Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, June 04, 2003

SOLUSI EKSLUSIF DALAM POLEMIK ISU-ISU SOSIAL, MEMASYARAKATKAN ATRIBUT KEAGAMAAN ATAU KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ?...


Mungkin memang sudah takdirnya sejak bayi gue menjadi ISLAM dan dilahirkan oleh IBU dan BAPAK yang sejarahnya ISLAM pula... Hanya saja begitu usia bertambah, pemahaman peran & kedudukan "ideal" agama sebagai pembimbing hidup manusia, mule gue jumpai berbagai benturan dan konflik diantara kelas sosial masyarakat domestik ataupun Internasional. Pada strata Sosial kelas Atas terjadi kristalisasi pemahaman dan kultur bahwa Agama berpihak pada pemegang amanat kekuasaan (ningrat) seolah layak jadi Dewa kagetan... sedangkan pada strata kelas bawah (grass-root) pemahaman agama menjadi gantungan harapan/muluk-muluk akan mitos hadirnya Nabi-nabi kagetan pula... Strata ditengah (aristokrasi/priyayi) karena kelebihan intelektualnya ada 2 pilihan.. Jadi alat kekuasaan atau oposisi kekuasaan itu sendiri.. Godaannya pun berharap menjadi sosok Nabi Kagetan :)


Buat sejarah keterlibatan berbagai Agama dalam sejarah Nusantara, yang muncul justru ironi... bahwa masuknya kolonial begitu lama menjajah Nusantara, karena nilai essensi agama tidak berhasil dipahami dengan benar oleh para ningrat/priayi/rakyat setempat. Justru sengaja atau tidak Agama dimanipulasi jadi alat legitimasi kekuasaan mutlak yg mengukuhkan sosok Raja adalah Dewa dan sekaligus Hukum nyata demi Kekuasaan duniawi tentunya. Agama pun saat itu tidak mampu menahan pembantaian akibat perebutan kekuasaan, dan tidak mampu mencegah penderitaan masyarakat luas. Pertarungan elit memperebutkan raja atas dasar kekuatan Wahyu merubah dan memecah masyarakat beragama dimanapun pelosok nusantara, sehingga hanya bisa tunduk dibawah penjajahan Belanda :(. Barangkali atas dasar latar belakang sejarah seperti itu, rasanya Manusia yang secara eksplisit loyal taklid pada ajaran Agama justru sulit dipersatukan. Khususnya dalam kasus kehidupan ummat Islam yang muncul dari fenomena international/domestik malah saling benci karena delik-delik teknis/strategis antara aliran Syiah, Sunni, Jamaah, Islam Liberal dll., dalam tatanan sosial/politk yg seharusnya bisa mempersatukan misi/visi yg lebih universal.


Contohnya saja suatu polemik yg sudah lama berkutet tampa kesimpulan: POLIGAMI. Udah lama gue terima debat teknis dan adu kesahihan refrensi atau sosok tertentu yang mengarah pada KEADILAN GENDER atau BOLEH/TIDAKnya lelaki berPOLIGAMI seperti gini. Sayangnya kebanyakan memang cenderung mengutamakan pada referensi historis semata. Pihak yang dianggap oposisi dan menentang mayoritas dilecehkan tanpa respek, apalagi penilitian ilmiah lebih lanjut. Pendapat gue sendiri ? pada HAKIKATnya gue setuju bahwa poligami bukan untuk main-main, dipermainkan, atau wacana tempat bermain… apalagi sekadar bermain-main dengan pembenaran "nafsu kelamin" (sorry)… Dan banyak hal yang patut dipertimbangkan baik-baik yaaa analisa dari kelompok mayoritas (konservatif) atau kelompok pembaharu (modern/liberal), justru perbedaan yg begini yg namanya takdir yg penuh berkah dan melatih ummat untuk makin pinter menyusun strategi win-win yg low profile, lambat tapi nyata dan pasti hasilnya.


