Sikap Balas Jasa VS Prinsip Keikhlasan dalam Proses Kepedulian Sosial
Kesibukan orang-orang pada utopia masalah politik, science dan ekonomi yg diransang karena gencarnya pemberitaan media, kadang-kadang melupakan akar masalah yang mendasari interaksi manusia dan dampaknya, baek sekarang atao dimasa depan... Mangkanya gue pun sedikit kaget, ketika ada seorang kawan memulai dikusi dengan pertanyaan yg sederhana tapi menyodok keterbiusan gue sendiri, seperti bisa disimak pada email dibawah ini :
-----Original Message-----
From: EndiFa
Sent: 22 Juli 2003 11:11
Subject: Ikhlas nggak sih?
Saat membantu orang dengan bersedekah dan mengharapkan pahala, sebenarnya nggak bisa dibilang ikhlas 100% karena masih mengharapkan 'reward' berupa pahala. Ikhlas adalah saat memberi bantuan pada orang lain tanpa mengharapkan reward apapun dan tujuannya benar2 membantu orang yang kita beri / mengatasi kesulitannya --> dari sudut pandang kemanusiaan. Benar ngga sih?
Beberapa respon terhadap pertanyaan itu sendiri enggak kurang bikin kaget kesadaran gue sendiri... Karena suatu prinsip ideal yg secara sepihak gue anggep semua orang bisa terima, eh eh eh ternyata justru merepresentasikan terbalik rasa optimis gue. Misalnya ( secara naif ) gue beranggap bahwa anggapan umum bahwa peduli sosial seputar sedekah, bantuan sosial, bantuan pribadi kepada komunitas yg layak dibantu tentu perlu dilaksanakan dengan IKHLAS dan tanpa pandang bulu...
Nyatanya ada saja yg bilang, bahwa bertindak praktis dalam membantu "orang susah" perlu ada azas manfaat timbal baliknya, paling tidak keliatannya mencuat kebutuhan syahwat khusus yg cenderung subyektif dengan berbagai prasangka dan pemahaman apakah suatu bantuan sosial itu perlu bagi masyarakat tertentu ... Apakah orang yg dibantu yakin jadi baik ? atau kan terjamin tidak mengecewakan ke diri si penolong ? atau menzalimi si penolong ? Apakah tujuan dana bantuan itu cerdas atau mubazir ? Dari pendapat sok tahu gue, harusnya ada perbedaan antara niat menolong/peduli, dengan penanganan tindakan kriminal... karena itulah sudah seharusnya Agama & Hukum formal mampu bersentuhan dengan piawai ( hi-touch )
Dalam kegundahan yang naif pulak, gue akhirnya harus percaya bahwa terlalu pelik masalah kepedulian sosial dan sosialisasinya dalam kehidupan bernegara disini, apalagi kalo terkait dengan pengakuan sebagai negara hukum yang beragama... Bagaimanapun gue yakin harus ada jalan.. karena intinya adalah munculnya persepsi yang subyektif, dimana hukum negara yg katanya beragama ini pun tidak mampu menghasilkan fatwa yang cerdas demi membantu masyarakat yg terpuruk...
Ujung-ujungnya cuap-cuap inipun idealismenya memang ke masalah yang gede banget, dan sampe sekarang irionisnya cuman jadi jargon-jargon buat pemerintah buat narik dana-dana bantuan dari luar negeri doang… apaan tuh ? KEPEDULIAN SOSIAL dan KEMANUSIAAN… Jadi pengertian gampangnya selama itu manusia, dan manusia itu adalah pelaku komunitas sosial sekaligus obyek penderita.. maka upaya-upaya kearah sono ( sedekah, dana kemanusiaan, raskin, santunan yatim piatu dll ) memang harusnya TABU buat dipilih-pilih berdasarkan perkiraan (apalagi pengharapan) atas imbal jasa pren… Selaen tentunya kondisi-kondisi yang memang haknya perlu dibantu… Kepedulian Kemanusiaan sendiri adalah tingkatan kesadaran kepedulian sosial yg lebih tinggi dan universal, rasa-rasanya terlalu mengawang, jika kesadaran peduli bantuan sosial anatar ummat, antara warga senegara pun belon jelas titik temu pencapaiannya :(
Ironisnya di negara-negara tetangga yang maju dekade kini ( contoh paling deket malaysia dah), Perkiraan Pengeluaran Anggaran Belanja Negaranya telah mencakup dana-dana santunan buat masyarakatnya yang tuna wisma, tuna karya, cacat, yatim piatu, kesehatan/ sekolah negeri… Dan itulah sebabnya penarikan pajak di negara-negara tsb gede banget, dan… hasilnya memang “jelas”. Mungkin karena peran negara yg begitu besar dalam pengayoman warga negara “tak berdaya”nya, maka kalo kite orang timur kalo denger selentingan , atau baca-baca sekedarnya tentang budaya negara mereka .. seolah-olah masyarakat mereka begitu individualis, acuh gak acuh satu dg yg lain… Mungkin bentuk kepedulian dari komitmen bayar pajak, wallahu’alam.
