Citarasa suka-duka apa aja sih yang kite rasakan sebagai orang kota ? Hmm pasti ada yang bertanya relevansinya apa timbul pertanyaan seperti itu ? Runtutannya cukup rumet sebetulnya buat mutu isi kepala yg serba pas2an kaya gue, tapi yang paling jelas awal dan dampak akhirnya kearah transformasi perilaku dan cara berfikir manusia juga ya... Jika dijelaskan bdsk aktifitas ekonomi, sebuah Negara geografi/bangsa tertentu memiliki budaya/kekuatan tertentu (ekosospol) yang didukung oleh perilaku dan kemampuan bangsanya sendiri dalam pengelolaan berbagai sumberdaya alam & manusia itu sendiri.
Pusat-pusat kegiatan dan pertemuan manusia dari berbagai pelosok dalam mengupayakan peningkatan nilai ekonomi dan kemakmuran kemudian membentuk KOMUNITAS KOTA, dan hasilnya kemudian menyebarlah ke wilayah lain baik dalam satu Negara (domestik) maupun berbeda (internasional). Interaksi yg meningkat secara akumulatif memberikan perembesan pengaruh budaya dan berbagai sharing hal-hal baru, yang jelas muncul perbaikan dan kemudahan di berbagai sisi kehidupan masyarakat dalam menjalani hidup, sehingga harapan nilai kemakmuran jauh lebih cepat dan mudah diperoleh, walaupun seringkali tidak harus lebih murah dari sisi "biaya", karena muncul komplikasi transformasi kelas sosial dan budaya yang gak berujung. Inilah yang dirasakan sebagai MODERNITAS RELATIF yang selalu dikejar manusia dari abad ke abad...
Setelah berabad-abad manusia berhasil memajukan dan memudahkan kerja manusia dengan berbagai ilmu-ilmu yg mendasari lahirnya "mesin-mesin" ekonomi & industri, kini sadar atau tidak ... ternyata begitu besar tanggung jawab dan polemik manusia menghadapi kegairahan abad modernisasi yang makin agresif ... Paling nggak itulah yang gue simak dari Intisari 3 buah buku yang sangat menarik: 1. "Melampaui Positivisme & Modernitas" (Hardiman,F.Budi, Maret 2003), 2. "Neo-Liberalisme" (Wibowo, I & wahono, Francis, Feb 2003), dan 3. yang terakhir "High Tech - High Touch" (Naisbitt, John, 1999) Entah Sengaja atau enggak, emang nasib atau sudah takdir... keliatan suatu alur yang searah dari ketiga buku tsb. Garis besarnya mebentuk siklus: gejala/dampak modernitas manusia --> pasar-bebas/neoliberalisme pencipta kesenjangan --> badai informasi/ teknologi yang memabukkan. Tentunya kaga bisa detil dirinci hikmahnya, kecuali prendz berminat membacanya sendiri heheheh... Tapi gue gak bisa menahan untuk menulis garis besar kesan yang kuat dari penelusuran ini prendz...smoga berkenan...
Dalam nuansa yang lebih optimis, sebenernya Modernitas memiliki titik tolak yg ingin menjawab kasus-kasus kemanusiaan...:
- Modernisasi, mengandaikan adanya kesadaran untuk memperhatikan soal hak, hak asasi, fungsi ilmu pengetahuan, otonomi pribadi, dan demokrasi.
- situasi dan kondisi yang modern bakal mewajibkan berkembang-biaknya sikap kritis manusia dalam menjalani hidup.
- Modernisasi mengidealkan terjadinya berbagai perubahan signifikan dan terukur secara kualitiatif.
