Pada waktu-waktu nyante di Ibukota ini, mungkin banget gue lagi plonga plongo di mal, belanja-belenji di supermarket, atau ketawa-ketiwi di cafe entah bareng keluarga/kolega, bakal besar banget potensinya LUPA INGETAN bin CUEK aza kalo kondisi di tempat lain di negeri ini begitu gaswatnya, dan bisa menular :( ... kadangkala kalo lagi "sok suci" gue suka kaga enak hati yg gak jelas ya... mungkin sama kalbu sendiri ajah... Gaswat gimana ? Oh iyaaa gazwat sekali, dan ini bukan menakut-nakuti, cuman potensi logis yang perlu diketahui aja...
Setelah beberapa waktu lalu ada beberapa bom meleduk di mal atrium, gedung BEJ, kantor polisi, trus Perang SARA di Ambon, Poso, dan bbrp kota di Kalimantan, kembali bom BALI yg fenomenal lanjut dg BOM Bandara Cengkareng, AKHIRNYA kembali menegang PERANG SAUDARA di ACEH : ABRI VS GAM... Penyakit kambuhan warisan DOM Orde baru ini jadi lebih gahar setelah dibahas tuntas dan ekslusif menjadi fokus utama di berbagai media massa. Sekali lagi perhatian utama Negara kepada proses perbaikan ekonomi bangsa jadi makin keleleran. Gue sendiri suka kaga pengen percaya, di ujung abad 21 kaya gini, kite masih ribuuuuttt sendiri dengan berbagai hal yg berbau eksklusif... Padahal dampak perang ekonomi dunia yg lebih parah bakal menanti tuh, iyaaa WTO udah mule gembar gembor PASAR GLOBAL dan GLOBALISASI EKONOMI prendz :( ... ini kalo proses sosialisasi dan antisipasi penguatan ekonomi kerakyatan kaga sempet dijalanin, udah deh dijamin kite jadi BUDAK PASAR doang... makin banyak industri dalem negeri bakal mati suri sbelon mampus beneran, gara2 kaga laku ngelawan barang murah, meriah bermutu dari produk luar... belon lagi soal kualitas tenaga kerja dan melonjaknye pengangguran. Kasus meraja-lelanya produk selundupan akhir-akhir ini aja udah bikin loyo ekspor, malah bbrp investor barang elektronik asing ( mis. sony) aja udah ngacir, gara2 pemerintah kaga bisa ngurusin penertiban selundupan... *klise*
Jadi gue pribadi menilai, "ketenangan" dan "keamanan" yg dirasakan sebahagian masyarakat peroleh saat ini sangat sangat SEMU, dan berpotensi memendam bara dalam sekam yang siap meledak. Pemerintah, Aparat dan Badan Inteleijen Negara harusnya menyadari yg beginian, dan masyarakat bisa menunggu dg target yg pasti dari langkah-langkah positif apa yang dilaksanakan pemerintah... Sayang sekali setelah ditimpa berbagai bencana naiknya semua biaya infrastruktur sosial (bensin, tranportasi, telepon, listrik, air, sekolah), masyarakat sekarang harus menyaksikan pertunjukan PRA PEMILU 2004, dimana drama hilangnya kesabaran percaturan politik RI vs GAM digantikan dengan Perang fisik yg sedikit banyak pasti menambah beban anggaran pembangunan nasional. Yang jelas TONTONAN mahal ini bakal menyedot perhatian, dan dan rakyat terpaksa harus lebih SABAR lagi jadi MISKIN di bumi pertiwi *hiks*.
Ngomong soal SABAR memang gak maen-maen prendz. Beberapa komunitas pedagang mandiri dan UKM adalah contoh menarik bagaimana mereka bertahan dan jumpalitan cari akal biar bisnisnya jalan, dan dapur para pegawenya bisa NGEBOEL ANGET, sukur-sukur 100% HALAL. Ha ha ha ngomong soal halal atao harampun jadi polemik sendiri, soale praktisi hukum kite juga udah biase punya seni khas memutar-balik opini yg ukurannye cenderung cuma UANG dan KUASA. Masalahnya krisis dan perang ini bisa ajah akhirnya merontokkan daya tahan para pahlawan pasar tradisional dalam negeri jika yg namanya faktor KEAMANAN SOSIAL & POLITIK nggak pernah stabil. DAYA beli masyarakat menurun, investor binun, industri setun dah.
