Deepdrown' daily Plurks

Tuesday, May 20, 2003

UANG PLASTIK yang keliatan renyah bak KRIPIK berpotensi bikin resah kaya ketemu JURIK...


Pernah denger istilah "UANG PLASTIK"? Ergh, emang sih bahan baku uang kertas kite yg terbaru ada kandungan plastiknye pren, tapi maxud gwe bukan nyang itu... Tapi ini istilah buat media transaksi via "KARTU-DEBET" dan "KARTU-KREDIT", bahkan "KARTU-DISKON". semuannya udah teramat populer buat masyarakat kelas perkotaan, dan semakin lama menjadi bagian yg tak terlepaskan dalam budaya berbelanja maupun transaksi pembayaran lainnya, umunya terkait kebutuhan hiburan dan kebutuhan sekunder (lifestyle)... misalnya nonton pilem bioskop, makan-minum di resto/cafe, atao taman-taman permaenan (bilyar, mini-golf, electronic game dll).


Sebetulnye yg gwe lagi pikirin bukan soal manfaat "UANG PLASTIK" itu pren, terlalu banyak yg tahu soal itu... Nah yang bikin penasaran, adalah kenapa ada fenomena yang mendorong pemakaian "UANG PLASTIK" ini makin gencar dan makin mudah saja memperolehnya dari tahun demi tahun. Dan bisa dipastikan, sebahagian besar dari Penerbit "UANG PLASTIK" (Banks, Merchants, Financial services) akan bicara bahwa media ini adalah wujud kemudahan sekaligus keamanan bagi Nasabah dalam bertransaksi. Dan tentu untuk sebahagian komunitas yg rejekinya "LANCAR", mereka menjadi sangat bebas beraksi "JUAL-BELI". Bahkan sebahagian kalangan merasakan lansung/tidak prestige dengan tersedianya berbagai macam kartu debet/kredit/diskon bertengger di dompet masing-masing :)


Berbagai perilaku ekonomi diatas memang sah-sah dan keliatan aman-aman saja, jika selalu dipandang dengan sisi positif dan optimisme yang subyektif sifatnya. Lalu dari sisi mikro, perlu ditelaah apakah si pengguna "UANG PLASTIK" benar-benar merasakan keuntungan yang "UTUH" atau hanya paham "KULIT-KULIT PEMANIS" dari janji-janji sales para agent marketing? Perlu diingat bahwa prosentase masyarakat Indonesia yg terdidik cukup (SMU keatas) di Indonesia ini maksimal 25% saja. Lalu coba lihat perbandingan strata sosial ekonomi menengah keatas vs kebawah... dijamin masih jomplang abizzz.


Dari sisi Makro, Dunia perbankan kite ini belon mampu meningkatkan pertumbuhan kreditnya kemabli ke kondisi sebelon krisis, Bisnis Perbankan yang sekarang pun masih beresiko tinggi karena Dana kucuran kredit-kredit yg terbaru pun setengahnya masih bernuansa HIGH-RISKs. Nah sementara pengucuran dana kredit ini masih "seret" untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka bisa muncul kecenderungan kuat bahwa secara alami Industri Perbankan akan "mempermainkan" Masyarakat dalam umpan-umpan pola hidup Konsumtif, misalnya hadiah-hadiah yang bombastis untuk pemakaian kartu kredit atau kartu debet, atau menjadi nasabah suatu bank. Sehingga ketika Nafsu "Belanja" Masyarakat melonjak maka diharapkan mampu menyokong pertumbuhan ekonomi, NAH yg paling menyolok adalah terbitnya marketing agresif pemakaian Kartu kredit dan Kartu Debet. Sayangnya ini masih berbau gali lobang tutup lubang, karena pola konsumtif ini ujung-ujungnya cuman bergantung pada kapasitas pinjaman Luar Negri :(. Complicated memang, tapi jalan yg termudah untuk memperpanjang nafas bagi Perbankan pada kondisi minimnya Investasi LN adalah melakukan hal tsb.


Lalu bagaimana dari sisi pengguna ? Marketing Penggunaan Kartu Kredit dan Karti Debet ini makin lama ternyata MAKIN GAMPANG saza... Coba bayangkan, para marketer di MAL2 dan GERAI2 serba ADA itu seolah2 gak perduli apakah masyarakat yg ditawarkan PANTAS atau BERESIKO menggunakan Kartu Kredit atau Debet yg ditawarkan... Dalam beberapa kasus kredit macet pemakaian kartu kredit, ternyata cukup banyak nasabah yg begitu naif memahami tanggung jawab dan kegunaan kartu kredit yang sesungguhnya... Ekstrimnya bahkan ada yang berfikir bahwa Kartu Kredit adalah Kupon berbelanja yang seolah2 gratis sampai plafon tertentu, bahkan ada yg sengaja memberikan identitas palsu sekedar menghabiskan plafon sesaat. Abis gitu tinggal Debt Collector yg galak-galak maen peranan memburu dan teroro si nasabah soal kewajiban bayar utang deh :) Kasus KArtu DEBET mungkin jauh lebih halus, masyarakat menjadi tidak peka dengan Nilai nominal yg tersisa dalam transaksi Kartu debetnya, dan Kartu debet yg tipis itu menguatkan tekadnya untuk menghabiskan cadangan tabungan yg tersisa untuk berbelanja pada gerai yg siap dengan Mesin Debet Onlinenya.


