Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, June 04, 2003

MALAS MEMBACA SESAT DI DUNIA...


Pagi ini dalam suatu kolom opini koran warta kota ... ada kutipan yang sangat menarik disimak dari ucapan mantan presiden amerika Richard M Nixon,... bahwa jangan terlalu berharap lahirnya Pemimpin yang berkualitas pada era Televisi abad ini, Karena televisi membuat manusia cenderung berfikir pasif karena makin malas membaca... Tentu aja gue kaget prendz.. bukan, bukan karena yg ngomong pesimis itu seorang presiden amerika yg termasuk kontroversial... Tapi karena berdasarkan banyak informasi media dan analis pendidikan kite selama ini, diketahui bahwa secara statistik sebahagian besar Generasi Muda Indonesia dihinggapi MALAS MEMBACA BUKU... apalagi yang namanya SEJARAH... nah lo cocok kan?


Dalam persepsi awam, disadari memang televisi dalam misi/visi dan operasinya jelas bercorak bisnis murni yg dijejali keterbatasan modal/ waktu/ teknologi/ selera/ kepentingan... dengan demikian berbagai tayangan dan informasi akan muncul INSTAN dan harus menghibur PENONTONnya...Yang bersifat menghibur jelas mengupayakan PENONTON memperoleh kesenangan/ kenikmatan/ kepuasan belaka, mereka dimanjakan PERSEPSI jadi (pasif), tanpa harus mengalami susahnya mengeksplore pencarian makna (aktif) yang lebih hakiki. Oleh karena itu jika tidak selektif terhadap acara TV, maka generasi muda yg penuh gejolak ingin tahu itu akan BABLAS mencapture begitu aja berbagai doktrin dan aneka persepsi dari tayangan2 acara TV, yg seharusnya perlu bimbingan intensif dan dicerna mendalam. Jika generasi muda ini terbiasa menunggu dan pasif menghadapi tantangan masyarakatnya yang begitu dinamis, bagaimana pulak kite mengharapkan suksesi kepeminpinan masa depan yang kreatif mampu menjawab persoalan bangsa?


Lalu apa ruginya berfikir PASIF ? Soal untung rugi secara individu emang gak signifikan, yang jelas cara berfikir seperti ini mendorong seseorang untuk sekedar memperhitungkan, memaksakan "KEMUDAHAN" berbagai masalah berdasarkan sisi pandang yang diinginkan atau ybs ketahui ajah, kemalasan menghadapi resiko perjuangan idealisme secara nyata .. Akhirnya SOLUSI yang dihasilkan tidak menyeluruh dan biasanya overlap dengan kondisi-kondisi lain yang sebelumnya "diabaikan": TAMBAL SULAM. Semua ini akibat sempit dan terlampau sedikitnya wawasan dan wacana yang dimiliki, sehingga makin sedikit pula NYALI dan kadar INTELEGENSIA yang ada. Nah kalo udha begini tentu terasa GETIRnya ketika kePASIFan muncul secara nyata dalam kondisi masyarakat yang heterogen, apa lagi kalo sosok dan struktur kepemimpinan yang telah diberi mandat tidak kuasa menjadi tauladan...


Ayooo sebentar menengok sejarah perjuangan, mungkin kite terkagum-kagum pada sosok Pemuda Pejoang era Budi Utomo (1909), Sumpah Pemuda (1928) dan Menjelang Proklamasi (1945). Ketika pada tahun 1904, Gubernur Jenderal Van Heutz membuka politik ethik terhadap penduduk kolonial hindia Belanda... Maka terbuka banyak peluang pemuda-pemuda untuk belajar berbagai keilmuan dan wacana ekonomi/sosial/politik dari luar.. walau saat itu hanya terbatas pada pemuda-pemuda turunan ningrat, dan orang-orang kaya (aristokrasi, borjuis). Mereka dibanjiri oleh BUKU-BUKU bermutu dan KORAN-KORAN internasional/domestik yang membuka kungkungan adat/budaya yang selama ini jadi patokan satu-satunya... Hingga wacana., motivasi, dan semangat eksplorasi yang kaya dari kegiatan membaca BUKU saat itu, memberikan banyak informasi dan inspirasi para pemuda saat itu untuk berani mengupayakan perjuangan perubahan tatanan sosial masyarakatnya yg terbelakang, sehingga akhirnya 17-Agustus-1945 mampu memperoleh kemerdekaanya. Begitu besarnya dampak buku bagi nyali, motivasi dan isnpirasi perjuangan manusia ke arah yang lebih baik... KArena pada dasarnya manusia perlu referensi, wacana dan wawasan terbuka yang secara aktif memberikan keleluasaan pemikiran menghadapi komplikasi beragam masalah. Akibatnya allternatif-alternatif solusi yang akurat dan matang memberi warna pengambilan keputusan yang bijak dan tepat sasaran... Begitulah harapan besar masyarakat di pundak generasi muda... SUKSESI kepemimpinan masa depan.


Kesadaran meningkatkan minat BACA BUKU pada orang muda bukannya tidak disadari pemerintah, praktisi informasi dan pendidikan... memang banyak melakukan trial error berbagai metode tentang Proses berfikir Aktif dan Membaca Aktif... Salah satu metode yg dulu pernah populer adalah CBSA = Cara Belajar Siswa Aktif... yang realisasinya ternyata GAGAL karena berbagai hambatan tidak lansung... Seperti krisis ekonomi yang menyebabkan mahalnya harga buku, dan kurangnya kreatifitas mengemas buku-buku ilmiah kedalam format yang lebih populer agar "tidak disegani" kebanyakan selera orang muda... Walaupun begitu ada perkembangan yang menggembirakan tentang daya tarik masyarakat pada penerbitan buku-buku bermutu... Pada event-event pameran buku selama 2-3 tahun terakhir, gue simak sendiri betapa ramainya khalayak ramai mengunjungi pameran dengan berjejal-jejal, bahkan bersama anggota keluarganya... selain semakin banyaknya tema kreatif dari buku-buku yang memancing minat masyarakat, dalam pameran tersebut para penerbit makin berani memberikan diskon yang menarik sehingga layak untuk segera dibeli... Tentu akan lebih baik lagi dalam event-event yg mendatang, program perkembangan minat baca buku ini dipicu dari lembaga2 formal pendidikan melalui kurikulum-kurikulum yg lebih memacu kreatifitas dan penelitian.. .DAN lebih penting lagi KEBERHASILAN restrukturisasi rekonomi dan regulasi industri percetakan yang mampu meminimalisasi biaya pendidikan bermutu, juga BUKU-BUKU yang berkualitas.


Kemajuan era Informasi melalui berbagai media elektronik (TV,RADIO,INTERNET) memang sudah suratan takdir yang kaga bisa ditentang. Namun Cenderung menjadi keharusan, bahwa segala wacana yang diterima dari TV,RADIO,INTERNET memrlukan pengkajian lebih lanjut, memicu semangat eksplorasi dan penelusuran lebih lanjut melalui PENINGKATAN BUDAYA MEMBACA BUKU. Moga-moga dengan begitu tanggung jawab perjuangan memperluas dan meningkatkan kecerdasan bangsa menjadi kesadaran seluruh masyarakat... Terlebih lagi mampu meningkatkan Kecerdasan dan Kebijakan Para Pemimpin masa depan, yang problematikanya bakal jauh lebih ribet lagi.. SEMOGA :).