Pernah denger kiat "Lebih Mudah Membuat sesuatu daripada Memeliharanya kemudian" ? Ternyata pada dunia bisnis/dagang mandiri yang terasa malah... ya baik proses awal atau memeliharanya jadinya sama-sama sulit, dan perlu ketegaran menghadapi persaingan yang sangat ketat. Modal besar doang ternyata gak cukup menjamin, tanpa dikembangkan mental disiplin, tidak mudah menyerah, nekat dan selalu penuh semangat juga ide inovatif.
Banyak sekali pemahaman yg muncul dari para pebisnis pemula, atau bahkan perusahaan yg lama berdiri cenderung berpijak pada keyakinan bahwa, Kekuatan dan Keunikan lalu keuntungan maksimal sebuah produk barang atau jasa yg mereka buat dan jual, haruslah sebanyak-banyaknya dibuat oleh sumberdaya mereka sendiri. Pendapat ini wajar saja, karena latar belakangnya pada tujuan mempersempit peluang para pesaing mengikuti kesuksesan/keunikan produknya semata. Masalahnya tekad kuat model begini, jika dituntutu mengikuti demand pasar, malah menuntut balik adanya perluasan sumberdaya (manusia, skill, riset, alat2kerja) yg dua kali lipat musti tersedia, dampaknya yaaa UUD (ujung2nya dokat) juga, soale biaya investasi(utang,riset,marketing,design), produksi(sdm,bahanbaku,sistem), dan operasional(umum,administrasi) juga makin bengkak...
Nah kalo udah kaya gini makin berasa marjin keuntungan yg diperoleh makin tipis ajah. Dampak psikologisnya, perusahaan itu jadi makin serba salah mengimbangi permainan pasar... keder dah, mao inovatif perlu dana lebih lagi buat ngelakuin semua upaya improvement sendiri, tapi kalo minjem duit nambah beban kewajiban financial yg melorotin laba bersih... tapi kalo nggak begitu, image produknya jadi kaga berkembang... Sadar gak sadar kelimbungan ini mengakibatkan performa bisnis kaga bisa memberikan pencerahan yg menyolok melawan pesaing, dan kecenderungan harga jual produknya terpaksa jadi mahal...
Ada suatu CONTOH menarik tentang persaingan antar perusahaan komputer yg begitu ketat di amrik sono. Baru-baru ini analis saham teknologi menilai, harga saham IBM termasuk datar-datar ajah sejak 2001, sementara itu saham komputer DELL yg termasuk pendatang baru udah naik sampe 70%, melangkahi pertumbuhan saham komputer HP. Sebaliknya saham komputer Gateway udah drop 70%, Sun System jongkok sampe 80%, Apple sendiri lagi menggantung 1% ajah. Fenomena yg menunjukkan, bahwa perusahaan yg mampu bertahan bahkan meningkat itu udah melalui dan mampu menampilkan nilai-nilai ekonomis secara proporsional & efektif bagi sebahagian besar konsumen disaat situasi ekonomi yg pailit kaya gene.
Gejala yang paling gampang disimak, Perusahaan Komputer Sun yg sahamnya makin jongkok itu, ternyata merancang SEMUAnye sendiri, ya komponen server, ya mikroprosesor, sampe s/w sistem operasinya (SUN/OS). Demikian pula perusahaan komputer Apple merasa lebih yakin merancang sendiri komponen dan s/w Macintosh (SYSTEM/7), juga berbagai aplikasi inovatif pendukungnya, yaaa akhirnya harus menjual mesinnya dengan harga jauh lebih mahal, itupun cuma menguasai 2% pasar PC global, belakangan malah penjualan PowerMac anjlok sampe 40%. Coba bandingkan dg perusahaan IBM,DELL,dan HP yg mampu bertahan itu... mereka justru membeli dan bekerja sama dengan Intel Corp dalam penyediaan mikro-prosesor, sedangkan s/w menggunakan produk Microsoft corp.
Memang sehhh secara kasat mata, produk mereka jadi kurang unik alias susah dibedakan, tapi konsumen diberikan solusi yg efektif dan relatif murah dengan dukungan kuat hampir semua aplikasi penting kebutuhan profesional kan? Nah vendor2 ini tinggal bermain pada unifikasi kombinasi komponen vs segmentasi pasar, dan konsentrasi penuh pada peningkatan CRM (Customer Relationship Mgt.)yang lebih baik lagi. Dengan demikian biaya organisasi terkait riset, pemenuhan skill SDM yang MAHAL, dan penggelembungan organisasi makin dapat DITEKAN abizzz.
Jadi kalao gue inget ada kiat menarik dalam bidang e-commerce (perdagangan elektronik) yang terkait dengan fenomena ini,"Sebuah perusahaan bisnis tidak perlu jadi 'besar' agar berhasil bertindak BESAR". Bagaimana caranya? yaitu berupaya melakukan proses Collaboration to Compete, yaitu bekerja sama dengan berbagai vendor pendukung yang paling PASSS buat sepakat pola bisnis win-win, dengan demikian resiko persaingan dan beban pengelolaan bisnis dapat dibagi bersama-sama, makin variatif pula biaya organisasi yang dapat dihemat agar LABA BERSIH makin terdongkrak. Dengan sendirinya kehandalan dan ketersediaan layanan konsumen pun makin terjamin kan?