Apa yang perlu disimak dari kasus-kasis diatas ? Seolah2 demi target menggaet nasabah, Para Institusi Keuangan seolah-olah melempar resiko besar yg tersembunyi kepada nasabah yg "terlena". Kenapa ? Karena sudah menjadi kewajiban Institusi Keuangan pula untuk melindungi nasabahnya, dengan informasi yang jelas, baik yg muluk2 juga resiko yg buruk2 kepada calon nasabah. Tindakan itu seharusnya direalisasikan dengan tindakan pengawasan dokumen kependudukan dan kapasitas ekonomi yg akurat dari calon nasabah.. Karena jika tampak sekedar merayu, ini akan berpotensi jadi kasus penipuan bukan? Dalam tanda tangan perjanjian pun, seharusnya sang marketer mengingatkan calon nasabah ttg pasal-pasal resiko dan tg.jawab ybs (biasanya tertulis dalam huruf2 kecil) dalam akta perjanjian. Disinilah letak pentingnya PRosedur resmi Perlindungan Nasabah Jasa Keuangan, akan sangat baik jika Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mulai meningkatkan awareness ttg meningkatnya potensi-potensi kerugian nasabah... Selain sosialisasi terkait pendidikan memperlakukan "UANG PLASTIK" dengan cerdik & aman, juga mengajukan pasal-pasal baru perlindungan Nasabah yg lebih canggih kedalam UU Perlindungan Konsumen yang lebih mapan dan win-win. pfff...

Wednesday, May 14, 2003


Ingin memahami hidup yang ribet ini? Seimbangkan kadar Spiritual,Emosional,dan Intelektual buat mencongkel rahasianya...


Barangkali ada sering terdengar dari orang lain, atau diri sendiri berucap penasaran masalah takdir atao nasib kite selama hidup ini... Macem-macem emang pendapat dan persepsi orang rupanya. Ada yg terkait soal pemahaman agama masing-masing, ada yg bertolak dari falsafah keilmuan ilmiah yg mayoritas pada akomodasi nalar, ada juga yg campur2, malah ada pula yg berpendapat nikmati apa aja selagi hidup, masalah mati soal nanti... heheheh. Tapi soal Nasib dan takdir ini biasanya menguasai hati dan menghantui pikiran, kalo kite pas lagi ketimpa masalah diluar dugaan, lalu mentok ... Lucunya kalo pas sukses gemilang, manusia biasanya lebih sering bilang,"ini memang buah usaha dan kepandaian saya..." Hehehe begitulah manusia :)


Memang sih gak ada salahnya mengetahui lebih dalam hal ihwal soal takdir, nasib, suratan dan lain sebagainya, Pendapat umum kan TAKDIR itu sesuatu yg jadi suratan tak dapat diupayakan lagi, pendek kata ini haknya Tuhan, sedangkan NASIB itu suatu kejadian yg berlaku berdasarkan pilihan-pilihan yang diambil manusia. Yang sering jadi masalah, malah kapan kite orang bisa tahu PASTI mana yang jadi TAKDIR mana yg cuman NASIB heheheh.


Kenyataannya memang umumnya masyarakat kita ini jika getol mendalami sesuatu, suka lupa sama hal ihwal kewajiban yang lain dan jauh lebih penting pulak, APA ITU ? yaaa itu dia Kualifikasi Ibadah, Ikhtiar dan Ikhlas… Soalnnya tanpa “eksplorasi” 3 hal tsb, yg keliatan malah Mudlarat (negatif) nya persepsi manusia soal takdir dan nasib itu sendiri, ketika manusia ini terbentur pada konflik yg rumit dan seolah2 mentok, maka dengan mudah cenderung memunculkan soal nasib dan takdir sebage kambing item, malah juga kambing conge’… *mbeeeeek*


Justru dengan memahami 3 masalah yang lebih krusial itu, maka persepsi soal takdir dan nasib itu (insya Allah) bisa difahami dalam kalbu masing2 pribadi, walau syusyah banget dan cenderung mengundang perdebatan ajah jika harus dinyatakan dengan proses verbal. Sebenernya fenomena takdir atau nasib seseorang itu adalah hanya salah satu saja fasilitas kemudahan yang diberikan Tuhan buat masalah hidup yg paling pribadi masing-masing makhluk. Nikmatnya dimana? Begitu sukar dijelaskan … seperti halnya Apakah kenikmatan tidur itu ? dibilang enaknya pas bangun tidur, gak jelas juga soalnya itu berarti kenikmatan bangun tidur? Dibilang ketika ngantuk mau tidur, itupun nikmatnya ngantuk! Mimpi? Iya kalo mimpi enak, itupun pas mimpi orang kan gak berasa tidur? Nahhhh ribet kan? Itu baru soal persepsi sepele ttg apa enaknya tidur … bagaimana pula persepsi yg lebih makro seperti nasib dan takdir ?


Makhluk dan benda lain selain manusia di dunia ini tidak diberkati hawa nafsu dan kemampuan berfikir, juga sudah memiliki pemahaman bulat-bulat soal nasib dan takdir dalam ROM-BIOS mereka masing2 tanpa tawar2 dan pertimbangan… Buat manusia ? inilah seninya mengelola batin dan daya berfikir diuji dengan berbagai umpan hawa nafsu. Karena kelebihan manusia itu, maka diri mereka sendiri menuntut pemahaman nalar atau wujud eksklusif soal takdir dan nasib hidupnya di dunia. Kenapa ? yaaa karena kelebihan manusia itu juga, terjadi naik turun kinerja dan kualitas Ibadah (bersama TUHAN utamanya) --> Ikhtiar (Upaya/Perjuangan hidup) --> Ikhlas (karena TUHAN juga akhirnya). Mbulet ya ? Hahahah itulah canggihnya manusia, mangkanya tujuan dan pemahaman apapaun soal hidup ini sangat bergantung pada keseimbangan siklus Spiritual --> Emotional --> Intelektual setiap individu.


