Deepdrown' daily Plurks

Tuesday, July 01, 2003

Warna DemoCrazy Anak Negeri...

Seorang kawan mengungkapkan perasaan nasionalisme yang menarik (lihat capture email dibawah), dalam penilaian gue sikap patriot kebangsaannya teramat kental... Secara psikologis memang seringkali perlu juga melonjakkan semangat kompetitif dan positif thinking, biar kaga "keder" mengantisipasi inferiority syndromme ( rendah diri) karena keterpurukan kondisi lingkungan sosial yg berlama-lama...


From: iful b.
Sent: Tuesday, July 01, 2003 4:36 PM
Subject: Aku Bangga menjadi Orang Indonesia

Indonesia akan menjadi negara paling demokratis didunia, ada akademisi yg mendukung gerakan separatis seperti GAM, ada menteri yg bilang NO WAY ke presidennya, Ada yg mempermasalahkan pembelian pesawat buatan Rusia, ada orang2 yg nggak setuju dengan rapat2 tertutup seperti Rizal Ramli dan Setiawan Jody, ada juga voting.
Ada demo mendukung RUU-Sisdiknas, ada juga demo yg menolak RUU-Sisdiknas. Ada presiden yg diturunkan gara2 Bulog-Gate, Ada juga presiden yg diturunkan gara2 dekat dengan Suharto. bahkan disini ada Golput.

Dari sinilah saya bangga menjadi orang Indonesia.
Bandingkan dengan Amerika yg kongres dan Presiden-nya suka maen kekerasan, bandingkan dengan Irak yg pemilunya 100% mendukung Saddam,
bandingkan dengan Inggris yg ngawur dalam mengambil keputusan politik.
Bandingkan dengan Australi yg sok tahu, Bandingkan dengan Singapura yg tangan besi. Kalau mau belajar demokrasi, sekarang ini belajarlah ke Indonesia.

cheers,iful



Yah memang Soekarnoisme, yang mana pada jaman Perang Kemerdekaan hingga awal era Orde Lama memang dielu2kan sebagai tokoh Patriot/Nasionalis pemersatu bangsa... juga bahkan penggalang persatuan Bangsa Dunia ketiga... Pada masa kekuasaannya sendiri Soekarno dan JF Kennedy (presiden Amerika saat itu) sering dianggap padanan yg setara antara dunia sosialis vs kapitalis. Jargon-jargon Patriotik/ Nasionalisme yang paling legendaris adalah: "Write or Wrong is My Country"... dan satu lagi... "Do Not ask what the country do for You but what can you do for this country..."

Hingga saat ini jargon mantera diatas kerap menjadi hiasan penyedap banyak pembicara dikala orang harus berdebat membela harga diri suatu bangsa ditengah situasi yang terpuruk dibandingkan dengan keberadaan atau kebenaran bangsa lain... Pada masa perang kemerdekaan dimana nyawa dan harta menjadi obyek aniaya imperialis, rasanya jargon-jargon ini menempati situasi dan kondisi yang tepat. Tetapi bila menyimak tulisan kawan diatas itu mencontoh situasi kisruhnya kebijakan dan melempemnya pemberdayaan negara sebagai fenomena implementasi demokrasi yang TERBAIK dari negara-negara lain yg lebih makmur ? Tentu harus jadi kritik tersendiri... Karena kesannya jadi penyelewengan sikap patriot atao nasionalis itu sendiri, karena fenomena demokrasi buta hukum (DEMOCRAZY) dipersepsikan sebagai demokrasi TERBAIK...

Jikalo tujuannya sekedar kata penghibur dan pembenaran thd kekisruhan demokrasi kite ini, jelas ada fakta2 sejarah dari negare-negare makmur dan maju saat ini spt perancis, jepang, amerika, dll dimana pada 200 taon lalu merasakan "kegilaan" demokrasi (democrazy) seperti ape' yg bangsa ini alami baru-baru ini ... Berdasarkan pengalaman sejarah kemerdekaan RI, bangsa Indonesia ini belajar demokrasi modern selepas runtuhnya Kursi Kesultanan Soeharto yang Agung. Setelah itu fenomena yang ada memang kegilaan kegiatan belajar demokrasi.. Bagaimanapun juga demokrasi memang bukanlah DEMOCRAZY… Jadi macam mana sesatnya, jika ada sekelompok orang yang terpeleset kata dan pikiran bahwa keduanya sama, bahkan dianggap lebih baik !!!

Kulit ari demokrasi yang mengembar gemborkan kebebasan berpendapat dan bersuara, memang cuman menjanjikan jago-jagoan adu sapa yang peling bener dan kuat-kuatan tunjuk menunjuk sesiapa yang paling salah … Oleh karena itu demokrasi emang kacau kalau mata rantai kewenangan legislatif, yudikatif, eksekutif sebagai pengatur kehidupan demokrasi itu sendiri teteb terinfeksi dan bobrok coi…. Heheheh buah simalakama yg lama2 pahitnye jadi biase...

Hak kebebasan dan kebersamaan dalam berpendapat dan bersuara dalam warga negara memang jadi kontrol yang teramat baik dalam lingkup good governance & hi civiliance… Tetapi tetep aja harus ada mekanisme law making, law protection, dan law enforcement yg konsisten, bersih dan berwibawa.. Biar larinya demokrasi itu kaga ngawurrr ngetan ngidul kaga keruan kaya orang gila disorientasi pren… Dan akhirnya dalam lingkup perwujudan kemakmuran dan keadilan bermasyarakat, maka interaksi demokrasi - hukum menciptakan rasa aman dan stabilitas antara masyarakat dan pemenintahnya, dan kondisi ini yang kondusif menciptakan kemakmuran sosial yg relatif lebih baek…

Moga2 para penguasa dan masyarakat bangsa ini segera berhasil jadi pengamat dan pelajar yang baik, so kaga perlu waktu sampe 200 taon buat piawai merubah democrazy saat ini jadi demokrasi yg sehat walafiaat..
Dan sekedar himbauan/ kritik membangun aja, rasanya sih kagak haram bersikap jadi patriot nasionalis, asalkan mampu jadi patriot juga dalam menghardik kelaliman pada kawan/diri sendiri dan menghormati dengen kebesaran hati kebenaran pada lawan… *pis*