Deepdrown' daily Plurks

Friday, July 25, 2003

Suka dan Duka berganti-ganti... beginikah Ujian kehidupan?
Bagian 1 dari 2 tulisan


Kalo mo jujur .. coba deh simak suara hati kita sendiri... Bagaimanapun kondisinya, sedang kaya atau miskin, lagi sehat atau sakit, jadi pejabat atau kroco, apa aja deh pokoknya, pasti selalu ada berbagai alasan untuk senang atau susah... ya kan? Jamaknya kalo sedang senang gumbira maka melepas semua emosi hingga lupa pada yg sedang susah. sebaliknya juga begitu, tiba-tiba mendapat musibah sengsara, maka seakan-akan terasa seluruh hidup ini begitu sial... terlupakan nikmat kesenangan yg masih tersisa. Begitulah kesan dan bayangan gue pas baca email curhatnya dibawah ini :

-----Original Message-----
From: SPr
Sent: Thursday, July 24, 2003 6:00 PM
Subject: mengapa manusia mesti di uji ya...?

Kadang kalau menelaah perjalanan hidup ini, kita tidak lepas dari segala ujian-ujian yang tiada hentinya.
Dari kesenangan hidup sampai musibah-musibah yang datang dengan tiba-tiba.
Rahasia apa dibalik semua ini ?
Pada saat senang kita bersyukur dengan hati yang penuh bunga, tetapi kesenangan itu menjadi tidak lagi berarti ketika musibah datang kepada kita yang datang tiba-tiba ! iya ya..mengapa manusia mesti di uji ya...?
Padahal Alloh sudah tahu tentang kita, seberapa mampu kita..so buat apa di uji kalau Alloh sudah tahu tentang kita ?
eh..tapi sudahkah kita tahu tentang kemampuan kita sendiri ? batas daya tahan kita ? kebesaran jiwa kita ?
keikhlasan kita? kesabaran kita? ketenangan kita? tawakal kita ?

Topik seperti ini kalo gue mo gampangnya yaaa jao lebih mudah untuk berkutet pada sisi moral dan doktrin-doktrin lateral keagamaan.. Dan gue harus rela menduga para pembacanya bakal bergumam,"ahhhh klise...". Apakah ini berarti gue juga ketularan pesimis dengan ajaran agama??? Enggak begitu, masalahnya memang masyarakat sekarang warnanya makin sekuler dan sering merasa hampa ditengah riuhnya khotbah agama. Yang jelas keselarasan moral, mental dan intelektual adalah isu krusial untuk memahami hidup lebih bermakna positif. Oleh karena itu mungkin perlu empati dan simpati "khusus" buat mendalami keluhan seperti ini, hingga patut kita semua pahami bahwa kita kaga sendiri..

Isu-isu pelik dan penuh dilematis dari email temen gue itu mencakup beberapa pertanyaan yang menimbulkan polemik : Mengapa Perasaan dan Nasib Manusia cenderung berubah tanpa irama; Bagaimana jalan fikiran Tuhan sehingga drama kehidupan ini cenderung tragis dan berbeda antar manusia; Tuhan maha Adil dan mengetahui lalu kenapa harus ada gejala diskriminasi dan istilah ujian hidup?... Disini gue beranikan diri membahas bdsk pengalaman dan pencerahan yang gue terima dari kondisi sehari-hari, barangkali ada gunanya buat gue sendiri atao pembaca yg berkenan.. semoga...

Dua bulan bulan ini gue sedang menghabiskan beberapa buku, antara lain: Fisika Startrek (Lawrence Krauss), dan Juru Bicara Tuhan : antara Sains dan Agama (Ian G.Barbour). Kaga disangka... buku-buku yang keliatannya gak begitu tebal itu ternyata menyimpan berbagai rangkuman dan polemik filosofi dan pendapat ilmiah para fisikawan tingkat duna tentang wujud/asal usul alam semesta, dan akhirnya terkait tentang perlu/tidaknya adanya Tuhan disana. Topik yang sangat ekstrim sekaligus eksotik, dan memang berat banget menghabiskan halaman demi halaman... barangkali karena prosesor imajinasi dan pemahaman otak gue baru pentium MMX yaa?

Pencerahan dari Ian G.Barbour

Yang menarik dari bukunya doi, yaitu begitu kayanya pencatatan polemik dari berbagai filosofi dan pendapat ilmiah (terkait teori evolusi, kosmologi, fisika kuantum, genetika, dan neuroscience) serta sejarah isu keilmiahan science tsb vs doktrin teologi hingga abad ini. Hingga melukiskan bentuk interaksi antara kaum nalar ilmiah dan teologi tentang kejadian alam semesta dan asal usul manusia, menjadi pemetaan 4 pola hubungan toeri dan interaksi, yaitu: Konflik, Indepedensi, Dialog, dan Integrasi.

