Jeng "INUL" yang disayang yang ketendang, akibat orang meradang salah kandang ...
Lagi-lagi beberapa hari ini semua media dan bahan percakapan orang gak dimana mo dimana fokusnya "INOEL" semuah, he he he hebat banget memang artis idaman "RAKYAT" fenomenal yang satu ini... Kepolosan dan Kerja kerasnya mencari Nafkah memang bukan dibuat-buat. Terlepas dari segala hujatan sekelompok ulama maupun organisasi keahgamaan tentang model tarian dan goyangan "seronok" a la Inul ini.. hmmm banyak sekali pelajaran "positif" yg bisa diambil terutama pada masalah KEULETAN, KREATIFITAS, juga KEPERCAYAAN DIRI... Perkara selebihnya hmmm kayanya prendz banyak tahu lah :)~
Fenomena yang lebih menarik untuk dipelajari lagi malah terkait masalah hukum yang berlaku, validitas fatwa/hujatan ulama, bahkan aksi boikot yg sedang disosialisasikan oleh organisasi penyanyi dangdut thd fenomena Inoel ini, bahkan terakhir ini bbrp tokoh politik pun mulae angkat bicara... Keributan seperti ini sebenernya memang kaya "hiburan", "wacana" bahkan hujan "rejeki" prendz.. Dan ini kalo mo ditilik lebih akurat malah suatu fenomena yg mendekati wajar. Coba aja perhatikan kondisi makro ekosospol kita saat ini, semua yg terkait aspek pemerintahan, ekonomi dan opini publik mule tersedot dan bersiap2 menghadapi PEMILU 2004. Dan menyimak sebahagian besar masyarakat kita ini mudah terhenyak dan terawang dalam euphoria politik, maka rasanya secara nalar bukan tindakan "bodoh" para tokoh-tokoh politik mulai mencari celah dan turun gunung bergelut dalam "OBYEK" yang mampu menarik hati alias JA'IM sejak dini kepada masyarakat luas...
Kalo mo meneliti kembali tentang topik hujatan bahwa, goyang INOEL itu disinyalir "merusak" pikiran, atau tuduhan mensosialisasikan pornografi secara massa.... Sebetulnya yaaa Bole-bole ajah, demikian pula SAMA SAHnya buat pihak2 lain yg berpendapat Pertunjukkan INOEL suatu seni kreatif yang mampu menghibur atau justru lahan yang menguntungkan bisnis MEDIA MASSA... Yang perlu kite pahami justru perbedaan KONTEKSTUAL-nya. Yang menghujat umumnya menilai dalam kontekstual KEAGAMAAN/MORAL... sedangkan yg PRO biasanya lebih pada konteks BISNIS/SENI. Loh kok jadi BENER SEMUANYA ???
Ha ha ha iya dong, NALAR LOGISnya selama Negara memegang UU/HUKUM yang SAH tidak melihat pelanggaran pada INOEL, maka MA/PERADILAN formal pun nggak bisa memboikot rejeki INOEL, bahkan HARAM menjelek-jelekkan reputasinya atas dasar opini sebagian orang atau kelompok tertentu. Organisasi/individu apapun diluar jalur HUKUM yang berlaku hanya berhak menghimbau atau protes kepada ybs. dalam format PERSUASIF dan KEKELUARGAAN. Kejadian yang ada sekarang telah muncul hujatan2 yang tidak pada tempat & tidak pada komunitas yang tepat, bahkan caci-maki dan fatwa haram dari seorang tokoh apapun kepada orang lain tanpa kontekstual HUKUM FORMAL, apalagi sengaja disebar lewat MEDIA MASSA bisa dituntut secara hukum dengan alasan "PENCEMARAN NAMA BAIK" bukan? Yg menghujat malah rentan terkena fitnah "RIYA'A (pamer)" & "SYIRIK", kagada yg bagus kan jadinya ?
Mangkenye dari sisi NALAR MORALITAS, segala hal yg tujuannya baik, memang patut diupayakan dengan cara-cara yg baik pula, kalao memang tidak berharap jadi boomerang bagi diri sendiri (anak band donk?!) Jadi jika Pihak2 tertentu YAKIN memandang bdsk analisa psikologis kemasyarakatan yang ilmiah juga moral keagamaan, nyata-nyata fenomena INOEL merugikan KUALITAS MASYARAKAT, maka yang perlu dihujat dan diupayakan dengan keras adalah REFORMASI HUKUM itu sendiri agar mampu menanggulangi dampak KEBEBASAN MEDIA MENGEKSPLOITASI PERTUNJUKKAN ataupun INFORMASI apapun yg BERPOTENSI "MERUSAK" moral/spritual/intelektual masyarakat luas. Dengan sendirinya SUBYEK PELAKU pertunjukan pun akan merasakan aturan-aturan/batasan2 dari HUKUM FORMAL Baru yang berlaku,... lebih FAIR & EDUKATIF kan? Yahhh ini cuman sharing Wacana sih, tujuannya biar kite lebih "sehat" aja memahami konflik :)