Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 2 dari 2 tulisan
Barangkali aja gue ini terlalu males dan sok tahu juga, tapi tersrah ente lah... yang jelas ketika gue baca cuman dua buku aja para orientalis ilmiah tentang sejarah alam semesta, asal usul manusia dan nasibnya.. Makin berasa bahwa terlampau bahaya rupanya sekadar bergantung ( baca: beriman ) pada kemampuan nalar... Ada suatu nuansa bahwa Nalar manusia yg wujudnya berbentuk gumpalan otak memang jasad ragawi yang mencuatkan energi hawa-nafsu dan syahwat manusia. Akibatnya memang antara produk nalar satu dengan nalar yang lain menjadi amburadul dan penuh reka-reka yang membabi buta... Kemudian jelas memunculkan ambisi pembenaran nalar dari individu satu dengan yang lain, sehingga kemungkinan besar biasnya makin jauh dari kepastian mana yang paling benar... Makna kebenaran jadi bertumpu pada nalar, dan nalar cenderung bekerja berdasarkan siapa mengamati siapa atau apa ( materialistik )... sehingga nilainya jadi relatif.
Dari Kemampuan Nalar manusia yang sebetulanya cukup naif itu, berusaha dibentuk dan dihitung wujud keilmuan dan logiak teknis TUHAN melalui hukum-hukum yang berlaku pada manusia. Tentu saja salah kaprah... Lawrence Krauss dan Barbour sendiri menemui fenomena fisika kuantum terlalu ambigu untuk dipahami melalui perhitungan matematika fisika klasik. Keduanya mengakui perlu peta matematika gaya baru dan perubahan total paradigma fisika yang ada sekarang agar mampu menguak hakiki fisika kuantum. Gue cenderung melihat bahwa mereka terbentur pada wujud Ilmu Tuhan yang paling kecil saja. Oleh karena itu perlu pemahaman dari nalar jenis lain yang lebih tinggi/murni dari pada sekedar otak manusia, yaitu KALBU yang mengerti jalan pikiran TUHANnya.
Barulah gue sadar lagi bahwa kebebasan daya nalar manusia tetap memerlukan KENDALI kesahihan dan keabsolutan nilai MORAL secara universal, yang memang keliatannya makin kagak populer didalam komunitas manusia terkini yg lebih terobsesi kedigdayaan materi (kekuasaan, harta, cinta fisik). MORAL inilah yang menunjukkan fenomena naluriah bahwa sang ibu patut melindungi anak-anaknya yang baru lahir tanpa harus diajarkan makhluk lain. Atau mengapa ada pemahaman semua manusia bahwa mencuri dan membunuh itu pasti tidak diperbolehkan, karena MORAL menilai tindakan itu melanggar nilai kemanusiaan yang murni. Pemahaman perilaku secara naluri tentang hubungan sex normal antara laki-laki dan perempuan misalnya... dan lain lain.
Nilai-nilai Moral ini muncul dari kejernihan KALBU (akal hati) sebagai inti dari Jiwa manusia. Semua obyek yang gue sebutin terakhir merupakan organ non materi manusia yg dibawa sejak lahir, tidak berwujud jasad kasat mata, tetapi mewujudkan nilai SPIRITUAL manusia. Dalam kalbu inilah terjalin dengan database berbagai nilai-nilai keTuhanan yg dibawa sejak lahir. Disinilah letak akses Tuhan memberikan hidayah dan petunjukNya terhadap berbagai pelik kehidupan manusia, dan "menjawab" semua doa-doa. Oleh karena itu pada situasi yang normal, Kalbu manusia yang sehat mampu berkoordinasi dengan wajar dengan Hawa nafsu serta syahwatnya, sehingga menimbulkan enerji dan dampak kehidupan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya...
Makna Ujian Hidup
Penjelasan yang paling gampang, jika bisa kite bilang kalo dunia ini adalah memang bukan sorga hakiki, tetapi memang bener-bener berupa sorga halusinasi, hyper komputer virtual reality, yang memang semau-mau si Empunya komputer untuk menguji interaksi obyek-obyek "cerdas" yang diuji dalam berbagai algoritma, untuk kemudian dicatat kinerjanya... kalo Kata DIA pengujian obyek tersebut memang OK yaaaa... mungkin bakal di konversi jadi obyek absolut pada sorga yg absolut.. tapi kalo memang belon okay ya "dibetulin" di bengkelNya, kalo udah rusak yaa terpaksa di BUANG... Ha ha ha memang begitu rapuh cara berpikir manusia ( apalag kaya gue gini ).. tapi mudah2 an analoginya kelak bisa mencakup 65% kebenaran saja dari sebenernya Wallahu'A'alam :)
Tapi kalo kite mo jujur... sebenernya pandangan fisik kite memang cenderung tertutup oleh hawa nafsu... dari mata kite ini melihat orang banyak duit (misalnya), tentu seringkali terbayang oleh otak nafsu kita, betapa mudah kite belanja dan berfoya-foya, pokoknye menyenangkan dan mensukseskan ciri sendiri... ahhh indahnya. Begitu pula jika mata ini tertumpu pada sosok yang kumuh, lansung aja kebayang begitu menderitanya orang yg harus menjadi "lusuh" dan sepertinya nggak ada kata bahagia didalamnya... SEKALI LAGI begitu rapuhnya indera manusia prend :)
Masyarakat sering lupa bahwa kenikmatan duniawi adalah tanggung jawab batin/moral/siksaan obsesi teramat berat pada akhirnya, sedangkan kesengsaraan memikul kehinaan pandangan pada awalnya, namun sebenarnya menghimpun ketenangan dalam berjuang. Apakah perkataan gue ini bisa diuji secara nalar semata ??? yaaa tentu nggak bisa... pernyataan itu merupakan kesatuan proses pemahaman pergulatan hidup, dimana didalamnya bergulat antara nalar vs mata hati, dan keimanan vs hawa nafsu dalam proporsi yg balanced... Dan ditengahnya muncul rasa SYUKUR dan SABAR... Walau untuk topik seperti ini budaya science modern cenderung mengingkari... Tapi apakah benar dapat diingkari ? Lihatlah masyarakat Eropa, amerika, jepang dimana masyarakatnya telah "mapan" rejeki nalar, ternyata angka statisitik menunjukkan pertumbuhan depresi dan bunuh diri ... Artinya apa ??? silahkan simpulkan sendiri... TAPI buat gue yg simpel-simpel aja, bahwa Kenikmatan atau Kesengsaraan Duniawi keduanya merupakan UJIAN HIDUP yang sama berat, berkorelasi, sama mulianya buat yg berhasil, dan sama hinanya buat yang gagal...
Pernahkah anda merasa tersiksa kebosanan dan hampa ??? Percayalah jika manusia yang "cerdas" ini tidak diberikan "ujian hidup" maka pasti otaknya lumer, dan depressi akan mengundang tindakan radikal dan bunuh diri... Pernahkan anda jatuh dari sepeda tapi merasa bersemangat campur takut untuk mengulangi lagi ??? Arrggh ya itu dia .. manusia butuh emosi yang menantang tantangan hidup yang lebih besar lagi.. itulah kodrat hidup... Sayangnya memang manusia tidak bisa minta tantangan dan ujian hidup ini sekedar pada yg mereka suka... Karena memang hanya Pencipta manusia yang paling tahu "kebutuhan" ciptaanNya...