Gue sendiri ngeliat, bahwa 4 pola itu terbentuk, karena memang begitu kompleksnya latar belakang manusia beserta keahlian dan keyakinannnya bdsk nalar dalam memahami kejadian alam, asal usul manusia, serta peran Tuhan. Fakta sejarah yg terkenal adalah adanya kesalahan sikap totaliter kaum Gereja thd teori kritis Galileo kemudian serta copernicus tentang kesimpulan ilmiah bahwa matahari sebagai pusat kosmis, dan bukan bumi seperti kata gereja. Yang berakibat kedua tokoh tersebut dikucilkan, dan yg satunya lagi dihukum bakar sampai mati. Namun bdsk kemajuan jaman , akhirnya Gereja mengakui kebenaran pemahaman science. Pada abad 20 konflik memanas lagi dengan muncul teori Darwin yg teramat yakin bahwa kemiripan spesies menunjukkan evolusi biologi dari jaman ke jaman menyesuaikan kondisi Bumi. Dan kembali melanggar doktrin agama, bahwa nenek moyang manusia ya memang manusia bukan lagi spesies yang lain.

Pada masalah kejadian semesta alam, Tokoh fisikawan legendaris seperti Albert Einstein ( penemu teori relatifitas ), Niels Bohr ( penemu teori atom kuantum ), Newton (penemu teori mekanika klasik) contohnya berdiri pada pada sisi peneliti ilmiah yg melihat keterbatasan manusia memahami gejala alam yg begitu kaya. sehingga akhirnya mereka perlu mengakui bahwa gagalnya formula nalar mereka thd gejala alam yg lebih rumit, karena ada variabel tersembunyi yg tetap digenggam oleh kekuatan yg lebih maha Jenius, yaitu TUHAN.
Tentu keyakinan mereka bukannya tidak mendapat lawan, karena para ahli fisika lain ug berpatokan pada falsafah: alam ini tampak ada dan wujud karena kemajuan pemahaman nalar mereka... Menganggap Alam semesta hadir karena kebetulan. Fisikawan kontemporer abad ini Stephen Hawking berdiri pada teori ini, dan ketidak tahuan manusia hanya bersikap sementara, karena alam memiliki kadar chaos dan kebetulan yang acak.

Ian sendiri yg latar belakangnya seorang Guru besar fisika sekaligus teologi, cenderiung berpihak pada upaya dialog menuju integrasi terkait hubungan science vs agama. Dai meyakini bahwa polemik yg terjadi kini, merupakan upaya/ konsekwensi dialog panjang dan diyakininya menuju titik temu (integrasi) pemahaman bahwa Agama dan Science perlu saling mengisi dan menguatkan (anti sekuler), agar hidup manusia lebih bermakna dan tidak hampa di tengah alam semesta yg begitu luas.Oleh karena itu PEMAHAMAN masalah NASIB masa depan MANUSIA yaaa terkait dengan bagaimana generasi sekarang memposisikan pola hubungan fakta/teori ilmiah dengan doktrin/keimanan agama.

Pencerahan dari Lawrence Krauss

Buku ini sanagt serius mengupas kepopuleran film fiksi ilmiah STARTREK yg menjual berbagai teroi fisika kontemporer selama 30 tahun. Pada setengah buku, gue menikmati sekali koreksi-koreksi ilmiah Lawrence terhadap berbagai kesalahan pemahaman teori fisika penulis cerita STarTrek, walaupun nggak sedikit juga yang hampir betul... Tapi menjelang halaman selebihnya, mulaelah kerumitan muncul dengan berbagai perang teori fisika populer a la Einstein vs stephen Hawking.

Yang jelas menurut Stephen Hawking ( Krauss pun keliatannya mendukung ) mengesahkan perasaan adanya Tuhan akan mengakibatkan imajinasi dan semangat eksplorasi manusia menjelajah keluasan alam semesta dan berbagai kemungkinannya akan makin tertutup.
Walaupun ironisnya keterkinian nalar manusia membayangkan imajinasi total dari berbagai drama fiksi ilmiah STARTREK itu, dibahas sendiri panjang lebar oleh Krauss tentang kemustahilannya. Dan akhirnya perlu bergantung pada teori-teori yang belum sempurna seperti berbagai anomali & ambiguitas Fisika Kuantum.

Pertanyaan Krauss sendiripun terbentur pada berbagai teori ketidak pastian, yang mengakibatkan bagaimana pula interaksi manusia menghadapi ketidak pastian hukum fisika yang ada ( buatan manusia ) terhadap fenomena alam semesta. Sehingga manusia patut sekadar puas memahami alam yang luas itu dengan keterbatasan hukum nalar fisika nya, dan ditambah hiburan imajinasi tentang obsesi status manusia yang akan "serba mampu" di masa depan...

bersambung...