Oleh karena itu pemahaman secara mendalam soal arti dan fenomena hidup semesta nggak bisa sekadar ditinjau dari sisi nalar (intelektual) semata, karena tidak akan pernah diperoleh pemahaman yg pasti dan cocok untuk semua. Justru keunikan manusia memang pasti melahirkan keunikan jalan pemahaman dan eksplorasi hidupnya masing-masing… Nah agar berbagai manusia itu dapat hidup dalam lingkungan mudlarat yg minimalis menuju maksimalisasi manfaat sosial ??? cari + laksanakan + pahami : Ibadah --> ikhtiar --> ikhlas : yang paling benar, mulai dari keberanian pemahaman dan koreksi diri sendiri.. barulah kpd lingkungan yg terdekat, okeh prendz? Semoga jadi wacana yg baek buat dipertimbangkan... Masalah setuju atau kagak, itu mah biasa :)~

Wednesday, May 07, 2003

Para REGULATOR kaga BECUZZZ, Kemakmuran Masyarakat yang harus NEBUZZZ :((


Seharusnya kite udah kaga 'aneh' lagi kali yee kalo denger istilah KOMUNIKASI... dengan demikian harusnya banyak juga yg 'ngeh' tentang KEUTAMAAN adanya proses komunikasi juga dampak turunannya dooong? Soale urusan cari MAKAN sejak purbakala perlu proses KOMUNIKASI juga, biar gak saling "MAKAN" temen misalnya.. atau ngajak sama-sama "MAKAN" enak. Nah era abad 21 seperti sekarang ini KOMUNIKASI bukan jadi sekadar trigger cari makan, melainkan pemenuhan informasi, pemeliharaan relasi, sampai ajang ekspresi emosional antara individu/ kelompok/ institusi malah... Nah kenapa jadi melebar begitu? Karena Indera "telanjang" manusia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidup saat ini yg makin perlu kecepatan, kerincian, dan kapasitas pengetahuan yang makin besaaaarrr sekaligus, demi mepertahankan nilai kemakmuran komunitas yang berlaku saat ini dan masa depan. Maka dikembangkanlah TEKNOLOGI KOMUNIKASI yang terus berevolusi agar mempermudah dan mempermurah biaya hidup manusia :)


Ironinya ( at least dari pemahaman pribadi ) di Negara ini perkara kemudahan dan kemurahan jasa komunikasi selalu jadi kekisruhan yg terpendam tanpa solusi. GARIS BESAR MASALAHNYA ? Orientasi regulator masih MENTOG pada SETORAN KAS NEGARA, buat apa ? BUAT BAYAR CICILAN UTANG LUAR NEGERI tentunya ( Warisan kemiskinan Abadi ). Konflik laen yg terus menekan adalah Kebutuhan Masyarakat yang amat sangat atas MERATANYA ketersediaan alat bantu kemakmuran nyang namanya INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI itu tadi... Ironisnya lagi tekanan rakyat itu tadi kayanya jadi bumerang balik, yang mana oleh REGULATOR muncul lagi biaya "PENYESUAIAN" pulsa pemakaian Telepon Tetap & Bergerak ( wireless fix, selular ), biar sang REGULATOR bisa menyediakan infrastruktur baru... *plok...plok...plok*


Pembahasan bdsk.mikro & makro ekonomi tentang kebijakan kontroversial regulator komunikasi kita kayanya udah lama bergema... dan gwe kayanya gak mao kutak katik itu. Yang lebih menarik gue sebenernya adalah, adanya hambatan-hambatan "aneh" terhadap berkembangnya wacana-wacana ilmiah sb terobosan-terobosan alternatif teknologi KOMUNIKASI yang murah meriah muncrat bagi masyarakat banyak. Hambatan itu ekspresinya macem2, ada yg tiba2 timbul regulasi baru yg halus, keras/galak, bahkan cueks dari sisi REGULATOR... Akibatnya ? Masyarakat dibuat tidak punya pilihan kecuali kepentingan REGULATOR, dan terpaksa kite mengasumsikan diri sbg masyarakat yg "NERIMO". Yah supaya mengurangi kadar SAUDZON, baeknya gue beri contoh GARIS-BESAR beberapa kondisi...


  1. Prendz pernah denger kan, kabar gembar gembor akhir taon lalu, tentang suksesnya pilot proyek TEKNOLOGI INTERNET VIA KABEL LISTRIK ? Proyek itu berhasil dikembangkan oleh Tim ICON+ sebage anak perusahaan PLN. Para analis juga telahmenerima cetak biru desain teknis jaringan komunikasi via instalasi listrik PLN yg udah ada... sangat applicabel gitu kesannya. COBA bayangkan kemudahan apa yg bisa kite terima sbg konsumen? KECEPATAN DATA TINGGI, ADMINISTRASI LANGGANAN INTERNET MURAH, BIAYA AKSES MURAH, KAGA PAKE PULSA TELKOM, DESA2 BISA AKSES INTERNET... INDAHNYA :) Abis gitu ditunggu2 susaui janji hingga Januari 2003, yg muncul malah beberapa artikel tentang kekisruhan administratif regulator (PLN, TELKOM, INDOSAT), Ujung2nya terkait masalah kuno: regulator yg satu TAKUT kaga ngeboel gara-gara kemajuan REGULATOR yg laen, PARANOID! Akhirnya harapan-harapan yg membumbung itu cuman jadi KABUT ASAP di pagi hari. DAN sekali lagi KEMAKMURAN masyarakat harus DIKALAHKAN oleh faktor KETIDAK-BECUSAN bisnis para REGULATOR *sedihnya*


  2. Sejak 2-3 bulan lalu makin populer teknologi Unlicenced WIRELESS NETWORK freq.2,4GHz yang dikelola oleh lembaga independen INDOWLI. Teknologi ini menyediakan media alternatif yg cepat tersedia bagi institusi/bisnis/edukasi menengah kebawah untuk memeproleh akses INTERNET. Biaya Langganan ke ISP fix berapapun lamanya anda akses Internet, Media kaga pake bayar telkom, Investasi alat tersedia dari sangat murah sampe mahal. Tapi samapai saat ini pihak REGULATOR sedang perang hangat dengan para pemakai WIRELESS LAN (kalangan Warnet, Komunitas, UKM), karena tiba-tiba menerapkan SWEEPING dan pembredelan instalasi masyarakat tanpa sosialisasi regulasi baru yang meluas & mendalam.. buntut2nya adanya regulasi baru ttg BIAYA pendaftaran pemakai & standar peralatan yg BOLEH digunakan. Semua ini diprotes keras dan alot oleh komunitas INDOWLI, karena terkesan aksi SEPIHAK sang REGULATOR yg bernuansa khas KKN(lagi2)... Dan akhirnya mayoritas pemakai INDOWLI (individu atau komunitaskecil) terpaksa bergerilya mengoperasikan jaringan wireless nya agar tidak terlibas pembredelan regulator.


