Warna DemoCrazy Anak Negeri (lanjutan 2)...
Seorang kawan lain menimpali wacana "democrazy" anak negeri sebelumnya sbb:
From: eminz.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 5:33 PM
Subject: Kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi
Aku setuju dengan iful b. dalam konteks pendewasaan bangsa, Ditengah terpaan kita tetap survive, kita tahan uji..apa jadinya kalo ujian ini menerpa amerika sudah bubar kali kayak soviet, kenapa ? karena menyatukan pikiran para jendral memang tidak mudah. Bahkan ada pepatah mafia yang menyatakan terkadang 1 orang prajurit yang bodoh jauh lebih berguna dari pada 2 jendral yang tak bisa bersatu. Inilah kehidupan jama’ah di Indonesia
Tapi kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi
Hidup INDONESIA, MERDEKA, hidup NKRI INDONESIA...
Terkahir ada syair dari penyair arab , supaya tidak frustasi menghadapi takdir Tuhan thd bangsa kita:
Biarlah hari-hari bertingkah semaunya
Relakan diri ini ketia ketentuan-Nya bicara
Janganlah engkau risau dengan kisah malam
Karena tak ada kisah didunia ini yang abadi
Ironis sebenernya, bahwa dalam sejarah politik kite, kaum Nasionalis terpaksa harus berbenturan dengan pendukung politik kanan aliran syariah islam... Politikus Nasionalis sebenernya kaga kurang yang Islamnya kuat, hanya pandangan mereka melihat nilai esensi keyakinan spiritual mereka harus diwijudkan dalam metode interaksi yang inklusif... DEMI menghormati keberadaan anak bangsa yang berkeyakinan selain Islam. Para politkus pro Syariah mengklaim bahwa 85% komunitas penduduk indonesia beragama Islam, sehingga secara de facto wajar saja suatu tatanan politik negara diterapkan bdsk Islam.. dalam hal ini metode interaksi mereka sangat eksklusif bdsk dukungan mayoritas agam yg dianut penduduk Indonesia. Hanya saja terkait sejarah antropolgi manusia, memang jalan pemikiran moderat cenderung tidak populis sebagai daya tarik politik praktis... sehingga bentrok wacana cita-cita persatuan bangsa terpelihara sekamnya sampe saat ini...
Biasanya kaum Nasionalis slam dicap sebage kaum Islam Moderat dan modern, sedangkan yang sebaliknya lebih bersifat Islam tradisional fundamentalis (literalisme quranis). Untuk saat ini, bisa cap-cap seperti itu jadi bias, karena berbagai perkembangan manuver dan edukasi politk yg terjadi pesat pasca reformasi. Yang jelas istilah Literalisme quranis, sebenernya gue ambil dari padanan istilah Literalisme Biblikal yg ada dari buku Ian.G Barbour "Juru Bicara Tuhan" sebagai alias dari fundamentalisme yg mebenarkan secara "as is" expresi ayat-ayat dari kitab suci injil.
Dalam struktur masyarakat indonesia yang budaya tumbuh dari akar spiritual/mistik yang kental, kerap istilah-istilah atau ayat-ayat yg dipersepsikan kaum sufi dan ulama yg didudukkan sebagai orang mulia wakil Tuhan yang tak terbantahkan. Dan suka gak suka kondisi seperti ini menjadi alat politik praktis yg mempengaruhi massa, tidak terkecuali penjajah Belanda menipu dengan baik+sukses sekali dengan metode ini. Mitos-mitos dan persepsi turun temurun ayat-ayat dan kata-kata bijak para sufi/ulama cenderung membuntukan sikap kritis bangsa untuk berani menelaah lebih jauh implementasinya dalam kaidah keterkinian... Kesadaran baru dari ulama modern yg kritis terhdap pelurusan persepsi budaya, malah meruncingkan benturan aliran seagama dengan tuduhan bid'ah dan penyelewengan misi keagamaan... Jelas pembelajaran demokrasi buat bangsa ini perlu ujian yang bertubi-tubi beratnya...
