Pada suatu waktu, ketika gue asik bin sibuk deliveri/jualan jajanan (sambilan) setiap-hari di kantor, tiba-tiba ada beberapa prendz yang bersimpati dengan usaha sambilan gue ini …kasih sumbang saran, agar gue secepatnya bisa mencari "pembantu operasional", buat jaga-jaga sekali waktu gue harus OFF, maka proses jual jajanan ini kaga terganggu kinerjanya alias teteb BERJALAN memperoleh OMZET... Gwe memang sempet berfikir sebentar, mengingat-ingat sesuatu kondisi yang mungkin oernah gue alami sendiri... Misalnya: Kalo gue enggak sehat atau harus sibuk berat dengan tugas-tugas kantor yg kritis, maka mau gak mau performa jualan dan kepuasan konsumen gue pasti bakal terganggu... karena waktu/tenaga/pikiran gak bisa disambi apalagi didedikasikan penuh ke Jualan, bahkan mungkin gue harus OFF jualan padahal konsumen lagi pengen jajan, atau jadi telat banget deliverinya... Sangat rapuh!
Akhirnya muncul kesimpulan, bahwa memang ada benernya bahwa "ideal" suatu proses bisnis memiliki jenjang dan kinerja operasional yang stabil dengan atau tanpa keterlibatan lansung sipemilik ide/bisnis. Bahkan gue pernah baca suatu pendapat seorang wiraswastawan kawakan,bahwa Belumlah berarti memiliki BISNIS yang sejati, jika yang dianggap bisnis tsb belum mampu menghasilkan pendapatan ketika sipemiliknya sedang "tidur", melainkan sekadar Pekerjaan yang dibuat-buat sendiri. Diperjelas keparahannya lagi menjadi, sekadar Pemilik Bisnis yang merangkap sekalian Pekerja Profesional yang digaji oleh dirinya sendiri pula..., Alamak sudah begini repot Jualan dan marketing Jajanan begini rupa, eh eh eh ternyata secara teoritis aja memang belon layak dibilang mekanisme bisnis yang bener... huahahhaha ;
Tampilan proses bisnis yang dijembatani via komputer, email, website, jalur internet, paket delivery yang memuaskan konsumen ternyata masih belum cukup merubah kesan TRADISIONAL menjadi BISNIS yang MODERN, tanpa pendidikan/pengelolaan manajemen kerja yang MODERN pula... Apa pula definisi modern ? Yaitu dampak proses dan beban proses bisnis yang relatif lebih efisien dan efektif baik dalam bingkai Sumberdaya keuangan, manusia, kebijakan/resiko, dan Value-Chain. Beberapa langkah penting muncul sebage upaya mengubah bisnis kecil menjadi lebih efisien dan efektif bisa dideploy sbb.:
- Kaderisasi : Keberanian merubah bisnis yang bercorak one man show, otoriter pada tahap perintisan usaha, kearah suasana lebih demokratis pada tahap lebih mapan, dengan pemberdayaan/pendidikan tim kerja dilindungi sistem & policy yang aman-nyaman bagi pemilik bisnis ataupun pekerjanya...
- Visi Bisnis : adalah visualisasi tujuan masa depan bdsk kondisi dan tantangan terkini dari bisnis itu sendiri... sosialisasinya harus gambaran proses sehari-hari yang nyata kemudian dapat dikonversikan menjadi NILAI yang "tak pilih kasih" & STRATEGI yang lebih membumi menghadapi TANTANGAN makro. Dengan proses komunikasi yang tepat & teladan kepemimpinan yg penuh komitmen, maka VISI makin mampu manyatukan Pemilik, Partner & Pekerja bisnis dalam motivasi, semangat juang & rasa memiliki yang kuat. SEHATI ditimpa SUKA dan DUKA...
- Kreatifitas & Cinta : Seorang enterpreuner cenderung memiliki ide-ide yang melimpah dalam berkreasi menciptakan peluang-peluang bisnis yg meningkatkan pendapatan. Kelebihan ini seharusnya diupayakan mampu diturunkan kpd berbagai pihak dalam lingkungan bisnisnya... Dampaknya kreatifitas yang membanjir dari seseorang, kemudian berani dikelola dan dipertimbangkan lebih matang & terstruktur dalam tim-tim yang ada akan lebih meningkatkan motivasi dan variasi kerja dengan nuansa-nuansa baru yg lebih realistis dan menghidupkan suasana... Ujung-ujungnya perjuangan bersama spt itu menumbuhkan bisnis dengan pola-kerja bersemangat "cinta" & kebersamaan yang pekat... Mutu produk/jasa yang dihasilkan menjadi lebih berkelas dan inovatif...