  3. Baru-baru ini TELKOM memasarkan salah satu fasilitas baru yaitu: FIX WIRELESS PHONE = TELKOMFLEXI. BDsk spesifikasi resmi pemasaran telkom, telepon ini hampir sama dengan instalasi RATELINDO, hanya jangkauan jadi lebih luas, investasi alat lebih murah pdhal scope teknologi CDMA udah lebih canggih, akibatnya pulsa menjadi jauh lebih murah.. Maka berbondong-bondonglah para konsumen yg selama ini sulit mendapatkan jaringan telepon tambahan tertarik mendaftar dan membayar. Belakangan ada indikasi pelayanan TELKOMFLEXI jadi buyar dan mampet. APA SEBAB? Karena DEPPARPOSTEL tiba-tiba ngomelin TELKOM karena pemasaran TELKOMFLEXI ini melanggar kespakatan pengadaan investasi peralatan berteknologi CDMA. Awalnya telkom cuman bilang bahwa, demi mempercepat perluasan/memperbanyak gardu telepon ke daerah2 atau desat yg sulit instalasi kabel darat, maka dipercepat dengan transmisi komunikasi tanpa kabel dengan protokol CDMA itu, JADI BUKAN untuk dipasarkan sbg fasilitas lansung ke KONSUMEN (end-user)... Belakangan para OPERATOR TELEPON SELULER yg menggunakan protokol GSM saat ini (TELKOMSEL, SATELINDO, PROXL, IM3) protes juga... Karena jika TELKOMFLEXI ini jadi operasional dg biaya pulsa jauh lebih murah, maka berpotensi jadi pesaing yg bikin bangkrut!!! Kok bisa begitu? ternyata instalasi TELKOMFLEXI dg teknologi CDMA yg ceritanya bukan untuk telepon bergerak, MASIH bisa diakses denagn ALAT HANDPHONE CDMA yg dijual dipasaran, dampaknya TETEB aja jadi komunikasi BERGERAK alias SELULAR... hahahah RIBUT PASAL PARANOID lagi deh. Juntrungannya MASIH teteb setali tiga uang, KEMAKMURAN masyarakat harus DIKALAHKAN lagi oleh faktor KETIDAK-BECUSAN berbisnis para REGULATORnya *kesyaaaan deh kiteee* ;p~

Mungkin karena gue ini termasuk masyarakat menengah yg AWAM pulak, yg keliatan jadi inti masalahnya ini cenderung ke MENTAL dan MOTIVASI ASLI para REGULATOR ini aja jek. Konflik diantara pengelolaan bisnis MEREKA sendiri SUDAH terlalu banyak berpotensi bikin INTELEKTUALITAS masyarakat apalagi generasi mudanya jadi MUNDUR beberapa langkah, tertinggal jao dari Malaysia/singapur/Tailand.. apalagi Australia. Kalo semangat dan fokus intinya adalah bener-bener Kemakmuran Rakyat, gue yakin banget akan selalu ada jalan tengah sebage solusi yang anti PARANOID...

Tuesday, May 06, 2003

Mental Intelektual Bangsa Yang Terjajah, Mandiri Susah, Saling Peduli juga Ogah :(


Kalo gwe inget-inget begitu banyak berita, analisa, koar-koar dari berbagai media-massa, kayanya hampir mayoritas 80% cuman bikin dongkol, buat2 perdebatan baru, minder krn event pertandingan olahraga bangsa kite lagi kalah muluw, atao Jantung dibuat 'EMpot2an' karena masalah kriminalitas merajalela, bahkan dihantui rejeki yg seolah2 bakal makin kempes aza... Nah minggu lalu, akhirnya dapet juga berita yg bikin gwe lumayan terharu... Acara METROTV pagi menyiarkan & mewawancarai TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA (TOFI) yg bersaing pada event OLIMPIADE FISIKA ASIA berhasil menjebol 6 Medali Emas & 2 Penghargaan *plok...plok..plok...* tak tak phiewwiittt :))


Yang paling menarik adalah proses persiapan khusus para peserta TOFI dibawah bimbingan lansung Yohanes Surya tuh... Implicitly remaja-remaja ini memang dasarnya telah memiliki dasar teori dan minat yg jauh melebihi rata-rata remaja Indonesia pada umumnya, Hanya saja pada wawancara tsb. Kedua remaja tersebut menyatakan kagum dan sangat "terdongkrak" dengan wacana dan metode pemahaman FISIKA a la Yohanes Surya... Ternyata terbersit dalam wawancara tersebut Yohanes surya telah memberikan diskusi intensif yang memompa PEMAHAMAN NALAR dan BERBAGAI ANALOGI sederhana dari kehidupan nyata thd berbagai TEORI FISIKA... Dan ini menarik karena TIM TOFI tsb jadi mengerti dan faham mengapa & bagaimana falsafah formula (bbrp) TEORI FISIKA tsb terjadi... dan disinilah fenomena yg meningkatkan kepercayaan diri para tim TOFI dalam KEBERHASILAN menghadapi berbagai soal Olimpiade Fisika Asia di TAiwan itu...


