Deepdrown' daily Plurks

Monday, May 26, 2003

U HATE MONDAY ? U COULD BE HATE YERSELF... PLEASE NOT !


Kecenderungan Hawa sumpek bekerja dan produktif di hari Senen a la sindroma "I hate Monday" ada bagusnya dilawan sedikit demi sedikitlah... Coz Semangat dan Keberhasilan yg bisa tercipta pada awal hari kerja tiap minggu ini, berpotensi bawa mud yg terkendali menuju lebih sukses untuk hari-hari berikutnya lho... Karena apapun alasan pribadi yg menyebabkan keseganan ( dari kadar low sampe hi) mengawali kerja, berpotensi menjadi terlalu permisif menerima begitu ajah tanda-tanda keputus-asaan ditimpa hambatan bin tantangan pren... Well weleh bukan maksud hamba sok tahu, tapi sebenernya sharing pengalaman aja sih, kalo gak percaya yaaa okay ajah :)


Begini lho... dari beberapa kolega gue yg pernah curhat diberbagai lokasi, entah dari masa perusahaan lama sampe sekarang, rasanya terlalu banyak yang mengutarakan secara eksplisit kaga suka Hari Senin... entah ini fenomena ikut-ikutan atao dasarnya lagi mud produktifnya menurun, apa emang males... yang jelas kalo dari pengamatan "awam" gue teramati adanya garis besar pola sebab-akibat yang terkait masalah yang BUNTU dan MENGANCAM eksistensi karir individu di tempat kerja... Yang jelas kadar intensitasnya memang macem-macem, ada yg fluktuatif (naek-turun), ada juga yg secara linier sedikit tapi pasti makin menumpuk tanpa kompensasi. Akhirnya seperti yg dihadapi manajemen pada umumnya, menurunnya produktifitas kerja secara signifikan...


Kejadian yang tidakmenguntungkan kaya begini memang bisa diliat mekanismenya secara kolektif atao etos/moral individual. Pada mekanisme kolektif, turunnya produktifitas SDM biasanya terkait dengan masalah kualitas kebijakan Perusahaan dan berbagai alternatif pengambilan keputusan manajemen thd tantangan bisnis makro yg secara kasar berdampak kurang menguntungkan bagi sebahagian besar kelompok pekerja/pegawai, Akibatnya pada kondisi pekerja/pegawai yang merasa tak terwakili aspirasinya akan menjadi down-spirit, dan secara lansung atau tidak lansung bakal berpotensi menurunkan kinerja organisasi, secara kualitas pun menurun karena andaikan pekerja/pegawai tetap bekerja seperti biasa, tapi hati mereka terasa "mati" dan "hampa".


Penjelasan dari sisi moral/etos professional per-individu, cukup wajar jika ada seseorang profesional yang tidak mampu meningkatkan kinerja/kemampuannya, karena ybs berkeyakinan ,"buat apa meningkatkan kemampuan dan kualitas kejra kepada organisasi, jika kagada peningkatan pendapatan ???". Biasanya pegawai profesional yg seperti ini memang sangat berorientasi pada HASIL, sehingga ybs tidak akan menyumbang lebih dan bertahan pada status stagnan maen kuat-kuatan aja dengan policy yang ada, dan selama tidak melanggar ketertiban organisasi yang beginian memang hak tiap individu yang terlalu privacy untuk dihujat manajemen. Ketika Tujuan Perolehan Financial yang lebih baik BUNTU, maka biasanya Pekerjaan akan dirasa sekedar BEBAN, nggak ada lagi harapan yang menyenangkan. Badan rasanya cepet Capek, Berangkat segen, di kantor pun kaga betah, pulang pengennya selalu Teng-Go... Pokoke mereka merasa dirugikan dan cuman perusahaan yg untung kalo ybs harus kerja terlalu rajin...


Yang jelas ada pendekatan lain yang tujuannya adalah kesehatan Jiwa, yaitu Berorientasi pada kualitas Proses dan Pembelajaran. Ketika Hambatan-hambatan mulai muncul menutup harapan-harapan indahnya karir, orang ini tetap berusaha menjaga kualitas pelayanan dan kinerja organisasi tetab baik dan terkendali... Kenapa? Ni Orang mungkin Bego?... Oh iya kalo persepsinya sekadar prinsip dagang ada uang ada barang doang pren... Tapi ketika individu tsb beralih pada semangat individual-improvement, maka yang muncul adalah aura positif yang terpancar dengan kesigapan bekerja maupun berkreatifitas, semangat positif pantang putus asa , mampu mencintai pekerjaannya dari berbagai sisi tanpa pamrih. Secara lansung atau tidak lansung dampaknya akan tercermin pada lingkungan sekitarnya, yang mungkin sekali sedikit demi sedikit termotivasi kearah positif, selain itu timbulah kreatifitas dan kemampuan melihat masalah/hambatan secara jernih sehingga terbukalah peluang-peluang positif yg sebelumnya tak terbayangkan... SEHINGGA ANDAIKAN DUNIA BERGUNCANG, TETAP MUNCUL INSPIRASI POSITIF OLEH GOYANGANNYA. Oleh karena itu Coba deh 2 Tips sederhana dibawah ini, andai semangat kerja berasa mulae menurun:


  1. Cari Kesenangan Baru dalam Pekerjaan. Misalnya kalo lagi males ketik proposal, coba bikin target sendiri bikin proposal lebih cepat lagi, atau lebih keren...
  2. Tekad menjadikan Habatan menjadi Tantangan yg menarik. Hambatan itu hampir sama dengan Tantangan pren. Bedanya hambatan sering berarti MASALAH yang jadi BEBAN sehingga bikin males langkah untuk mengatasinya, nah kalo Tantangan itu seperti menghadapi Permainan yg menantang untuk dilawan dan dilalui, sehingga langkah makin cepat, kuat dan panjang buat menghadapinya...


Nah Gambaran Masalah karir dari sisi kolektif maupun etos individu emang kaga selalu Saling bersesuaian prendz... yang jelas Waktu adalah Harta yang tak ternilai untuk selalu meningkatkan diri baik amal ibadah juga amal ilmu. Jadi ketika upaya perbaikan kolektif mengalami benturan "KERAS" dan serasa "BUBAR", upayakan KEKUATAN KEPRIBADIAN ini janganlah melemah apalagi menyerah, sangat disayangkan jika UJIAN HIDUP di dunia yg fana ini sempat membuat kalbu jadi sakit lalu memberi peluang pada KEPUTUS-ASAAN yang tiada berguna. Semua memang Pilihan yang harus dihayati dan diupayakan dengan benar, semoga Tuhan selalu membimbing kita kedalam Pilihan Hidup yg terbaik bagi masing-masing, AMIN !!!