Gue pribadi justru udah lama "mangkel"/Bingung plus gatel dengan fenomena kekerdilan mental sebahagian besar ummat Islam ini… yg mana ketika terjadi perbedaan pendapat kecil atau besar masalah delik-delik ibadah dan persepsi ayat… yang menyolok malah hawa nafsu tuding dosa, bid'ah, liberal, diperbudak akal dan lain sebagainya… Padahal Proses proyeksi islam yg makna essensialnya kritikal perlu segera diimplementasikan dalam masyarakat luas malah keleleran. Contoh makro ya kite liat aja itu perpecahan politik OKI di timur tengah… selama2nya ribut sneggol-menyenggol dengan tetangga sendiri… jangan salahin kalo suksesi kepemimpinan perjuangan Islam makin KATRO, dan dengan pinternya pihak NEOKOLONIAL mengambil kesempatan menjilat jasa dan tetesan minyak bumi dari perpecahan seperti itu. Didalam negeri nggak kurang masalah… soal good governance & Penegakan hukum tanpa pilih bulu yg jadi inti kekuatan dan pelajaran pemerintahan Kalifaur rosyidin kagada beres2nya… malah Singapur, Cina, Malaysia dan Jepang jauh lebih berani belajar dan progresif…


Bbrp temen diskusi bilang, bahwa ummat ini sudah kelamaan terjebak pemberhalaan Quran & Hadist, bahkan Ulama ...demi pembenaran berbagai delik kekuasaan dan kesenangan pihak yg kuat… Banyak catatan sejarah yg melukiskan kekacauan kerajaan mataram era kejayaan Islam & sultan Agung sampai pecah jadi mangkunegaran dan keraton jogja… karena kekisruhan politik suksesi kepemimpinan, karena Raja-raja jawa kebablasan menggunakan ayat2 suci dan agama demi kuat2an kedudukan mereka. Suka gak suka , seneng atao gak citra kepemimpinan bangsa yg katanya negara islam terbesar didunia ini masih menganut kekerdilan mental raja-raja jawa.. Yg giat beratribut agama demi kekuatan pribadi… Sehingga sosok-sosok kritis dan oposisi yang harusnya memperkaya dan alat control kebijakan negara, malah dibabat habis. Itulah yg terjadi pada kisah babad tanah jawi.. Dari jaman amangkurat 1 sampai perang diponegoro.. Sehingga masalah keributan ummat yg gila kuasa/tahta/harta ini dengan mudah ditikung VOC (Kolonialisme) dengan profokasi bantuan dan diplomasi jilatnya yg canggih… dan tak terasa Bangsa akhirnya terjajah 450 tahun...


Ngelantur? Insya Allah enggak laaaa… gue cuman gak mau terjebak dalam dilema yg cenderung bikin bodoh dan melemahkan semangat, bahkan perpecahan. Dalam konteks krisis kebangsaan seperti saat ini, dimana ummat & pemimpinnya pun memang peka euforia & begitu terobsesi kuasa/ harta/ cinta bak raja-dewa-jawa, begitu mudah diobok2 dan diadu-domba dari luar-dalem, dan kaga terasalah IMF/ADB/CGI/WB (Neo-Kolonialisme) dengan tikungan niat bantuannya kembali mendikte nasib bangsa ini… Nah lo kemana lagi Intelegensia para Pemimpin Islam saat ini???. Harusnya para ulama dan peneliti sosial ilmiah memprioritaskan diri belajar banyak dari berbagai mekanisme Pemerintahan Nabi & Khalifaur rosyidin…Karena dalam berbagai naskah perjanjian warga negara dan pemerintah saat itu, justru para elit tokoh islam purba tsb justru tidak membawa agama secara eksplisit dihadapan masyarakatnya yg memang heterogen saat itu, tapi esensi dari nur islami yg kental tertuang baik dalam tauladan-kepemimpinan(leadership), hukum (law-makin) dan penegakannya (law-ernforcement). Ini juga yang bikin gue agak ambigu dengan wacana negara Islam… Negara Islam adalah Ideal Prima, nah realisasinya yaaa lakukan sosialisasi budaya, implementasi nyata dari Essensi nilai-nilai Islam itu sendiri dulu dalam tatanan sosial yg udah ada… Ulama , Pemimpin dan cendekiawan Islam memang udah gak bisa sekadar jual omongan kemana-mana, tapi malah bingung cari lokasi PANU dibadannya sendiri…