Lalu setelah perayaan kemenangan itu apa ??? Kebetulan, ada cerita bdsk pengalaman kuliah gwe di Jurusan MATEMATIKA KOMPUTASI dulu... Begitu banyak pertanyaan yang hendak tertumpah melihat begitu banyak teori MATEMATIKA yg njelimet, tapi BUNTU & FRUSTASI, karena metodologi dan wawasan kebanyakan pengajar saat itu sangat sedikit yg memfokuskan PEMAHAMAN ANALOGI SEDERHANA ke dunia nyata... Akhirnya Mahasiswa akan menjadi 'MASA-BODO' dengan pelajaran yg mereka terima, kecuali kejar target SKS dan segera CARI DUIT... GENERASI MUDA TERDIDIK kite cenderung jadi KONSUMEN BUAT thd berbagai WACANA KEILMUAN dari LUAR. Jika fenomena pengajaran perguruan tinggi kita bakal seperti ini terus-menerus apa yg akan diharapkan? Budaya Riset dan sosialisasi teknologi pada generasi muda bakal mampet jadi ideologi 'OMDO' semata. Apalagi memang NEGARA ini dg alasan/kendala ekonomi belum bisa mengganjar dengan pantas para tenaga PENDIDIKnya, apalagi... menghargai dengan 'HORMAT' suatu karya atau hasil riset ilmiah secara nyata...


PBB punya teori tentang riset, bahwa agar hasil riset bisa efektif mendukung kemajuan pembangunan, maka dana riset yg harus dianggarkan bangsa tsb MINIMAL SATU PERSEN dari PDB (Pendapatan Domestik BRuto). Sedang kondisi di Indonesia : Anggaran Riset Nasional di APBN cuman 0.2% dari nilai semua barang & jasa (PDB). Mangkenye... walao kaga bisa dibilang "MOKAT", tapi dunia riset kita memang macet pren. Bayangin ajah .. di Amrik, biaya riset itu 26% dari negara, sedangkan 65% dari Industri, Nah diIndonesia hampir seluruhnya menggantung pada APBN, Industri nasional kite umumnya tidak tertarik investasi dana mereka dalam membantu riset teknologi atau keilmuan, pantesss secara mendasar bisa dibilang kadar intelektualitas bangsa saat ini lebih banyak dijajah dan dengan demikian sukar sekali menjadi MANDIRI... Lucunya karen budaya yg merugikan ini, maka bbrp kelompok yg berhasil maju akhirnya mensosialisasikan kemampuannya dalam patron bisnis berorientasi MODAL ajah... bahkan dengan bangsa sendiri yg kebanyakan "menderita".


Parahnya sejak awal metode pendidikan dasar hingga menengah tingkat atas di Indonesia dan juga kehidupan para pendidiknya, dengan sendirinya menyuburkan ilham industrialisasi bisnis pendidikan kelas Atas. Kenapa begitu? Karena beberapa keluarga terdidik dengan kelas ekonomi menengah keatas di perkotaan ternyata memiliki 'demand' selain profit yg besar agar anak-anaknya memperoleh pengajaran yg lebih baik dari masyarakat kebanyakan, berobsesi anak-anak mereka menguasai ilmu sebanyak2nya sebelum remaja. Fenomena SOSIAL kaya gini tentu bisa diliat dari berbagai sisi. Dari sisi moralitas individu, adalah hak pribadi tiap keluarga untuk berusaha memberikan pendidikan terbaik (termahal?) buat anak-anak mereka... TApi memang NJOMPLANG dari sisi KEMAPANAN SOSIAL, kerana tentu lebih jelas lagi menggambarkan jurang kesenjangan sosial... Dampak perkembangan mental dan moral bagi anak-anakpun sebetulnya patut dicemaskan, karena si anak yg terbiasa di sekolah "MAHAL" akan terbiasa dengan perlakuan dan gaya pergaulan anak-anak kelas atas... Kepekaan dan kesadaran Egalitarian yg seharusnya berpotensi dididik sejak anak-anak menjadi sirna, demi alasan perolehan Pengajaran berkualitas tinggi, yang akhirnya lebih sekadar menjaga prestige ajah... Lalu apakah budaya interaksi anak-anak secara alami yg bisa belajar berbaur tanpa pandangan kelas sosial bukan pendidikan yg bermanfaat ???


Jelas Pendidikan sorang anak memang bukan sekadar pengajaran ilmu, tapi juga bimbingan moral/mental yg peka pada norma-norma sosial maupun keTuhanan, kemudian lansung belajar berinteraksi secara kondisi heterogen nyata... dan bukan menjadi EKSKLUSIF. Sebenarnya semua punya jalan tengah... tidak ada salahnya jika anak-anak tetap bersekolah pada sekolah rakyat basa, agar tumbuh kepekaan sejak dini pada kondisi masyarakatnya sendiri, nah... sisi pembinaan keilmuan yg dirasa masih kurang dapat dipenuhi dengan sekolah/kursus tambahan lain
(musik, matematik, tari, agama, or) kan ? Harapannya generasi bangsa di masa depan nanti, jauh menjadi cerdas dan tegar baik dalam moral/mental/spiritual dalam MOTIVASI memperjuangkan ISU-ISU EKOSOSPOL demi kemaslahatan "orang" banyak. Dan ini bukan perjuangan sekali jadi pren, Orang tua perlu jadi tauladan dan berani koreksi diri.. itulah yg dihargai anak-anak kite kelak, bukan sekadar "HARTA" atau gelar "RAJA" doang prendz...

Monday, May 05, 2003

Partisipasi dalam Bizniz MLM, peluang Kerja atau menebar Mimpi ???...


Di tengah krisis ekonomi yang makin sesek beberapa taon ini, dampak yang klise tapi tak tertanggulangi pemerintah adalah: Susah dan menyempitnya peluang kerja, Perusahaan swasta juga makin 'keder' memberikan perbaikan gaji malah tunjangan hidup yg layak buat pekerjanya, Pmerintah sendiri kerepotan cari anggaran buat meningkatkan gaji pegawe negri dan ABRI... uihhh ribet ribet... Ternyata Jalan keluar yang paling mudah, paling bertahan dan banyak ditawarkan adalah menjadi PENJUAL atao SALES-PROFESIONAL kerennya... Jika individu yg terkait punya keahlian khusus dan produk unik yg berpotensi dijual, maka muncullah UKM-UKM home industri yg semerbak baek bersifat pertanian, peternakan, keterampilan, makanan/minuman/restoran, bakan teknologi tepat guna yg bbrp bisa dibilang canggih :)


