Perang diplomasi dan Perang fisik di tanah rencong makin rumit yak... Sekarang Pemerintah Swedia pun kena getahnya karena kaga mao menyerahkan warga-negaranya HASAN TIRO yg dituduh pemerintah kite sebage pemimpin terroris GAM. Sebelum itu pula Institusi Palang Merah International Henry Dunan Center (HDC) juga "didepak" Pemerintah Indonesia karena dianggap gagal dalam implementasi perjanjian COHA yang adil ... Segalanya nampak pupus mengupayakan alternatif tindakan "persuasif", akhirnya ya berkutat berkutet seperti ini ... lalu berpusar terus menuju validasi tindakan "represif" juga...
Lucu juga ... fenomena seperti perang Irak menjelma. Perang informasi dari media/jurnalis yg lansung atau tidak pro/kontra GAM berhamburan... Opini Masyarakat pun terbelah jadi apatis,pro dan kontra pemerintah. Dan sebagaimana tindakan pemerintah Amerika yg bergegas me"lobi" (menekan) pers-nya agar mendukung pemerintahnya dalam perang Irak, maka yang disini juga gak jao beda... Jajaran TNI dengan segera me"lobi" Para Jurnalis dan Media massa, dengan atas nama kebangsaan dan persatuan menitahkan agar berbagai laporan situasi aceh tidak menyudutkan pemerintah. Berbagai laporan penyelewengan HAM oleh TNI sebaiknya segera dilaporkan dulu ke PR ABRI agar segera ditindak-lanjuti... Rasanya buat masyarakat awam, yaa begiitulah sewajarnya lika-liku perang... walaupun yang ini termasuk Perang saudara.
Apakah gak ada sisi lain yang disimak selaen Perang ? Wah banyak banget prendz... dan yang paling gampang dan menarik adalah dari Sejarah Politik GAM itu sendiri... Pada tahun 1953, Aceh sudah resah dengan jalan politk Soekarno pasca Kemerdekaan yang kaga sejalan dengan janji-janjinya kepada para pemimpin aceh.. salah satu yang utama adalah Penerapan Syariat Islam secara eksklusif. Sedangkan menurut catatan sejarah, Para aristokrasi dan pemimpin adat aceh sudah merasa memberikan modal revolusi yg begitu besar kepada Soekarno disaat minimnya dana perjoangan... Rakyat Aceh merasa tertipu. Oleh karena itu muncullah pemberontakan DI/TII oleh Daud Beureuh. Dari sinilah Hasan Tiro masuk jadi pendukung pemerontakan menjabat Duta Besar DI/TII untuk PBB. Pemberontakan reda, segera setelah Soekarno tahun 1960 memberikan bbrp keistimewaan politk dibidang Adat, Agama, Pendidikan beserta implementasi Syariat Islam. Disini Hasan Tiro kecewa karena DI/TII mau bernegosiasi. Hasan Tiro memang ingin Aceh lepas saja dari NKRI. Nah pada masa Orba, bergantilah Daud Beureuh yg kandas hatinya, karena Orba mencabut kembali kewenangan Syariat Islam di Aceh...
Inkonsistensi dan "ingkar" janji dari kebijakan pemerintah NKRI sendiri telah membuat ricuh stabilitas moral dan mental masyarakat aceh. Kekecewaan ini dimanfaatkan Hasan Tiro menghasut rakyat Aceh & memprovokasi kreatifitas politiknya lewat proklamasi GAM ke dunia Internasional, dan GAGAL. KEnapa? karena buntutnya baru ketahuan.. bahwa Hasan Tiro punya konflik perbedaan visi yang dalam dengan Daud Beureuh, terutama ketidak setujuannya thd Syariat Islam... Yang lebih penting lagi, adanya fakta bahwa Masyarakat Aceh sebenarnya tidak ingin berpisah dengan NKRI, tetapi mereka memang kecewa dan memang paling berani mengkritik PEMERINTAH yang sah dengan cara-cara yang keras dan tegas... Ketika ORBA menanggapi kritik dan protes masyarakat Aceh dengan pemberlakuan DOM, mereka seperti makan buah SIMALAKAMA... Mereka menuntut proporsi politik dan eksonomi yang wajar dan tidak ingin berpisah dari NKRI tapi malah "dihajar" ... Mereka menolak Partizan GAM dan misinya, malah kena pula diperas dan diancam... Justru tumbuhnya kekuatan GAM lebih sering muncul karena dendam masyarakat Aceh yang harus kehilangan bbrp anggota keluarganya atau mengalami siksaan gara-gara Operasi DOM pemerintah sendiri...
Nggak mengherankan sebetulnya jika beberapa analis sosial dan LSM sebelum pemberlakuan hukum darurat militer di Aceh baru-baru ini, menghimbau agar pemerintah lebih banyak bersabar dan terfokus pada penyelesaian masalah Sosial dan Penyelesaian hukum para Korban DOM masa lalu... Karena memang GAM hanya sebahagian kecil aspirasi politik represif masyarakat Aceh, sedangkan mayoritas masalah ada pada masyarakat yang menjadi korban pertikaian politik, dan kelalaian pemerintah dimasa lalu. Dan lebih nggak mengherankan juga kalo pihak TNI secara implicit berkeberatan dengan wacana ini, karena bila kite menengok proses penyelesaian hukum kasus penembakan mahasiswa Trisakti aja belon ada tindakan yang memuaskan masyarakat... Apalagi korban-korban orang/aktivis.mahasiswa yg hilang era kekuasaan ORBA dulu... KELAUT dah pokoke...
Sebaiknya kita memang tidak terbawa-bawa pada emosi negatif perang saudara ini, melainkan memahami secara mendasar sejarah dan pelajaran masa lalu agar dapat memberikan semangat dan kesadaran yang lebih baik buat generasi muda... Lagipula tindakan represif dan terutama yang berakhir dengan perang memiliki latar belakang yang sama... Keributan sepanjang Hayat di Palestina contohnya... Ketika baru-baru ini Mahmud Abbas ditunjuk menggantikan Arafat.. paling pertama yg ditegaskan untuk Warga Palestina adalah..., Tindakan tegas dan Penertiban dengan keras thd berbagai perolehan/pemakaian/pemilik senjata gelap pihak/organisasi perjuangan di Palestina. Ternyata sebahagian warga dan organisasi perjuangan palestina itu menjawab tidak mungkin meletakkan senjata, jika Israel sendiri tidak menghentikan tindakan represifnya diatas tanah palestina, dan tidak pula menghentikan perluasan pemukiman warga Israel dengan merebut secara paksa kepemilikan sha warga palestina. Pendek kata ... Jika ISRAEL berhenti menghentikan ambisi dan agresifitasnya, tentu dengan sendirinya hilang juga angkat senjata di Palestina... Impas dan logis kan? Tapi sayangnya fakta yang ada hanya menggambarkan dominasi yg satu thd yang lain.. SOLUSI WIN-WIN??? ANGGAP AJA ANGIN...