Gue bukan ahli soal ayat dan delik agama, juga belum cukup banyak membaca berbagai referensi yg relevan… Jadi celotehan gue disini anggap aja sekadar sharing unek-unek ajah. Persepsi gue... hidup di dunia ini adalah amanat dan titipan Allah SWT agar kita mampu berjuang menghadapi Ujian2NYA dengan ikhlas lillahi ta'alaa. Untuk itu ranah operandi Ibadah Ummat ada dua yaitu Vertikal dan Horizontal… keduanya reciprocal tak bisa terpisahkan, dan justru itu keadilanNya. Jadi jangan berharap hidup ini lancar dan mulus semata seperti di SORGA… Gejala dan masalah sosial ummat semacam poligami, negara Islam memang tidak terelakkan, jadi memang seharusnya ummat jangan bego-bego amat sekadar berpatokan/mendewakan pada kaidah ranah vertikal ( referensi ibadah sakral ) doang. Dinamisme dan perkembangan gaya hidup manusiapun adalah wujud takdirNya untuk menguji iman dan ibadah sosial manusia… Kalo gak begitu tentu Allah SWT mungkin mengijinkan umur Rasulullah hidup dan membiarkan Beliau menDIKTE kite sampai sekarang . Kenyataannya Rasul sejak dulu lebih memuliakan generasi masa depan yang iman dan pemikirannya teruji/terpuji walau Jasad Rasul tiada, oleh sebab itu beliau menangis haru menghadapi sakratul maut. Dan semua itu memang lebih gampang buka mulut, karena kenyataannya salah satu ujian terberat hidup kita saat ini adalah Relatifitas/Absolutisme Salah atau Benar ? Sekali lagi jawabannya hanya dengan Iman dan Ikhtiar yang ikhlas. Ikhtiar macam mana ? Tentu yg terkait dalam ranah Horizontal ( ibadah sosial/ekonomi/politik/science ). Kembali pada masalah konflik dilematis isu-isu sosial… Ulama, Pemimpin, dan Ummat harus belajar menghormati petunjuk empiris dari science yang bertujuan memberikan bantuan pemahaman maupun kritisi yg lebih ilmiah, demikian pula sebaliknya.. Sehingga yg terjadi adalah synergi dan saling complementary menuju peningkatan Kecerdasan Iman (ESQ) dan Intelektual (IQ) ummat sekaligus. Dan inilah Nilai HAKIKI dari istilah MODERN HUMANITY.


Manusia ini sering gak sadar, bahwa pembenaran tindakan Pengkhianatan / Character assasination satu sama lain dalam suatu organisasi/komunitas adalah tanda-tanda kejatuhan yang saling berbalas dan makin melemahkan. Oleh karena itu kaga mengherankan begitu banyak ELANG PEMANGSA RAKUS yang BERGEMBIRA mengintai pertikaian dan perpecahan suatu KAUM. Demikianlah resahnya desah seorang pelamun penyendiri kaya gue. Cita-cita gue cuman pengen jadi ahli mengkoreksi dan tauladan buat diri sendiri. Karena ajaib memang, bahwa untuk memahami Tuhan & Ciptaannya yaaa upayakan kenali dan pelajari kelebihan dan kelemahan diri sendiri sebagai manusia dulu… SEMOGA BERMANFAAT...