Setelah industri tekstil terganggu gara-gara konspirasi kebakaran pasar Tanang Abang, baru-baru ini Para Pedagang Pakaian Jadi di Cipulir tereak miris, gara-gara pemesanan pakaian jadi dari para pedagang daerah ACEH bernilai puluhan juta terpaksa cancel, karena memanasnya situasi dan kritisnya keamanan disana. Selaen itu banyak pula Jasa pengiriman barang (truk,container,dll) yg "males" untuk melakuan pengiriman barang ke kota MEDAN, padahal Medan pun sebenernya cukup jauh dari perbatasan ACEH. Gue sendiri juga belon denger dan baca komitmen apapun dari departemen perdagangan atau Transportasi mengantisipasi kondisi begini :(
Barangkali diam-diam pemerintah sendiri mengalami kepanikan tersembunyi mengetahui dampak-damapk berantai dari kenekatan Operasi Militer terpadu ke Nanggroe Aceh Darussalam ntu, Jadi yaaa nggak heran jikalaupun ada langkah-langkah tertentu pasti mutunya seputar tambal-sulam doang... gue heran pada ngapain yaaa badan intelijen negara ni? Contohnya : baru-baru ini Dalam rangka meningkatkan kesadaran terpadu dari masyarakat atas keamanan DKI mengantisipasi dampak perang aceh,... Gubernur DKI Sutiyoso (keceplosan) menghimbau masyarakat melalui media massa, ...agar tidak segan-segan menangkap dan melaporkan orang-orang yang dicurigai mengancam keamanan disekitar DKI... Lalu apa yang salah dengan statemen itu ?
Kite perlu menyadari latar belakang dan pengalaman selama ini tentang perilaku masyarakat yang suka maen hakim sendiri terhadap pelaku kriminal jalanan, dan seringkali keterlaluan, sehingga berakibat pembunuhan keji. Seringkali pula yg terbunuh adalah akibat salah sangka/ salah tuduh... Maka himbauan Sutiyoso seperti itu berpotensi dinilai "memprovokasi" hawa nafsu masyarakat kota untuk maen hakim sendiri. Selain dari itu struktur masyarakat kota yg sewajarnya majemuk akan menjadi pemicu tindakan SARA & Rasialis, soale bisa aja banyak orang sok tahu maen tuduh dan maen tangkap seseorang sebage agen GAM, hanya karena orang tersebut keturunan ACEH... Padahal GAM itu hanya sebagian kecil dari anspirasi masyarakat ACEH. Melemparkan kewajiban pengawasan keamanan kepada masyarakat awam malah cenderung semacam KEPANIKAN pengambilan keputusan dari aparat PEMDA DKI, yang erghh... barangkali kaga siap dengan aparat dan infrastruktur keamanan yg udah ada? Lagipula sudah seharusnya hal peka seperti ini menjadi tanggungan POLDA bukan?
Ada baiknya memang para LSM dan lembaga-lembaga keagamaan mendeploy dan mensosialisasi kan himbauan Gubernur DKI ini lebih WASPADA dan SMART kepada masyarakat, selaen sgera mengajukan kritik tegas kepada PEMDA dan POLDA DKI. Sudah saatnya setiap pribadi warga kota belajar memahami bagaimana menerapkan asas praduga tak bersalah kepada setiap orang disekitarnya... Lagipula KRISIS apapun memang bukan seharusnya diselesaikan dengan lebih LIAR, Keberanian sekaligus kesabaran diyakinkan mampu melihat kedalaman KRISIS ini menjadi CLEAR, AMIN!