Deepdrown' daily Plurks

Thursday, April 24, 2003

Pasukan"NgeBorr" didamprat abiss Gank Wak Aji... SIAPA YANG SALAH ???

Cerita ini rasanya cukup basi, tapi gwe pikir bukan soal momennya yg bikin gwe tertarik, tapi materi "dampratan" yg gue liat dan denger sendiri baru2 ini di tv... Apalagi kalo bukan kepanjangan cerita larangan MUI terhadap gaya pertunjukkan Pasukan "NgeBorr" yg dipimpin artis baru yg fenomenal Inul Daratista dan pesaing potensialnyaa Anissa Bahar. Apalagi wak aji yang paling terakhir ini adalah sekaligus artis dangdut legendaris kondang juga politikus yg lumayan: H Rhoma Irama jek!... Jadi gak heranlah abis begitu, semua acara maupun media cetak seputar "gossip selebritis" memberitakan topik dampratan kerasnya kemana-mana...

Sudah sekitar 3 bulan ini masyarakat memang baru aja diperkenalkan artis dangdut dengan goyang ngeborrr yg fenomenal bin sensual itu... Namanya Siti Ainul Daratista dan sekarang bekennya Inul Daratista aja... Lalu apa sih Goyang Ngeborr yg bikin heboh itu? Hmm... sebenernya tipikal sensual goyang pinggul dan pantat (maab)... nggak jauh beda dengan tarian Hawaiian atau Hoola hoop yg pernah kita lihat... Cuman intensitas dan sensasinya lebih kuat karena ada "ambisi" juga kebetulan model (maaf) "bokong" Inul yang mendukung. Atau prendz... hmm gwe sejak kecil udah kagum dan heran dg jogetnya Michael jackson yang ergh terlalu sering merogoh (maaf) "selangkangannya" sebagai ciri khas tariannya... Sekarang di dangdut tarian "selangkangan" a la Jackson ternyata muncul lagi dari si penyanyi rock-dangdoet muda "Mbah Dukun" yg sempet ngetob lebih dulu dari si Inul... Dan seperti kecenderungan umum bisnis, maka fenomena "latahan" bakal jadi dasar ambisi baru untuk ngikut2 dengan numpang suasana ... Maka muncul deh, pengikut atao pesaing baru Inul... dintaranya yg paling heboh ya Anissa Bahar dengan goyang khasnya "Ngeborrr Patah-patah" huaahahha... :))

Jadi sebetulnya apa sih yg diributkan para Ulama? Nah gue jembrengin bbrp alasan utama para Ulama yg dirasa mereka cukup berkaitan untuk "mengutuk"...

  1. Goyang ngeborr a la Inul dirasa terlalu erotis dan mengundang birahi penonton
  2. Pada bbrp kasus ternyata pertunjukan yg mengandung berahi ini ditonton bebas segala umur
  3. Dianggap memberi contoh yg tidak baik dalam upaya sukses mencari nafkah dengan cara apa saja

Jadilah berdasarkan alasan diatas, Inul mendapat boikot pertama kali dari daerah-daerah yg mayoritas Muhammadiyyah, tentu setelah sekretariat organisasi masyararakat Islam Muhammadiyyah mengeluarkan fatwa larangan pertunjukkan semacam Inul punya. MUI bahkan sempat mengeluarkan fatwa "haram", A'A Gym pun dengan gayanya sendiri pernah menasehati Inul secara lansung by voice dalam acara TV seputar gosip selebritis. Sedangkan Organisasi NU rasanya jauh lebih moderat kalo gak bisa dibilang rada nyeleneh dgn membalas komentar yg cenderung bercanda2 atau meremehkan alasan2 diatas... Gue pikir secara politis NU emang jago banget mengambil hati masyarakat "awam" (kampanye tersembunyi PKB) mendukung fenomena Inul sebagai salah satu Rakhmat Illahi, bahkan berniat menjadikan Inul sbg Simbol PKB.. hhehhehe :)~