Tapi bagemana dengan kelas masyarakat yang bercita-cita besar tapi masih "kebingungan" atas kapasitasnya ??? Sayangnya prosentase masyarakat berusia produktif yg kondisinya seperti ini ternyata cukup banyak (65-70%)... lalu apa yg patut mereka BUAT ??? Yak inilah sasaran utama para pengelola Bisnis MLM alias Bisnis Jasa pemasaran gaya Multi Level Marketing. Biasanya masyarakat yg "awam" pada pengalaman, metode dan hukum yg berlaku pada bisnis pemasaran akan berbondong-bondong mendaftar dalam bisnis ini pada awalnya... Kenapa ??? Karena gembar-gembor singkat nikmat para pengelola MLM pada umumnya adalah: iming-iming potensi perolehan keuntungan yg besar, ekspos mimpi-mimpi besar dengan berbagai hayalan yg tidak lagi membumi, ekspos keberhasilan beberapa peserta yg utamanya diarahkan pada kepemilikan harta-benda mewah maupun hiburan2 materi belaka... Susahnya secara hukum belum ada detil yang membahas pada etika dan cara-cara berbisnis MLM kecuali detil administratif doang, akibatnya selaen secara moral tidak mendidik, ternyata cukup banyak para anggota MLM yang tertipu dan putus asa karena investasinya 'mampet' tanpa hasil, dan tanpa sanggup menuntut apapun...


Lalu apakah semua bisnis MLM berbahaya ??? Rasanya perlu diketahui bagaimana garis besar kerja atau falsafah MLM itu...


  1. Suatu kreativitas pemasaran dari satu/lebih vendor barang/jasa tertentu
  2. Sekilas, MLM sama saja dengan sasaran distribusi konvensional: penjualan sebanyak mungkin produk denagn batas yg abstrak dan tidak transparan, sehingga HARGA yang layak juga kaga jelas, selaen cenderung tidak jelas apakah perusahaan vendor tsb sehat atau tidak? (Karena itu MLM perlu dipersoalkan)
  3. Seumpama kendaraan, MLM bagai BUS tanpa rem dan gas, soale kaga pernah jelas kapan produk harus digas dan kapan harus direm?
  4. Dalam MLM, Sebahagian besar keuntungan 'BESAR' seorang agen atau distributor MLM BUKAN dari JUAL BARANG, melainkan dari KOMISI agen kedua yang direkrut oleh agen pertama, sedangkan agen kedua mendapat komisi dari agen ketiga, dan seterusnya...
  5. Tiap agen baru akan bergerak mencari agen baru lagi, cuman begitu biar dapat komisi. Kecuali, ada yg jadi agen sekadar bisa beli produk, soale produk ini kagada di pasar terbuka, sedang mo beli dari seseorang yang telah menjadi agen, harga produk tanpa diskon :(
  6. Agen yang BERHASIL 'KAYA' sebenarnya dibayar oleh komisi agen-agen baru, bukan dari keuntungan penjualan produk (Adakah pemasaran kaya ini sehat?)
  7. MLM kaga butuh media promosi, kecuali pencarian agen lalu mengandalkan lingkungan terdekat (KKN): pertemanan dan perke-lu-argaan. Paling gampang kan merekrut kalangan yang dikenal, kaga 'duli pada ngarti soal pemasaran atau kaga (Ini satu lagi kebusukan MLM)
  8. Pertemuan & pelatihan berkala emang ada, topiknya emang bagaimana jual barang. Tapi, kenyataannya "SEDIKIT" doang ilmu pemasaran, yang seabrek cara MERAYU (atau NIPU?) orang biar mao jadi agen baru. Iming-imingnya bermacam SLOGAN provokatif: menjadi bos untuk diri sendiri, tanpa kerja berat uang masuk, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?

Implicitly falsafah MLM jadinya CUMAN ngejar uang dan uang dari komisi. Mentoknya kalo komisi bakal macet, karena semua orang telah menjadi agen. Jawaban NGELEZ agen MLM biasanye: ”Itu teori, karena penduduk Indonesia 200 juta.”

Masalahnya emang belon tentu tiap agen sama pinter/semangat mo cari agen lain. Biasanye kalo cuman gara2 "dibujuk"(buneng) keluarganya, kaga muncul tu motivasi untuk mengembangkan keagenan. Kecenderungan kuat, MLM bukan menjual produk, melainkan menjual mimpi: menjadi kaya raya dengan jalan pintas. Mirip beli lotre: seorang agen memang bisa kaya raya bila kebetulan ia berada di lapisan atas. Dan yang ada di lapisan bawah, silakan mimpi seumur hidup.


Pertanyaan besarnya: kalau sebuah produk memang layak jual, kenapa harus dipasarkan lewat MLM? Di Amerika, seorang agen penjualan yang merekrut agen baru dan karena itu mendapat komisi, melanggar undang-undang. Syukur dahhh, biar telat amir, akhirnya pemerintah Indonesia bakal menurunkan undang-undang baru tentang MLM dan sejenisnya. yaitu REVISI Kepmen Perindustrian dan Perdagangan RI No. 73/MPP/Kep/3/ 2000 tentang Ketentuan Kegiatan Usaha Penjualan Berjenjang. Sasaran PENTING Perbaikan Peraturan dari KepMen.PerDag diatas memang BUKAN untuk SEMBARANG BASMI Bisnis MLM yang ada, tapi lebih pada menertibkan dan mengurangi upaya-upaya penipuan... yg terpenting sbb:


  1. Program pemasaran itu harus memenuhi minimal empat ketentuan:

    Pertama, alur distribusi barang atau jasa yang jelas, mulai dari perusahaan penjualan langsung sampai konsumen akhir.

    Kedua, jumlah komisi atas penjualan dan bonus yang dibagikan kepada mitra usaha max.40% dari harga jual.

    Ketiga, membuka peluang usaha dan kesempatan buat mitra usaha untuk memperoleh penghasilan.

