Deepdrown' daily Plurks

Wednesday, May 28, 2003

KEREPOTAN MENYUSUN KESUKSESAN BISNIS DALAM PASAR BEBAS ? BEDALAH DENGAN REPOTNYA URUSAN SEKEDAR SEKS...

Menarik sekali apa yang diutarakan mr Jaya Suprana dalam seminar "sektor Industri Indonesia dalam menghadapi Persaingan AFTA 2003" Selasa(27/5) kemarin. Juragan Jamu Jago tsb secara gamblang berpendapat sekaligus menghimbau, agar Pemerintah sebaiknya kaga usyah ikut campur dalam kegiatan bisnis di Indonesia. Alasannya juga simple, bahwa Bisnis itu sama dengan seseorang yang melakukan hubungan seks, sehingga yang melakukan harus si pelaku seks itu sendiri... Huahahhaha begitulah tawa mengocok perut para peserta seminar, sedangkan gue sendiri ikut ketawa kecut. Karena sungguh kagak nyangka ada pelaku bisnis kawakan terkenal mengutarakan wacana yg begitu konyol dan sempit pada topik seminar yg seharusnya perlu shortcut solusi yang serius dan berhati-hati. Apalagi yang hadir adalah mahasiswa dan dosen yang secara garis besar bisa dibilang BELUM cukup piawai dalam lapangan bisnis secara nyata... Sehingga banyak sekali pertanyaan yg harusnya DILEMPAR ke bapak Jaya Suprana seputar fenomena dan falsafah bisnis itu sendiri terkait dengan analoginya yang "LOETJOE" itu...


Berdasarkan data-data dan berbagai pemberitaan, bisa disimpulkan kalo kaga semua industri dan kaga smua wilayah Nusantara siap menghadapi AFTA (ASEAN Free Trade Area). Padahal beberapa negara asia tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura sudah komit memulai implementasinya pada taon ini... Dulu AFTA ini memang dibentuk dan dipersiapkan sejak 5 taon lalu oleh komite ASEAN justru bertujuan sebagai langkah pre-emptive defensive terhadap kecenderungan/tren ekonomi pasar global yang lebih luas. Kenyataannya pemerintah kite emang terlalu "kisruh" dalam pembenahan krisis EKOSOSPOL, akibatnya yaaa pada ketidak-siapan sebahagian besar para pengusaha nasional seperti saat ini, karena infrastruktur perekonomian yg kondusif dan lebih matang harusnya tersedia tapi lebih layak dibilang terbengkalai...


Tudinganpun kembali ke pihak pengusaha, soale udah tau AFTA bakal makin deket, tapi kagada kinerja yg cukup dari mereka untuk mengevaluasi dan setting prioritas pemberdayaan sektor usaha yang dianggap berpeluang baik dan mampu bersaing. Jawaban dari beberapa pengusaha malah menggambarkan ngelesan yang cukup gampang dimengerti emang, yaitu: Kondisi Bangsa lagi Sakit... nah nah nah muter-muter ke seputar itu-itu juga. Kalo pendapat gue sebagai golongan masyarakat awam ini malah jadinya curiga doang prendz, jangan-jangan memang sukar ditemui pengusaha nasional yg mampu bermental pejuang. Jangan-jangan semua opini dan upaya yang digenjot para Pengusaha ini cuman cenderung demi penuhnya pundi-pundi kantung sendiri ??? Lah bukannye fenomena yang kaya gitu yang bikin EKOSOSPOL kite krisis dan ambruk total sejak 1998 ??? Dulupun rasanya Pemerintah sudah terlalu memberikan kebebasan kepada konglomerat untuk berekspansi sehat atao gak sehat... tapi ekonomi kite roboh juga... Jadi Apakah Pelaku bisnis kite ini udah siap mental dan moral untuk tidak dicampuri Pemerintah ?


BATAM yang dianggap paling siap mental dan familiar menghadapi pasar bebas pun masih kepentok kendala domestik yang serupa dengan daerah-daerah lain : Permodalan berat karena suku bunga kredit perbankan masih 18-20% per taon, sedangkan di negeri ASEAN lain hanya sekitar 5-8% aja setaon. Belon lagi retribusi sana-sini gara-gara shock-culture proses otonomi daerah. Sebahagian besar UKM pun cenderung baru kuat di dalam pasar lokal, karena memang belum mampu melakukan proses perbaikan mutu sesuai standar internasional, lagipula kalo dipaksain malah jadi mahal. Ironisnya begitu diserbu barang dari luar yg serupa, misalnya aja produk-produk cina yang sekarang ini membanjir, otomatis beberapa sektor UKM yg tersaingi jadi kebat kebit dan makin berkurang rejekinya... Rasanya kaya perlu peres dengkul dan otak campur darah lagi barangkali, biar usaha dalam negeri kite bisa menghasilkan produk dengan harga dan mutu yang mampu bersaing... Kalo udah begini apakah bener Pemerintah kaga perlu ikut campur ???