Lalu apa kata & respon Inul sendiri ? Ha ha ha Jawabannya jauh melankolik tuh, soalnye memang buat seorang Inul... dimana riwayatnya memang penuh ambisi ingin jadi artis terkenal, dan kebetulan memang jauh lebih banyak "sial"nya, maka jelas kesuksesannya seperti saat ini dianggap dirinya sebagai buah kegigihan kerja yg pantang menyerah. Prendz, gue liat sendiri suatu VCD rekaman pertunjukan Inul di sekitar jawa timur sejak 6 bulan sebelum Inul ini ngetob spt sekarang. Dulupun gue heran VCD bajakan temen itu isinya semua pertunjukan Inul dan pasukan "ngeborr"nya di pesta-pesta hajatan masyarakat kelas menengah ke bawah.... Gue pikir apa yg istimewa? Oh oh oh itu tuh model goyangnya aneh kalo gak dibilang lucu... dan sambil terkekeh gue berdesis berulang-ulang,"Huehiihihi Kamfungan amat sih, tapi itu goyang putar dada yg singkron dg pinggul lalu pantat lucu juga..." Belakangan ketauan juga namanya goyang itu adalah "NGEBORRR" prend! Dalam beberapa acara TV, Inul malah cerita awalnya dia adalah penyanyi rock di bbrp niteclub, lalu ketika ingin merubah nasib ke dunia rekaman, apadaya semuanya terlalu sering menolak... Ketika terpaksa dia memperluas rejekinya ke pesta kampung-kampung terjadilah dia belajar nyanyi dangdut yg berkadar rock... tentu ketika belajar dangdut dia pun cermat memahami bahwa dangdut punya goyangan tersendiri, lalu akhirnya untuk acaranya sendiri dangdut yg dia nyanyikan ternyata dibawakan dg goyang dangdut yg terlalu bersemangat... Dan "kekeliruan" inilah yg membuat dia malah ngetob di pesta2 kampung, sebelum akhirnya sempet diorder ke Amsterdam dan Tokyo... Perjuangan panjang bukan???

Perjuangan hidup yg melelahkan seperti itu ketika SUKSES tentu akan menjadi pigura yang sangat manis untuk dipajang... dan kesan inilah yg terjadi ketika Inul makin sering diorder menyanyi dangdut berbagai media TV yg tertarik dengan sesnsualitas kampung tapi mampu menarik banyak penonton, bahkan yg suka ataupun yg tidak... Karena inilah Sang Rhoma Irama yg kebetulan jadi Ketua organisasi penyanyi/musik dangdut Indonesia jadi BERANG, karena keteguhan Inul dengan prinsipnya dianggap suatu tantangan dan kesombongan thd keberatan-keberatan bdsk alasan-alasan moral keagamaan. Buntutnya Sang Rhoma sempet keluar kata HARAM buat Inul dan pengikutnya menyanyikan lagu2 ciptaannya... Duhhh sekarang gwe jadi bingung ... yang lebih SOMBONG sepertinya siapa ya ???

Adakah yang Salah dari sisi Ulama atau dari sisi Inul ??? Dalam fenomena ini gwe pikir keduanya ternyata sama-sama banyak salah persepsi, juga sama-sama cenderung kena penyakit pengen PAMER (Riya'a). Ulama Kondang Zainuddin MZ punya komentar yang menarik, dia awalnya nggak peduli dengan fenomena sukses macam Inul dkk, karena sah-sah aja orang bisa sukses apa saja setelah menjalani liku-liku panjang dan melelahkan... Tetapi melihat dampak sosial belakangan, ternyata fenomena Inul bisa fatal, karena dia layaknya asik bermain kembang Api disuatu rumah, yang mana tanpa sadar bahwa rumah itu banyak sekale kaleng minyak tanah, dan jika percikan kembang api itu meledakkan galon-galon minyak tanah tsb maka celakalah orang seluruh rumah...
Dan dari analogi yang menarik seperti itu, gwe jadi menangkap adanya satu PIHAK yang menurut gue paling bersalah... APPPAAAAN TUUUU ??? Sebagaimana artikel yg ditulis oleh pakar media dari FISIP UI Ade Armando, bahwa MEDIA TV kita seharusnya mampu memperhitungkan idealisme moral atau etika bahkan edukasi dalam memberikan tayangan acara apapun yg berpotensi menyedot banyak minat masyarakat. Hanya saja akhirnya jadi begitu NAIF ketika secara implisit diketahui, bahwa MEDIA TV cenderung atau TERPAKSA berideologi "UANG" demi mempertahankan hidup perusahaan & kesejahteraan pegawainya... Dan tuntutan kesalahan atas kerakusan MEDIA TV ini memang mudah banget ditampik mereka dengan alasan, TINGKAT INTELEKTUAL MASYARAKAT belum sepadan untuk hidup sekadar idealisme ... he he he yang menang selalu BUAH-SIMALAKAMA :))