    Keempat, komisi dan bonus itu diberikan kepada mitra usaha berdasarkan hasil penjualan barang atau jasa.
  2. Perusahaan penjualan langsung dilarang melakukan kegiatan usaha perdagangan yang terkait dengan penghimpunan dana masyarakat. Mangkenye MLM yg bercorak 'MONEY-GAME' misalnya seperti WORLDNET harusnya bakal terbabat habiz... oleh karena itu MLM dari money-game ini disebut "MLM JADI2an" (tidak akan tercantum dalam APLI), biasanya menuntut setoran awal sebagai investasi dengan jumlah cukup besar, antara 1,5 s.d 10 juta rupiah ( tergantung rate USD)
  3. Dilarang Menarik keuntungan melalui uang pendaftaran keanggotaan sebagai mitra usaha dalam jumlah besar dan tidak rasional. Contohnya yg bakal kena klausul ini adalah MLM Gold Quest ... soale, setiap calon peserta Gold Quest harus beli koin emas 31 gr seharga Rp 8,5 juta. Padahal, harga emas di pasaran paling tinggi Rp 100 ribu. Artinya, koin emas tadi maksimal berharga Rp 3,1 juta doang!

Nah kalo ketentuan-ketentuan diatas tidak terpenuhi, maka sebuah perusahaan penjualan langsung akan dibekukan. Pembekuan juga bisa diterapkan ketika pihak manajemen diperiksa di pengadilan dengan tudingan melakukan tindak pidana. Bisa sehhh pembekuan itu dicabut, ASAL perusahaan ybs segera koreksi diri atau dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Nah wajar ajah APLI (ASOSIASI PENJUAL LANSUNG INDONESIA) dengan jumlah mitra usaha sekitar 4,2 juta orang yang melibatkan uang triliunan rupiah, aturan semacam ini memang harus segera diberlakukan di Tanah Air. Daftar korban MLM yg kaga jelas emang kaga pantezzz diperpanjang lagi prendz! Jadi kite semua harus Ati2 dahhh (sumber: majalah trust)

Friday, May 02, 2003

Selingkuh lewat PONSEL, Lalu gimana langkah-langakah awal Investigasinya...

Menyambung topik terdahulu tentang besarnya dampak perubahan gaya komunikasi, akibat memasyarakatnya PONSEL (handphone atao HaPe) sebage media berbagi informasi... Gue baru aja dapet tips menarik dari sebuah majalah tren telekomunikasi pren... APAAAAN TUT TU TUUU??? Sabar ... ini lhoo TIPS MELACAK PERSELINGKUHAN dari PONSEL pasangan masing-masing jek...

Jadi dari majalah itu bilang, jika kite suatu waktu perlu WASPADA atao RAGU menyoal "KESETIAAN" pasangan masing-masing, MAKA ada beberapa langkah pengamatan/indikasi yang bisa diamati dari PONSEL seseorang yg SUKA SELINGKUH... Apa aja? Coba simak ini :

  1. Ada PIN RAHASIA di ponsel
    Kalo ketika orang ini beredar dirumahnya sendiri, trus keliatan konsisten PONSELnye selalu OFF, biasanya alesan doi kaga mao diganggu CALL-CALL yg gak jelas. Karena ada PIN rahasia ntu, doi merasa aman karena pasangannye kaga bisa cek-ricek apa2 jek :)

  2. Punya Nomor PONSEL lebih dari satu Operator
    Apalagi udah gitu pasangannye biasanya kaga tao menao nomor rahasia doi. Terlebih lagi kalo ketauan ada SIM-CARD aneh, doi ngeles ini nomor PONSEL kantor hanya untuk kepentingan DINAS.. nah lhooo.

  3. Ada kebiasaan Nama GEBETAN ditandain tersamar di PHONEBOOK
    Misalnya: yang sebenernya 'Maria' ditulisnya 'Marno', atao yg aturannya 'Susanti" eh eh jadinya 'Susanto', yaaa bisa jadi juga kebalikannye deeh. Yg Laki disamar seolah2 perempuan (biasanye ini gebetan si wanita), nah sebaliknya yg aturannya prempuan tercatat lalaki (pacar gelap si pria). Tapi kalo pasangannye ada kecenderungan AC/DC (laki prempuan sama ajah yg penting kasih2an 'cinta') ya indikasi kaya gini agak rbit juga pren. pokoke kalo ada nama di phonebook doi & doi kaga pernah cerita sama sekali tu orang, ya usahe deh sekali2 cek-ricek ponsel pasangan masing-masing.

  4. Curiga sama nama di phonebook doi, tapi di SMS pasangan masing2 kagada tanda-tanda?
    Hmmm coba dah periksa fitur semacem call-register atao call-records, pan ketauan tuh ada yg misscall atau receive call, biasanye rada2 kebaca seberapa sering juga seberapa lama tu nomor 'suspect' dikonek pasangan ente... Kalo durasinya cukup lama dan frekuensinya termasuk intensif, trus prendz ternyata kaga pernah dicurhatin ttg ni orang, ya udah catet deh sebagae indikasi-indikasi baru penyelidikan...

  5. Bole juga iseng telepon tu NOMOR 'suspect' sesekali
    Alesannya klise aje pren,"SALAH SAMBUNG", tapi cermat periksa intonasi suara, jenis suara laki/prempu? Perlulah sedikit belajar mengira2 profil/situasi si pemilik suara, asal jangan ke-ge'er-an jugak, kros-cek dg hasil penyelidikan laen-laen.

  6. Jika sampe pada tingkat KECURIGAAN makin tinggi plus BUKTI memadai?
    Yaaa buka deh komunikasi yg persuasif bin sabar, jangan maen antem kromo aje okeh? soale yg kaya gini perlu penyelidikan yg cermat dan perlu banyak bermain sandiwara... Tapi kalo akhirnya pasangan ente mao atao keceplosan ngaku, ente masih gondoks braatz??? Ya Ngambeg, Poles atao Jitak aje palanye "PLETAKKKK..." jamak laaah, Tapi bakal lebih asiiik bin konstruktif, kalao kite dan pasangan berani menganalisa akar masalahnye... dan cari jalan tengah sambil saling maap2an. Okeh dong ?