Belakangan gue pikir, justru negara kite yang gotong royong, murah senyum dan basa basi, gemah ripah loh jinawi ini … orang kotanya ( mungkin sekali mule menjalar kekampung ) begitu kemaruk dan lebih individualis, karena besarnya budaya penyelewengan pamong praja, masyarakat yg biasa tertindas/dibohongi maka empatinya hilang/skeptis, dan balasannya begitu kayanya mental masyarakat dengan paranoia & rasa tidak percaya siapapun… Maka bole jadi deh… jangankan pengumpulan dana sumbangan sosial atau dana kemanusiaan yg krusial… Renald Khasali aja begitu sebelnya, ketika tahu bahwa begitu banyak perusahaan besar yg biasa pasang budget iklan milyaran rupiah, sampe hati kaga peduli alias medit buat komit sumbangan dana riset dan pendidikan yg besarnya Cuma 25-30 juta perbulan aja…
Keliatannya Gembar gembor Agama secara umum gagal memperkokoh mental dan intelektual ummatnya buat saling peduli, apalagi tujuan yg lebih populer: Berjuang melawan KKN??? Lalu apakah Agamanya yang salah ? Wuah ini lebih salah kaprah lagi, dan yang pasti salah adalah mental/moral manusianya... Indonesia ini udah lama jadi negara Super Liberal, hukum dan agama udah biasa dipolitisir bolak-balik jadi sekadar mercusuar yg menyilaukan, tapi landasannya masih rawa yang kaya penyakit.
Lalu apa sih yg sebenernya membuat kite tersilap sama inti ajaran Agama ? Itulah dia IKHLAS… Itupun ternyata sosialisasinya gak sebanyak ucapan kata-katanya sendiri… Ada aja orang yang skeptis bin sinis, kalo dibilang bahwa Amal ibadah di pekerjaan, pendidikan, pergaulan, peribadatan, usaha, dan kepedulian alam/manusia itu perlu IKHLAS supaya bisa jadi tiang Agama. Serangan balik yang umumnya terucap adalah… “Emang gampang cari duit? Sumbang sana sini seenaknye!” ; “Emang siape die? Gak kenal!” ; “emangnye kite nabi?” ; “Argghhh yang lain juga begitu kok” ; “Huuuu Sok Idealis looo” ; “Ahhh teoriiii… “ ; “Ini jaman edan bung, mampus bisnis kalo gak ikut edan!” .. dan banyak sekali ungkapan-ungkapan yang menghalangi manusia mendalami dan mewujudkan rasa kemanusiaannya sendiri ( biar kaga omdo gitu ).
IKHLAS itu emang menuntut PROSES yang berat.. dan pasti jauh lebih mengecewakan/menakutkan kalo kite menuntut atao ngebayangin wujud hasil proses KEIKHLASAN itu berdasarkan versi yang diinginkan manusia secara subyektif ( Udah nonton Bruce AlMighty ? ), dan akhirnya emang malah bikin ambruk proses IKHLAS itu sendiri… Jadi jelas kan kalo IKHLAS itu adalah warna dari suatu proses menjalani hidup. Pertanyaannya IKHLAS itu harusnya kaya gimana sih warnanya ? Hahahha sebetulnya gue yakin banyak yg udah tau, cuman perkara mewujudkannya dari diri sendiri jelas banget tantangannya dengan bermacem-macem “keberatan” hehehhe…
IKHLAS itu sebetulnya kan perasaan atau mental tanpa pamrih, tanpa tuntutan balas jasa, tanpa tuntutan penghargaan, tanpa tuntutan perhatian dari siapapun, … setelah melakukan sesuatu hal yang diyakini berdampak positif buat orang/organisasi lain. Seirama dengan kata-kata bijak,”Lupakanlah budi baik mu buat orang lain, tapi ukirlah sedalam-dalamnya kebaikan orang lain dalam dirimu sendiri…” Positifnya jika prinsip tersebut dijalankan, kite akan terlampau sulit digoda “keadaan” apapun untuk menjadi sosok yang arogan, takabur, dan berketergantungan pada interaksi duniawi doang.
Dalam Agama sudah jelas bahwa ke-IKHLAS-an adalah jika setelah berikhtiar/ beribadah/ beramal sebaik mungkin, tempat paling tepat menggantungkan harapan yaaa cuman Sang Pencipta Yang Maha Kuasa belaka. Oleh karena itulah kite biasa dperkenalkan adab berdoa dan beribadat kepada Nya agar diberikan Pahala Individual/Sosial dan dunia/akhirat serta berbagai HidayahNya ( bisa keliatan baek atau sebaliknya ) … Ini patut dimengerti bahwa setelah segala perjuangan/ ibadah di dunia ini, maka doa yang terkabul atau “seakan-akan” diluar pengharapan si-manusia adalah PASTI wujud terbaik buat semua…
Dan kite pun jadi dididik untuk lebih Toleran dan cerdas sebage masyarakat SOSIAL ( dan bukan sekadar melampiaskan ketidakpuasan membabi-buta ). Dengan semangat itu Hukum Formal dan Ilmu Manajemen jadi alat bantu yang baik agar semua ITIKAD BAIK lebih terjaga/terjamin "kelurusannya" dari hulu hingga hilir. Maka lambat atau cepat akan mampu meningkatkan kepercayaan lebih banyak lagi masyarakat untuk ikut serta dalam belajar lebih PEDULI dan AKTIF menghimpun berbagai bantuan sosial secara swadaya. Jadi ayo kite jangan menyerah buat belajar ikhlas setiap saat, jangan mo kalah sama bau badan ;p