Keterpurukan ekosospol dan budaya anak negeri saat ini memang membutakan, sehingga misi keagamaan yg murninya sangat berat dan sarat tuntutan moral/etika yang tinggi, makin bergeser menjadi atribut pemanis dihadapan komunitas sosial... Jadi penyelewengan kinerja aparatur negara, budaya masyarakat yg jadi makin pesakitan karena putus asa, lebih mudah untuk diterima dengan lapang dada dan menjadi lebih terbuka terhadap penyelewengan kekuasaan berujung korupsi demi kemakmuran individual... Masayarakt kehilangan suri tauladan kepemimpinan, akibatnya perlu pembenaran spiritual yang dibuat-buat dan sebisa mungkin dicocok-cocokkan agar terhindar dari tuntutan dosa dari kalbu sendiri... Sekularisme dan Kemunafikkan makin subur...
Oleh karnea itu menyimak satu kata-kata bijak dari eamil kawan diatas sebagai senjata untuk pembenaran opininya ... jadi mengingatkan gue atas latar belakang penyakit mental akut dari masyarakat kite... mencoba menerima apa ada nya dan pasrah pasif membiarkan ikut sakit mental demi pencapaian target duniawinya sendiri... Barangkali dengan itu wajar-wajar ajah gue menghimbau untuk hati-hati menggunakan pemahaman harfiah faham "kekeruhan jama’ah jauh lebih baik dari pada kejernihan pribadi" Istilah itu perlu dipahami jauh lebih mendalam karena merupakan rangkaian kata-kata bijak nan indah namun mewakili seribu makna pren :)
Jamaah yang keruh karena memang dampak pembelajaran masyarakat menuju perubahan, suatu hal yang kaga bisa dihindari dari fenomena dinamisasi sosial menuju penyesuaian jaman dan benturan berbagai ideologi dan kepentingan.. Ya pendewasaan bangsa itu tadi. Mangkenye udah jelas bangsa ini belon dewasa kaya gini, mbok yao mawas diri dan ngaca lebih efektif.. Karena orang kalo lagi belajar kaga sepatutnya terburu2 merasa tinggi dari yg laen apalagi merasa putus asa karena gonjang ganjing terus :)
Dan berjuang menjadi pribadi yang jernih adalah hak asasi setiap manusia yang ingin merubah diri dari lingkungan yang buruk menjadi lebih baik dengan keyakinannya masing2. Cobak simak sejarah dari jaman Nabi2, sampai revolusi sosial perancis atau revolusi industri di inggris… Masyarakat menjadi dinamis dan perubahan paradigma ekosospol karena ada keberanian, kepandaian sekaligus kepemimpinan para pribadi yang lebih baik dari lingkungannya. Istilah elo diatas itu lebih ditujukan kepada lingkungan jamaah yang menjadi taklid buta dan membeo, karena sosok pribadi yang membiarkan dirinya seolah2 paling mulia dan tak terbantahkan…
Contoh yang kawan gue tuliskan soal prajurit dan jenderal rasanya kurang tepat..., karena manajemen militer kaga pernah sama dengan manjemen masyarakat sosial.. Dalam militer kagada demokrasi dan hukum Cuma bdsk struktur berjenjang kepangkatan yang mutlak dipatuhi. Demikian pun arti "kepasrahan" yang diexpressikan kaum sufi dan agamawan proyeksinya harus jadi motivasi perjuangan tanpa lelah demi kemaslahatan manusia dimuka bumi, nah background reasoningnya yang demi TUHAN, bukan demi kedudukan atau perolehan materi yg jadi peringkat nomor wahid… itulah yg dimaxud kepasrahan illahi sesungguhnya, bukan ngebiarin masyarakat yg kisruh keruh dan kite cuman ikut-ikut aliran aer keruh pulak… Kalo pemahaman kaya begini yaaa gak salah bangsa kite cuman jadi MAHASISWA ABADI… belajaaar terusss, tapi kaga pinter2, mlorotin orang dan jadi pengemis kemakmuran orang laen…
Hati-hati dan sering koreksi diri tentang pemahaman berbagai ideologi dan filosofi yang kite yakini… Karena kaga ada yg mutlak dan abadi di dunia ini, selaen Tuhan itu sendiri... Nabi nabi utusan Tuhan semuanya sudah di langit.. Dan kite harus berjuang dengan pinter-pinter memadukan pemberdayaan emotional, spiritual dan intelektual yang ada baek individual atau kmunitas sosial .. Sekedar membebek dan membeo filosofi lama tanpa mau tauk memahami keterkinian sama aja kaya orang linglung yg kaga pernah tau sape lawan sape kawan dan sape yang udah sawan...