Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, June 25, 2003

SAKIT dan PENYAKIT pertanda KESIALAN atau PELAJARAN ?...

Menjadi “pesakitan” rupanya memang sering jadi corak “kesialan” hidup tersendiri buat kebanyakan orang. Stamina menurun, kondisi fisik melemah terserang penyakit, dan fikiran menjadi berkurang pula stabilitasnya. Aktifitas normal yang biasanya berkutet seputar pergaulan mencari nafkah pun terganggu. Terbayanglah, boss yg bertanya-tanya atau mungkin keki karena terpaksa kite gak terutilisasi seperti biasanya. Mungkin ada juga rasa masgul, karena yakin ada orang yg senang dengan kondisi ini dan was-was mereka mencari keuntungan darinya. Yang dasarnya pengusaha, terfikir hambatan-hambatan ekstra yg menahan antusiasme menggali potensi bisnis yg menanjak, atau kesal karena bisnisnya makin menurun karena sakit. Buat kelas sosial yg lebih rendah, momoknya jauh lebih parah, masalah sakit prioritasnya jauh lebih kecil daripada kekuatiran tentang biaya berobat darimana didapat, walau sekedar periksa-periksa ?

Diatas itu baru jadi contoh jika diri sendiri yg harus jadi pesakitan, ada pula kasus dimana keluarga atau kolega terdekat yang menjadi sakit… Hubungan emosional yang dekat cenderung berdampak tekanan perasaan “sial” yang sama… “Kesialan” yang berlandaskan pada potensi kerugian moral seperti kemungkinan kematian, cacat dan timbulnya depresi, juga potensi kerugian material seperti pengeluaran biaya tak terduga, kehilangan waktu potensi sukses (belajar/kerja/bisnis), dan kelelahan fisik tentunya…

Akhirnya yang dipikirkan adalah mengasihani diri sendiri, dan menyesali “kesialan” yg seolah-seolah kaga pengen tumbuh mulusnya kesuksesan kita yg baru muncul, atau mungkin bersorak dengan keteperosokan kita yang makin dalam. Setelah itu, jauh didalam relung hati pun sangat mungkin kita menjadi sibuk bertanya-tanya: ini salah siapa; karena apa; dan mungkin kutukan darimana ? Kita jadi lebih bersikap inward looking (bertahan dalam kecemasan sendiri) terhadap berbagai bayangan “gak enak” , sebelum akhirnya mengalami sindrom inferior alias rendah diri. Ketika bayangan buruk tersebut jadi kenyataan jadilah depresi yang menyulut penyakit-penyakit lain, ya mental (fobia) ya fisik (psikosomatis).. walaupun pada kenyataannya jarang masalah ini muncul kasat mata.

Penyakit yang mau gak mau kita idap, sebetulnya bisa jadi cuman termasuk penyakit ringan. Yang justru terasa sangat mengganggu dan makin terasa parah ketika mental bener-bener gak siap mengantisipasi . Akibatnya daya tahan fisik kita jadi jauh lebih menurun dari yang seharusnya… Loh? Apa hubungannya kesiapan mental dengan daya tahan fisik? Bukankah kalo emang penyakitnya berat yaaa berat aja dampaknya … dan kalo badan akhirnya makin lemah dan loyo yaaa sah sah aja tentunya !

Rasanya gak ada yang salah dari pandangan seperti diatas… Namun perlu diketahui, bahwa Jasad Manusia hidup itu berfungsi normal dikendalikan oleh Kesadaran fungsi Otak (Akal/Budi), sedangkan Otak dan Jasad mampu hidup karena ada energi kalbu (ruh). Oleh karena itu cukup beralasan kiranya, jika seseorang yang sakit perlu diupayakan optimisme dan semangat hidup yang tinggi, baik bersumber dari kesadaran dari diri sendiri (jauh lebih baik) maupun dari lingkungan terdekatnya. Karena itulah muncul banyak pendapat dari para ahli psicho-therapy atau pengobatan alternatif yg berkesimpulan bahwa, keyakinan spiritual yang baik, mampu meningkatkan sugesti dan rasa “aman” yang menenangkan , sehingga kondisi ini dianggap menjadi 50% potensi kesembuhan, yang mana selanjutnya dilakukan upaya-upaya pengobatan secara fisik/kimiawi.

Tentu saja menenangkan diri sendiri pada saat sakit bukanlah perkara mudah, terlebih mencoba menghibur orang lain yang sedang sakit. Pada budaya populer dan science seperti saat kini, manusia seringkali hanya bergantung pada Kekuatan rasional yang menerbitkan teknologi kedokteran dan pengobatan mutakhir berorientasi science. Dan menampik adanya kekuatan yg lebih besar daripada sekadar kreatifitas otak manusia ( unsur materi dari hidup manusia ). Apakah ini akan mengarah pada spiritualisasi hidup ? tidak sepenuhnya bener, karena sekadar pertanda, bahwa sebenarnya obsesi kemapanan dan kemakmuran hidup manusia tidak akan dapat terpenuhi jika mengabaikan faktor spiritual ( unsur anti-materi hidup manusia ). Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu disadari sepenuhnya sebelum diri sendiri atau orang-orang yg terdekat benar-benar sakit diuji penyakit:


  1. Sepanjang sejarah Manusia, sesehat apapun akan menghadapi kematian, dan tidak ada satupun manusia yang siap sepenuhnya untuk mati;
  2. Yakinlah bahwa selalu ada kekuatan yang Maha Besar menguji komitmen dan ikhtiar hidup kita, dan salah satu ujian itu mungkin saja serangan penyakit ringan atau berat;
  3. Tidak ada kesehatan, kesempurnaan dan kemapanan absolut selama kita hidup dalam dunia yang fana;
  4. Penyakit dan Sakit harus disikapi sebagai sebuah tantangan bukan kekecewaan, dan dihadapi dengan kesabaran bukan ketakutan;
  5. Penyakit dan Sakit perlu diproyeksikan sebagai impulse introspeksi diri atas kelalaian kewajiban sosial, dengan begitu motivasi untuk segera memperbaiki diri dan semangat hidup dan kesembuhan menjadi lebih tinggi.
  6. Betapapapun cerdasnya manusia, kita tetap makhluk ciptaan dari Yang Maha Kuasa, untuk itulah perlunya berdoa dan merendahkan diri padaNya.
  7. Kekurangan apapun dari hidup ini perlu ditentang sekuatnya dengan wujud rasa syukur, karena harus diyakini banyak sekali kelebihan/pelajaran berguna yang tersembunyi.

Bagaimanapun tulisan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah dihadapanNya… semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan, kesabaran dan melindungi dari segala kehinaan Duniawi… Amin.