Dibawah ini tercantum isi email seorang rekan di sebuah milis, yang menanggapi artikel gue per 27/5/2003 yang berjudul "LUPA PELAJARAN SEJARAH ??? AWASSS TAU-TAU UDAH JADI KELEDAI...". Agar lebih jelas, gwe coba attach disini dengan memotong beberapa konten yg irrelevan
From: Joni Kribo
Sent: Wednesday, May 28, 2003 7:48 AM
Ikut nimbrung... Menarik analisis sodara-sodara semua... tapi apa upaya nyang udah ente-ente lakukan buat memperbaiki keadaan nyang ada? Gw terus terang lebih suka menatap dan merancang masa kedepan dari pada sibuk menyesali keadaan dan masa lalu..
Bagaimana dengan anda? akan hanya sibuk berkeluh kesah, menganalisa dan akhirnya menyesali masa lalu.. ?! resikonya.. krisis panjang negeri tercinta ini semakin sulit diakhiri..
Ok kite tidak akan lupakan masa lalu, tapi setelah itu akan lebih baik lagi kalau kita coba merajut dan merancang upaya-upaya perbaikan.. berani gak?! ada ide? Dan juga jangan lupa, banyak sudah ide perbaikan yang digulirkan.. tapi selalu hanya sampai konsep, karena oposan-oposan sibuk mengganjalnya..
Aceh..? tidak jauh beda.. 10 tahun yang lalu Gw pernah berada di aceh.. dan menyaksikan betapa menyedihkannya kondisi sosial budaya disana.. padahal mereka pada masalalu jauh lebih maju dari daerah-daerah lain dinusantara.. mesti ada perubahan yang masih berada dalam koridor NKRI. Upaya otonomi khusus sudah sangat baik, dan mestinya kita dukung.. tapi GAM juga mesti disingkirkan,karena kenyataanya mereka adalah preman-preman yang tidak lebih dari bandit ganja.. Bagi rakyat aceh sendiri juga mesti menyadari bahwa mereka juga mesti bangkit, tidak cukup hanya bangga dengan masa lalu,.. tidak cukup dengan berbangga dengan kayanya sumber daya alam yang dimiliki.. ada ide?! Ada ide.. ada kemauan.. ada kemampuan.. ada keberanian.. ambil resiko.. semoga keberuntungan juga menyertai kite-kite..
Respon mr Jon ini menarik, dan patut jadi pelajaranlah... Soal macem mana aje upaya yang perlu kite-kite buat tentu bisa macem-macem cara dan motivasi kok... Sisi pandangnya yg dibahas juga perlu dibagi pren, ada sisi kolektif maupun individualistik. Smuanya punya peran penting, dan gak bisa salah satu menghilangkan yang lainnya, istilahnye reciprocal begitu, saling mengisi, komplementary...
Yang paling gampang tetapi justru sulit yaitu kesadaran dari sisi individu. Ketika seseorang memiliki wacana untuk mereformasi dirinya sendiri dalam tatanan sosial yg dianggap baku, maka jika gagal dia akan dianggap aneh, gila dan mengada-ada, tapi bila sukses dituntut lebih komitmen dan pantang pamer, masyarakat awam pun kurang awareness nya atau justru mendewakan sekedar hasil hebat yg serupa tapi males menjalani prosesnya :( Sehingga kalo kaga kuat2 iman/mental stamina orang macem ini bisa rontok sendiri. Obat penawarnya ya menanamkan motivasi lillahi ta'ala ajah (demi Tuhan doang). Gue yakin kalo penyakit bangsa ini intinya ada pada mental dan kesalahan letak pemberdayaan sosial budaya leluhur yang seolah-olah jadi dikeramatkan. Akibatnya gaya pemikiran orang kebanyakan pada umumnya jadi terkungkung, dan menggantungkan resikonya sekadar pada sosok yg dianggap punya kekuatan "lebih" (ulama,dukun,orang sakti,penguasa,pengusaha). Dampaknya ya begitulah kurang mandiri, taklid buta, dan dalam organisasi formal proporsi jilat-menjilat demi kenaikan peringkat hidup lebih cepat juga terlalu banyak...
Yang juga Gampang tetapi ternyata jauh lebih sulit adalah reformasi tatanan Sosial secara kolektif. Bdsk corak latar belakang politik dan corak sosial budaya kite ntu memang mutlak membutuhkan sosok semacem mitos "ratu adil", dimana tokoh ini menjadi impian pimpinan dan pengayom bangsa. Apa boleh buat, jika para politikus itu memang berupaya memenangkan hati orang banyak agar mempercayai dia sebage pemimpin, maka yg diworo-woro jelas niatan ingin membimbing keterpurukan bangsa menuju keadilan.. Sayangnya selama beberapa dekade kemerdekaan kite kepemimpiman yang ada cuman euphoria. Begitu kekuasaan formal terpegang, entah seolah-olah menjadi tunduk dan lembek pada arus politik gelap nan misterius, dan berkali2 masyarakat harus kecewa pada mimpi-mimpinya. Soal arus gelap ini ada beberapa buku yg secara implicit mengindikasikan sesuatu :
- Buku GERPOLEKnya Tan Malaka selain strategi perang, ada wacana pertentangan politik Sahrir vs TM, menggambarkan kelemahan diplomasi RI vs Belanda dalam penyerahan kedaulatan kemerdekaan secara penuh. Akibatnya NKRI diobok2 belanda dalam beberapa perang kemerdekaan. Kenapa Sahrir begitu begitu berambisi dan pemerintah saat itu begitu pasrah diatur sekutu ??? Dan secara misterius TM yang sadar perlu diplomasi kerasa dan tegas thd sekutu dibunuh dalam tindak konspirasi PK-II 1947.