Interaksi ekonomi dan pembatasan pasar dalam perlindungan hukum-hukum lokal geografis suatu negara mulai terlepas sedikit demi sedikit, lalu berdampingan dengan makin santernya implementasi politik menuju Globalisme perdagangan dunia, itulah dia Neo-Liberalisme. Katanya francis Wahono,"Neo Liberalisme dengan sistem pasar bebasnya bukan melahirkan kebebasan dan kemakmuran bersama, tetapi hancurnya tatanan seluruh aspek kehidupan." NeoLiberalisme mewarnai Jaman baru ketika kapitalisme memiliki bungkus yang tercanggih dan radikal untuk menghisap enerji dan kapasitas kehidupan kaum yang lebih lemah. Dengan adanya dukungan teknologi dan informasi canggih,kekuatan kapitalis global maupun domestik bergotong royong mengeruk abis-abisan kekayaan Hasil Bumi dimana-mana. Iming-iming muluk diperolehnya kemakmuran global SEOLAH-OLAH lebih cepat terwujud. Sayangnya setelah sekian lama bereaksi dan bersintesa dalam kiprah duniawi yang fana ini, KOK BISA BEGITU ???
Kite cuman mampu melihat kalo kredo kapitalisme pasar bebas begitu cepatnya tersiar ke seluruh pelosok bumi menumpang pada kendaraan teknologi media & komunikasi, yang mana "cikal bakal" dan "buntut"nya lebih dikuasai/dikendalikan pihak-pihak berkuasa dan bermodal kuat saja tentunya... Lalu dipake deh badan-badan dunia seperti IMF & WorldBank (sbg NeoLiberalist Institusi penyedia kredit International) untuk mensosialisasikan "Washington Consensus", supaya semangat kapitalisme ini dapat disusupkan secara sadar/kaga ke dunia-dunia Amerika-latin, Afrika juga Asia-Timur... Ketika komunisme harus rontok pada era Gorbachev, enggak ketinggalan Rusia pun jadi mangsa IMF karena hampir bangkrut.. Dengan begitu Kapitalisme telah berhasil menginjak kemenangan mutlak thd ideologi extrim kiri musuh bebuyutannya: komunisme...
Daya tarik perolehan keuntungan dari pasar yang lebih besar dan lebih bebas ternyata menarik minat beberapa negara berkembang lebih komitmen mengidap doktrin kapitalisme pasar bebas. Kenapa ? Soalnya gejala globalisasi terjadi pada makin cepat dan mudahnya proses perpaduan individu-individu dalam transaksi internasional (akses informasi, dagang, kerjasama) dengan pihak/institusi dari latar-belakang ekosospol yg berbeda-beda. Latar belakang yang kondusif berasal dari faktor-faktor:
- Transformasi pertumbuhan ekonomi bdsk kebijakan pemerintah ke arah Perkembangan modal/keuntungan oleh kebebasan mekanisme Pasar,
- Teknologi komunikasi/media memudahkan koordinasi produksi & pemasaran pada kisaran global (contoh: e-commerce).
- Keprihatinan atas Kesenjangan/ketidak-merataan distribusi dari manfaat Globalisasi ekonomi itu sendiri. Misalnya: Pada tahun 92 aja, sepatu Nike perlu biaya 5,6USD saat "assembling" di Indonesia, dimana buruh-buruhnya cuman dibayar 1,35USD/hari, nah pas dijual di Negara "kaya" harganya bisa melonjak hingga 40-60USD, dan biaya marketing Nike sendiri bisa habis 20Jt.USD buat bayar Michael Jordan sebagai image promosi jor-joran.
- Kaga ada satupun yang bisa "mengendalikan" mekanisme globalisasi/neoliberalisme ekonomi ini... Semangat Modernisasi yang luhur telah menciptakan kecanggihan teknologi demi "membantu" kemakmuran manusia, sedangkan Dampak Kebebasan semu dari hasil eksploitasi manusia thd teknologi demi kemakmuran semata, ternyata malah menghasilkan MODERNISASI HUKUM RIMBA semata... IRONI :)
- Munculnya kecenderungan masyarakat menuntut solusi "kilat" dari berbagai masalah; Tuntutan konsumerisme dan gaya hidup yg "terpaksa" diakibatkan penghambaan teknologi;
- Kerumitan dan anomali dalam membedakan kenyataan dengan kepalsuan (teknologi media);
- Masyarakat dipaksa menerima tindak "kekerasan" sebagai hal yang wajar (game,film);
- Latar belakang Ketersediaan Teknolog bukan fungsional semata tetapi MAINAN yang memanjakan hawa-nafsu konsumerisme.