Deepdrown' daily Plurks

Tuesday, May 06, 2003

Mental Intelektual Bangsa Yang Terjajah, Mandiri Susah, Saling Peduli juga Ogah :(


Kalo gwe inget-inget begitu banyak berita, analisa, koar-koar dari berbagai media-massa, kayanya hampir mayoritas 80% cuman bikin dongkol, buat2 perdebatan baru, minder krn event pertandingan olahraga bangsa kite lagi kalah muluw, atao Jantung dibuat 'EMpot2an' karena masalah kriminalitas merajalela, bahkan dihantui rejeki yg seolah2 bakal makin kempes aza... Nah minggu lalu, akhirnya dapet juga berita yg bikin gwe lumayan terharu... Acara METROTV pagi menyiarkan & mewawancarai TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA (TOFI) yg bersaing pada event OLIMPIADE FISIKA ASIA berhasil menjebol 6 Medali Emas & 2 Penghargaan *plok...plok..plok...* tak tak phiewwiittt :))


Yang paling menarik adalah proses persiapan khusus para peserta TOFI dibawah bimbingan lansung Yohanes Surya tuh... Implicitly remaja-remaja ini memang dasarnya telah memiliki dasar teori dan minat yg jauh melebihi rata-rata remaja Indonesia pada umumnya, Hanya saja pada wawancara tsb. Kedua remaja tersebut menyatakan kagum dan sangat "terdongkrak" dengan wacana dan metode pemahaman FISIKA a la Yohanes Surya... Ternyata terbersit dalam wawancara tersebut Yohanes surya telah memberikan diskusi intensif yang memompa PEMAHAMAN NALAR dan BERBAGAI ANALOGI sederhana dari kehidupan nyata thd berbagai TEORI FISIKA... Dan ini menarik karena TIM TOFI tsb jadi mengerti dan faham mengapa & bagaimana falsafah formula (bbrp) TEORI FISIKA tsb terjadi... dan disinilah fenomena yg meningkatkan kepercayaan diri para tim TOFI dalam KEBERHASILAN menghadapi berbagai soal Olimpiade Fisika Asia di TAiwan itu...


Lalu setelah perayaan kemenangan itu apa ??? Kebetulan, ada cerita bdsk pengalaman kuliah gwe di Jurusan MATEMATIKA KOMPUTASI dulu... Begitu banyak pertanyaan yang hendak tertumpah melihat begitu banyak teori MATEMATIKA yg njelimet, tapi BUNTU & FRUSTASI, karena metodologi dan wawasan kebanyakan pengajar saat itu sangat sedikit yg memfokuskan PEMAHAMAN ANALOGI SEDERHANA ke dunia nyata... Akhirnya Mahasiswa akan menjadi 'MASA-BODO' dengan pelajaran yg mereka terima, kecuali kejar target SKS dan segera CARI DUIT... GENERASI MUDA TERDIDIK kite cenderung jadi KONSUMEN BUAT thd berbagai WACANA KEILMUAN dari LUAR. Jika fenomena pengajaran perguruan tinggi kita bakal seperti ini terus-menerus apa yg akan diharapkan? Budaya Riset dan sosialisasi teknologi pada generasi muda bakal mampet jadi ideologi 'OMDO' semata. Apalagi memang NEGARA ini dg alasan/kendala ekonomi belum bisa mengganjar dengan pantas para tenaga PENDIDIKnya, apalagi... menghargai dengan 'HORMAT' suatu karya atau hasil riset ilmiah secara nyata...


PBB punya teori tentang riset, bahwa agar hasil riset bisa efektif mendukung kemajuan pembangunan, maka dana riset yg harus dianggarkan bangsa tsb MINIMAL SATU PERSEN dari PDB (Pendapatan Domestik BRuto). Sedang kondisi di Indonesia : Anggaran Riset Nasional di APBN cuman 0.2% dari nilai semua barang & jasa (PDB). Mangkenye... walao kaga bisa dibilang "MOKAT", tapi dunia riset kita memang macet pren. Bayangin ajah .. di Amrik, biaya riset itu 26% dari negara, sedangkan 65% dari Industri, Nah diIndonesia hampir seluruhnya menggantung pada APBN, Industri nasional kite umumnya tidak tertarik investasi dana mereka dalam membantu riset teknologi atau keilmuan, pantesss secara mendasar bisa dibilang kadar intelektualitas bangsa saat ini lebih banyak dijajah dan dengan demikian sukar sekali menjadi MANDIRI... Lucunya karen budaya yg merugikan ini, maka bbrp kelompok yg berhasil maju akhirnya mensosialisasikan kemampuannya dalam patron bisnis berorientasi MODAL ajah... bahkan dengan bangsa sendiri yg kebanyakan "menderita".


Parahnya sejak awal metode pendidikan dasar hingga menengah tingkat atas di Indonesia dan juga kehidupan para pendidiknya, dengan sendirinya menyuburkan ilham industrialisasi bisnis pendidikan kelas Atas. Kenapa begitu? Karena beberapa keluarga terdidik dengan kelas ekonomi menengah keatas di perkotaan ternyata memiliki 'demand' selain profit yg besar agar anak-anaknya memperoleh pengajaran yg lebih baik dari masyarakat kebanyakan, berobsesi anak-anak mereka menguasai ilmu sebanyak2nya sebelum remaja. Fenomena SOSIAL kaya gini tentu bisa diliat dari berbagai sisi. Dari sisi moralitas individu, adalah hak pribadi tiap keluarga untuk berusaha memberikan pendidikan terbaik (termahal?) buat anak-anak mereka... TApi memang NJOMPLANG dari sisi KEMAPANAN SOSIAL, kerana tentu lebih jelas lagi menggambarkan jurang kesenjangan sosial... Dampak perkembangan mental dan moral bagi anak-anakpun sebetulnya patut dicemaskan, karena si anak yg terbiasa di sekolah "MAHAL" akan terbiasa dengan perlakuan dan gaya pergaulan anak-anak kelas atas... Kepekaan dan kesadaran Egalitarian yg seharusnya berpotensi dididik sejak anak-anak menjadi sirna, demi alasan perolehan Pengajaran berkualitas tinggi, yang akhirnya lebih sekadar menjaga prestige ajah... Lalu apakah budaya interaksi anak-anak secara alami yg bisa belajar berbaur tanpa pandangan kelas sosial bukan pendidikan yg bermanfaat ???


Jelas Pendidikan sorang anak memang bukan sekadar pengajaran ilmu, tapi juga bimbingan moral/mental yg peka pada norma-norma sosial maupun keTuhanan, kemudian lansung belajar berinteraksi secara kondisi heterogen nyata... dan bukan menjadi EKSKLUSIF. Sebenarnya semua punya jalan tengah... tidak ada salahnya jika anak-anak tetap bersekolah pada sekolah rakyat basa, agar tumbuh kepekaan sejak dini pada kondisi masyarakatnya sendiri, nah... sisi pembinaan keilmuan yg dirasa masih kurang dapat dipenuhi dengan sekolah/kursus tambahan lain
(musik, matematik, tari, agama, or) kan ? Harapannya generasi bangsa di masa depan nanti, jauh menjadi cerdas dan tegar baik dalam moral/mental/spiritual dalam MOTIVASI memperjuangkan ISU-ISU EKOSOSPOL demi kemaslahatan "orang" banyak. Dan ini bukan perjuangan sekali jadi pren, Orang tua perlu jadi tauladan dan berani koreksi diri.. itulah yg dihargai anak-anak kite kelak, bukan sekadar "HARTA" atau gelar "RAJA" doang prendz...