- Politik Pokrol Bambu, sejarah segmentasi oleh Belanda thd kaum ulama dalam pangkat-pangkat administrasi kegiatan mesjid, dan penyebaran dogma-dogma politik dalam ajaran agama yg menyebabkan kehidupan beragama grass root (kaum abangan) menjadi stagnan dan tak berkembang. Beginilah jadinya grass root kita... mudah terombang ambing dalam euphoria penguasa (dulu Belanda sekarang Rejim dalam negeri).
- Buku Merah Konspirasi CIA dalam Pemerintahan ORLA sampe ORBA ditulis oleh wartawan politk Belanda. Menjelaskan dengan gamblang Motivasi dan sposnsor utama pemberontakan PERMESTA yaitu amerika, lalu peran 7 Jenderal Lubang Buaya yg sesungguhnya dalam konpirasi politik perpecahan militer garis Nasution vs Achmad Yani. Disitulah Soeharto muncul sebage pemenang bersamaan Suksesnya Operasi konspirasi CIA mengorbitkan pemberontakan sekaligus penumpasan G-30S-PKI. Demikian pula restu presiden ford buat Rejim Soeharto Invasi ke tim-Tim dengan janji pembelaan di PBB dan imbalan Hasil alam, tapi malah dicaci maki di berbagai sidang PBB.
- Analisa dan tulisan Joseph Stiglitz (pemenang nobel ekonomi) tentang Cacatnya Peran IMF di Asia Tenggara dan amerika latin, yg ternyata lebih bikin sakit daripada sehat. Dan diantara kebijakan berbgaai LOI IMF cenderung bermuka dua, semacem memberi dana pinjaman besar, tapi memeras kekuatan/kedaulatan ekonomi bangsa yang jadi pasiennya, semacem privatisasi tanpa pandang bulu... Bulu monyetpun kalo bsia jadi duit bakal diprivatisasi...
Sorry kalo gue harus kutak katik soal sejarah, justru karena sejarah adalah ilmu ilmiah yg bukan dimaxudkan untuk obyek berbangga-bangga atau bersedih-sedih, melainkan mencoba mengenal dan mempelajari siklus kelebihan/kekurangan masa lalu menjadi suatu peta forecasting perjalanan masa depan yg mereduksi resiko gagal, dan meningkatkan probabilitas sukses. Jadi bener itu kita harus BERPATOKAN PADA MASA DEPAN, tapi kan kite harus punya pedomannya bukan? Biar Pemimpin rakyat terkini itu tahu apa aja peringkat TANTANGAN dan MUSUH BANGSA dari peringkat 1 sampe 10... Sehingga senjata politiknya pas membumi dan kaga asal njeplak jadi bumerang sendiri :(
Sekarang soal langkah-langkah realisasi pasca analisa sejarah... Seperti yang Jayaprana bilang dalam salah satu seminar selasa(27/5) kemarin, bahwa keterpurukan kite itu makin dalam, karena jika dianalogikan dalam SEKS, kite ini dalam menjalankan proses improvement sering pengennya ORGASME sendiri-sendiri. Ini menjelaskan kecenderungan kite yg ingin maju sendiri menang sendiri mau gampang aja yg laen2 nggelosor ya salah sendiri, individualistik yg sarat riyaa' dan hukum rimba. Mana itu fenomena gotong royong ? yang ada cuman mencari keuntungan berkelompok dan masa bodo dengan yang orang kebanyakan... Intinya kesehatan Moral/mental/Spiritual/Intelektual dalam pengendalian diri sendiri dulu ( duh kaya Zaenuddin MZ ), kemudian disosialisasikan dalam komitmen teladan pada lingkungan2 yg terdekat. Apapun bidang dan scope langkah perbaekan masa depan kite, Pola siklus IBADAH (bersama Tuhan) --> IKHTIAR (Upaya,Kerja,amal) --> IKHLAS (Karena Tuhan) harus dengan segala upaya terpenuhi.
Tegasnya mao terkait pengembangan Bisnis, Ilmu, Riset, Teknologi, atau Ibadah yang canggih kalo kalbu tiap individu terutama tatanan kepedulian sosial masyarakatnya RUSYAK yang muncul yaa Cuma improvement dari sisi Materialistik doang. Akhirnya daya upaya yang ada malah eksploitasi sumberdaya berlebihan (kerusakan alam/hutan, kerusakan rumahtangga, ketimpangan bisnis yg adil, kecacatan hukum dll.) Salah satu penyakit kronis, di Indonesia itu nuansa liberalisasi hukumnya jauh lebih hebat daripada UU anti monopoli Amerika misalnya, atau UU kesejahteraan warga tak mampu/pengangguran di australia, atau UU Perlindungan dan denda atas gangguan Masyarakat di Singapura. Kenapa??? Simpel aja ... intinya pribadi pemerintah/aparat pelindung masyarakat kite umumnya cenderung memandang bahwa amanat rakyat adalah kekuasaan yg menguntungkan... Padahal kalo dia kelak tahu tanggung jawabnya pasti nangis darah...Oleh karena itu langkah gue pribadi cenderung bersifat 8 Sifat-sifat holistik :
Demikian prendz, semoga jadi wacana yg berguna, andaikan tidak semoga anda mendapatkan langkah-langkah yg jauh lebih baik lagi dari ini. Dan ingat hidup manusia di bumi ini terlalu singkat bagi umur alam raya.. Mari Berjuang Kerasss yang seikhlas mungkin yah :)