupkan secara sadar/kaga ke dunia-dunia Amerika-latin, Afrika juga Asia-Timur... Ketika komunisme harus rontok pada era Gorbachev, enggak ketinggalan Rusia pun jadi mangsa IMF karena hampir bangkrut.. Dengan begitu Kapitalisme telah berhasil menginjak kemenangan mutlak thd ideologi extrim kiri musuh bebuyutannya: komunisme...


Daya tarik perolehan keuntungan dari pasar yang lebih besar dan lebih bebas ternyata menarik minat beberapa negara berkembang lebih komitmen mengidap doktrin kapitalisme pasar bebas. Kenapa ? Soalnya gejala globalisasi terjadi pada makin cepat dan mudahnya proses perpaduan individu-individu dalam transaksi internasional (akses informasi, dagang, kerjasama) dengan pihak/institusi dari latar-belakang ekosospol yg berbeda-beda. Latar belakang yang kondusif berasal dari faktor-faktor:

  1. Transformasi pertumbuhan ekonomi bdsk kebijakan pemerintah ke arah Perkembangan modal/keuntungan oleh kebebasan mekanisme Pasar,
  2. Teknologi komunikasi/media memudahkan koordinasi produksi & pemasaran pada kisaran global (contoh: e-commerce).
Sehingga makin kecil saja kemampuan kebijakan pemerintah domestik mampu mengisolasi interaksi ekonomi seperti ini. APA BAHAYANYA ??? Karena Mekanisme Bisnis yang mengutamakan orientasi kekuatan modal dan mengejar untung SEMATA, ternyata menimbulkan DAMPAK RUSAKNYA MORAL KEMANUSIAAN itu sendiri, yaitu:
  1. Keprihatinan atas Kesenjangan/ketidak-merataan distribusi dari manfaat Globalisasi ekonomi itu sendiri. Misalnya: Pada tahun 92 aja, sepatu Nike perlu biaya 5,6USD saat "assembling" di Indonesia, dimana buruh-buruhnya cuman dibayar 1,35USD/hari, nah pas dijual di Negara "kaya" harganya bisa melonjak hingga 40-60USD, dan biaya marketing Nike sendiri bisa habis 20Jt.USD buat bayar Michael Jordan sebagai image promosi jor-joran.
  2. Kaga ada satupun yang bisa "mengendalikan" mekanisme globalisasi/neoliberalisme ekonomi ini... Semangat Modernisasi yang luhur telah menciptakan kecanggihan teknologi demi "membantu" kemakmuran manusia, sedangkan Dampak Kebebasan semu dari hasil eksploitasi manusia thd teknologi demi kemakmuran semata, ternyata malah menghasilkan MODERNISASI HUKUM RIMBA semata... IRONI :)
Modernisasi yang kebablasan ini ternyata mampu dijelaskan dan dibahas dengan sangat manusiawi oleh John Naisbitt, Nana Naisbitt dan Douglass Philips dalam bukunya yang terbaru "HI-TECH, HI TOUCH". Secara garis besar, Buku ini melukiskan obsesi modernisasi berbungkus teknologi dalam masyarakat Amerika (atau negara berteknologi maju lain) sedemikian kuat hingga menimbulkan penyakit sosial yang disebut dengan "GEJALA MABOK TEKNOLOGI CANGGIH". Dimana :
  1. Munculnya kecenderungan masyarakat menuntut solusi "kilat" dari berbagai masalah; Tuntutan konsumerisme dan gaya hidup yg "terpaksa" diakibatkan penghambaan teknologi;
  2. Kerumitan dan anomali dalam membedakan kenyataan dengan kepalsuan (teknologi media);
  3. Masyarakat dipaksa menerima tindak "kekerasan" sebagai hal yang wajar (game,film);
  4. Latar belakang Ketersediaan Teknolog bukan fungsional semata tetapi MAINAN yang memanjakan hawa-nafsu konsumerisme.
Yang sangat menarik pada garis besar solusi yang ditawarakan buku ini adalah, mengupayakan kesadaran masyarakat bahwa HI-TECH perlu dianggap sebagai kesatuan arti: Teknologi tinggi yang memerlukan kepedulian atas konsekwensi pemakaian yang tinggi pula... Sedangkan HI-TOUCH merupakan kadar tinggi pemberdayaan empati/emosi/spiritualisasi hidup dalam menghadapi badai Hi-Tech, agar sadar/tidak mampu menguatkan kembali "kemanusiaan" manusia dari sekadar "budak" dari mesin-mesin ciptaannya sendiri. Kesimpulannya Hi Tech - Hi Touch adalah model kacamata yang harus manusia gunakan, agar mampu mempertahankan posisi KEMANUSIAANnya dalam menyikapi kedigdayaan teknologi era kini menyaksikan gejala KeTuhanan, Waktu, Kesenian dan Permainan hidup yang cuma sementara.