Thursday, May 01, 2003

Bisnis DAGANG nggak sekadar jual "BARANG", Belajar dari NOKIA pahami PELANGGAN...

Setelah iseng-iseng 'belajar' bedagang makanan kecil-kecilan selama hampir 4 bulan ini... rupanya gwe dapet banyak sekali "pelajaran" berharga. Yah Mulanya, sebage seseorang yg cenderung dilatar-belakangi pendidikan eksakta dan berorientasi teknis, gue lebih sering mengartikan usaha bisnis "JUAL PRODUK/BARANG/JASA" adalah yang penting Buat sendiri produk sebaek-baeknya, kemudian jembrengin di "pasar", ditambah koar-koar ngegombal sebisanya sebelon pasrah menunggu ada yg berminat beli atao enggak...

Beberapa waktu lalu jika gwe jalanin bisnis seperti ini, maka yang muncul di benak ini adalah, begitu banyak proses penantian "misterius" yg mana kadar "pasrah/ nyerah" nya kebanyakan. Artinya terlalu banyak berserah diri thd misteriusnya mekanisme "pasar" tanpa adanya tindakan-tindakan preventif yg mampu dibuat... apalagi tindakan alternatif mengatasi kerugian hehehe... Oleh karena itu gwe mule *tuink* bahwa untuk meminimalisasi kerugian dan meningkatkan image suatu barang/ produk/ jasa yg ditawarkan, ternyata tidak sekedar mengutak-katik detil produk nya atau cuman sibuk mikirin cari pasar yang "rame" doang pren, TAPI yang lebih penting adalah BAGAIMANA cara terbaik menganalisa SIFAT & TUNTUTAN KONSUMEN...

Analisa SIFAT & TUNTUTAN KONSUMEN tsb prakteknya memang efektif jika dilaksanakan secara paralel, yaitu metode penawaran/penjualan produk yg agresif BERSAMAAN dengan PELAYANAN KONSUMEN yang intensif. Karena akan menjadi proses pembelajaran yg efektif untk dicatat dalam "KNOWLEDGE BASE" kite sendiri (rangkaian pencatatan pengalaman, feedback, respons yg dikelola sedemikian rupa hingga memberikan pemahaman baru). Sehingga dampratan, hinaan, makian, pujian, dan inputan konsumen thd produk yg dijual dan dicatat secara detil malah MENJADI "FUTURE-ASET" yang sangat berharga... Kenapa begitu ? karena semua reaksi itu telah menjadi parameter2 yg akurat dalam menentukan model Produk terbaru , modifikasi operasional internal (mata-rantai produksi) juga eksternal (penjualan,pelayanan) yang BERORIENTASI KONSUMEN/PASAR... Sehingga POSITIONING produk (kedudukan/nilai kesan yang kuat/unik bagi konsumen) makin KUAT...

Apakah segampang itu??? Justru karena SULIT, analisa bisnis yang menarik ini harus BERANI DIPELAJARI sesegera mungkin, dan dimulai dengan cara yg paling sederhana tentunya :) Bdsk pengalaman gue, yang terpenting adalah berusaha SABAR memahami PSIKOLOGI KONSUMEN. Misalnya: yg terkait masalah selera, mood, kebiasaan, ketidak-sukaan, jadwal-kesibukan, bahkan kepribadian hehehe... Dari lika-liku interaksi dan insting yg "dipertajam" maka akan tergambar peta/kelas LIFESTYLE (gaya hidup) konsumen, ini sangat berguna dalam menentukan skala prioritas pelayanan, metode penawaran, dan jenis PRODUK gwe yg paling sesuai buat mereka jek... Dan akhirnya Jangan lupakan TEKNOLOGI prendz... dengannya dapat dilakukan optimalisasi mutu pelayanan juga operasional, misalnya : alert jualan/konfirmasi/feedback via teknologi messaging seperti EMAIL/SMS/WEBSITE, selain teknologi konvensional spt. telepon/fax, Juga proses koordinasi internal yg cepayt melalui SMS juga Laporan pesanan/hasil penjualan menggunakan Excel/Access/Aplikasi WEB-based (e-commerce).

Ada pelajaran yang unik diperoleh dari cara sukses NOKIA menguasai pasar seluler dunia. Mereka menganggap bahwa kelas konsumen,maupun produk yang dibuat TIDAK BISA lagi diartikan sekedar: Kelas Bawah, Menengah & Atas.. tuh ? Lalu NOKIA ini membaca konsumen bdsk konsep perpaduan Lifestyle vs Psikologi. Hasilnya menjadi 2 FAKTOR/ DIMENSI, yaitu: FAKTOR LIFESTYLE yang mempengaruhi sisi emosional konsumen (premium, fashion, classic, active, expression, basic), DAN FAKTOR FUNCTIONALITY dimana mempengaruhi sisi pertimbangan rasional si konsumen (phone, music, games, imaging, media, business). Nah jika 2 FAKTOR/DIMENSI ini dikawinkan akan muncullah 36 kategori produk HaPe yg kommit akan dilempar NOKIA ke pasar. Jadi mule kebayang nggak kenapa NOKIA begitu SUKSES positioning pasarnya??? Jelas karena konsumen selular punya kepribadian/ selera yg rumit, maka NOKIA berusaha mencapture kecenderungan tersebut, sehingga pemakai HP NOKIA cenderung merasa bahwa NOKIA telah mampu menyediakan hampir segalanya yg mereka inginkan, dan makin mempersulit psikologi konsumen untuk pindah ke laen HATI eh Merek :) ... Pesaing NOKIA pun akhirnya jadi cukup "NGOS2-an" jek!

Yap begitulah garis besar seni dagang yang baru bisa gwe serap hikmahnye sampe saat ini jeks... Yang jelas tim gwe akan terus belajar dan berani konsisten jualan jajanan seperti ini terussss