Ingin memahami hidup yang ribet ini? Seimbangkan kadar Spiritual,Emosional,dan Intelektual buat mencongkel rahasianya...
Barangkali ada sering terdengar dari orang lain, atau diri sendiri berucap penasaran masalah takdir atao nasib kite selama hidup ini... Macem-macem emang pendapat dan persepsi orang rupanya. Ada yg terkait soal pemahaman agama masing-masing, ada yg bertolak dari falsafah keilmuan ilmiah yg mayoritas pada akomodasi nalar, ada juga yg campur2, malah ada pula yg berpendapat nikmati apa aja selagi hidup, masalah mati soal nanti... heheheh. Tapi soal Nasib dan takdir ini biasanya menguasai hati dan menghantui pikiran, kalo kite pas lagi ketimpa masalah diluar dugaan, lalu mentok ... Lucunya kalo pas sukses gemilang, manusia biasanya lebih sering bilang,"ini memang buah usaha dan kepandaian saya..." Hehehe begitulah manusia :)
Memang sih gak ada salahnya mengetahui lebih dalam hal ihwal soal takdir, nasib, suratan dan lain sebagainya, Pendapat umum kan TAKDIR itu sesuatu yg jadi suratan tak dapat diupayakan lagi, pendek kata ini haknya Tuhan, sedangkan NASIB itu suatu kejadian yg berlaku berdasarkan pilihan-pilihan yang diambil manusia. Yang sering jadi masalah, malah kapan kite orang bisa tahu PASTI mana yang jadi TAKDIR mana yg cuman NASIB heheheh.
Kenyataannya memang umumnya masyarakat kita ini jika getol mendalami sesuatu, suka lupa sama hal ihwal kewajiban yang lain dan jauh lebih penting pulak, APA ITU ? yaaa itu dia Kualifikasi Ibadah, Ikhtiar dan Ikhlas… Soalnnya tanpa “eksplorasi” 3 hal tsb, yg keliatan malah Mudlarat (negatif) nya persepsi manusia soal takdir dan nasib itu sendiri, ketika manusia ini terbentur pada konflik yg rumit dan seolah2 mentok, maka dengan mudah cenderung memunculkan soal nasib dan takdir sebage kambing item, malah juga kambing conge’… *mbeeeeek*
Justru dengan memahami 3 masalah yang lebih krusial itu, maka persepsi soal takdir dan nasib itu (insya Allah) bisa difahami dalam kalbu masing2 pribadi, walau syusyah banget dan cenderung mengundang perdebatan ajah jika harus dinyatakan dengan proses verbal. Sebenernya fenomena takdir atau nasib seseorang itu adalah hanya salah satu saja fasilitas kemudahan yang diberikan Tuhan buat masalah hidup yg paling pribadi masing-masing makhluk. Nikmatnya dimana? Begitu sukar dijelaskan … seperti halnya Apakah kenikmatan tidur itu ? dibilang enaknya pas bangun tidur, gak jelas juga soalnya itu berarti kenikmatan bangun tidur? Dibilang ketika ngantuk mau tidur, itupun nikmatnya ngantuk! Mimpi? Iya kalo mimpi enak, itupun pas mimpi orang kan gak berasa tidur? Nahhhh ribet kan? Itu baru soal persepsi sepele ttg apa enaknya tidur … bagaimana pula persepsi yg lebih makro seperti nasib dan takdir ?
Makhluk dan benda lain selain manusia di dunia ini tidak diberkati hawa nafsu dan kemampuan berfikir, juga sudah memiliki pemahaman bulat-bulat soal nasib dan takdir dalam ROM-BIOS mereka masing2 tanpa tawar2 dan pertimbangan… Buat manusia ? inilah seninya mengelola batin dan daya berfikir diuji dengan berbagai umpan hawa nafsu. Karena kelebihan manusia itu, maka diri mereka sendiri menuntut pemahaman nalar atau wujud eksklusif soal takdir dan nasib hidupnya di dunia. Kenapa ? yaaa karena kelebihan manusia itu juga, terjadi naik turun kinerja dan kualitas Ibadah (bersama TUHAN utamanya) --> Ikhtiar (Upaya/Perjuangan hidup) --> Ikhlas (karena TUHAN juga akhirnya). Mbulet ya ? Hahahah itulah canggihnya manusia, mangkanya tujuan dan pemahaman apapaun soal hidup ini sangat bergantung pada keseimbangan siklus Spiritual --> Emotional --> Intelektual setiap individu.
Oleh karena itu pemahaman secara mendalam soal arti dan fenomena hidup semesta nggak bisa sekadar ditinjau dari sisi nalar (intelektual) semata, karena tidak akan pernah diperoleh pemahaman yg pasti dan cocok untuk semua. Justru keunikan manusia memang pasti melahirkan keunikan jalan pemahaman dan eksplorasi hidupnya masing-masing… Nah agar berbagai manusia itu dapat hidup dalam lingkungan mudlarat yg minimalis menuju maksimalisasi manfaat sosial ??? cari + laksanakan + pahami : Ibadah --> ikhtiar --> ikhlas : yang paling benar, mulai dari keberanian pemahaman dan koreksi diri sendiri.. barulah kpd lingkungan yg terdekat, okeh prendz? Semoga jadi wacana yg baek buat dipertimbangkan... Masalah setuju atau kagak, itu mah biasa :)~