Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, May 28, 2003

LUPA PELAJARAN SEJARAH ??? AWASSS... TAU-TAU UDAH JADI KELEDAI...


Seringkali gwe denger tentang pentingnya SEJARAH BANGSA sebage "Cerminan Msa Lalu sekaligus Latar belakang yang mampu menjelaskan Tindakan dan kondisi bangsa saat ini". Nah baru-baru ajah internet kolega gue mengirmkan informasi lowongan kerja.. Paling enggak judulnya jelas banget pada subject emailnya : "Lowongan". Begitu gue buka, wuah isinya menarik sekali kalo gak bisa dibilang mengagetkan. Ternyata sebuah lowongan kerja jadi budak atau centeng di perkebunan onderneming era kekuasaan Gubernur Jenderal Belanda H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij pada tahun 1889 (klik aja), kalimatnya bener-bener menghinakan. Tapi dengan begitu gue jadi teringat kaitannya pada intisari penting beberapa buku yang pernah gue baca: Trilogi buru Pramudya Ananta Toer, Buku terjemahan penulis Belanda tentang analisa Perang Belanda di Aceh selama 40 tahun, dan terakhir biografi Tan Malaka (bag.1)



PENGOEMOEMAN!!!
DAG INLANDER,... HAJOO OERANG MELAJOE,... KOWE MAHOE KERDJA???

GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLOE KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN² ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENJA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

  1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
  2. Kowe poenja njali gede
  3. Kowe poenja moeka kasar
  4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
  5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak² ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
  6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe Baron Eropah.
  7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI² JANG BERTOEGAS:

  1. Keliling rawa Senajan 3 kali
  2. Angkat badan liwat 30 kali
  3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja.

Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Boeleleng, Borneo, Tanamera Batam, Soerabaja, Djakarta en Riaoe eiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah:

  1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil.
  2. Istirahat siang 1 uur.
  3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek Wang Djago.

Haastig kalaoe kowe mahoe...Pertanggal 31 Maart 1889, Niet Laat te Zijn Hoor...

Batavia 1889
Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal
H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij



Begitu basinya dijajah hampir 450 tahun oleh Belanda memang jadi warna budaya sendiri buat iklim ekosospol kite bahkan sampe saat ini. Akibatnya gaya governance pemerintah kite thd rakyatnya sendiripun wacananya kaga jao beda, contohnya sebahagian besar pedoman Hukum Negara tertulis aja masih banyak yg parameternya mengacu pada era penjajahan belanda... Apa lagi begitu lepas soekarno, kite cuman masuk ke dalam mafia neo imperialisme baru yg lebih canggih, penjajahan EKOSOSPOL melalui penyusupan kebijakan-kebijakan badan-badan "penolong" internasional ( misal: mafia berkeley era orba, WorldBank, IMF, CGI.. bdsk pemberitaan detik dan eramuslim).


Kalo sempet baca gambaran sejarah pada novel trilogi buru bumi dan manusia nya Pramudya, lalu baca buku sejarah politk perang aceh, juga sekilas ulasan pada biografi Tan Malaka... Rekrutmen cikal bakal KNIL atau kaki-tangan Belanda emang gak jauh seperti isi attachment diatas tadi, bahkan khusus pada kasus perang aceh, Belanda mendatangkan bantuan pasukan bayaran berseragam tentara belanda dari eropa macem perancis, jerman, spanyol dll.


Setelah Perang aceh dimenangkan dalam masa 40 taon, dilanjutkan sukses perang Belanda di Bali (peristiwa puputan). Maka Panglima perang Belanda terakhir di Aceh yaitu Van Heutz, diangkat jadi Gubernur jenderal Hindia Belanda yg pertama kali menjalankan politik Ethic, yaitu memberikan kesempatan belajar dan fasilitas kehidupan yg lebih baik bagi Hindia Belanda(indonesia jajahan). Sebetulnya politik ini pun disosialisasikan demi menuruti tuntutan kaum sosialis-liberal di belanda yang sedang menguat, dimana kelak kekuatan politik mereka makin matang begitu masuk abad 21 (cikal bakal SDV & PKI di Semarang sekitar tahun 1923-1935), danmasa itu muncul an dilaksanakan pertama kali usulan wakil hindia belanda dalam parlemen kecil belanda ( Tan Malaka terpilih tapi digagalkan gara2 umur ).


Van Heutz memang seolah2 mengikuti tuntutan kaum sosialis-liberal belanda, dengan mengijinan berdirinya budi utomo, dan berbagai sarikat-sarikat, mengijinkan sekolah dokter STOVIA dan pengiriman sekolah HUkum di Belanda dimasuki pribumi... masalahnya disinilah timbul klas masyarakat baru yaitu kaum priyayi, yaitu kaum yg seolah2 sengaja diskeolahkan hingga HIS atau MULO, kemudian diangkat sebagai pembantu administrasi hindia belanda oleh pemerintah belanda saat itu, dan secara gak sadar mereka dituntut balas jasa dengan menjembatani politik belanda kepada masyarakat grass root kebanyakan dengan iming-iming kekuasaan dan kekayaan tentunya... Untungnya juga buat belanda yang berhasil memecah belah pandangan politik pribumi thd Belanda. Nah metode ini pula yg digunakan kaum neoimperialis mengangkat para "priyayi" modern semacam fenomena kiprah Mafia ekonomi berkeley dan penguasa orde baru di Indonesia...