Walaupun begitu masih ada kabar baeknya pren... Meski belum mayoritas, sebetulnya sudah ada UKM dan Industri Nasional yang mampu berkiprah ke pasar nasional. Biasanya mereka berasal dari sektor Pertanian dan Industri Handy-Craft dari Jawa Tengah, yang sekarang lagi giat ekspor ke Eropa, ASEAN, Emirat Arab & Amrik juga. Yang seperti ini patut diteliti dan dicermati agar dapat segera jadi panutan yg dapat diterapkan buat sektor-sektor UKM yang masih lemah kan? Wilayah Jateng malah udah intensif investasi Jepang dalam industri otomotif. Sedangkan di Jatim, UKM Industri manufaktur, dan pupuk kayanya udah siap dg kiat dan strategi mateng menghadapi persaingan... Bahkan ada info menarik dari keunikan UKM di sektor makanan dan minuman (makanan/ minuman instan, bumbu instan, restoran), mereka yakin kagada masalah dengan produk asing yg seperti apapun juga, karena bisnis yang kaitannya dengan SELERA LIDAH memang udah dari sononya sangat subyektif.. Misalnya bumbu kari buatan malaysia belum tentu laku dengan bumbu kari khas indonesia, karena kari a la Malaysia memang menyolok citra Indianya.. sedangkan kari Indonesia jelas pas buat selera kita-kita. Jadinya produk-produk tersebut jadi bersifat komplementari ajah dan sekadar menambah variasi ... EMANG BISNIS MAKANAN KAGADA MATINYA heheheh :)


Kesimpulannya bisa secara garis besar gwe tulis sebagai berikut prend (moga-moga bisa mencakup secara umum):


  1. Pemerintah masih perlu banyak ikut campur dalam penyusunan regulasi dan pengembangan infrastruktur ekonomi yang kondusif

    Pada dasarnya pasar bebas murni cenderung membunuh yang lemah dan mendewakan yang kuat. Oleh karena itu pada kasus monopoli industri s/w microsoft di negara amerika yg terkenal kapitalis dan bebas, departemen kehakiman amerika bahkan perlu ikut campur menertibkan dan memenangkan perusahaan pesaing microsoft yg dirugikan akibat strategi bisnis microsoft yg dianggap bersifat "PEMBUNUH"
  2. Pemerintah perlu berdiskusi dengan Industri Nasional untuk menumbuhkan budaya riset nasional

    Jelas bahwa UKM dan Pengusaha Nasional perlu terobosan solusi tepat guna agar mampu menghasilkan produk yang relatif murah tapi bermutu baik, dan untuk itu diperlukan budaya penelitian dan riset tekonlogi dan industri yg intensif dan tersosialisasikan dengan baik, bahkan merata...
  3. Perlunya proporsional yang tepat peran pemerintah dalam mendukung bisnis dalam negeri

    Peran dan intensitas pemerintah dalam bisnis dan industri nasional memang diproporsikan sesuai kondisi dan kematangan pelaku bisnisdalam negeri sendiri, terutama faktor kesiapan instrumen HUKUM&KEADILAN yg jelas.
  4. Wacana Jaya Suprana menganalogikan proses Bisnis seperti melakukan seks demi Orgasme/kepuasan semata termasuk salah kaprah

    Analogi yang tidak aplle-to-apple, Bisnis mau tidak mau terkait pada harkat hidup orang banyak, oleh karena itu pelru bimbingan dan regulasi yang jelas agar tidak seperti hukum rimba. Sedangkan SEKS secara harfiah memang tidak bedanya antara makhluk MANUSIA dengan HEWAN. Hanya saja Manusia muncul dan lahir karena dan dengan interaksi faktor-faktor yg bersifat MATERIALISTIK & HOLISTIK(spiritual/intelektual), sedangkan HEWAN... bayangkan sendiri :)