- Marketing & Networking berorientasi Pelayanan : Penting buat Bisnis kecil untuk memperkenalkan produk/jasa mereka ditengah persaingan dengan pemodal yang begitu kuat. Oleh karena itu terobosan yang paling jitu adalah mengupayakan marketing bdsk prioritas pelayanan konsumen yang prima... dan bukan OMZET yang jadi prioritas UTAMA. Keuletan dan Kekuatan Pelayanan konsumen mampu mendongkrak kepercayaan mereka lebih kuat ke HATI KONSUMEN: IMAGE BRANDING, selain memperoleh inputan yang berharga, juga mampu memancing calon-calon rekan bisnis berkualitas untuk menawarkan pola kerjasamanya yg terbaik : NETWORKING... setelah itu dengan sendirinya OMZET akan bertumbuh.
- Jangan terlalu Repot & Serakah : proses integrasi bisnis secara vertikal dari hulu sampe hilir (konglomerasi kolot) udah kaga sesuai jaman, selain ruwet dengan bertele-tele masalah yg sebenernya bukan fokus bisnisnya, bakal kelabakan pulak diterjang komplain eksternal karena begitu banyak celah yg dibuat sendiri dari proses internal yg menyeluruh begitu. Oleh karena itu metode OUTSOURCING/ de-Integrasi jadi upaya utama mengurangi keribetan kegiatan dalam value-chain system, dengan belajar percaya/kerjasama/bagi-rejeki dg calon-calon rekan usaha yg lebih spesifik dan berpengalaman dibidangnya. Manfaatnya jelas sangat signifikan, terutama dimasa krisis dan persaingan ketat kaya gini:
Kualitas produk/Jasa lebih terjamin: karena pd bbrp proses yg kritis telah diserahkan kpd rekan bisnis yg lebih ahli dlm tahap pekerjaan tsb.
Fokus ke Bisnis Utama: Keruwetan yg bertele-tele/makan ati digantikan dengan keleluasaan berkreasi di bisnis/keunikan utama, sehingga timbul peningkatan daya saing yang menyolok.
Resiko Bisnis terbagi: Adanya resiko kegagalan mutu/kinerja proses disatu mata rantai, tidak menjatuhkan proses selanjutnya. Malah gampang aja melepaskan rekan bisnis yg gagal dengan mencari rekan bisnis spesialis baru yg lebih kompeten
Struktur Organisasi Gesit Lansing: Berkurangnya beban kerja yang neko-neko membuat Bisnis menciptakan organisasi yg ramping dan lincah menghadapi tantangan. Akhirnya kecenderungan beradu gede-gedean asset bisa diarahkan jadi lebih fokus pada beradu efisiensi kerja, ujung-ujungnya maen gede-gedean profit.. lebih produktif kan?
Proses Bisnis lebih singkat/sederhana: Ini jelas, karena berbagai tahap dari proses bisnis rumit yg bukan spesialisasinya dg segera di outsource ke pihak-pihak lain yang lebih ahli dan siap infrastrukturnya... Pokoknya Jangan sampe REPOT,Kalo emang bisa digampangin, ngapain juga dibiarin Keribetan?
Menciptakan jalan sukses yang lebih lebar: Konglomerasi kolot nan serakah memang nasibnya mampus, dan gantinya mungkin sebuah Konglomerasi yang terkait pada jalur pemasaran diberbagai segmen... Pintu Sukses & Keuntungan pun lebih luas, selain buat bisnis inti yg lebih terkonsentrasi daya saingnya, juga bidang bisnis lain yg selama ini bekerja sama bakal kecipratan untung yang gak kecil kan?
Busyet dahhh... kalo udah dijembrengin gitu, terasa banget upaya gue saat ini masih jaoooooh jalannya ... Gue cuman berdoa semoga makin sabar dan kaga mati angin ditengah jalan tuh :)) Ternyata mengupayakan enterpreunership/bisnis yang benar-benar exist dan tertib terkendali bukan maen-maen sulit dan sabarnya... Lagipula mana ada jalan yang mudah buat menebus harga kesuksesan ? Nekad ngikut pesugihan atau giat-giat menjilat penguasa pun ternyata gak kurang makan atinya... hehehe Selamat Berjoang Bung!!!