Masalah Transmigrasi pun sebetulnya kelanjutan dari strategi Van Heutz untuk mengisi kantung-kantung wilayah nusantara yang kaya tapi budaya dan politiknya gak mampu dikuasai sepenuhnya oleh bujuk rayu pemerintah Belanda... dengan woro-woro semacam email diatas itu... Pemerintah Belanda memprovokasi dan mengiming2i rakyat grass root yg sebahagian besar tergolong bromocorah untuk berimigrasi dan mengabdi belanda ke daerah2 yg termasuk kantung-kantung kekuasaan tsb. Jadilah penyebaran penduduk Jawa kebeberapa pelosok daerah Nusantara. Soeharto memang mengambil pelajaran penting dari cara van heutz ini, Cuma bungkusnya dirubah aja demi pemerataan kemakmuran... walau kenyataannya terlalu banyak transmigan era soeharto yg gagal dan terabaikan karena kurangnya dana... Bedanya jaman Belanda memang lebih berani komit membayar dan merealisasikan ambisinya menguasai daerah-daerah kaya diluar pulau Jawa... Pada era ORBA, Ketika penduduk diiming2i propaganda transmigrasi berpindah ke luar jawa, akhirnya dusun asal para transmigran dijadikan waduk dan berbagai instalasi strategis negara tanpa uang ganti rugi kepemilikan yang sesuai... "hebat" kan?


Mengenai kenapa Van Heutz memilih dan bergantung pada orang-orang Jawa ? Ada analisa menarik dari biografi Tan Malaka, bahwa para perintis belanda melihat penduduk diluar Jawa adalah bangsa2 yg susah ditundukkan, dan gemar berperang, lagipula cukup sulit beradaptasi. Tapi dari sisi lain, sebenarnya umumnya suku2 di luar jawa itu sudah biasa bertransaksi dengan pendatang dari luar nusantara (arab, india, melayu jauh, cina), nah mereka tahu bahwa berbisnis dengan bangsa kulit putih sangat dipenuhi tipu daya dan kerakusan, oleh karena itu begitu belanda kasak kusuk diwilayah mereka, sukar sekali untuk bekerja sama dan dikelabui, padahal ambisi belanda begitu tingginya untuk menguasai daerah-daerah kaya tsb. Sedangkan penduduk Jawa yg lebih lama berhasil disegmentasi dalam kelas-kelas priyayi, budaya asal kemandirian sbg petani dan pedagang telah berubah sedikit demi sedikit menjadi buruh kerja di ladang-ladang pemerintah belanda, karena sebahagian besar ladang di pulau Jawa telah dikuasai belanda dan kaum ningrat/priyayi Jawa... Kondisi ini cenderung mengkungkung mereka menjadi taklid (terbiasa patuh terpkasa) demi hidup pada sekedar fasilitas yg diberikan penguasa saat itu (belanda, ningrat & priyayi).


Soal Aceh ? dari jaman dulu kala memang memiliki polemik tersendiri, karena aceh memang suku yg berpendirian dan berwawasan dagang internasional sejak lama... Sebelum Aceh dijajah belanda... Penguasa mereka sudah sering bekerja sama dengan Pedagang arab dan kaum militer Inggris dibawah kekuasaan Raffles. Perang Aceh pun sebenernya kericuhan dagang segitiga... Karena diam-diam Inggris menjual hak dagangnya di aceh kepada belanda ( ditanda tangani dalam pakta khusus), karena akan berkonsentrasi pada semenanjung malaya, singapura dan borneo ujung (brunei). Nah pebisnis di Aceh ternyata sudah tau sejak lama kebusukan bisnis orang Belanda, sehingga teteb tidak mau Belanda berurusan bisnis rempah-rempah dg mereka. Belanda yg sudah kebakaran jenggot karena kerakusannya terpaksa membuka Perang aceh 40 tahun itu dengan biaya berjuta-juta gulden. Mangkanya begitu menang perang, dibalik politik etik yg munafik itu, Belanda teteb menggenjot perbudakan di berbagai wilayah perkebunan (karet, gula, rempah2, minyak tanah, batu bara) mereka buat mengganti biaya perang yg udah bikin Pemerintah Belanda hampir BANGKRUT itu...


Demikianlah latar belakang perang aceh dan budaya sebahagian besar pemikiran bangsa ini. Racun Budaya dan Moralitas selalu saja ditimbulkan karena kecurangan dan kerakusan bisnis imperialis... sayang sekali dampaknya masih aja sampai kini. Semoga ada penjelasan lain, mengapa bangsa ini seolah-olah RAJIN sekali mengikuti JEJAK KELEDAI, dibandingkan bangsa serumpun lain seperti Malaysia, ThaiLand, atau negara tetangga macam Korea Selatan dan China ?... Yang dirasakan sampai kinipun kinerja politk apalagi ekonomi masih aja "seolah-olah" rela terjajah oleh iming2 hawa nafsu neo-imperialisme, bahkan kaga segen-segen menginjak bangsa sendiri... Kalo menyimak kericuhan rakyat Aceh terkini dari sisi PSIKOLOGI harusnya cukup wajar, Jika rakyat Aceh yang sejarahnya begitu tegar menjadi berwatak makiiin keras dan pencuriga, karena dalam 3 dekade rentang abad 20 hingga 21, harus mengalami kepahitan berulang-ualng karena pengkhianatan, setelah dikhianati inggris dan Belanda, masa kemerdekaan pun tertipu dan terabaikan oleh rejim Orla, abis gitu diinjak pula oleh rejim Orba... Siapa yang salah??? Yah cuman Sejarah yang bicara :)